Puisi-puisi Yosni Lagadoni Herin

Diam Juga Puisi
( Untuk Bara Pattyradja)

Di pintu pagi kau datang mengetuk ingat
Bawakan secangkir puisi sebagai upeti
Lalu memintaku turun dari gunung dingin untuk memeluk setiap luka di lekuk hidup

Aku masih di sini. Setia membaca sepi pada sehelai dasi dan selembar jas politik, serta dinding putih yang meneriakkan keterasingan.
Dari ketinggian peraduan aku menyaksikan lambung langit terluka dan bumi yang kehilangan bahasa
Duka semesta, duka bunda: mestikah bernanah?

Kata-kata terbelah. Banyak sutera belum tersulam.
Kelopak di taman gagal mekar, ibarat telur tak pernah jadi unggas.
Semuanya tersimpan dalam rahim ilusi.
Kelak akan kuwartakan sebagai sabda untuk membalut nganga luka-luka itu.

Diamku adalah puisi. Di dalamnya aku menikmati metafora.
Menjelma dari tiada ke ada, dan dari ada kepada tiada.
Bukankah rasa tidak mesti ditulis, dan sajak tidak harus terucap?

Tapi, seperti katamu, pesta ini akan segera usai.
Saatnya pintu-pintu akan segera dibuka.
Lambung langit terluka akan memuntahkan kata-kata dan bumi tak lagi bisu.
Aku akan berlari menyongsongnya!
Larantuka, Juni 2008


Sajadah Putih

Di atas sajadah putih
Terbentang keagungan Maha Segala
Berhambur kemurahan tak terangkai
Dan berlimpah rahmat sepenuh-penuh

Di atas sajadah putih
Umat' dina bersujud syukur muliakan Nama di atas langit segala langit
Hamba hina bersimpah pasrah berharap kemurahan Sang Pemurah

Di atas sajadah putih:
Kepasrahan dan kedinaan bersua Kemuliaan
Kefanaan datang menyapa Keilahian!
Denpasar, 1998


Pos Kupang, Edisi 13 Juli 2008 halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda