Catatan Ziarah dari Israel (3)


ISTIMEWA
DI YERUSALEM--Rombongan peziarah Capriasi Indonesia pose
bersama di Kota Yerusalem

Selamat Tinggal Yerusalem


Oleh: Joshenone Jodjana

SEMILIR angin senja tidak meredakan cuaca panas di Kota Yerusalem. Masih terbawa perasaan haru, Minggu 15 Juni 2008, rombongan peziarah Capriasi Indonesia meninggalkan Kota Yerusalem. Dalam temaram senja, kami menyusuri jalan keluar Kota Mulia itu untuk melanjutkan ziarah ke Jericho. Dari Jerico kami menuju Qumran, tempat ditemukan gulungan Kitab Suci Nabi Yesaya oleh anak penggembala suku Bedouin. Siang sudah tiba, kami pun mengisi kampung tengah (perut) yang mulai lapar. Usai makam siang kaki berendam di Laut Mati.

Laut Mati terletak 1.300 kaki di bawah permukaan laut, merupakan titik terendah di permukaan bumi. Dinamakan Laut Mati karena tidak ada satu pun hewan yang bisa hidup di dalamnya. Kandungan garamnya sangat tinggi, sekitar 28 persen. Oleh karena itu, tubuh setiap peziarah yang mandi di laut itu mengambang di air tanpa harus melakukan banyak gerakan. Rombongan kami tidak ketinggalan ikut berendam dan melumuri badan dengan lumpur Laut Mati. Ini dengan harapan bisa awet muda atau yang kulitnya sering gatal-gatal dipercaya bisa hilang penyakit gatalnya kalau diolesi dengan lumpur Laut Mati.


Keesokkan harinya, Senin (16/6/2008), semua peserta sudah pada cantik dan awet muda berkat lumpur Laut Mati. Selanjutnya kami mengunjungi Gereja Segala Bangsa dan Taman Gethsemani. Taman Gethsemani terletak di kaki Bukit Zaitun. Menurut Santu Yohanes, tempat ini sangat disukai Yesus (Lukas 22;39). Di dalam taman ini ada pohon zaitun dan bunga-bunga yang indah. Juga ada satu pohon zaitun yang diperkirakan berumur sejak zaman Yesus Kristus, karena memang pohon zaitun bisa bertahan beribu-ribu tahun. Kami memgambil foto pada pohon zaitun itu. Di dekat Taman Gethsemani ada sebuah gereja, yakni Gereja Gethsemani.

Ketika tiba di gereja ini umat setempat sedang misa, dan kami pun ikut misa suci. Gereja Gethsemani yang asli dihancurkan oleh bangsa Persia, kemudian dibangun kembali dan dihancurkan lagi. Dan, pada tahun 1919-1924 ada 16 negara yang mendanai pembangunan kembali gereja ini. Maka gereja itu disebut Gereja Segala Bangsa.

Dari Gereja Segala Bangsa, rombongan Capriasi Indonesia menuju Pater Noster Church. Gereja ini dibangun di atas tempat di mana Yesus biasa mengajar murid- muridnya Doa Bapak Kami. Pada dinding serambi geraja tertulis dalam 62 bahasa Doa Bapak Kami, termasuk Doa Bapak Kami dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Batak dan bahasa Sunda.

Banyak tempat bersejarah yang kami kunjungi, semua terdapat dalam Injil, yaitu Caesarea, kota pelabuhan Haifa, Gereja Dominikus Flevit, Kapel Kenaikan, Einkarem tempat pertemuan Maria dan Elizabeth sepupunya yang lagi mengandung. Sebelum makan siang, kami mampir ke tempat bersejarah di Gunung Carmel, yang terkenal di Haifa. Di Gunung Carmel, Nabi Ellia menantang imam-imam dewa Baal dan mengalahkan 450 imam Baal. Di kaki Gunung Carmel ada gua suci tempat perlindungan Nabi Ellia selama pelarian dari raja Ahab. Dan, di atas gua didirikan Gereja Stella Maris yang merupakan biara pusat Carmel.

Bagi umat kristiani, Capernaum bukan nama baru. Kota itu merupakan bagian dari kisah perjalanan Yesus. Di Capernaum itulah Yesus banyak melakukan mujizat (Lukas 4:31- 41). Capernaum juga dicatat dalam sejarah gereja sebagai tempat tinggal Petrus. Di tempat itu Yesus melakukan mujizat menyembuhkan mertua Petrus yang sakit demam. Mujizat lainnya di Tabgha, tempat Tuhan Yesus melipatgandakan roti dan ikan (Markus 6:36-44). Ini terlihat pada mosaik yang menggambarkan keranjang roti dan dua ekor ikan.

Perjalanan selanjutnya ke Kota Kana. Dalam catatan sejarah gereja, Kota Kana terkenal karena di situlah Yerus pertama kali membuat mujizat dengan mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11). Kami pun mengunjungi Gereja Kana. Pada kesempatan itu bagi pasangan suami-istri yang ingin mengukuhkan ikatan pernikahan ada upacara pengukuhan di gerja tersebut. Di antara anggota rombongan kami ada empat pasang yang dikukuhkan kembali ikatan pernikahannya. Setelah acara pengukuhan, empat pasanagn itu mendapat sertifikat. Selesai upacara ada sedikit acara bebas bisa beli anggur yang asli dan paling terkenal di Kana.

Baptis Ulang di Yordan
Selasa, 17 Juni 2008, awan pagi menyelimuti Kota Capernaum. Kami naik perahu menyusuri Sungai Tiberias nan teduh. Sungai Tiberias bentuknya seperti harpa. Nama Tiberias diambil dari bahasa Ibrani, Tiberias Konneret, yang artinya harpa. Di sungai inilah Yesus dan murid-muridNya naik perahu dan mengalami badai yang luar biasa. Namun, Tuhan Yesus dengan tenang membuat mujizat dengan sekali berkata badai pun langsung tenang (Mat 8: 23-27). Kami pun berkeliling dengan perahu di Sungai Tiberias.

Setelah menyusuri Sungai Tiberias, kami menjejak Nazaret. Sejarah gereja mencatat, Nazaret adalah tempat tinggal Yusuf, Maria dan Yesus. Kami menyusuri jalan-jalan di Nazaret. Tidak ketinggalan kaki kami pun melangkah ke Gunung Tabor. Di tempat inilah Yesus dimuliakan (Lukas 9:28-36).

Hari beranjak siang, kami pun mengisi perut yang mulai 'keroncong'. Kami makan di mozaik ikan Petrus. Menikmati 'ikan petrus' yang lezat, padahal kami sudah berangan- angan menikmati makanan ala Indonesia. Namun, ketika menikmati makan 'ikan petrus' kerinduan akan masakan Indonesia seakan hilang.

Pada Rabu, 18 Juni 2008), ziarah kami dilanjutkan ke Sungai Yordan. Di kalangan orang kristiani, Sungai Yordan dikenal sebagai tempat Yesus dipermandikan oleh Yohanes pembaptis. Oleh karena itu, ada peziarah yang ke Sungai Yordan untuk melakukan baptis atau baptis ulang dengan memakai jubah putih. Dalam rombongan kami banyak yang melakukan baptis pertama dan baptis ulang, rededikasiĆ .

Berkunjung ke Sungai Yordan merupakan perjalanan terakhir ziarah kami di Israel. Kami pun akhirnya harus meninggalkan Tanah Perjanjian dengan penuh haru. Dalam perjalanan pulang dari Sungai Yordan kami singgah di Malaba dan Gunung Nebo. Dalam kisah perjalanan panjang selama 40 tahun bangsa Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian, pemimpin bangsa Israel, Musa hanya melihat Tanah Perjanjian dari kejauhan di Gunung Nebo. Sebagai bukti sejarah, di Gunung Nebo kini ada tongkat Musa. Kami sempat melihat tugu tongkat Musa. Di sini, di tempat ini akhir dari ziarah kami di Tanah Perjanjian, Israel. Keesokan harinya, Kamis, 19 Juni 2008, kami kembali ke Indonesia melalui Dubai-Singapura - Jakarta.
Tak ada kata yang paling indah kami ucapkan, kecuali bersyukur kepada Tuhan atas penyelengaaraanNya sehingga kami berkenan menjejak Gunung Sinai, Yerusalem, Bethlehem, Nazaret, Tiberias, Yericho, Laut Mati, Sungai Yordan, Tembok Ratapan,Via Dolorosa, Capernaum, Laut Mati, Gunung Carmel, dan tempat lainnya di Israel. Saya sungguh terkenang Yerusalem. Jika Tuhan berkenan, suatu waktu nanti saya akan kembali berziarah ke Tanah Perjanjian, Israel. (habis)

Pos Kupang Minggu, 27 Juli 2008 halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda