Tamu Kita, Ir. Ansgerius Takalapeta


Foto Ist Ir. Ansgerius Takalapeta menerima Kalpataru Pembina Lingkungan dari Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono, 5 Juni 2008.

Lingkungan Urat Nadi Kehidupan Manusia

MELIHAT ke depan dari masa lalu adalah prinsip hidupnya. Menjalani masa kecil di desa saban hari memanjat pohon-pohon tinggi, bersahabat dengan ular berbisa, kalajengking dan hewan-hewan beracun lainnya. Dia dan rekan-rekannya berani mengambil risiko bukan hanya mau mendapatkan buah untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga, tapi bagaimana belajar mengalahkan alam secara alami, belajar mencintai alam ala anak-anak desa nan lugu dan belajar mandiri, ulet dan tidak cepat putus asa.
Pola hidup inilah yang menghantar Ir. Ansgerius Takalapeta meraih sukses dalam karier, baik sebagai pegawai negeri sipil (PNS) maupun politik hingga menjadi orang nomor satu di Kabupaten Alor selama dua periode sejak 1999. Pengalaman hidup sebagai anak desa yang bergelut dengan alam, menjadikannya tetap peduli dan mencintai alam, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Bagi Ans --begitu sapaan akrabnya--memelihara tanah, air, bebatuan dan segala sesuatu yang berdiam di atas alam merupakan amanah Tuhan, agar manusia hidup damai, aman dan sejahtera. Saling mengasihi satu sama lain di atas bumi Nusa Kenari yang tak berkekurangan.

Keberhasilan seseorang tidak terlepas dari etos kerja. Sistem inilah yang mendasari Ans Takalapeta membangun Kabupaten Alor, terutama lingkungan hidup. Tak heran, Ans Takalapeta mencetak prestasi meraih Kalpataru Pembina Lingkungan yang diberikan Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono, 5 Juni 2008. Bagaimanan suka duka meraih sukses dan perasaan hati seorang Ans Takalapeta? Ikuti perbincangan dengan wartawan Pos Kupang, Gerardus Manyella, di Kupang pekan lalu, sekembalinya dari Istana Negara

Apa yang mendorong Anda memberi perhatian penuh terhadap lingkungan hidup?
Ya, saya belajar dari masa kecil di desa. Waktu itu lingkungan alam betul-betul bersahabat dan memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kegidupan manusia. Banyak pohon yang tumbuh liar di hutan belantara, memiliki buah yang lezat dan bergizi, banyak rumput liar yang bermanfaat menyembuhkan manusia yang sakit. Pada hutan belantara juga berkembang burung-burung dan habitat kehidupan lainnya. Pada hutan itu juga muncul sumber air yang bermanfaat bagi manusia dan hewan. Bagi saya, Tuhan menciptakan alam sempurna, saling melengkapi sehingga kita yang menghuni di atasnya harus memelihara, melestarikan untuk kesejahteraan manusia. Konsep ini yang saya kembangkan dalam program Gerbadestan (Gerakan Kembali ke Desa dan Pertanian).

Apa konsep Anda tentang Gerbadestan dan latar belakangnya?
Gerbadestan itu saya canangkan menyikapi krisis multidimensi dan gerakan reformasi bangsa. Program itu lahir berdasarkan potensi dan permasalahan di Kabupaten Alor. Sejak dicanangkan 1 April 1999, dampaknya cukup baik bagi masyarakat sehingga pada masa jabatan kedua 2004-2009, konsep pembangunan ini saya perluas mencakup sektor kelautan sehingga menjadi Gerakan Kembali ke Desa, Pertanian dan Kelautan. Gerbadestan adalah upaya membangun Kabupaten Alor dalam rangka mendaulatkan rakyat, memberdayakan masyarakat dan merekatkan hubungan sosial budaya mulai dari desa sebagai basis kehidupan masyarakat. Komponennya mencakup pemerintah daerah, swadaya masyarakat dan pembangunan kemitraan mencakup pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas SDM, pembangunan sarana dan prasarana dan penguatan kelembagaan.

Bagimanan implementasi dan keterkaitan dengan lingkungan hidup?
Ada lima prinsip pelaksanaannya, yakni serentak (massal) di sini gerakan yang dilaksanakan, termasuk pelestarian lingkungan hidup dilaksanakan oleh seluruh komponen masyarakat dan aparatur pemeritnah dengan semangat gotong royong. Selektif, yakni gerakan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan potensi wilayah, iklim dan kondisi sosial budaya masyarakat. Sederhana, yakni gerakan yang dimulai dengan apa yang diketahui dan dimiliki masyarakat. Serius artinya gerakan yang dilaksanakan dengan penunh tanggung jawab dan diwujudnyatakan melalui kerja keras, ulet dan disiplin. Saya berusaha agar semua program itu sukses, artinya gerakan yang berorientasi pada pencapaian sasaran optimal dan final meliputi sasaran fisik, fungsional, skala ekonomi, nilai tambah, multiplier dan hemat.

Seperti apa praktek pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Alor?
Saya mengawali dengan membangun hutan nostalgia. Areal hutan ini letaknya kurang lebih dua kilometer dari Bandara Mali. Areal ini merupakan tempat usaha masyarakat, tapi dibebaskan oleh pemerintah dan dijadikan hutan wisata nostalgia. Walau dibebaskan oleh pemerintah tapi masyarakat setempat tetap terlibat dalam pengelolaannya. Luasnya semua lima hektar (ha) tapi kemudian dikembangkan menjadi 10 ha. Pembangunan hutan wisata nostalgia ini kami canangkan 2 Mei 2002. Saya memilih hari yang punya nilai sejarah, sebagai hari pendidikan nasional. Kegiatan itu dilakukan bersamaan dengan Expo Alor pertama.

Kenapa dinamakan hutan nostagia?
Oh ya, kalau di daerah wisata lainnya pengunjung hanya menikmati panorama khas hutan yang tersedia, maka di hutan nostalgia semua pengunjung diharapkan mendapat kenikmatan ganda. Selain kesyahduhan hawa hutan, juga terlibat langsung dalam urusan pelestarian dan perlindungan hutan. Setiap pengunjung wajib menanam satu bibit pohon dan memberinya nama. Di sini pengunjung memiliki kesempatan mendatangi, memahami, dan merasakan denyut kehidupan hutan. Melalui hutan nostalgia, pesona alam bukan hanya dinikmati, tetapi juga dihargai. Jenis tanaman dan bibit yang ditanam di kawasan hutan nostalgia ini, antara lain kemiri, cendana, mahoni, mangga, kelapa, jati, gamalina, saga pohon dan gaharu. Kepada pengunjung kami menyediakan anakan dan telah disiapkan lubang untuk menanam. Satu anakan pohon yang ditanam pengunjung menjadi peringatan dan kenangan tentang kehadiran atau kunjungan ke Alor dan apabila ada kesempatan berkunjung lagi dapat meninjau pertumbuhannya, merawat dan memberi pupuk organik yang disediakan.

Siapa saja yang telah menanam di kawasan hutan wisata nostalgia?
Hampir semua tokoh nasional, regional dan lokal yang berkunjung ke Alor. Jika tidak sempat menanam sendiri dapat memilih jenis pohon dan lokasinya lalu ditanam oleh petugas yang dipercayakan pemerintah. Yang bersangkutan punya hak untuk memantau perkembangannya dan jika berkunjung lagi ke Alor bisa melihatnya dan memberikan pupuk. Ini yang dinamankan kawasan hutan nostalgia. Setiap orang yang berkunjung ke Alor menciptakan nostalgia dengan menanam pohon, karena usianya panjang sehingga bisa dilihat lagi apabila sempat berkunjung kembali ke Alor. Hutan nostalgia ini juga mendapat apresiasi dari Bank Dunia dan melalui sharing dana proyek inovasi manajemen perkotaan tahun 2003 dan APBD Alor 2003-2005 dibuat desain pengembangan hutan nostalgia dan pembangunannya mencakup pengadaan bibit tanaman, jalan setapak, rumah payung dan rumah penjaga. Kemudian dengan dana APVD terus dilanjutkan pengelolaan dengan pembangunan sarana perpipaan (sarana air bersih), MCK dan penangkaran rusa.

Apa yang Anda harapkan dari hutan nostalgia?
Harapan saya, hutan nostalgia ini bermanfaat bagi kelestarian lingkungan, pemeliharaan mata air, ajang keretan sosial budaya, sarana pendidikan dan obyek wisata.

Anda juga berbicara tentang kearifan lokal atau spesifik lokal, apa maksudnya?
Memang sejak dulu masyarakat Kabupaten Alor mempunyai konsep dan perlindungan hutan yang disebut "hutantani mamar" dan 'hutan pamali'. Hutantani mamar adalah suatu areal yang diusahakan dengan menanam aneka tanaman kehutanan, tanaman perkebunan dan tanaman buah-buahan di sekitar mata air atau sumber air sehingga memperoleh hasil yang beraneka ragam dan terus menerus. Sedangkan hutan pamali adalah areal hutan yang menurut kepercayaan turun temurun memiliki kekuatan alam sehingga tidak boleh sembarang orang memasuki, meramu hasil-hasil hutan yang ada, apalagi menjadikan tempat usaha sebagai ladang/kebun. Dipercaya bahwa apabila meramu, merambah hutan tersebut akan mendatangkan bencana alam bagi masyarakat setempat. Penjagaan areal hutan pamali dilakukan oleh kepala suku atau tua adat setempat.

Anda juga dikenal sebagai bupati yang getol mengkampanyekan taman laut. Apa saja kebijakan yang Anda keluarkan?
Saya melihat perairan laut di Kabupaten Alor, antara lain Selat Pantar dan sekitarnya kaya dan unik dengan variasi habitat dan jenis karang, ikan, sehingga perlu dikembangkan agar bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat. Setelah melalui survai yang matang perairan laut itu perlu dikembangkan menjadi obyek wisata bahari yang berkelanjutan. Maka saya mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Alor Nomor 5 Tahun 2002 tentang Penetapan Selat Pantar dan sekitarnya sebagai Taman Laut. Kebijakan ini mendapat respon dari Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Melalui Direktorat Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil melakukan survai lapangan kegiatan inventarisasi dan penilaian potensi calon kawasan konservasi laut daerah di kabupaten Alor serta melakukan penyusunan rencana tata ruang dalam rangka penataan kawasan konservasi laut daerah di Selat Pantar. Dari hasil survai dan tata ruang ditetapkan tujuh zona baik pemanfaatan maupun perlingdungan yang termasuk dalam konservasi laut. Hasilnya menjadi acuan penetapan Kebijakan Daerah melalui Peraturan Bupati Alor Nomor 12 Tahun 2006 tentang Penetapan kawasan Selat Pantar menjadi Kawasan Konservasi Laut Daerah. Pengelolaannya lebih menitikberatkan pada integritas ekologi dari suatu ekosistem secara keseluruhan dengan tetap mempertimbangkan aspek pemanfaatan.

Sarana dan prasarana apa saja yang disiapkan mengoptimalkan taman laut itu?
Tahun 2002 kami menyediakan 10 unit alat diving lengkap dan pelatihan pemandu diving dengan membangun pola kerjasama dengan Dinas pariwisata dan pihak swasta. Hal ini mendorong berkembangnya peranan swasta dalam usaha diving di Alor yang hingga tahun 2008 ada tiga pengusaha diving, yakni Alor Divers, Alor Dive dan Laptite Kepa.

Anda memperdayakan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan hidup. Seperti apa implementasinya?
Masyarakat mengembangkan komoditi perkebunan unggulan daerah (kemiri, jambu mete, pinang, cengkeh, vanili dan kopi). Kami juga bangga karena hasil penilaian Balai Penelitian Bogor vanili Alor direkomendasikan menjadi sumber bibit di NTT. Saya juga mencanangkan gerakan menanam satu juta jambu mete di 100 desa pesisir, gerakan Indonesia Menanam untuk NTT dicanangkan di Alor yang dihadiri Menteri Kehutanaan yang ditandai dengan penanaman cendana. Cendana Alor juga direkomendasikan sebagai sumber bibit di NTT. Masyarakat juga saya ajak berpartisipasi menanam melalaui gerakan penghijauan berbasis masyarakat yang dilaksanakan setiap tahun menyongsong hari lingkungan hidup. Kami di Alor juga mengembangkan tanaman kusambi sebagai tumbuhan inang kutulak yang memproduksi seedlack (bahan baku pembuatan lak, pernis, sat pewarna, pengawet, kosmetik dan isolasi bahan elektronik). Terobosan ini sangat membantu petani dalam meningkatkan pendapatan keluarga karena harganya lumayan. Terakhir kami mengembangkan mangga kelapa yang huga dijadikan varietas unggul NTT.

Apa saja yang menjadi dasar penilaian Dewan Pertimbangan Kalpataru?
Untuk tahun 2008 tim menjaring 166 calon terdiri dari perintis 57 orang, pengabdi lingkungan 34 orang, penyelamat lingkungan 39 kelompok, pengabdi lingkungan 34 orang dan pembina lingkungan 36 orang. Berdasarkan hasil sidang Dewan Pertimbangan Kalpataru tahun 2008, ditetapkan enam orang perintis lingkungan, lima orang pengabdi lingkungan, empat kelompok penyelamat lingkungan dan lima orang pembina lingkungan. Tim meneliti prestasi melalui beberapa tahap. Sidang pertama untuk menentukan nominasi yang ditinjau ke lapangan, peninjau lapangan serta siudang kedua untuk menentukan penerima penghargaan kalpataru. Melalui sidang kedua ini Dewan Pertimbangan Kalpataru yang berlangsung 23 Mei 2008 yang dipimpin Prof. Dr. Didin Sastrapradja diputuskan 12 orang atau kelompok penerima kalpataru masing-masing lima orang sebagai perintis lingkungan, 3 orang sebagai pengadi lingkungan, tiga kelompok sebagai penyelamat lingkungan dan satu orang sebagai pembina lingkungan yaitu saya sendiri.

Apa yang menjadi tanggung jawab Anda setelah menerima kalpataru?
Kami telah mendeklarasikan keseriusan, bertekad mencegah meningkatnya perusakan lingkungan, dengan menuntut para pelaku sesuai hukum yang berlaku dengan memberdayakan masyarakat dalam pengawasan. Kami juga telah menyatakan memelopori upaya pelestarian fungsi lingkungan, demi pembangunan berkelanjutan, mendorong agar seluruh komponen bangsa menempatkan lingkungan sebagai isu sentral dalam menghadapi berbagai tantangan global, membangun aliansi strategis antar para pohak yang mempunyai kepentingan dalam pengelolaan lingkungan untuk menyatukan visi, misi dan strategi melalui sistem informasi, pendidikan dan tindak nyata, menjadikan dimensi lingkungan sebagai wahana pemersatu bangsa Indonesia. Di sini kalian pers sangat kami butuhkan dan saya di Alor akan menggandeng semua komponen termasuk pers dalam melestarikan lingkungan. (*)

Membayar Warga yang Membudidayakan Rusa

MUNGKIN karena latar belakang pendidikannya sebagai sarjana peternakan, Ir. Ansgerius Takalapeta sangat menyukai rusa. Saking sukanya, dia mencanangkan gerakan budidaya rusa oleh perorangan dan kelompok masyarakat serta penangkaran oleh Pemerintah Daerah. Harapannya akan mendatangkan manfaat ekonomi, pelestarian sumber daya alam, obyek wisata dan kepentingan ilmu pengetahuan. Gerakan ini dimulai 1999 dan pendataan serta evaluasi tahunan untuk memperoleh penghargaan dan insentif dimulai tahun 2001.
Setiap tahun penangkar maupun pembudidaya rusa baik perorangan maupun lembaga/kelompok diberikan piagam penghargaan dan uang tunai. Untuk setiap pemelihara tiga ekor rusa diberikan insentif uang tunai Rp 250.000 dan setiap tambahan satu ekor diberikan Rp 50.000. Insentif itu mendorong warga berlomba- lomba memelihara rusa sehingga syaratnya lebih diperketat. Penangkar dan pembudidaya lima ekor dan atau lebih baru mendapat insentif.
Dengan gebrakan itu, pertumbuhan populasi ternak rusa terus meningkat menjadi 121 ekor tahun 2001, tahun 2002 sebanyak 147 ekor, tahun 2003 sebanyak 186 ekor, tahun 2004 meningkat menjadi 214 ekor, tahun 2005 sebanyak 242 ekor, tahun 2006 sebanyak 281 ekor dan tahun 2007 menjadi 329 ekor. Jumlah itu belum termasuk populasi yang hidup di alam bebas.
Terobosan ini juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Ans diundang untuk memaparkan pola penangkaran rusa oleh Menteri Pertanian dan Kehutanan. Perguruan tingg juga memberi perhatian khusus tentang penangkaran, budidaya dan pemanfaatan satwa rusa yang terus berkembang dengan regulasi tentang pengembangan dan pemanfaatan rusa. Ans menjadi pembicara pada seminar nasional itu. (gem)



Data Diri :

Nama : Ir. Ansgerius Takalapeta
Nama Panggilan : Ans
TTL : Kalabahi, 13 Desember 1954
Jabatan : Bupati Alor
Pendidikan : SD GMIT Taramana 1967
SMPN Kalabahi 1970
SMAN Kalabahi 1973
Sarjana Muda Fakultas Peternakan Undana Kupang, 1978
Sarjana Fakultas Peternakan Undana Kupang, 1982
Riwayat Jabatan : Kabid Ekonomi dan Keuangan Bappeda Alor 1980-1985
Kasie Pengairan Bappeda Alor 1985-1987
Kabid Ekonomi dan Sosial Budaya Bappeda Alor 1987-1996
Kepala kantor Pembangunan Masyarakat Desa 1996-1999
Bupati Alor periode 1999-2004 dan tahun 2004-sekarang
Istri : Dina M Takalapeta-Meler, S.Th
Anak : 1. Theodora Takalapeta
2. Anita Takalapeta
3. Teguh Lamentur Takalapeta
4. Andayani Takalapeta


Pos Kupang Edisi 22 Juni 2008, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda