Kisah Cinta Tak Berujung

(Ceritera Dua Sahabat II)

Cerpen Wulang Nera Dilla

JAM menunjukkan pukul 00 17 Wita , tandanya sebentar lagi malam tiba, bagi sebagian orang perputaran waktu mungkin begitu lama, tetapi mungkin terasa cepat bagi mereka yang selalu disibukan dengan seabrek pekerjaan dan tanggung jawab yang harus diselesaikan setiap harinya.

Sore ini udara kota Kupang terasa sedikit sejuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mungkin sama dengan kota-kota propinsi lainya, kota Kupang juga sudah mulai maju dengan berbagai perkembangan disegala bidang. Mobilitas penduduknyapun dari hari ke hari beraneka ragam. Seperti biasa setiap jam yang sama orang sibuk menyiapkan diri untuk pulang kerumah masing-masing setelah seharian bekerja.


Tapi bagi Gres hampir setiap hari selalu ada waktu tambahan untuk meneyelesaikan pekerjaannya. Dia selalu pulang paling terakhir dibandingkan teman-temannya yang lain. Entah sengaja atau memang karena ia seorang staf keuangan sehingga ia harus kerja lebih teliti dan tak jarang ia selalu lembur. Where ever you go... What ever you do... I will be right here waiting for you.. Dari kamar kerja Gres terdengar alunan lembut sebuah tembang lawas milik Richard Max, Right here waiting for you.

Sepertinya dua hari belakangan ini Gres romantis sekali tanyaku dalam hati. Tok...tok...tok, masuk saja pintunya tidak dikunci. Hai, Gres, kamu belum pulang?, belum selesai juga pekerjaannya? Sapa ku dengan penuh semangat. Dengan sikap santai Gres mencoba menjawab pertanyaanku. "Biasa . Nin, kamu seperti tidak tahu aku saja, memang pernah aku pulang lebih awal dari kamu?". "Iy...iya aku sudah tahu itu ibu gaul yang cantik".

Aku dan Gres sudah bersahabat lama, sejak aku mulai masuk kerja lima tahun yang lalu. Karena begitu dekatnya, dia sudah ku anggap sebagai bagian dari hidupku. Suka duka kami selalu berbagi bersama bahkan aku dengan seluruh anggota keluarganya. Aku bangga memiliki teman seperti dia, selain karena ia baik, dia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Dimataku dia seorang sosok perempuan yang tangguh, tekun dan bertanggung jawab. Sebagai seorang single parent dia merupakan ibu yang hebat dan penuh kasih sayang bagi putri semata wayangnya.
"Ada apa Nin? kalau kamu mau pulang, pulang saja duluan, aku masih harus membereskan beberapa file".
"Ehem, ehem.., sebenarnya aku sengaja datang mengganggu kamu, kalau kamu", belum selesai kata-kataku, Gres langsung menarik tanganku. "Sudahlah, jangan berpura-pura nona centil, duduklah disini sebentar!, kebetulan aku ingin berbagi dengan kamu". Aku langsung menarik kursi dan mengambil posisi duduk tepat didepan Gres. Agar tidak kelihatan kaku aku berpura-pura mengutak atik buku-buku yang ada dimeja kerjanya.

"Kamu tidak usah bertanya Nina, karena aku yang membutuhkan kamu". "Oke..oke.. aku siap menjadi pendengar yang baik? Oya... sebelum kamu mulai, boleh aku bertanya sesuatu kekamu?". "Boleh... tapi kamu ingin tanya apa?". "Bagaimana khabar putrimu?".

Gres langsung berdiri mendekati jendela dengan wajah yang sedikit berubah ketika aku bertanya tentang putrinya. "Khabarnya baik ko Nin, dia tambah lucu, pintar, sehat dan selalu ceria seperti kamu". Tapi sayangnya apa yang kami berdua alami selama ini tidak sempurna. Aku jadi penasaran dengan sikap Gres yang sedikit aneh. Dan baru sekarang ini aku mendengar kata tak sempurna keluar dari mulutnya.

Aku bertanya-tanya dalam hatiku, atau mungkin pertanyaanku tadi membuat ia teringat akan sesuatu?. Aku mencoba meyakinkan diriku untuk bertanya lagi. "Maaf ya Ge, ada apa sebenarnya?". "Baiklah Nin...aku merasa tidak perlu menyembunyikan ini dari kamu". Aku lansung memotong pembincaraannya.
"Ge, baru sekarang aku mendengar kamu mengatakan bahwa kebahagiaan kalian berdua selama ini tidak sempurna, apa maksud dari perkataanmu itu?". " Entalah Nin... tiba-tiba saja aku berpikir untuk menghadirkan sosok ayah bagi putriku, aku lelah menjalani semua ini sendirian terus".

Aku mencoba mendekati Gres sambil menggenggam tangannya dengan erat agar dia merasakan betapa aku juga merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Dengan nada pelan aku bertanya lagi. "Ge, apa itu artinya kamu butuh seorang laki-laki kan?" Dengan tatapan mata yang lurus dan tajam ia seolah menjawab "ya". Aku langsung tertawa geli melihat tatapanya.

"Kenapa kamu tertawa? tidak ada yang lucukan dari perkataanku tadi?". Gres menatapku dengan pertanyaan heran. Kelihatannya ia sedikit marah dengan tanggapanku. "Maaf Ge, aku bukan bermaksud membuatmu tersinggung. Aku hanya teringat dengan kata-kata kamu dulu. Sambil aku mengikuti gaya bagaimana waktu itu ia menyampaikan kalimat tersebut , "kenapa harus dengan laki-laki agar menjadi sempurna, buktinya sekarang aku bisa menjalani hidupku tanpa harus bersama laki-laki? iyakan Ge, kamu pernah berkata seperti itukan?", Gres langsung membalikkan badannya dan berdiri membelakangiku.

"Iya-iya kamu memang benar, itulah sebabnya mengapa aku butuh kamu sekarang ini. kamu tahu? aku lagi jatuh cinta Nin. "Apa...?" Aku begitu terkejut, sungguh aku tidak percaya dengan apa yang ia katakan sekarang.Telingaku terasa panas, bukan apa-apa, tapi karena selama ini aku sangat menegenal sosok Gres yang begitu tidak peduli dengan mahluk yang namanya laki-laki. Dia begitu kecewa dan trauma dengan apa yang pernah ia alami sebelumnya bersama ayah dari putrinya. Selain itu ia terkenal paling komit dengan apa yang ia ucapkan. Setiap kali bertemu atau diperkenalkan dengan seorang pria yang ingin menjadi teman dekatnya, dia selalu merasa curiga dan tak ada reaksi apapun, dingin seperti gunung es.

Tapi anehnya dia memiliki teman pria yang cukup banyak dibandingkan teman-teman yang lain. Mungkin karena ia sedikit tomboi sehingga ia lebih banyak berteman dengan laki-laki dibandingkan teman perempuan. Aku mencoba membuka percakapan kami kembali. "Anyway, siapakah laki-laki yang beruntung itu Ge?" Sambil aku menatapnya dengan penuh harapan agar dia segera memberitahuku siapa pria yang telah membuat hatinya luluh.

Sebelum menjawab pertanyaanku Gres menarik napas dalam-dalam, seolah ia sebenarnya berat untuk mengatakannya padaku. "Dani", jawabnya singkat. "Apa?...., Daniel si laki-laki jawa itu? Si tamu petualang itu kan? Apa aku tidak salah dengar?".

"Tidak Nin, kamu tidak salah dengar". Aku mencoba bersikap tenang didepan Gres, aku tidak mau dia tersinggung dengan sikapku. Selama sebulan Dani bergabung bersama kami untuk melakukan penelitian di dibeberapa desa di pulau Timor ini. Dan dua hari yang lalu dia sudah kembali ke Yogya.

"Dia bukan orang Jawa asli Nin, kebetulan saja dia lahir di Yogya, papanya orang Ambon dan mamanya orang Kalimantan. Baiklah bu... aku tidak peduli itu, sekarang apa yang ibu inginkan dan yang bisa aku lakukan dari kisah ini?". Dengan nada bercanda aku memulai percakapan kami kembali, dan aku berpura-pura bersikap tegas Aku hanya butuh kamu sebagai pendengar, dan memberikan solusi yang bijak bila aku butuhkan oke?". "Oke...aku setuju".

Gres mulai menceriterakan semuanya dari awal pertemuan mereka, yang dimulai dengan rasa penasaran Dani dengan sikap Gres yang begitu dingin dan acuh tak acuh. Setiap kali mereka bertemu pasti tidak diketahui oleh kami semua, karena itu mereka lakukan setelah jam kerja selesai. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua yang pasti ditempat-tempat yang mereka sukai. Suatu sore yang indah mereka menghabiskan waktu disalah satu restoran yang cukup mewah dan terkenal di kota Kupang. Dan di tempat itulah semuanya dimulai, segala rasa diungkapkan dengan usapan penuh kelembutan. Sementara Gres terpaku menatap Dani dengan perasaan yang tak menentu. Sejenak terasa hening seakan-akan mereka sedang memikirkan apa yang ingin mereka ungkapkan.

Dani mulai mencoba menggungkapkan apa yang ia rasakan yang tumbuh dengan seiring berjalannya waktu berdua. "Maafkan aku Gres kalau aku lancang melakukan ini, sebenarnya dari awal rasa penasaranku dengan sikapmu, akhirnya aku menemukan sosok yang aku cari selama ini dan itu aku temukan pada dirimu".

Gres merasakan tangannya dingin dengan jantung berdebar kencang seolah ia baru pertama kali jatuh cinta. Berbagai persaan dan pertanyaan muncul dalam benaknya, apa sebenarnya yang terjadi denganku? Sementara Dani melanjutkan kata-katanya. "Gres, aku sudah mendengar semuanya cerita tentang kamu, masa lalu maupun tentang keluargamu.

Dari apa yang kamu ceriterakan, aku sudah mengenal lebih jauh siapa kamu yang sebenarnya dan aku tidak peduli itu. Karena setiap kali aku bersama kamu, yang kurasakan adalah damai dan kebahagiaan. Juga sebaliknya kamu tahu bahwa aku seorang duda beranak satu. So walaupun besok aku kembali ke Yogya, tapi aku berharap semoga hubungan kita ini terus berjalan, dan biarkan waktu yang menjawab semuanya, yang terpenting kita serius menajlaninya oke?".
Kalimat Dani muncul bagaikan rayuan seorang remaja yang sedang kasmaran. Gres menarik tangannya pelan-pelan sambil menyembunyikan wajahnya yang kelihatan merah merona. Bagaikan terhipnotis Gres hanya diam membisu, tatapan mata Dani membuat ia benar-banar luluh.

"Dani.... maafkan aku, bukan aku tidak yakin dengan semua yang kamu katakan, tapi aku akan coba menjalaninya. Aku tidak janji untuk bisa menjalani ini semua dengan waktu yang tak pasti dan jarak yang begitu jauh... aku berharap kamu mengerti". Mereka berdua akhirnya larut dalam kebahagiaan dengan pelukan hangat seolah tak ingin dipisahkan. So sweet... Itulah kalimat yang aku ucapkan setelah aku mendengar semua ceritera cinta Gres.

"Dan semuanya telah terjadi Nin..., sekarang aku minta pendapatmu bagaimana aku menjalani semua ini?". Aku binggung, apa yang harus aku sarankan ke Gres. Karena dari ceritanya tadi, aku tahu semuanya telah terjadi dan ia benar-benar jatuh cinta. Aku juga tak mau merusak rasa bahagia yang ia alami saat ini. "Oke Ge... tapi aku sendiri tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana?. Tapi aku hanya menyarankan agar kamu tidak terjebak dengan semua itu. Aku tidak yakin semuanya akan berjalan baik dengan jarak yang jauh, waktu dan kesempatan yang tak pasti".

Gres menatapku dengan wajah sedikit kecewa dengan jawabanku. Tapi aku coba meyakinkannya kembali, sambil menggenggam kedua tangannya. "Ge.... coba pikirkan sekali lagi ya? Maaf kalau jawabanku tadi tidak memuaskan dan tidak memberi solusi yang baik bagi kamu".

Kamu benar Nin, mungkin hanya perasaanku saja yang tidak sempurna, dan aku sadar sebenarnya bukan kebahagiaan bersama putriku yang tidak sempurna selama ini. Dan aku mau berterimakasih karena kamu selalu ada dalam sebagain kisah hidupku selama ini. Senyum bahagiapun keluar dari perasaan kami masing-masing. "Semua indah pada waktunya" serempak kalimat itu kami ucapkan.
"Sekarang.... kita pulang Ge, hari sudah gelap, ingat ada kebahagiaan lain yang sedang menantimu sekarang, keluarga dan putrimu tersayang. Oke... Dan kamipun berlalu ditengah hiruk pikuknya kota Kupang". (*)

Pos Kupang, Edisi Minggu 6 Juli 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda