Puisi-puisi Siprianus Atok

Goyang Patah-Patah

Dalam goyang patah-patah ,
Aroma birahi merias kedalam waktu kita.
Kegugupan merintangi diri
Sementara keterbatasan manusiawi nyata dalam liukan
Lantaran kericuhan jiwa terlalu ganas mencengkram diri.
Memang di antara putaran waktu,
Bukan hanya ada aku tersenyum manja
Pada birahi yang tak mampu dipendam jiwa
Dimana senyum jiwa hilang diterpa kericuhan jiwa kita
Namun seharusnya senyum kita bisa merias kehidupan abadi,
Melampaui gemuruh gairah kini
Gisting-Lampung Agustus, 2006,


Atas-Bawah Hanya Kau

Minggu lalu aku aku hadir dalam dekapmu di sebuah kamar tidur
Sebelumnya aku meliuk-liuk di atas pentas diskotik, sebelum kau menuntunku ke sana, ke kamar itu
Yang datang bukan hanya tukang ojek, buruh bangunan,
Tapi juga para pejabat pemerintahan
Aku tak punya banyak waktu untuk berkata-kata dengan mereka
Sebab waktu terlalu singkat
Untuk melayani begitu banyak orang
Yang datang dan pergi.
Uang memang cukup untuk hari ini
Karena mereka datang untuk menikmati aku,
Bukan mencintai aku.
Jakarta , 5 Juli 2007


Pos Kupang, Minggu 27 Juli 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda