Asal Jadi

DIA sudah jadi sarjana lulusan Unadar alias Universitas Asal Dapat Gelar. Baginya yang penting gelar, naik pangkat, lulus dan lulus sertifikasi, dan tentu saja yang paling penting dari semuanya adalah naik status. Sarina siapa berani lawan? Begitulah pikirnya. Karena itulah ketika Benza datang dengan wajah murung, dia pun gambar dengan komentarnya sebagai seorang sarjana Unadar.
"Oh, begitulah kenyataanya. Hasil UN SMP hanya sekian persen. Jaki Yunior tidak lulus. Buat apa dipikir?"
"Rara!" Benza menantangnya. "Kenyatanya anaknya Jaki jadi korban! Kenapa? Sejak kelas satu engkau beri point tinggi, biar nilai bagus, naik kelas, dapat rangking. Engkau suka kontrol nilai supaya Jaki senang. Menghadapi UN soal dari Jakarta pemeriksaan Jakarta, keputusan Jakarta, Jaki Yunior yang lulus katrol terus-menerus itu pun jatuh tersungkur! Apa tanggung jawabmu?"

"Aha, itu urusan saya dong! Yang buat Jaki Yunior tidak lulus itu UN, bukan saya!" Rara berkeras membela dirinya. "Coba kalau kelulusan diserahkan kepada sekolah, pasti Jaki Yunior lulus," Rara membelalak. "Bukankah kami mati-matian tidak setuju UN? Bukankah kamu getol bicara tentang kualitas intelektual, kualitas emosional, dan kualitas spiritual? Bukankah kamu yang mengatakan. Kenapa sekarang kamu mempersalahkan saya? Bukan salahkan UN?"
***
"Ini dia soalnya," kata Benza. "Soal tanggung jawab mengajar dan mendidik soal ujian sekolah dan UN guru dan sekolah mesti berani mengambil keputusan, dengan sistem kerucut. Berani gunting di kelas satu. Anak tahan kelas jika tidak mencapai standar berdasarkan indikator kelulusan yang tepat. Gunting lagi di kelas dua, sehingga peserta UN di kelas tiga benar-benar calon yang siap dari semua sisi. Melalui jalan ini anak- anak diselamatkan! Proses mengajar dan mendidik berjalan bersama, kualitas kelulusan benar-benar menjadikan anak manusia baru dari waktu ke waktu," kata Benza serius. "Melalui cara ini juga kompetensi sekolah dan kompetensi murid terjamin dengan UN maupun tanpa UN. Mana yang akan engkau pilih. Dulu, Jaki Yunior tahan kelas dan dengan demikian yunior terpacu semangatnya untuk belajar atau Jaki Yunior naik kelas biar bodoh dan ujungnya tidak lulus UN?"
"Terserah!" Begitulah Rara kehilangan kata-kata. "Yang jelas Jaki Yunior tidak lulus karena UN bukan karena saya!" Rara tetap mencuci tangan bersih-bersih. "Kamu yang tidak setuju UN silakan salahkan UN!" katanya sambil mengejek.
"Jelas saya tidak setuju UN menjadi penentu kelulusan anak," potong Benza dengan segera. "Kelulusan anak ada di tangan sekolah, karena itu guru dan sekolah selayaknya bertanggung jawab pada kualitas SDM anak-anaknya dengan atau tanpa UN."
"Jadi kamu mau lawan UN?" Rara salah sambung.
"Ya! Saya mau lawan UN," jawan Benza tegas. "Saya harus jadikan anak-anak saya lebih dari standar UN. Pada penghujung tahun kelulusan, anak-anak menjadi nomor satu untuk dirinya dan sekolahnya. Saya tidak akan gentar menghadapi US alias Ujian Sekolah, UN alias Ujian Nasional, bila perlu siap juga untuk lulus UI alias Ujian Internasional. US, UN atau pun UI bukan soal besar. Karena saya dan sekolah saya yang menentukan lulus melalui US, UN atau pun UI. Mengerti?" Benza ...senyum membuat Rara hanya bisa mencibir kebingungan dengan jalan pikiran Benza.
"Sok pintar kamu!" Demikian kata-kata yang keluar begitu saja dari kepala Rara. "Saya yang serjana saja tidak berani tantang UN, kamu yang bukan apa-apa mau gara-gara. Saya kan sarjana kamu tidak perlu kuliahin saya!" Rara lupa diri.
***
"Halo Rara!" Jaki muncul tiba-tiba. "Saya sudah daftar kuliah, sambil mengajar sibuk urus anak, urus sekolah, mana mesti kuliah. Aduh pusing!" Jaki garuk kepala. "Kalau Yunior tidak lulus saya tidak pusing peduli! Ada banyak paket, dia tinggal ambil saja paket mana saja yang cocok. Pokoknya asal jadi dan asal dapat saja. Soal kualitasnya Jaki Yunior bukan urusan saya. Yang penting bagi saya hanya gelar, pangkat, jabatan, status, gaya dan gara-gara!"
"Oh begitu?" Jaki bersinar-sinar. "Bisa tidak ya kuliah sekali-sekali, makalah dan tugas-tugas orang lain yang buat, skripsi kerja rame-rame atau sewa orang yang buat. Bisa tidak ya? Kita hanya tahunya bayar kuliah, beres. Tiba-tiba sudah sarjana! Bagaimana?"
"Kuliah dimana?" Tanya Benza.
"Unadar," jawab Jaki dan Rara bersamaan. (maria matildis banda)


Pos Kupang Edisi Minggu 29 Juni 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda