Pusaran Berdekatan

Cerpen Dion Diding

BAAAMMM!!. Bagai disambar petir di siang bolong. Pastor Metiu seakan tidak percaya melihat daftar nama penumpang yang hilang. Di sana ada Suster Jajone Padikone.

"Hidup ini rasanya kok begitu cepat?" "Kalau Tuhan menghendaki waktu bisa diputar mundur, aku pasti akan lebih siap menghadapinya".
Mengapa ini? Mengapa itu? Pertanyaan - pertanyaaan itu begitu liar merasuk. Seakan mau meledakkan kepala Metiu, biarawan yang sudah sangat uzur ini.
Puluhan tahun lalu, Metiu seorang perjaka yang tampan. Ayahnya bangsawan kaya, punya perkebunan besar di Afrika. Memiliki ratusan budak. Kekejaman ayahnya membuat Metiu semakin merasa dekat dengan budak-budak itu.
Hatinya kemudian terpaut pada salah satu gadis budak keturunan asing. Sampai pada suatu saat, terjadi peristiwa tragis itu. Peristiwa itu ternyata berkembang menjadi perkelahian antarkelompok dan akhirnya pecah perang saudara.


Tetapi di manakah Jajone, budak yang ia puja itu? Matanya kosong menatap langi-langit kamar. Tangannya yang kini sudah gemetaran, menggenggam erat sebuah Kitab suci. Hari-harinya dihabiskan diatas kursi roda.
***

Lembayung di atas Darfur terlihat muram. Awan bergerak suram. Sore itu hanya terdengar suara anak-anak bermain. Jajone kecil ada diantara anak-anak itu. Sesekali ada lolongan anjing. Tiba-tiba dari arah sana terdengar teriakan histeris penduduk kampung. Penculikan..!!!... Penculikan.. penduduk desa kelihatan berhamburan. Masing-masing mencari perlindungan.
Jajone...!! Jajone diculik..!!!
Sejak saat itu, Jajone tidak pernah kembali lagi.

***
Setelah berjalan puluhan kilometer, rombongan itu akhirnya tiba di suatu kota.
Di sana mereka dirantai pada sebatang balok besi. Jajone terlampau kecil untuk mengerti, apa sedang yang terjadi. Ia ketakutan, dan menangis. Tangisnya membuahkan cemeti dari tangan-tangan kasar.
Nafasnya terasa disumbat, dadanya terlihat naik turun, Oh Tuhan, temannya diinjak beramai-ramai sampai meninggal. Mayat anak itu dibuang begitu saja tanpa ada rasa bersalah.
Pada sudut kota yang lain, terlihat seorang budak sedang dibakar. Majikan itu seolah berkuasa atas hidup dan mati setiap makhluk Tuhan.
Dengan kereta kebesaran, ayah Metiu datang membeli semua budak yang tersedia hari itu. Semudah membeli kecap.
Sejak saat itu, setiap saat mereka dipaksa bekerja keras. Kadang-kadang tidak diberi makan. Mereka diperlakukan seperti binatang. Habis bekerja, mereka diikat dan dikandangkan. Ketika malam datang, Jajone dengan air mata berlinang selalu membayangkan sedang berada dalam selimut Mama, sambil mendengar dongeng Ayah.

***
Jajone kini mulai beranjak remaja. Kecantikannya membuat sirik para gadis bangsawan. Udara di malam Natal saat itu terasa sangat dingin. Budak-budak diizinkan ke gereja. Jajone merasa begitu risih, ketika matanya berbenturan dengan mata seorang pria tampan di pintu gereja, dan pria itu adalah anak majikannya, pemilik semua budak di kota itu.
Cukub lama tatapan mereka beradu, membuat seribu satu macam perasaan berkecamuk dalam dirinya. Antara takut dan tertarik terus beradu dalam hati gadis cantik itu. Tatapan itu begitu membekas, bahkan sering terbawa dalam lamunan. Karena menyadari dirinya hanyalah seorang budak, dia berusaha memadamkan setiap perasaan itu.

***
Gila! Sulit untuk dipercaya apa yang dilihatnya. Sudah dua budak dijadikan santapan buaya. Kini giliran Jajone. Tangan, kaki Jajone telah diikat, tinggal dilempar saja ke telaga buaya. Hati Metiu serasa terbakar! Bagai busur, Metiu menerjang leher orang suruhan ayahnya itu dengan sebilah pedang.
Segera dibukanya semua ikatan itu. Beberapa detik kemudian, mereka sudah berada ditempat persembunyian. Keduanya berpelukan gemetar. Tidak ada satu pun kata keluar dari mulut mereka, tatapan saling beradu, hati yang bicara. Di luar dugaan, pembunuhan itu terus berkembang menjadi pertikaian massal. Akhirnya pecah perang saudara. Metiu dan Jajone terus berpindah tempat untuk menghilangkan jejak. Sampai pada suatu saat terdengar berita bahwa ayahnya gugur dalam peristiwa itu.
Merasa penyebab kematian ayah, Metiu akhirnya memutuskan berpisah dari orang yang dicintainya, dan masuk biara.

***
Kepergian Metiu membuat hati Jajone tersayat. Apalagi Metiu pergi tanpa meninggalkan pesan. Dalam diri Metiu, Jajone seakan menemukan kembali cinta ayah dan ibu. Tetapi cinta itu juga sekarang pergi. "Apakah dia juga telah mati dalam pertempuran itu?" Itu pertanyaan yang tidak pernah ada jawabannya sepanjang hidupnya.
Merasa sebatang kara, Jajone pun akhirnya memutuskan untuk menjadi biarawati.
Di bawah naungan konggregasi Cinta kasih Kanossian, Jajone melayani Tuhan. Suatu ketika, para biarawan-biarawati Kanosian, ditugaskan untuk melayani penderika kusta di daerah terpencil.
Heli yang mengantar para missionaris ini, mengalami kecelakaan.

***
BAAAMMM!! Bagai disambar petir di siang bolong.
Pastor Metiu, seakan tidak percaya melihat nama Suster Jajone dalam daftar penumpang yang hilang. Kerangka tubuhnya seakan tidak kuat lagi menopang bobotnya. Seketika ia terjatuh lemas.
Ada perang di antara hati dan logika. Logikanya berusaha membenarkan bahwa suster itu bukan Jajone kekasihnya. Tak mungkin Jajone telah menjadi biarawati, tetapi hati kecilnya terus mengatakan benar. Wajahnya terlihat pucat ketika matanya tertuju pada suster itu, yang terpampang jelas pada harian Afrika Post. Ia tertunduk lemas. Benar apa kata hatinya.

***
Pastor Metiu saat itu, termasuk dalam tim pencari jenazah. Hutan di kaki Gunung Kilimanjaro sangat lebat. Tetapi itu bukan halangan baginya. Tak terasa pencarian memasuki hari ketujuh, tidak ada tanda akan menemukan sesuatu. Kegelisahan terus mengurung hatinya. Ia berusaha menghalau kelelahannya, berjalan, mendaki dan menuruni bukit-bukit curam. Pada hari kedua puluh, karena tidak ada titik terang, pemerintah mengumumkan agar pencarian dihentikan. Lewat alat komunikasi yang dipegangnya, dia diberitahukan untuk segera kembali ke basecamp.
Metiu histeris dalam tangisan, telapak tangannya menepuk-nepuk jidatnya. Gemerisik dedaunan, sedikitpun tidak memperdulikannya. Suaranya ditelan begitu saja oleh ganasnya hutan heterogen. Hingga akhirnya ia pun jatuh dan tertidur keletihan.
Dalam tidur, Metiu bermimpi didatangi Jajone. Jajone datang dengan gaun seorang biarawati. Wajahnya cantik, sedikit kelihatan pucat.. Tanpa berkata apa-apa, dia memberi sekuntum mawar, kepada Metiu, lalu mengajak pergi.

***
Kepergian Metiu tak pernah kembali lagi. Metiu ditemukan terkulai memeluk akar sebatang pohon.
Kini tinggal dua pusara berdekatan.(*)


Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 6


0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda