Cerpen Jeffrey A. Petrus

In Loving Memory


CINCIN ini aku lingkarkan di jemari yang paling dibenci semua orang agar kau tetap mengingatnya. Aku membuatnya beda. Aku ingin kau mengingat dan menyebut namaku setiap kali orang menanyakan letaknya yang salah. Salahkah ini? Tuhan menjadikan semua jemari sama dan karena itu aku memilih satu yang kumau. Kenapa mesti di jari manis? Karena namanya manis? Atau karena itu juga pilihan? Bertunangan itu ikatan dan seperti itu juga kita bebas memilih mana yang kita mau. Di manis, kelingking, tengah, telunjuk, atau bahkan jempol sekalipun. Aneh? Ya! Itu kalau tidak disadari.

Sewaktu aku menyematnya kau tak menolak. Aku ingat kau hanya tersenyum kegelian. Katamu ini tak biasa. Tapi kau tidak menolaknya. Setelah tersenyum, kau menyodorkan tanganmu dengan penuh cinta yang kutangkap dari menyempitnya kedua kelopakmu membungkus bola saljunya. Garis-garis wajahmu berubah. Aku lihat warnanya juga ikut berubah, seperti ingin menarikku dalam dekapanmu.


Dengan halus aku masukkan cincin itu, dan matamu mengikuti gerak tanganku, kemudian berganti mencari kepastian di mataku. Aku beri kepastian itu.
Masih dengan senyum dan tawamu yang sama kau lingkarkan tangan mungilmu di dadaku.

Kau ikut berbaring di tengah-tengah lampu merah bersamaku pada suatu malam sampai kita hampir digilas ekspedisi yang muncul dari pelabuhan. Kau, meski sejujurnya takut, bersedia duduk di atas Roller Coaster sampai putaran terakhir yang hampir mencopot keluar jantungmu dari tempatnya. Jawabanmu waktu itu cuma sepotong: 'siapa takut?' padahal di balik itu aku tahu it will be terrible for you, tapi kau hanya mau terlihat gagah di depanku, seperti gambaran gadis tomboi yang selama ini aku lihat.

Kau nekat kabur dari rumah jam sebelas malam hanya untuk memelukku yang terakhir kalinya di gedung tua yang kau tetapkan sebelum aku berangkat besok paginya, sampai membuat orang tuamu panik lalu mendatangkan polisi malam-malam. Kau setia menungguku dan menjaga cintamu selama hampir tiga tahun ketika aku koma di Rumah Sakit. Kau menggoda semua cowok yang mencintaimu dengan mengatakan 'aku bisa terima cintamu tapi dengan syarat aku tak bisa setia pada satu orang'. Dan aku bangga dengan semuanya. Sampai-sampai aku tak bisa mengatur kata-kata yang pasti dalam setiap doaku. Setiap kali yang keluar hanyalah 'Tuhan, aku sangat bersyukur atas rahmat-Mu Rindiany. Semoga aku tahu apa yang Kau inginkan'.

Jangan mencinta untuk dirimu sendiri. Itu teori. Prakteknya aku lebih tahu bagaimana rasanya mencinta dengan mengabaikan kebutuhan ego kita. Untuk sebagiannya aku memang percaya tapi tidak seutuhnya karena kau telah mengajariku sebagiannya tanpa aku memintanya. Kau praktekkan ketika aku sudah tak memberimu harapan lagi di rumah sakit. Aku terkapar dua kali. Tapi aku tahu bukan aku yang benar. Seperti tetes air yang bisa menghancurkan karang, begitu juga kesetiaan. Hanya orang gila yang mau menghabiskan sisa hidupnya dengan mengatasnamakan kesetiaan sementara ada udara yang mau mengisi paru-parunya. Ada cahaya yang mau menghangatkan jiwanya. Ada kesempatan yang mungkin untuk diraih.

Ada kepak baru yang mengingatkan masa lalu dan menawarkan selembar sayapnya untuk masa depan. Aku sadar sesadar-sadarnya, kamu pasti tidak mau melukaiku. Kamu hanya bingung. Kamu putus asa ketika melihat cintamu mulai berkarat. Termakan rayap. Lalu pergi.

Tapi aku tidak. Hidupku baik-baik saja sebelum mengenal kamu. Sebelum jatuh cinta yang sedalam-dalamnya padamu hingga aku akhirnya memutuskan menyemat cincin itu, aku telah tahu siapa kau sesungguhnya. Positif negatif. Hitam putih. Baik buruk. Aku tahu semuanya. Aku telah tahu penyakitmu.

Aku tahu kesempatanmu menikmati cahaya bintang malam hari hanya lima tahun. Hanya lima tahun: dua tahun setelah aku dinyatakan juga sakit lalu koma selama tiga tahun. Dua tahun setelah aku kembali pulih dan kau membiarkanku patah lagi. Dan lima tahun sejak aku resmi melamarmu. Tapi aku tidak takut mencintaimu.

Dua tahun kematianmu setelah aku menikahimu nanti tidak menyusutkan cintaku. Teman-temanku bingung. Masih normalkan aku menikahi seonggok mayat hidup? cinta berjenis kelamin apakah yang mau meniduri perempuan penyakitan? Tapi untukku itulah cinta. Cinta membuatku menari di tengah setiap hujan pertama. Cinta menghadiahiku kaca mata lain untuk melihat seorang wanita.

Dan karena itulah aku tidak menaruh cincin itu di tempat yang seharusnya supaya kau tahu aku mencintaimu dengan cara lain. Dengan caraku sendiri. Dengan cara aneh yang membuatmu tertawa tanpa tanda baca.
?????
In loving memory. Alter Bridge yang mengalun perlahan dari player mengantarku pada kenangan ini. Aku telah bebas dari tidur panjangku selama tiga tahun. Tapi Rindiany, kau di mana? Kenapa cincin ini yang pertama kulihat? Kenapa bukan kamu? Kenapa kau tidak menaruhnya pada tempat yang salah di jemariku agar aku tahu kau tidak meninggalkanku? Kenapa kau membuang tiga tahun hidupmu untuk menungguku hidup kalau kau sebenarnya menginginkan bahagiamu? Kenapa Roller Coaster, red light, dan bekas bangunan tua harus menjadi sketsa samar yang perlahan pudar dan pasti akan terhapus, kalau kau tahu aku hanya kau cinta kalau masih bernafas? Kenapa kau tidak membiarkanku sedikit lagi menjadi mataharimu? Kenapa kau harus pergi terburu-buru seperti pencuri? Kenapa ketika aku temukan kembali kesempatanku untuk menyambung usiamu yang pendek dengan menikahimu, kau justru menjadi pecundang? Kenapa aku harus kembali bangkit dari komaku hanya untuk menatapmu berlalu seperti kabut pagi?

In loving memory. Entah harus dari mana aku mulai mencintai cincin ini sekarang. Sebuah perasaan menyusup dan memintaku menguburnya dalam-dalam. Mengerat warnanya yang keemasan. Menghilangkan bentuknya yang melingkar dan menggantikannya dengan desain memanjang karena yang bulat tidak lagi mampu mengikat. Aku menangis. Aku pasti kehilangan. Tapi mau disimpan? Rasanya aku rapuh. Sebagian jiwaku telah susut.

In loving memory: Thanks for all you've done. But i can't believe you've gone. You're still live in me. I can feel you in the wind. Aku pasti akan terus merindukanmu, merindukan cincin dan jemarimu...

Aku berharap di suatu hari nanti ketika terbangun pagi-pagi, aku menyusup menjadi kabut yang sama membawamu, bercampur dengan balutan tipis embun-embun yang menghangatkan ... dan Rindiany, kau pasti tertawa membaca cerita ini ...
Saturdaynight fevered
14 April '07, 10:45:11 pm
inspired by the song of Alter Bridge:
in loving memory.

Pos Kupang Edisi Minggu 29 Juni 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda