Nasib Hutan Bipolo

Oleh Alfred Dama/wartawan SKH Pos Kupang

KAWASAN hutan di daratan Timor tidak hanya berada di daerah dataran tinggi seperti Mutis-Timau. Pertambahan jumlah penduduk juga mengakibatkan permukiman dan lahan mulai meringsek masuk ke dalam kawasan hutan seperti hutan Bipolo di Kabupaten Kupang. Hutan dataran rendah yang menyimpan aneka kekayaan flora dan fauna ini pun semakin berkurang.

Pakar teknologi komunikasi dengan Conference satelit, dari Charles Darwin University (CDU) Dr. Rohan Fisher pada Konferensi SistemTeknologi Sistem Informasi Geografis (GIS) Dalam Berbagai Bidang di Aula Undana awal bulan Mei lalu mengungkapkan hasil pemetaan berdasarkan foro satelit hutan Bipolo tahun 1972, yakni 851 hektar, tahun 1984 luas hutan tersebut menjadi 815 hektar, tahun 1994 menjadi 356 hektar dan tahun 2006 tinggal 168 hektar. Data tersebut merupakan bukti kerusakan hutan Bipolo dari tahun ke tahun.

Kerusakan hutan ini bila tidak diatasi sekarang, maka cerita mengenai hutan rimba Bipolo hanya akan tinggal kenangan dan cerita. Sementara dampak jangka panjang adalah ancaman kekeringan akibaat sistim penyerapan dan penyimpanan air tanah yang makin menipis, bahkan hilang. Tidak heran bila suatu saat, kawasan padang pasir muncul di tengah-tengah pulau Timor.

Beberapa contoh lain adalah kawasan Kota Kupang. Dari hasil foto satelit, beberapa kawasan yang tadinya merupakan hutan kini sudah berubah menjadi tempat tinggal penduduk dan lahan pertanian.

Fisher juga menjelaskan, ke depan NTT memerlukan pemetaan dengan menggunakan satelit. Hal tersebut penting karena NTT memiliki dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau di mana saat musik hujan, hampir semua wilayah hijau, dan sebaliknya pada musik kemarau hampir semua lahan mengalami kebakaran.

Alasan lainnya adalah vegetasi di daratan NTT rendah serta tanah yang berbatu. Sementara dalam perspektif internasional saat ini perhatian internasional tertujuh pada daerah wilayah tropis basah. Selain itu hal tersebut juga terkait dengan keamanan pangan. (*)

Pos Kupang Edisi Minggu 29 Juni 2008, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda