Tebas Bakar, Bumi Timor Kian Merana


foto ist.
Warga TTU kembali hijaukan lahan kritis

BUKIT Haumeni di Desa Haumeni, Kecamatan Miomafo Timur di pedalaman Pulau Timor, suatu hari di bulan Oktober 2007. Matahari telah meninggi, asap membubung tinggi. Bunyi ledakan terdengar bertubi-tubi pertanda api telah menjalari kawasan hutan bambu. Hamparan padang rumput dan perbukitan yang ditumbuhi pohon kemiri, ampupu dan semak belukar juga tidak luput dari amukan api yang disulut para petani.

Enam pria bertelanjang dada mengumpulkan batang-batang bambu dan kayu yang terbakar menggunakan galah bambu yang diberi besi pada ujungnya. Wajah mereka tampak menghitam akibat sengatan sinar matahari dan panas api. Pemandangan orang membakar lahan untuk membuka kebun bisa disaksikan tiap tahun di Timor pada awal hingga pertengahan bulan Oktober, hari-hari akhir musim kemarau.

Bulan November biasanya hujan mulai membasahi bumi Timor yang kering kerontang sejak April hingga Oktober. Orang Timor membakar lahan di bulan Oktober untuk menyambut datangnya hujan menghidupi tanaman pertanian. Tapi tibanya musim hujan tidak selalu menggembirakan. Kerap hujan hanya turun beberapa hari kemudian lebih sering matahari menyengat. Tanaman padi, jagung dan turis ( Cajanus cajan) yang baru tumbuh pun merana, layu dan akhirnya mati. Iklim Timor memang kering, musim hujan pendek dengan intensitas curah hujan rendah. ( Curah hujan di Timor 1.300 -1.500 mm per tahun, sangat rendah dibanding curah hujan di Jawa, misalnya, yang rata-rata 3.000 - 4.200 mm per tahun.}

Tebas & Bakar
Dari generasi ke generasi, orang-orang Timor menebas dan membakar hutan atau semak belukar untuk berkebun dan juga membakar padang untuk menumbuhkan pucuk rumput bagi ternak. Mereka yakin, lahan harus dibakar agar menjadi subur untuk ditanami jagung, turis, kacang panjang, ubikayu dan juga padi ladang.
Di musim kemarau, padang rumput yang kuning mengering juga harus dibakar agar setelah dibasahi embun malam beberapa hari muncul pucuk hijau yang akan menjadi makanan sapi, kambing dan kuda. "Kami harus bekerja seperti ini untuk bisa bertahan hidup. Tebas dan bakar kami lakukan tiap tahun. Sebagai petani di Timor kami sengsara, tapi lebih baik sengsara daripada mati kelaparan," ujar Yosef Kefi, seorang pria ubanan.

Pernyataan Yosef terdengar polos. Dia tidak tampak menyadari dampak membakar lahan dan hutan terhadap lingkungan hidup. Yang ada dalam benaknya adalah hasil jangka pendek, bagaimana kebun harus segera ditanami, tanaman bertahan hidup menghasilkan panen sebelum kemarau memanggang bumi Timor. Yosef dan petani-petani Timor masih terus main tebas dan bakar setiap penghujung musim kemarau.

Sumur Mengering
Tidak jauh dari lokasi tebas bakar milik Yosef dan beberapa warga lainnya, terdapat sebuah sumur tua yang airnya hanya setinggi sekitar 10 cm. Air sumur itu menjadi rebutan warga desa itu yang berjumlah 320 KK. Tidak heran, sering kali mereka terlibat adu mulut bahkan tak jarang terjadi perkelahian karena ada yang menyerobot giliran. Di siang hari lokasi itu ramai seperti pasar. Di malam hari warga terus berdatangan membawa obor, pelita bahkan lampu gas. Sumur itu selalu ramai siang maupun malam.

Kendati tempat itu oleh sebagian warga dinilai angker, tetapi daripada mati kehausan, warga akhirnya melawan rasa takut dan menanti giliran timba sejak malam hingga pagi hari. Di sekitar sumur itu hanya terdapat tiga pohon beringin dan sebatang pohon jambu air yang mungkin sudah berumur ratusan tahun. Empat pohon itulah yang tetap kokoh berdiri, akar-akarnya menangkap air hujan untuk sumur tua. Pohon-pohon lain sudah lenyap ditebang, atau tinggal sisa-sisa batang yang menghitam akibat dibakar warga.

Sumur itu peninggalan bangsa Belanda sejak tahun 1920. Dulu air sumur dapat ditimba langsung dengan ember atau tabung bambu. Namun sejak 15 tahun lalu ketika kawasan hutan di sekitar daerah ini dibabat warga, air sumur tiba-tiba menyusut. Pada bulan-bulan seperti ini kita harus turun ke dasar sumur sedalam empat meter dan menimba dengan menggunakan gayung karena airnya tidak dalam lagi. "Kami sering berkelahi karena berebut air," tutur Ny. Lake.

Praktek tebas bakar untuk mempersiapkan kebun ini telah menjerumuskan warga dalam beragam bencana. Mereka menginginkan hasil jagung, padi, ubikayu, tetapi menyepelekan sumber-sumber air yang terus merosot debitnya. Akibat langsungnya, anak-anak sekitar wilayah itu menderita berbagai penyakit kulit karena jarang mandi. Diare atau muntaber juga menjadi langganan ratusan balita di desa itu lantaran sanitasi lingkungan yang buruk.

Desa Haumeni, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini adalah contoh potret buram dari 163 desa/kelurahan di kabupaten itu. Kabupaten TTU yang terletak di tengah-tengah Pulau Timor, menjadi indikator dalam setiap pembicaraan publik terkait lingkungan hidup di pulau Timor.

Kalau tebas bakar rutin terjadi di wilayah ini maka pulau Timor akan alami kekeringan panjang dan atau sebaliknya muncul banjir besar seperti yang pernah menenggelamkan puluhan desa di kabupaten tetangga, Belu dan Timor Tengah Selatan (TTS). (Yan Meko/NTT Online.com)

Tulisan ini berhasil meraih juara harapan I, Lomba Tulisan Artikel tentang Lingkungan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan PBB)

Pos Kupang Edisi Minggu 22 Juni 2008, halaman 14



0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda