Sampah, Tanggung Jawab Siapa?

Laporan Wartawan Pos Kupang Kanis Lina Bana

SEORANG
bapak paru baya mendekati bak sampah di samping pertokoan Kota Ruteng, Ibu kota Kabupaten Manggarai, Jumat siang ujung Juni 2008 lalu. Tanpa tole kiri kanan, pria yang mengenakan topi motif daerah Manggarai membuka kain sarung, celana dan kencing dengan lepas. Usai melepas hajat ringan, ia kembali ke emperen toko dan berdiri. Rasa legah pun terpancar dari wajahnya.

Bintik-bintik keringat di dahi ia keringkan dengan tangan kanannya. Sesekali matanya kembali menoleh tong sampah warnah kuning yang sudah penuh sesak dengan sampah. Seperti ada rasa ibah penuh syukur, untung ada tempat itu sehingga dirinya bisa melepaskan sesuatu yang bisa membuat perut kembung.
Beberapa menit kemudian seorang pria paru baya lain mengenakan kain songke Manggarai setengah jongkok juga kencing di tempat itu. Sarung parang di balik kain yang disingkapnya itu seolah menongkat posisi duduk ketika hendak melepas air zeninya.

Pemandangan sekitar tampak jelas tak terurus. Sampah berupa kertas-kertas berserakan. Ada aroma tak sedap. Bau kencing campur-aduk dengan aroma lain di sekitarnya. Sepertinya tempat itu sudah lama menjadi tempat buang kencing dan kotoran lainnya.

Di tempat terpisah, persis di area pertokoan baru, seorang anak belasan tahun dengan potongan kayu kering di tangan kanan mengais-ngais di antara tumpukan gardus bekas. Matanya memperhatikan arah ujung kayu yang digerakkan. Lalat hijau beterbangan dan kembali kerubut tong itu. Anak itu seperti sedang mencari sesuatu. Matanya cekung. Mukanya pucat pasi seperti belum makan siang. Ia terus berjuang mengumpul kertas dan gardus. Kertas, gadus dan botol bekas air minum kemasan dikumpulnya untuk dijual.

Rekaman kejadian di atas sangat kontras. Di satu sisi tong sampah yang biasanya menjadi tempat buang sampah dan kotoran yang tidak dipakai lagi justru menjadi tempat buang hajat. Di sisi lain sampah tumpukan sampah di tempat itu justru menjadi sumber pendapatan. Setidaknya, tempat sampah dan sampah sudah memberi keuntungan bagi yang memanfaatkannya seperti anak di atas tadi. Pada titik ini dapat dipahami juga, sebagai tempat penampungan dan pembuangan barang-barang yang tidak bermanfaat sekaligus menjadi tempat mengais sesuatu yang bisa dimanfaatkan.

Memang, sampah menjadi sisi lain wajah Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai. Kehadirannya bisa membuat rusak pemandangan. Bahkan bisa menjadi lahan subur penyakit tertentu seperti diare, muntah berak, dan menjadi tempat berbiak jentik-jentik nyamuk. Tak pelak jika urusan sampah menjadi sesuatu yang gampang-gampang susah, namun urgen. Salah urus bisa menjadi mala petaka.

Wajah kota rusak, popularitas pejabat yang urus pun bisa turun drastis.
Terlepas dari imbas positif dalam mengelola sampah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai sudah memasuki tahap serius dalam mengelola sampah secara baik. Dari tahun ke tahun ada kemajuan yang nyata. Meski harus diakui beberapa tempat seperti saluran drainase, tempat umum seperti pasar, terminal belum seratus persen bebas dari sampah. Di sana-sini ada sampah, bererakan tak teratur terutama di sekitar pasar. Bahkan di saat-saat tertentu sangat berantakan.

Kepala Badan Pengelolaan Dampak Lingkungan (Bapedalda), Drs. Yulius Lay, yang ditemui Pos Kupang belum lama ini mengatakan, urusan sampah dan menjaga kebersihan kota bukan pekerjaan mudah. Bapedalda bekerja maksimal untuk menciptakan wajah kota lebih baik. Tanda kemajuan wajah kota telah dibuktikan melalui sertifikat adipura dari Menteri Lingkungan Hidup 2007 lalu. Meski terhadap penghargaan itu ada nada miris, tetapi harus diakui adanya sertifikat itu membuktikan tingkat kemajuan kebersihan kota sudah mulai baik.

Ditilik dari potensi, produksi sampah di Manggarai sangat tinggi. Setiap hari pasukan kuning yang terdiri dari 55 orang anggota harus mengangkut lima sampai tujuh ton sampah. Melalui 2 unit dump truk, satu unit armroll dan sembilan motor roda tiga mengangkut sampah dari tempat penampungan di sepuluh transfer depo dan 71 tong sampah. Sampah-sampah diangkut lalu dibuang ke tempat pembuang akhir di luar kota.

Menurut Lay, Bapedalda sudah memiliki TPA seluas 8.000 meter persegi. Tepatnya di Karot-Ting, Kecamatan Wae Ri'i. Lahan tersebut menjadi sentral kegiatan lingkungan hidup dengan bangunan laboratorium. Alat sampah dan proses sampah menjadi kompos.

Belum Maksimal
Wakil Ketua DPRD Manggarai, Lodvitus Bagus, A.Md, mengatakan, secara keseluruhan pengelolaan sampah sudah ada tanda-tanda positif wajah Kota Ruteng mulai membaik. Namun harus diakui pengelolaan belum maksimal. Masih konsentrasi pada wilayah tertentu. Pengaturan pasukan kuning baru hanya konsentrasi di sentral kegiatan ekonomi dan perkantoran saja.
Dikatakannya, perlu ada terobosan baru dengan membangun komunikasi bersama masyarakat di pemukiman penduduk. Tujuannya agar masyarakat sadar lingkungan dan kehidupan yang sejuk. Masyarakat kita belum menyadari pentingnya lingkungan sehat. "Mesti ada gerakan bersama sadar lingkungan," katanya.
Salah seorang aktivis LSM yang juga merangkap pemulung, Abraham Manggas, mengatakan, produksi sampah di Manggarai sangat tinggi. Hal itu menunjukkan sirkulasi ekonomi masyarakat sangat tinggi pula. "Saya tiap hari bisa dapat 600-800 kg gardus. Gardus itu saja jual dengan harga Rp 1.000,00/kg," katanya.
Ke depan, jelas Manggas, membentuk organisasi pencinta lingkungan khususnya sampah. Organisasi itu menjadi lahan baru baru masyarakat untuk bisa mengais mengumpul gardus dan sampah lainnya untuk dijual. Selain itu memotivasi masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. (kanis lina bana)


RTH Solusi Buat Ruteng Nyaman

LAY membuat suatu terobosan baru bekerja sama dengan Ekopastoral Pagal dalam mengelola sampah menjadi pupuk organik di TPA. Di lokasi itu pula disiapkan lahan pembibitan kayu. Bibit akan didistribusikan kepada warga kota dalam rangka menata ruang terbuka hijau (RTH). Tujuannya meningkatkan kualitas hidup segenap lapisan masyarakat dalam menjaga kota yang nyaman dan seimbang. Adanya keseimbangan ekologis kota melalui suatu penataan yang memadai memberi kontribusi bagi kehidupan manusia. Salah satunya cara sampah ditempatkan pada tempatnya dan dikelola menjadi pupuk organisasi. Pupuk organik bisa dipakai untuk menyuburkan pohon yang kita tanam. Dengan demikian ada sirkulasi kepentingan yang mendatangkan keuntungan bagi manusia sendiri.
Selain itu dukungan jaringan infrastruktur seperti drainase dan got bangunan menjadi faktor pendukung yang harus diperhatikan dengan baik pula. Saluran air dan RTH didistribusi secara baik. Reformasi tata ruang dan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.
Mampukah Bapedalda membuat Ruteng nyaman, bebas dari sampah-sampah? Atau hanya retorika saja. Kita tunggu. (*)

Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda