Keringat

ANEH, setiap kali kampanye, pasti keluar banyak keringat. Benar! Selama musim kampanye, tidak ada waktu bagi orang lain. Kerjanya hanya jalan dari satu wilayah ke wilayah lain untuk berbicara dan bicara jual visi misi, jual program, dan terutama jual janji. Maklum dirinya harus berjuang keras agar calon unggulannya sukses meraup suara terbanyak. Makanya biar nampak selalu berkeringat, dia santai saja. Prinsipnya berjuang untuk menang bukan untuk kalah. Soal setelah menang mau buat apa, penuhi janji atau tidak, itu soal lain.
"Tetapi keringatmu itu, sungguh-sungguh mengganggu!" Protes Jaki. "Sebaiknya setelah kampanye kamu langsung mandi, supaya aromamu tidak membuat kepalaku pusing."

"Syukur, saya keringat waktu kampanye!" Rara tersinggung. "Daripada kamu selalu keringat pada waktu makan! Makan apa saja kamu pasti keringat. Apalagi kalau makan daging tambah moke alias sopi, oh jangan ditanya keringatmu seperti banjir!"

"Betul juga ya," Jaki yang lagi melahap sate satu piring mengakui kenyataan. Dengan sapu tangan besar dia hapus keringat di dahi, di leher, di tangan, dan selanjutnya makan lagi. "Bagaimana ya caranya biar tidak keringat?"


***
"Ada sepenggal kisah yang berkembang dari sebuah khotbah di Gereja St. Antonius Muntilan Yogyakarta. Konon, orang India berkeringat saat bicara hal-hal penting menyangkut janji yang pasti ditepati. Orang Cina berkeringat kalau bekerja. Orang Amerika berkeringat kalau sedang merancang strategi ekonomi untuk penguasaan pasar dunia dan strategi militer untuk menampilkan kekuatannya sebagai negara super power. Orang Eropah berkeringat kalau main bola kaki. Sedangkan orang Indonesia berkeringat hanya kalau kampanye dan makan," demikian Benza memberi penjelasan panjang soal keringat.

"Oooh begitu ya?" Rara bengong tidak mengerti harus menjawab bagaimana.
"Kamu orang Indonesia kan?" Tanya Jaki yang dijawab Rara dengan anggukan. "Jadi wajarlah kalau kamu berkeringat pada saat kampanye, dan saya berkeringat pada saat makan. Apa salahnya kalau memang benar demikian?"
"Ya, kalau memang orang Indonesia berkeringat hanya pada waktu kampanye dan makan, ya tidak apa-apa. Saya kan orang Indonesia. Saya harus bangga sebagai orang Indonesia bukan?"
***
"Benza! Kamu juga orang Indonesia. Jadi sama dong keringat hanya waktu kampanye dan makan! Apalagi kalau makan kenyang sekenyang-kenyangnya dan minum mabuk semabuk-mabuknya!" Komentar Jaki.

"Orang Indonesia asli," jawab Benza. "Berkeringat waktu kampanye dan makan. Tetapi saya berupaya untuk lebih berkeringat waktu kerja seperti orang Cina, pada waktu menepati janji seperti orang India, pada saat atur strategi ekonomi dan militer seperti Amerika, main bola seperti orang Eropah, dan terutama saya pun mau berkeringat untuk pemberantasan korupsi seperti yang lagi gencar-gencarnya dilakukan KPK sekarang. Tetapi apa boleh buat keringat saya hanya untuk makan dan kampanye!"

"Bukan hanya itu!" Potong Jaki. "Berkeringat ketika minta dihadiahi perempuan? Seperti yang dilakukan oknum wakil rakyat yang sudah dipecat dari induk organisasinya?" Tanya Rara. "Ada wakil rakyat model begitu ya? Makan uang, minta hadiah perempuan, dan maen atur turut suka. Para birokrat di tubuh eksekutif juga maen-maen saja dengan uang dan ikut saja maunya pemeras. Apakah mereka keluar keringat juga?"

"Satu lagi ciri orang Indonesia. Keringat waktu mencuri dan menghitung uang rakyat," sambung Benza dengan tenang. "Keringat waktu ambil kebijakan bongkar hutan, hancurkan lahan, gundulkan tanah lalu pontang panting cari dukungan DPR, dan keringat bercucuran cari perempuan untuk dipakai hadiah!"
***
"Kamu juga orang Indonesia kan?" Jaki dan Rara serentak bicara. "Jadi kalau soal keringat jangan ditanya lagi. Sudah sama-sama tahu bukan?"
"Ya, apa boleh buat!" Jawab Benza.
"Sepertinya orang Indonesia hanya kita bertiga ya? Mudah-mudahan hanya kita bertiga. Orang Indonesia lainnya jangan sampai tiru ciri Indonesia yang ada pada kita bertiga," kata Jaki.
"Ya, apa boleh buat!" Jawab Benza.
"Mudah-mudahan kita berkeringat terus ya. Apalagi untuk urusan korupsi dan minta hadiah," sambung Rara. "Mari makan dulu biar keringat tambah banyak..." (maria matildis banda)

Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda