Kader dan Kadar

KALAH taruhan membuat dirinya uring-uringan. Maklum calon yang didukungnya kalah telak, padahal di mana-mana dia sudah gemilang. Waduh, tahu-tahunya kalah, total lagi. Rugi tenaga, rugi waktu, rugi duit, juga yang terutama kehilangan teman. Soalnya, teman yang beda pilihan jadi musuh beneran. Bahkan sudah diancamnya bahwa kalau calonnya menang, dia bakal jadi orang penting dan temannya itu akan digeser alias dimutasi ke tempat kering kerontang dan ke wilayah paling udik. Kalau calonnya menang, dia pun menang taruhan, dan dia pun akan jadi jutawan baru. Dia bakal menjadi kader yang memiliki kadar meyakinkan.
"Saya pilih figur bukan partai!" Kata Rara

"Kamu harus pilih partai!" Jadi, kader yang setia pada partai, apapun alasannya! Engkau harus dukung dan pilih calon yang didukung partai. Bukankah kamu ini kader partai yang berkadar cukup untuk membesarkan partai?" Kata Jaki dengan nada tinggi.
"Maaf saja ya, Meskipun saya orang partai, saya tidak akan memilih jagoan partai! Saya kader yang memperhitungkan kadar!"
Kalau jagoannya tidak berkadar, ngapain saya pilih?"
"Kenapa?"

"Dia bukan figur idola saya! Bukan figur yang dapat dipercaya! Bukan kader yang berkadar!" Sambung Rara dengan entengnya.
"Partai tidak sama dengan idola! Partai bilang A harus A. Tidak penting idola atau bukan! Kadar atau kader atau apa namanya."
"Tentu saya pilih figur yang kadarnya mengena di hati rakyat. Meskipun orang tersebut bukan asal partai!"

"Partai juga tidak sama dengan figur dan kadar! Partai ya partai, figur ya figur! Kader ya kader, tidak ada urusan dengan kader," Jaki mulai marah tak karuan.
"Yang penting kadar figur bukan partai! Sudah terbukti dimana-mana, orang memilih kadar figur bukan memilih kadar partai. Jadi, jangan marah e kalau sebagai kader, saya tidak setia!"

"Baik, sudah!" Jaki mulai mengeluarkan jurus ancaman. "Kalau sampai kader partai saya menang, kamu saya lempar ke jurang! Kalau sampai saya menang taruhan, satu sen pun saya tidak akan sudi bagi dengan kamu! Bila perlu hubungan kita putus tus tus! Satu hal lagi, saya akan pecat kamu!"

***
"Wah, ada apa nih maen ancam-ancaman," Benza bergabung. "Kamu benar Rara! Kita pilih figur bukan pilih partai, pemilihan ke depan juga sama. Kita lihat figur-figur siapa saja. Kalau figurnya benar-benar sudah berbuat banyak untuk rakyat dengan kadar ...., jujur, punya prinsip iman yang kuat, sanggup menjunjung tinggi keadilan, dan kebenaran demi kepentingan rakyat, rela berkorban demi orang banyak, kita yakin beliau dapat menjalankan roda kepemimpinan dengan tegas, berani dan konsekuen dan lain-lain. Tokoh yang berkadar seperti itu yang kita pilih!"

"Soal kader, cocok dengan maunya saya. Figur bukan partai!. Kalau figurnya sosok pasti kita langsung .... Kalau tidak, jangan marah eee". rara kembali memberi ketegasan.
"Kalau begitu hubungan kita putus sampai di sini, kalian bukan temanku, bukan saudaraku, bukan kader yang loyal!"
***
Ternyata Rara dan Benza yang menang. Jaki kalah telak. Calonnya masuk kotak, taruhannya juga hangus, dan lebih menyedihkan lagi dia kehilangan sahabat.
"Halo Jaki, masih memusuhi kami?"

"Saya berjanji untuk melaporkan kamu berdua ke bos partai agar dipecat saja, sebab tidak sanggup mengamankan calon unggulan partai," kata Jaki
"Wah, tidak mungkin bapak Ketua maen pecat begitu. Bapak kan kader yang berkadar..." Sambung Rara

"Sekarang saatnya menghargai pilihan rakyat. Meskipun pilihan itu bukan kader partai. Apapun partainya siapapun orangnya tujuannya hanya satu, rakyat sejahtera lahir batin. Kita masih tetap sahabat baik. Pilihan boleh berbeda, hasil boleh beda, tetapi bukankah kita tetap sahabat selamanya?" Kata Benza
"Kalau soal kader dan kader bagaimana?"

"Partai sebaiknya memilih calon yang kadar kepedulian pada rakyatnya tinggi, bersih dan bebas KKN, serta menjunjung tinggi asal kebersamaan demi persahabatan tiga kader yang senantiasa beda pendapat namun tujuan Jaki, Rara dan Benza..."
"Bagaimana dengan kader yang tidak setia?"

"Tidak setiap ada siapa?" Tanya Benza. "Kalau tidak setia pada rakyat kita pecat saja! Kalau tidak setia pada partai, ya jawab saja sendiri... (maria matildis banda)


Pos Kupang, Minggu 6 Juli 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda