Naik Unta ke Sinai

n Catatan Ziarah dari Israel (1)

Oleh: Joshenone Jodjana

SENIN, 9 Juni 2008 malam, 39 orang Direct Agen (DA) dan member Capriasi seluruh Indonesia berkumpul di Bandar Udara (Bandara) Soekarno-Hatta. Dalam rombongan itu termasuk pimpinan Capriasi, Bapak Andry dan Pendeta Andi Yosef Panggabean, serta dua tour leader, yakni Debby dan Magda. Suasana malam di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng tak bedanya dengan siang hari. Manusia hilir mudik menuju ruang tunggu keberangkatan sesuai kota atau negara tujuan penerbangan pesawat. Rombongan Capriasi Indonesia saay itu hendak berangkat menuju Israel.

Sambil menunggu pemberangkatan pesawat menuju Singapura-Dubai, member dan DA Capriasi Indonesia bercengkrama di Bandara Soekarno-Hatta, walaupun sudah malam. Ini moment yang bagus bagi kami karena sudah setahun tidak saling bertemu.


Perjalanan kami ke Israel dikemas dalam paket Capriasi Holyland. Pukul 22.10 WIB, Senin, 9 Juni 2008 rombongan Capriasi Indonesia menuju Tanah Perjanjian, Israel dengan pesawat Emirates. Kami transit di Bandara Changi-Singapura. Dari Singapura kami menuju Dubai dan tiba di Dubai hari Selasa (10/6/2008) pukul 05.20 waktu setempat. Perjalanan dilanjutkan ke Cairo, Ibu kota Mesir menggunakan pesawat lain. Kami tiba di Cairo siang hari. Dari bandara kami ikut city tour dan melihat Egyptian Museum, mengunjungi pabrik Papyrus dan berbelanja di El Kalili Bazzar. Kami makan malam di atas kapal pesiar di perairan Sungai Nil. Di kapal itu kami menyaksikan tarian belly dance.

Keesokan hari, Rabu (11/6/2008), kami mengunjungi kawasan Giza untuk melihat Pyramid dan Sphinx, yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Kemudian mengunjungi Gereja Gantung dan Gereja Abu Sirga, tempat bayi Yesus disembunyikan di Mesir (Mat 2:13-15). Di Mesir, cerita tentang Musa dimulai dari tempat yang kami kunjungi pertama, yaitu Ben Ezra Synagog, tempat bayi Musa dihanyutkan di Sungai Nil. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju St.Catherine melalui Terusan Suez. Kami bermalam di St. Catherine.

Pada Kamis (12/6/2008) pagi, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Sinai. Perjalanan ke Gunung Sinai cukup jauh dan melelahkan selama tujuh jam dengan bis. Namun, semua keletihan tidak kami rasakan karena di dalam bis selalu ada puji-pujian dari para member dan DA Capriasi, serta Pendeta Andi yang setia memainkan gitarnya.
Di setiap pemberhentian, kami keluar untuk ke toilet atau sekadar mencari udara segar, meluruskan kaki yang mulai kaku. Bis melintas gurun pasir yang panas. Bisa dibayangkan bagaimana Musa pada zaman dulu membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dengan hanya berjalan kaki dan memakan waktu sampai 40 tahun lamanya. Belum lagi keluh kesah, pencobaan, amarah dari bangsa Israel yang kehausan, dan kelaparan di padang gurun. Bagaimana Musa bisa mengatasi semua itu? Dengan pertolongan dari Tuhan yang selalu melindungi, melimpahkan makanan dan minuman pada bangsa Israel. Pukul 20.00 waktu setempat kami tiba di kaki Gunung Horeb, tempat kami menginap dan makan malam. Di situ kami istirahat sebentar sebelum siap-siap mendaki Gunung Sinai pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat.

Tepat waktu pukul 02.00 kami menuju terminal unta dengan bis. Dalam kegelapan hanya diterangi senter kecil, kami berjalan menuju ke unta yang siap mengantar kami ke Gunung Sinai. Di antara kami ada yang takut naik unta, ada yang ingin tahu rasanya duduk di punuk atau punggung unta. Berbagai macam perasaan berkecamuk dalam hati kami. Yang takut naik unta pun harus naik karena tidak ada pilihan lain. Kalau mau jalan kaki, perjalanan cukup jauh dan mendaki. Kami satu rombongan sepakat naik unta semuanya.Yang tidak mampu boleh tinggal di hotel.

Setelah kami siap di atas unta, mulailah unta berjalan dengan pelan dan kami bisa berpegangan di depan atau di belakang punggung unta yang ada kayu kecil. Namun, karena pukul 02.00 subuh keadaan sangat gelap. Kami tidak bisa melihat dengan jelas sekeliling lereng Gunung Sinai. Yang terlihat hanya gunung-gunung batu, suara unta, suara pemandu unta dalam bahasa Arab, "Ahmad", Makmud",dll . Tidak ada komunikasi antara kami dengan pemandu karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris.Ada yang pemandunya bisa bahasa Inggris yang mereka tahu, What's your name and money. Ada yang untanya berjalan cepat, ada yang mogok di jalan. Pengalaman yang tidak terlupakan naik unta di kegelapan malam hanya diterangi senter kecil dan bintang-bintang di langit.

Karena semua datang dari niat yang tulus, kami tetap bernyanyi dalam kegelapan. Puji-pujian terdengar sampai tidak terasa dua jam kami duduk di punggung unta. Setelah tiba, semua peserta mulai mendaki Gunung Sinai, tetap diterangi senter di tangan masing- masing. Kami mendaki Gunung Sinai perlahan - lahan. Kami berhenti kalau nafas mulai tersengal-sengal, tapi kami semua tidak ada yang mengeluh.

Kami menyadari bahwa Musa pada zamannya pasti jauh lebih susah lagi. Kami berhenti berkali - kali karena memang yang di daki bukan anak tangga yang terartur tapi bebatuan zaman dulu yang tersusun kokoh dan meliuk-liuk. Karena adanya semangat dan ramai - ramai akhirnya kami tiba di puncak Gunung Sinai. Di puncak gunung itu ternyata sudah banyak orang dari berbagai negara. Saat itu mulailah kami angkat puji-pujian sampai matahari terbit.


Suatu keajaiban, kami semua bisa sampai di puncak Gunung Sinai, tempat Musa mendapat 10 Perintah Allah yang disampaikan melalui Nabi Musa (kel 20:1-17). Dan, yang luar biasa yang kemarin sakit waktu perjalanan, ketika tiba di puncak Gunung Sinai kembali sehat. Semua itu berkat kebesaran Tuhan. Tuhan sungguh besar dan ajaib. Setelah menikmati matahari terbit, kami berkumpul lagi dan merenungkan firman Tuhan yang dibawakan oleh Pendeta Andi.

Deru suara angin dan dinginnya udara di puncak gunung, tidak melunturkan semangat kami untuk memadahkan pujian kepada Sang Khalik. Merdunya nyanyian dari teman-teman membuat suasana semakin syahdu, hikmat dan sungguh luar biasa ciptaan Tuhan. Tidak terasa air mata membasahi pipi kami masing-masing. Sungguh agung engkau Yesus. Begitu kata-kata yang keluar dari mulut teman-teman.

Selesai mendengar firman Tuhan, kami harus melanjutkan perjalanan pulang kembali ke penginapan. Dalam suasana suka cita bak pahlawan menang perang, kami turun dengan puji-pujian yang bernada semangat juang. Kami berhasil ke puncak Gunung Sinai. Karena matahari sudah tinggi kami bisa melihat dengan jelas dan menyadari bahwa semalam yang kami lalui adalah bebatuan yang sungguh tidak teratur letaknya dan cukup berbahaya kalau tidak hati hati. Dalam perjalanan pulang kami harus hati - hati karena bisa terjatuh karena kadang ada batu, ada pasir, ada kotoran unta, tapi semua bisa kami lalui dengan suka cita dan selamat. Ini semua tentu berkat perlindungan Tuhan selama perjalanan ke puncak Gunung Sinai, seperti Tuhan menjaga dan melindungi Musa bersama bangsa Israel pada zaman dahulu. Pada siang hari kami melanjutkan perjalanan dan makan siang di Nuewiba. Kemudian kami menuju Eilat perbatasan Taba ketika hendak memasuki Israel.

Di Mana Yerusalem?
Di mana tanah suci itu? Di mana Yerusalem? Begitulah pertanyaan dari teman-teman saat dalam perjalanan pulang dari puncak Gunung Sinai. Kami belum tiba di Yerusalem. Kami harus melalui perbatasan untuk sampai di Israel. Di perbatasan Taba kami melakukan cek di imigrasi. Sesuai dengan namanya Perbatasan Taba, kami pun dengan tabah berjemur di terik matahari menunggu giliran di imigrasi sambil membawa koper masing -masing.

Tapi sekali lagi semua berjalan dengan aman karena tanah Jerusalem sudah dekat. Dengan semangat berapi-api, walaupun masih letih, kami tetap melanjutkan perjalanan ke Kota Yerusalem yang masih harus ditempuh tiga jam dengan bis.

Setiba di Kota Yerusalem jarum jam hampir menunjuk pukul 23.00 waktu setempat. Di sepanjang jalan terlihat laki-laki berpakain jas hitam, komplit dengan topi hitam dan janggut panjang. Mereka adalah orang Yahudi. Hari sudah malam, kami pun harus makan malam dan setelah itu tidur, mengingat esok hari, ziarah kami di Tanah Perjanjian masih cukup padat. Setelah istirahat malam cukup, bangun pagi dengan wajah segar dan antusias kami melanjutkan ziarah mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Israel. (bersambung)


Pos Kupang Minggu 13 Juli 2008, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda