Aku Terlanjur Mencintai Dia

Cerpen Jose Andrade

KALA itu, hari Sabtu dan hari telah sore, merah mentari kian meremang dan mengayunkan langkahnya perlahan menuju tempat peraduannya. Angin petang berhembus tanpa henti sembari membelai rambut kelam panjang Si Ria yang sedang bersandar pada sebuah kursi kayu tua. Keningnya terus digoda, kaos putih saljunya terus menyengati dia akibat hembusan angin.

Namun Ria tetap dalam kebisuannya, ia diam tanpa kata terlontar dari bibirnya yang manis,Tangannya menopang dagu, keningnya kian mengerut dan alisnya membayang, nampak Ria sedang memikirkan seribu satu macam duka lara kehidupan yang ia jalani demi hari demi hari yang tak kunjung usai.

Fajar sudah membuyar, gulita malam pun datang menghampiri Ria yang duduk termenung sendirian. Entah mengapa mata Ria yang berkedip-edip berkaca, pipiya lembab karena air kesedihannya tak tertahankan lagi. Senyumnya pun menjadi hambar, bibirnya yang mengatup erat menggetar sedih, "Aku benci.... dan sangat membenci diriku, mengapa nuraniku menderita?


Dulu Kobe yang memanahkan cintanya di hatiku telah pergi, Ibnu yang sangat sayang padaku mengkhianatiku, Rick yang aku cintai telah dirampas oleh teman sekelasku, dan sekarang Boy yang sangat memperhatikanku sudah tidak peduli lagi denganku. Ah... aku malu dengan diriku sendiri, muak melihat diriku...". Sesaat kemudian suara itu menghampa dan berada dalam kesenyapaan lagi.

Tiba-tiba Ria terjaga dari lamunannya karena hembusan angin malam semakin kencang dan desah dedaunan mengusiknya serta desuh pintu karena diketok, namun ia berusaha mengatasinya dan kembali pada permenungannya. Lalu Ria mulai membayangkan Boy di kejauhan yang tak kunjung datang sembari berkata, "Aku yakin boy sangat mencintaiku, ia tidak akan meninggalkan aku . Aku.. yakin seandainya malam ini dia bersamaku, aku tak mungkin termenung sendirian di tengah kesepian malam yang sangat menyakitkan ini.

Boy pasti akan membawaku berjelajah jauh ke angkasa yang nan jauh, di sana aku bisa menyentuh bintang dan bulan yang terang-benderang dan aku tidak akan kedinginan seperti ini karena aku berada dalam pelukannya, ah...".

Desah-desuh pintu kian menguat, Ria akhirnya tersadarkan dari khayalan, ia segera bergegas menuju pintu rumahnya yang berangka kayu dan beratapkan seng yang berada di sampingnya dan disertai rasa penasaran. Ria mulai mendekapkan tangan kanannya pada gagang pintu lalu membukanya, ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Boy, orang kesayangannya. Ria tercegang melihat suatu keistimewaan pada kepribadian Boy.

"Selamat bertemu sayang", tandas Boy. Betapa senangnya Ria karena kerinduannya terpecahkan, harapannya tercapai, kedalaman rindunya terobati dan ia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Ia merasa dirinya seperti suatu yang selalu dikunjungi dan dielus-elus oleh seokor kupu-kupu yang warnanya menghidupkan. Sehingga ia mendekap erat tangan Boy tanpa berkata dan menarik Boy masuk. Air mata Ria kering seketika, senyumnya kembali manis, matanya memancarkan kehangatan cinta pada Boy dan aurora hati yang terpadam bersinar lagi.

Keduanya saling memandang dengan penuh kemesraan. Kelihatannya mereka sedang merajut kembali benang cinta yang hampir putus. Kemudian Ria menggoda, "Ayo jujur !kamu mau mengajakku jalan-jalan malam khan? tidak usah bohong, karena kamu berpakaian rapi sekali, tapi.. aku belum siap sayang... jadi kamu harus menunggu". Boy mulai mengelus sepatu katsnya karena ia semakin bingung dan pikirannya terpecah-belah.

"Kemana saja selama ini, sayang ? Aku sangat rindu akan kehadiranmu...". Boy diam.. Nampaknya suara Boy telah disergap oleh keheningan sehingga tidak ada lagi deru nada suara.

Sembari menahan kesedihan dan air mata yang hampir menetas, Boy memecahkan keraguannya dengan desah suara," Maafkan aku Ria. Aku sangat mengerti dan tahu bahwa engkau sangat mencintaiku, cintamu padaku tak bersyarat dan memang aku lahir untuk dicinta kamu, sayang..., tapi...". "Tapi apa?" sambar Ria. "Tapi cinta menghendaki lain, ia menghendaki aku membagikan diriku untuk aku lain. Dan ada orang jatuh cinta padaku bahkan cinta-Nya melebihi cinta, cinta-Nya melampaui kedalaman cintaku. Aku sangat merasakan besar sukacita akan cinta-Nya. Aku terlanjur mencintai Dia.


Bukan hanya aku tetapi banyak orang jatuh cinta pada-Nya. Cinta-Nya telah mengikat hatiku sehingga aku tak mampu berbuat apa-apa . Terus terang aku telah terjerat tali cinta-Nya".

Mendengar perkataan itu, hati Ria terbalut kabut sedih yang menyakitkan. Ia merasa seperti seorang yang terdampar di tengah samudera luas. Dalam kesedihan yang tak tertahan ia berseru, "Terima kasih... Boy.

Padahal kamu tidak mencintai aku lagi. Lantas kamu beralih pada wanita lain. Apa salahku? Apa kekuranganku, apakah aku tidak baik padamu? Atau sangkamu bahwa aku tidak mencitaimu lagi sehingga kamu tidak memperhatikanku seperti dulu. Ternyata kamu itu pendusta, kamu hanya mempermainkan aku dengan panah cintamu, kamu... memenjarakan hatiku Boy. Setelah itu kamu membiarkan kau sendiri yang memikul berat ini, kamu..." Ria berhenti berbicara karena iringan tangis dan air mata terus menetes serta kehabisan bahasa.

Boy mencoba untuk menenangkan Ria dengan kata-kata. "Ria, aku sangat mencintaimu dan aku tahu kamu juga mencintaiku. Cintaku padamu bukan karena selama ini kamu mencintaiku. Tetapi karena aku yang memcintaimu. Aku aku sadar bahwa kau hadir dan ada di jagat ini untuk mencintai dan dicinta. Namun perlu cintaku bebas. Ria sayang, mencinta seseorang tidak berarti memiliki melainkan memberi kebebasan cinta pada orang yang dicintai. Itulah cinta sejati. Cinta itu tidak bisa dimiliki sendiri, ia hanya bisa dimiliki dengan mencintai semua orang tanpa batas. Cinta akan selalu memberi kebebasan kepada kita untuk memilah dan memilih jalan kehidupan kita masing-masing.

Apabila mencinta, ada prinsip senang dan bersyarat, itu bukan cinta. Ria kalau kamu sungguh mencintaiku, biarkanlah aku mengembangkan cintaku untuk mencintai kehidupan ini, sebab hidup ini hanyalah pinjaman dari Allah, supaya kita mengembangkan cinta untuk mencintai semua orang. Sayang ... maafkanlah aku! Aku terlanjur mencintai Dia. Aku mencintai orang itu bukan karena apa-apa, tetapi Dia telah mencintaiku sebelum kamu mencintaiku. Cinta-Nya tulus, dan betapa luas dan dalamnya, tinggi dan lebarnya cinta-Nya, sehingga melampaui aku. Sayang... karena itu aku buka jatuh cinta pada wanita lain, tetapi aku mau menjawab cinta Kristus yang telah ada dalam diriku semenjak aku ada di dunia. Dan cinta-Nya tanpa batas padakuö. Dengan halus Ria mendesah, ô Kamu ingin menjadi pasrtor...?"

"Ya... sayang. Benar yang kamu katakana. Maka lepaskanlah aku pergi menjalani hidup baru dengan cintaku", balas Boy.

Ria amat sedih. Duka seribu duka terus bertambah, saat mendengar itu. Ia masuk lagi ke dalam kesepian senyapa dan tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya. Boy menambah bicara, "Aku datang kesini ingin mengucapkan terimah kasih yang berlimpah kepada sekaligus selamat berpisah kepada orang yang baik dan pernah aku lihat, kenal dan terlebih pernah hadir dalam saban sanubariku, terima kasih. Aku yakin bukan aku saja bisa membahagiakan kamu, tetapi masih ada orang lain yang lebih membahagiakan kamu. Selamat jalan sayang...!" Setelah itu, Boy keluar dari rumah Ria dan pergi.

Alangkah sedih hati Ria, kerinduan tinggal kerinduan. Dengan kebisuannya ia hanya bisa menatap kepergian Boy dengan iringan air mata. Kesedihan Ria tak diketahui oleh siapa-siapa mungkin hanyalah malam mencekam yang tahu dan sapu tangannya menjadi saksi bisu atas rasanya. Dalam hati kecil Ria beruntai "Mungkin aku ditakdirkan untuk bersedih". (*)


Pos Kupang Minggu 27 Juli 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda