Cerpen Ikklas Darwatnang

Salju di Bukit Tandus
(Untuk sahabat-sahabatku di Riung Barat - Ngada- Flores)

BUKIT itu sunyi. Hanya terdengar kicauan burung pipit yang terbang dari padang belantara dan hinggap di dahan-dahan mawar di pekarangan gubuk sederhana. Sebuah tower Telkomsel menjulang tinggi di belakang gubuk, seakan menjolok rembulan tanpa mengatakan apa-apa.

Hampir di puncaknya. Ya, ia masih merupakan menara bisu. Bisu karena sebuah sarana komunikasi yang belum mampu berkomunikasi dengan baik. Persis sebuah tiang berhala yang dibangun para lelulur Yunani - Athena zaman dahulu kala untuk menyembah dewa-dewa mereka. Kalau tak segera difungsikan maka ia akan tidak lain menjadi tiang berhala bagi masyarakat riung barat. Bukan untuk menyembah dewa, tapi menyembah teknologi yang pincang dan perusahaan yang krupuk dan takut rugi karena rendahnya mobilisasi para pengguna ha pe di wilayah itu.

Mereka coba sedikit menghibur dengan sebuah pemancar kecil yang tidak jelas jaringannya. Mungkin hanya untuk sekadar menyenangkan pandangan mata rakyat kecil yang ada di sana. Kendati tak mengatakan apa-apa, tiang berhala itu masih setia menghiasi bukit camar. Bukit kesayangan para pencari Allah dalam keheningan.
Bukit itu indah. Tapi terlalu jauh dari keramaian kota. Sepi.

Beberapa bulan lalu mereka memanggilnya dengan nama bukit Carmel. Tapi kebanyakan orang sering memanggilnya dengan nama 'Bukit Camar'. Entah siapa yang pertama yang memanggilnya. Camar sebenarnya nama seekor burung yang sering terbang melintasi samudra raya. Namun bukit itu pun dinamakan Camar. Mungkin dengan pertimbangan tertentu. "Ah namamu! Adakah engkau dipanggil lantaran sebuah gubuk sederhana yang bertengger di lerengmu, ataukah ketinggianmu yang menjulang seperti tingginya terbang seekor Camar?"

Dari gubuk itu, lelaki krempeng, memandang nun jauh ke sana. Tanpa sadar ternyata ia sedang berada dalam gubuk kesunyian di bukit itu. Bukit yang lima tahun lalu pernah mengajar padanya bahwa hidup itu seperti tanjakan jalan yang mendaki ke puncaknya. Bukit yang telah mengajarkan padanya bahwa setiap puncak pasti ada keindahannya. Kalau toh tak ada salju yang menyelimutinya, tentu ada pemandangan yang indah untuk dinikmati. "Ah Camar..! Seandainya puncakmu kau biarkan salju menyelimutimu".

Walau sudah hampir enam bulan, lelaki itu sering termenung akan hari-hari ketika dia masih berada di negeri orang. Negeri orang, adalah negeri yang tak bisa dilupakannya begitu saja. Ya! Pemeritah mereka sungguh merakyat dan tahu apa arti bekerja dan mengabdi bagi rakyat. Tidak saja berkampanye dengan janji-janji hampa yang menipu rakyat. Sungguh. Hampir di setiap villa di pucak dan gunung selalu disediakan listrik dan air. Tentu juga yang namanya jalan raya ke sebuah kampung. Apalagi di setiap desa. Bukan tunggu kempanye dengan menjanjikan listrik masuk desa. Atau pendidikan yang gratis dan sejenisnya. Kebutuhan masyarakat pasti diperhatian dan tidak diabaikan begitu saja.

"Haris apakah di negerimu ada salju?" Itu pertanyaan Clara, gadis remaja kelahiran Carara, bukit marmar Italia Utara di suatu senja. Lelaki itu tersenyum. Ia menggeleng. "Negeriku tak bersalju, Clara!" Jawabnya dengan nada yang sungguh tidak membanggakan negerinya.

"Tak ada salju? Bagaimana kamu bisa menikmati keindahan? Salju itu indah Har! Salju sering menyelimuti bukit dan gunung kami orang Eropa. Salju adalah kebanggaan kami orang eropa. Ketika salju turun dan menyelimuti afmosfir kota, semuanya tampak seakan-akan surga telah datang dan memenuhi negeri kami ini". Demikian katanya dengan bangga. Ia mempromosikan salju di negerinya padanya.

"Di negeriku ada juga keindahan. Ada salju. Tapi salju di negeriku tidak menyelimuti gunung dan bukit, Clara! Ia menyelimuti sekalian wajah anak-anak ingusan yang masih menjunjung tinggi arti sebuah kepolosan dan kejujuran. Salju di negeriku tampak pada sekalian wajah anak dara dan gadis-gadis remaja yang masih menjujung tinggi nilai budaya dan agama. Salju di negeriku akan tampak menyelimuti sekalian wajah para pemimpin yang tulus iklas, dan yang tidak sekedar mempromosikannya untuk diketahui khalayak, tapi ikhlas bekerja untuk rakyat. Tapi, Clara! Bukan saja bukit dan gunung, namun semuanya hampir tandus. Anak-anak di negriku sekarang sudah belajar menipu dan tidak berkata jujur pada orang tua. Demikian pun gadis-gadis. Sudah banyak yang tidak menghargai nilai budaya dan agama. Kata mereka sekarang jaman yang penuh dengan kebebasan. Apalagi para pemimpin.

Banyak dari mereka adalah koruptor. Tapi dihadapan rakyat mereka selalu berkata bahwa mereka bersih. Ah pembohong! Lebih licik dari ular. Tahukah kamu Clara? Kalau banyak dari mereka yang bersih, tentu Negeriku cukup maju seperti negrimu di Eropa ini ".

Dan Haris membayangkan kalau negerinya bisa seperti Eropa dan bila suatu saat bukit Camar itu diselimuti salju. Ah! Pasti indah. Tapi bukit itu tandus. Dan, tidak mungkin salju akan bertengger di puncaknya. Untung beberapa bulan ini ada yang prihatin akan gundulnya bukit itu. Dan kemudian diturunkan program penghijauan bukit itu. Biarlah kehijauan akan menjadi miliknya. Dan pepohonannya menjadi rambut yang menghiasi puncaknya yang gundul.

"Aduh Pak Haris!" Demikian kata seorang Mekas (sapaan halus untuk mereka yang tua di Riung barat) kepada lelaki itu. "Apa Pak tak tahu kalau di daerah kami ini adalah daerah peternakan? Dengan penghijauan ini berarti kami tak boleh memiliki ternak. Karena dengan penghijauan ini berarti ternak kami akan mati kelaparan! Tentu kamu tahu Har! Ternak kami tak ├Žkan makan daun-daun jati dan mahoni itu. Kami tak bisa membakar lagi di padang dan bukit ini. Dari mana kami bisa mendapatkan rumput-rumput hijau bagi ternak kami, kalau itu tak dibakar dahulu?" Demikian protes Mekas Junadi seakan-akan kerbau, sapi, lembu, dan kamping telah hampir memadati padang ilalang dan bukit itu.

Lelaki muda itu tersenyum. "Ah Mekas, kalau membakar padang itu menjadi budaya, berarti kapan kita bisa maju, dan kapan padang- padang ini menjadi hijau di musim panas?" Haris tak mau berargumen. Percuma. Apalagi berargumen dengan mekas yang anaknya sempat membuat ia tidak bisa tidur.

Anaknya Cantik. Ayahnya memanggil dengan sebutan Anning. Anning adalah sapaan halus. Demikian kata teman-temannya di asrama. Tapi ia menganggap itu nama aslinya. Ia tidak peduli. Ia suka memanggil nama seperti yang disapa ayah dan bundanya. Anning.

Memang suatu sore Anning sempat membuat ia bingung. Suaranya pelan penuh keibuan. "Kamu sudah berada di sini? Kamu tak pernah singgah di rumahku? Apa kamu lupa padaku? Kamu tak tahu kalau lima tahun lalu kita pernah bertemu?"Haris kaget. Untung jantungnya cukup kuat. Ia tersenyum. Ia berpikir senyumnya telah menjawab semua deretan pertanyaan gadis itu.

"Kamu Haris, to?" Demikian tanyanya lagi pada lelaki itu dengan nada yang agak sedikit ragu dengan menggunakan kata ganti orang kedua jamak. Memang Anning tahu arti sopan santun. Haris berdiri di hadapannya. Anning seperti salah tingkah. Wajahnya cantik. Mirip gadis-gadis Rusia yang pernah dikenalnya. Memang gadis Rusia agak berbeda dengan gadis Indonesia. Gadis Rusia menempatkan kegantengan seorang lelaki pada urutan yang ke tujuh. Urutan pertama adalah kecerdasan dan kepintaran seorang lelaki. Tapi dari sikapnya yang ramah dan sopan itu, Aninng agaknya menepatkan kegantengan lelaki krempeng itu pada urutan ke sepuluh.

Agaknya terlalu. Mungkin. Namun biasanya gadis-gadis di desa itu sepertinya dilahirkan untuk selalu ramah dan baik kepada siapa saja. Haris sedikit bengong. "Hmmm," ia tersenyum. "Kamu Anning? Haris balik bertanya. Ia tersenyum. Tapi ia mengerti senyum itu adalah jawabannya.

Dulu mereka pernah bersama. Teman sepermainan. Tapi tdak terlalu dulu. Lima tahun yang lalu. Mereka memiliki kesamaan dalam pandangan. Ia ingat ketika itu. Ia baru di bangku kelas dua es em a. Ia cantik. Entah masa remaja yang membuatnya seperti malaekat yang anggun atau memang dari sono, jiplakan wajah bundanya. Tapi sungguh perfect. Bahkan sekarang lebih lagi.

"Kak Haris! Kamu suka kampung halaman kami yang sunyi ini? Banyak orang dari kota tidak merasa at home di daerah kami. Daerah kami sering dipandang sebagai daerah yang paling gersang, terkebelakang dan ditakuti. Bayangkan saja, jalan raya barusan masuk di tahun sebilan puluhan. Pengaspalan baru di tahun dua ribuan. Tapi itu pun baru separuhan. Hampir seperti drama yang sedang dimainkankan pemerintah. Mereka selalu saja ada alasan untuk mempertahankan kebenaran. Para kontraktor hanya bekerja asal asalan. Sungguh tidak berkualitas. Itulah yang tetap membuat kami tertinggal. Memang banyak janji-janji lain yang ditamankan pemerintah pada hati rakyat. Tapi itu hanya omong kosong belaka. Mereka kadang menjual nama rakyat dan berpestapora di atas penderintaan dan kesengsaraan rakyat." Haris jadi kagung pada Anning.

Ya ketika itu ia baru es em a, tapi memiliki wawasan yang luar biasa untuk membangun daerahnya. Tidak seperi anak es em a sekarang yang lebih banyak huru-hara dan tanpa sadar mereka kehilagan keperawanannya.

Kemarin Anning kelihatan sedikit sembrawut. Hampir tak ada lagi kecantikan pada wajahnya. Tak seorang pun yang tahu persis mengapa demikian. Tapi sesungguhnya ia marah pada Haris. Marah karena Haris sedikit memperluas misi persahabatan pada enu-enu,(sapaan halus gadis-gadis Maggarai) yang datang mencari kerja menghijaukan bukit itu. Ia sepertinya terlampau apriori. Pikirnya mungkin Har akan mengalihkan pandangan mata dan senyumku untuk enu-enu yang cantik itu. Tapi sesungguhnya mereka hanya ingin agar bukit itu hijau. Hijau adalah dambaan hampir setiap orang. Ya seperti sepengal sajak Fredrico Garcia Locca, "verde que te quiero, verde". Hijau, kumau engkau hijau.

"Haris, kadang aku cemburu, Har! Aku cemburu karena mereka datang dari barat nun jauh di sana untuk menghijaukan bukit kita. Ah seandainya kita sadar dan menghijaukannya dari dulu, pasti bukit itu sudah menjadi bukit yang indah. Ya karena kehijauannya. Itu adalah salju bagi kita. Tandus menjadi hijau".
Lelaki itu pun tersenyum sendirian. Sungguh, baginya Anning seperti salju yang ingin menyelimuti bukit tandus itu dengan kehijauan pepohonannya. Ia seperti salju. Lincah tulus dan iklas gambaran dari hatinya yang putih. Ia kagum pada Anning, membuatnya mengenangkan negeri seberang. Negeri yang dingin. Negeri yang hampir setiap punyak, salju bertenger dan menyelimuti ujungnya dengan keindahannya. (*) Bukit Camar Riung Barat, Akhir Juni


Pos Kupang, Edisi Minggu 13 Juli 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda