Bebek Angsa

Oleh Maria Matildis Banda

"POTONG bebek angsa masak di kuali, nona minta dansa, dansa empat kali. Sorong ke kiri sorong ke kanan...Wah, santai dan enak saja lagu ini. Sepertinya tidak ada beban dan bebas masalah.

Kalau saja kita dapat mengatasi konflik dengan ringan, seringan lagu potong bebek angsa, betapa enaknya jadi orang NTT. Tetapi, nyatanya bukan orang NTT namanya kalau tidak sanggup membuat masalah, memperpanjang konflik, mempersulit solusi, tarik ulur keputusan, suka molor, dan ambil kebijakan yang meresahkan.


Pokoknya kalau semakin rumit semakin berliku-liku, semakin kusut dan mengkerut, itu baru hebat! Itu baru NTT namanya. Pantas, dari tahun ke tahun hanya begitu-begitu saja, tidak ada yang hebat. Kebanggaan jadi orang NTT dihancurkan oleh kita-kita juga yang memiliki kebiasaan memancing di air keruh dan tenggelam dalam kebanggan semu.

Lihat saja! PT Semen Kupang yang menjadi kebanggaan NTT, kini seperti telur di ujung tanduk, hidup segan mati pun tak mau. Manajemennya seperti apa ya? Pengembangan SDMnya bagaimana? Pengelolaan perusahaannya selama ini ke mana arahnya? Mengapa pula sampai perusahaan kebanggaan ini, jadi kacau balau? Siapa biang keroknya ya? Kalau begini keadaannya, biarlah saya cabut saja dari PT Semen!" Rara menggerutu tidak karuan karena kesal dirumahkan oleh PT Semen.
***
"Jangan putus asa begitu! Masak sih hanya bisa lihat sisi negatif saja! Coba renung dan ambil positifnya!" Komentar Jaki memperhatikan wajah Rara yang terlipat karena marah. "Kalau dirumahkan santai saja. Kalau dipecat santai saja! Bila perlu nyanyi lagi potong bebek angsa... buat apa susah? Bukan hanya PT Semen saja yang bermasalah dan tidak tuntas urusannya.

Ada banyak hal di kampung besar kita ini yang tidak tuntas, ngambang, dan ujung-ujungnya menggantung tanpa penyelesaian..." Jaki mengangkat semangat Rara. "Sudahlah kita bangun pabrik baru yang lebih hebat dari PT Semen. Dari pada mengkerut begitu bukan?"

"Ide bagus!" Sambung Benza. "Kita harus tetap punya kebanggaan sebagai orang NTT. Apa pun yang kita miliki sekarang, baik atau pun buruk, kita yang punya. Kita yang mesti berusaha bangkit dan karena itulah saya mau bangun perusahaan jamu terbesar di NTT. Kita bisa kerja sama dengan Jamu Sidomuncul, Nyonya Menner dan lain-lain. Produk utama perusahaan kita adalah jamu tuntas. Biar semua orang kita sehat lahir batin karena khasiat jamu tuntas. Pokoknya begitu minum jamu tuntas pikiran dan hati langsung terbuka dan dengan sendirinya punya tanggung jawab untuk selesaikan masalah apa saja sampai tuntas. Bagaimana? Mau bergabung?"

"Betul! Daripada jadi karyawan PT Semen yang dirumahkan, lebih baik sambil tunggu penyelesaian konflik PT Semen, kita bangun pabrik jamu tuntas. Kita kerja dan tidak jadi nganggur!" Sambung Jaki dengan penuh semangat.
***
"Semua urusan tuntas! Itu saja visi perusahaan kita," Benza memberi penjelasan. "Begitu minum jamu tuntas problem pengangguran tuntas, kasus korupsi di semua kedinasan diusut tuntas, keterbelakangan SDM ditingkatkan tuntas, fakir miskin dan orang sakit dapat pelayanan tuntas, mabuk dan judi diatasi tuntas, pelacuran bersih tuntas. Masalah dengan KPU tuntas. Pokoknya serba tuntas tas tas!"

"Oke setuju!" Rara penuh semangat. "Pertama kita buat produk jamu tuntas khusus buat para pejabat, bapak-bapak pembesar penentu kebijakan, agar sanggup mengambil kebijakan terbaik demi harga diri NTT secara tuntas. Dengan demikian urusan PT Semen beres dan saya bisa bekerja kembali di PT Semen dengan tenang!"

"Ya! Kebanggaan kita semua orang NTT yang punya PT Semen pun terangkat kembali. Lebih penting lagi kita orang kita yang konon hidup dengan pelayanan kasih benar-benar melayani dengan jujur dan kasih; tidak hanya manis di bibir tetapi pahit di perbuatan," sambung Jaki.
***

"Bagusnya nama perusahaan jamu kita apa ya?" Tanya Rara.
"Yang mudah diingat!" Sambung Jaki.
"Saya sudah siap nama yang bagus. Namanya PT Jamu Bebek Angsa!" Benza menyampaikan usulan jitu. "Agar kita bangga menjadi bangsa yang dengan jiwa besar, kejujuran, dan tanggung jawab membangun NTT ke depan!"
"Siapa yang akan meresmikan perusahaan kita?" Tanya Jaki.
"Fren! Gubernur dan Wagub baru!"
"Siapa yang akan minum jamu tuntas pertama kalinya?"
"Tentu saja Fren!" Jawab Benza dengan hati gembira. (*)


Pos Kupang Minggu 13 Juli 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda