Servasius Podhi, S.H


Bupati Bukan Lowongan Pekerjaan
Oleh Aris Ninu/Wartawan Pos Kupang

GONG suksesi Kabupaten Nagekeo telah ditabuh. Ada banyak figur yang ingin menjadi pemimpin perdana di salah satu kabupaten termuda di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini. Tetapi menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Banyak pemimpin kini hanya membuat jargon, janji, harapan, pesan dan petuah tetapi tak termanivestasi dalam kepemimpinannya. Dengan kata lain, omong baik tapi pelaksanaannya menyimpang.

Karena itu salah satu calon Bupati Nagekeo, Servasius Podhi, S.H, berikhtiar untuk seia-sekata membangun Nagekeo ke arah yang lebih baik. Ia ingin membangun daerahnya agar lebih maju, setara dengan kabupaten lain di NTT. Berikut petikan wawancara Pos Kupang dengan Servasius Podhi, S.H, yang sehari-hari bertugas sebagai Regional Manager BUMN Jiwa Sraya DKI Jakarta, pekan lalu.

Bisakah Anda jelaskan perjalanan karier Anda?
Saya ini sosok petani tulen. Sebagai petani tulen, saya ingin mengubah status. Karena itu setelah tamat SMP saya ingin mengembangkan usaha. Dengan motivasi ini saya ke Kupang. Di Kupang saya kerja sawah di Tarus. Pagi kerja, sore sekolah di SMA Sapientia Kupang kelas sore yang dibuka oleh SMA Giovanni saat itu. Karena naluri saya petani maka saya ingin menekuni pekerjaan itu. Lalu selesai SMA, saya sempat kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur Unika sambil bekerja di perusahaan jasa asuransi keuangan.
Saat itu juga saya sudah berkeluarga dengan seorang wanita asli kelahiran Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Kami nikah dan waktu itu istri saya masih kerja di PDAM. Saya meneruskan kuliah dan di asuransi sebagai tenaga lapangan. Karena sibuk dengan kerja dan tidak ada waktu untuk kuliah di teknik, saat semester lima saya berhenti lalu pindah ke fakultas hukum. Saya kuliah di hukum sampai semester tujuh lalu pindah tugas ke Bima dengan cakupan wilayah cukup luas, yakni Dompu dan Sumbawa. Karena saya kerja baik dan memiliki prestasi lalu dipromosikan sebagai salah satu manajer di Jawa Barat (Jabar). Karena sukses di Jabar manajemen memindahkan saya ke Bali tahun 1998. Namanya bekerja di perusahaan negara kami selalu diberi target. Dan, saya bekerja maksimal. Di Bali saat menjadi Regional Manager membawahi tiga propinsi. Saat mutasi ke Sumatera sama dengan jabatan di Bali. Di Sumatera saya melihat dan memiliki banyak pengalaman. Di mana ada bencana alam tsunami Aceh. Ada pegawai saya yang hilang dan saya harus kerja keras membangun rumah-rumah yang ada. Dan, puji Tuhan pada Mei 2007 saya dimutasikan ke Jakarta dengan jabatan eselon I. Jabatan ini berdekatan dengan direksi. Inilah riwayat pekerjaan saya dan semua pekerjaan yang diberikan oleh perusahaan atau siapa saja, saya kerjakan dengan senang hati. Karena prinsip saya yakni harus berjuang mati-matian guna melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya.

Anda memiliki pekerjaan yang bagus, mendapat posisi wah dan strategis di Jakarta. Mengapa Anda ingin kembali ke "kampung" Nagekeo?
Saya berpikir begini.. dan sederhana saja, yakni ketika Nagekeo mekar kebetulan ada beberapa saudara, salah satunya Sigit Mado. Kami omong-omong tentang Nagekeo. Suatu waktu kami diundang ikut misa syukur di Mbay. Saya teringat dan terinspirasi dengan khotbah dari Yang Mulia Uskup Agung Ende, Mgr. Vinsentius Potokota, Pr, yang mengatakan begini, " Wahai orang Nagekeo kamu sungguh berani. Ini bukan tanda-tanda kota, rumah yang dibangun jarak-jarak. Biasanya kalau mekar menjadi kabupaten ada rumah tingkat, ada pertokoan dan swalayan yang cukup memadai sehingga bisa menjadi ibukota kabupaten. Tapi ini tanah hampir tidak ada bangunan. Yang mau maju dan layak jadi bupati adalah orang-orang yang punya energi, punya inovasi, orang yang mau berkorban dan mau mengabdi untuk membangun Nagekeo. Kalau tidak, Nagekeo akan kembali menjadi daerah termiskin." Apa yang disampaikan Bapak Uskup itu saya dengar dan saya ingin membhaktikan diri jika Tuhan berkenan dan masyarakat merestui.

Artinya pesan yang disampaikan Bapak Uskup saat misa di Mbay membuat Anda terinsipirasi dan terpanggil menjadi calon pemimpin di Nagekeo?
Itu benar. Karena saya berpikir, saya lihat di beberapa tempat pemekaran seperti di Banjar, Sumatera dan Kabupaten Lembata yang sudah sekian tahun berotonomi, juga masih susah. Lalu saya pikir mengapa ini bisa terjadi. Apakah salah kerja atau apa? Tapi pada prinsipnya dalam manajemen itu harus ada pengelolaan sebuah daerah secara profesional. Dan, menurut saya yang mengelola Nagekeo adalah orang yang bersih. Orang yang belum terkontaminasi.

Sebenarnya hal-hal apa saja yang Anda ingin buat bagi masyarakat Nagekeo. Anda juga sudah berkeliling dan mengetahui apa keinginan masyarakat?
Saya ingin cerita sedikit. Saya sudah keliling Indonesia timur. Orang-orang kita mengganggap menjadi bupati itu adalah lowongan kerja. Ini menjadi masalah dan kenapa mereka mengganggap bupati itu lowongan kerja karena mereka berpikir daripada tidak ada kerja kita lamar jadi bupati. Dan, itu pikiran yang muncul. Kalau saya masih mengganggap bupati itu lowongan kerja maka daerah Nagekeo tidak akan maju. Tetapi kalau kita anggap daerah Nagekeo itu butuh pengabdian yang kuat dan bukan lowongan kerja, maka pasti Nagekeo akan bangkit dan maju. Tentang bagaimana mengemas Nagekeo ke depan, yang pertama tentunya kita tidak ingin Nagekeo masuk dalam daerah tak maju, di mana daerah itu penuh konflik dan merepotkan pemerintah pusat; daerah yang merepotkan warganya sendiri sehingga Nagekeo terancam miskin dan bergabung dengan kabupaten lain. Makanya saya berpikir kita harus membuat Nagekeo menjadi daerah yang terbuka. Yang namanya terbukta itu macam-macam. Sifat terbuka dalam tata kelola pemerintahan, (yakni) kita kerja sesuai ketentuan dan tidak boleh ada teori balas jasa. Kalau orang pensiun kita pensiunkan. Kalau ada yang memiliki keahlian kita akan perpanjang. Penempatan job terhadap seseorang, kita terapkan the right man on the right place, artinya orang yang tepat pada posisi yang tepat pula. Dan, ini sudah saya lakukan di tempat kerja saya karena memiliki banyak karyawan. Saya akan lakukan itu. Jika saat saya turun saya akan hindari yang namanya kontraktor dan siapa saja. Dengan demikian kalau kita naik menjadi bupati kita mau mengabdi, bukan balas jasa terhadap seseorang dan lain sebagainya. Terbuka yang kedua, yakni kita ingin daerah Nagekeo dihuni oleh siapa saja seperti SDM bagus, mentalitas yang bagus dan personality yang oke. Dan, mungkin yang namanya good government kita akan terapkan di Nagekeo dengan baik dan benar. Yang namanya KKN kita hindari. Di BUMN hal-hal seperti ini sudah kami terapkan. Jika saya terpilih nantinya menjadi bupati, kita ingin Nagekeo daerah beradab. Artinya kita menempatkan nilai-nilai budaya yang ada pada masyarakat. Kita hargai seperti budaya kerja, adat istiadat kita lestarikan dan kembangkan. Budaya yang ada kaitannya dengan investor kita kembangkan. Nagekeo harus beradab sehingga tidak masuk dalam daerah tak maju, daerah terbelakang atau daerah konflik. Dan, yang paling penting paket kami, FIFA, tegas menyikapi masalah dan ramah dalam penyelesaian. Itu prinsip Paket FIFA dalam menyelesaikan masalah.
Nagekeo juga harus menjadi daerah andalan. Artinya, cita-cita masyarakat Nagekeo untuk berdiri sendiri, lepas dari kabupaten induk harus mendapat pelayanan yang baik. Peningkatan SDM, infrastruktur seperti jalan, sekolah dan sarana prasarana harus kita perhatikan. Sebenarnya hal-hal ini gampang tapi butuh dan perlu orang yang mempunyai kemampuan lobi yang kuat. Ini kan ada isu bahwa pembangunan di wilayah Indonesia timur susah. Sebenarnya pernyataan itu keliru. Tinggal kita membangun lobi yang baik dengan pemerintah pusat. Dan bukan soal itu. Bupati merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat. Kita tinggal membangun kerjasama yang baik dengan pemerintah pusat.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa calon bupati berusia muda tak terlibat dalam pembentukan kabupaten ini. Bahkan tidak mengetahui dan memiliki pengalaman membangun daerah. Tanggapan Anda?
Itu isu dan pendapat yang keliru. Semua masyarakat Nagekeo terlibat dalam pembentukan Kabupaten Nagekeo. Siapa pun dia pasti terlibat dalam proses pembentukan Nagekeo. Ada yang berusaha secara fisik dan ada yang tidak secara fisik. Tapi jangan lupa karena semua masyarakat Nagekeo bersatu makanya Nagekeo bisa mekar. Ada yang secara fisik kita lihat dalam bentuk demonstrasi dan membuat pernyataan. Mungkin itu ada yang punya catatan tersendiri. Kalau masyarakat tahu saya dan Pak Frans terlibat dalam indikasi itu maka saya mengundurkan diri. Saya tidak mau masuk dalam aib. Tapi kita sekarang tidak boleh bicara begitu karena yang jelas kita ingin bangun Nagekeo secara utuh. Itu masa lalu dan harus kita kubur.

Masyarakat sekarang ini sudah berbeda. Mereka menginginkan seorang pemimpin selalu dekat dalam berbagai kesempatan. Apalagi ketika warga mengalami kesulitan. Bagaimana tanggapan Anda melihat tuntutan dan keinginan masyarakat itu dalam konteks sebagai calon pemimpin di Nagekeo?
Saya punya karakter. Saya bersyukur kepada Tuhan karena orangtua saya dulu dalam bahasa tanda kutip tidak menyuruh saya menanam feo artinya menanam kemiri. Saya tanam pisang dan pepaya sehingga tertanam dalam diri saya sampai sekarang. Saya orangnya suka bergaul dengan siapa saja. Saya berprinsip siapa saja yang ketemu dan berhadapan dengan saya dia adalah raja dan dia adalah customer saya. Karena itu harus saya layani dengan baik. Apalagi rakyat yang telah menolong saya dan memilih saya. Saya harus memperhatikan rakyat. Ke depan saya pasti turun ke desa jika terpilih jadi bupati. Saya akan memulai semuanya dari desa ke kota. Jalan-jalan desa itu tugas bupati. Kalau jalan di kecamatan dan kabupaten itu sudah ditata oleh pemerintah pusat. Yang akan saya sentuh adalah rakyat di desa dan kita harus turun ke desa sehingga kita tahu problem dan masalah apa yang dihadapi. Kita harus ngobrol dan mencarikan solusi bagi mereka. Ini yang dibutuhkan oleh masyarakat seperti kesehatan, pendidikan dan tentang apa saja. Ini masyarakat tidak khawatir karena itu sudah tertanam dari diri saya. Saya bersyukur pada Tuhan karena masih memberikan kesehatan pada saya.

Dalam Pilkada Nagekeo Anda menggandeng Frans Ere Tonga sebagai wakil bupati. Apa yang membuat Anda tertarik dengan sosok Frans?
Saya pilih Pak Frans karena dia adalah birokrat tulen. Dia mengerti tentang akuntan dan alur keuangan. Dia orang yang bertanggung jawab. Pak Frans juga seorang yang bersih dan tidak mempunyai masalah KKN selama ia bertugas.

Lalu apa program Anda bersama Pak Frans jika terpilih?
Semua kebutuhan masyarakat akan kita perhatikan. Kebutuhan itu, yakni pertama kesehatan. Kalau bilang kesehatan orang selalu bilang itu retorika politik. Tapi yang dimaksudkan dengan kesehatan itu adalah biaya kesehatan murah dan sarana kesehatan kita siapkan. Karena saya berpikir kalau masyarakat itu sehat pasti dia bisa sekolah. Kita sudah punya ide bangun rumah sakit dan cepat atau lambat program ini harus kita laksanakan. Kedua, program kecerdasan. Kata Bung Karno "Jangan Anda berpikir daerah maju kalau Anda tidak mencerdaskan rakyat." Jangan berpikir Nagekeo itu akan maju tapi rakyatnya tidak cerdas. Tidak cerdas karena ini masalah mutu pendidikan. Kita malu ketika ada koran di Kupang menulis mutu pendidikan di Nagekeo underdog. Saya tidak tahu kenapa sampai terjadi. Tetapi yang jelas bahwa memang pemerintah mau agar mutu pendidikan itu bagus. Pemerintah harus perhatikan benar TK, SD, SMP dan SMA. Kita harus perhatikan benar mutu kurikulumnya, kesehatan sekolah, jam kerja dan jam mengajar guru. Saya punya strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Saya punya pemikiran orang yang tidak mampu kita bisa permudah sehingga ia bisa sekolah. Kenapa tidak bisa, di tempat lain misalnya Jembrana, Bangkalan dan Pangkal Pinang itu rata-rata mereka mendapat fasilitas sekolah murah. Ada sekolah plan A, B dan C. Kalau yang sekolah Plan A itu sekolah yang benar murah. Dan itu pemerintah yang fasilitasi. Saya pikir mudah ko. Plan B itu bagi masyarakat menengah ke atas. Sekolah murah dan unggulan dan itu kita tiru dan ini merupakan sumber inspirasi kita.

Kalau di bidang ekonomi apa yang Anda buat?
Untuk ekonomi saya ingin Nagekeo dihuni oleh orang-orang punya ekonomi kuat. Saya punya pengalaman di beberapa tempat. Kenapa orang di tiap daerah ekonominya naik. Ekonomi yang kuat adalah ekonomi di mana masyarakat dengan sekuat tenaga membangun masyarakatnya bekerja sesuai dengan capasibility-nya masing-masing setiap hari. Kalau dia petani ladang kita beri bantuan untuk bekerja sebagai petani ladang. Kalau dia punya lahan kita bantu sehingga hasilnya bisa mencukupi hidupnya setahun. Dinas teknis harus proaktif melakukan penyuluhan dan fasilitasi yang murah serta dana bergulir. Ini sudah ada dan tinggal kita kemas baik. Kita hanya minta masyarakat bekerja sesuai dengan pekerjaannya setiap hari. Kalau peternak ya kita bantu. Kalau kita nelayan kita tingkatkan pekerjaan kita sebagai nelayan. Petani yang tetap petani. Ini ciri meningkatkan ekonomi masyarakat yang kuat. Tugas pemerintah menjual produk masyarakat yang ada di masyarakat.

Semua pihak berharap Nagekeo menjadi daerah Flores bagian utara yang handal di bidang ekonomi. Tanggapan Anda ?
Ketika kita berada di luar banyak orang bicara tentang itu. Flores itu katanya ada tempat yang sentral untuk perekonomian dan itu ada di Mbay. Mari kita kembangkan potensi. Mbay harus dijadikan potensi dengan pemerintah mengembangkan semua potensi di masyarakat. Di Mbay ada Surabaya II dan Pelabuhan Laut Maropokot. Di bidang perhubungan kita perlu bangun kerjama sehingga Bandara Surabaya II itu ditata dan dibangun sehingga bisa didarati pesawat besar seperti Garuda. Bayangkan kalau Surabaya II dihuni oleh Garuda yang lintas Asia kita bisa terbang ke Makassar, Manado, Surabaya,Timika, Denpasar dan Darwin dan itu kita punya akses. Pelabuhan Maropokot harus jadi pelabuhan ekspor. Di Maropokot bisa juga ekspor ikan tuna karena saya lihat Bali tidak bisa lagi mengekspor ikan tuna ke luar negeri. Apa salahnya penangkapan ikan kita kembangkan. Ini program lima tahun ke depan

Benarkah Anda pernah mengatakan bahwa Anda tak mau menjadi pemimpin di Nagekeo karena sudah punya jabatan dan gaji yang lumayan?
Saya ini profesional. Saya sudah 22 tahun menjadi manajer. Saya bukan 22 tahun jadi karyawan administrasi. Saya pikir jadi manajer ini kalah juga dengan sekolah. Menjadi manajer saya urus karyawan sampai ribuan. Dan, kalau omong gaji memang pantas pemerintah hargai saya sesuai dengan prestasi yang saya berikan. Omong uang banyak itu kemasan isu dari lawan politik. Kalau uang banyak itu uangnya orang dan saya tegaskan saya tidak pernah korupsi. Kalau korupsi saya sudah dipenjara. Uang saya itu dari gaji dan di perusahaan. Ada yang namanya commission of reading dan itu yang dapatkan serta komisi pembinaan. Untuk membangun Nagekeo, saya pikir harus dari orang yang dapurnya sudah ngepul supaya jangan korupsi. Itu penting, semua orang punya uang tapi banyak dan tidaknya kita kan tidak tahu. Kebetulan saya kerja di keuangan, tapi silahkan saja.
Tetapi saya imbau kepada masyarakat bahwa kerja itu dasarnya sudah ada uang entah kecil atau besar sehingga kita kerja bukan bertujuan mencari uang. Omong soal financial di dunia orang tetap bekerja dan tetap dia akan cari. Buat saya uang itu cukup untuk istri dan anak saya bisa makan dan hidup. Tetapi uang yang saya dapat itu adalah uang dari hak saya. Jangan lalu bilang saya uang banyak lalu saya money politic dan datangkan uang. Saya ini orang keuangan dan jeli. Tanya ke tim sukses saya. Saya tidak akan sembrono mengeluarkan uang.

Anda punya pengalaman politik?
Inilah pengalaman politik saya pertama ketika saya mau menjadi calon Bupati Nagekeo. Saya memang temukan ada hal-hal yang baru dalam masyarakat. Memang saya juga ada pengalaman organisasi tapi kalau politik ini yang pertama. Pengalaman organisasi sampai sekarang masih sebagai Kongregasi Bunda Hati Kudus Maria dan Ketua Serikat SSB Bima, Sumbawa dan Dompu di Denpasar. Lalu organisasi golf saya ketua PGI Bali dan Nusra, serta beberapa ketua PGI di Jakarta. Kalau politik baru saya jalankan di Nagekeo.

Apa yang Anda ingin sampaikan kepada masyarakat Nagekeo terkait Pilkada Nagekeo?
Proses pilkada sedang berlangsung. Semua orang Nagekeo harus menghormati budaya di Nagekeo. Ini telah kami buktikan setelah selesai mendengar penjelasan tentang pemeriksaan kesehatan. Semua calon kami kumpul dan makan bersama. Kami bicara dan bekukan pemikiran. Tinggal saja masyarakat yang memilih mana yang lebih cocok. Kami ini putera dan aset Nagekeo yang maju dalam Pilkada Nagekeo. Kami yang maju dalam pilkada semua adalah keluarga. Saya ingin sampai proses ini tinggal satu bulan setelah selesai satu bulan kita tetap keluarga dan makan semeja. Saya imbau masyarakat jaga demokrasi dan suport untuk KPUD Ngada.

Anda sudah siap maju dan siap untuk menerima kekalahan?
Saya sangat siap. Kalau ada yang suruh saya mundur saya siap mundur yang penting punya alasan yang jelas. Karena saya mengganggap bupati ini bukan lowongan pekerjaan tapi pengabdian. Kalau bupati ini lowongan pekerjaan saya tidak maju. Saya anggap jadi bupati ini pengabdian buat masyarakat. Kalau Tuhan menghendaki itu kuasa Tuhan dan masyarakat. Saya sangat siap. Artinya, kalau ada yang katakan saya mundur harus sampaikan konsep jelas tentang apa yang ia bangun Nagekeo dan berpihak pada rakyat atau tidak supaya saya lihat. Jangan-jangan dia menggangap bupati ini lowongan pekerjaan buat dia. Nah ini repot.

Anda sudah naik turun gunung guna mensosialisasikan diri menjadi bupati. Apa yang Anda lihat dan masyarakat inginkan dari seorang pemimpin di Nagekeo?
Manajer itu ada ada empat prinsip, yakni bangun dan kerja sesuai dengan landasan, mengatur semua orang yang ada sehingga bisa kerja sesuai dengan ketentuan, melatih orang jujur dan tidak korupsi dan keempat manajer itu pengabdian. Jadi bupati itu kita temukan masyarakat yang aneh-aneh. Saya temukan di beberapa wilayah itu ada masyarakat yang kritik soal bupati dan Dewan. Kalau jadi bupati biasanya datang turun ke lapangan omong enak-enak dan muluk-muluk. Surga di telinga dan neraka di hati. Saya lihat banyak sekali. Saya sungguh apes. Saya belum pernah turun dan saya mengerti benar karena memang kalau jadi bupati sebaiknya saya jangan lakukan itu. Begitu jadi bupati kita bangun di kantor kita dan turun ke desa dan tanya keinginan masyarakat. Saya ingin merubah pola pikir kalau bupati itu bukan raja birokrat, bupati bukan raja pemerintah dan wilayah. Tugas bupati adalah manajer di mana
ia me-manage potensi bawahan yang ada untuk maju bersama. Bupati bukan raja sehingga saya mau rubah. Memang beda jadi manajer di perusahaan dan jadi bupati. (*)


--box--

Nama : Phodi Servasius, S.H
Lahir : Biagu-Boawae, 7 Januari 1960
Bapa : Yoseph Lali Muku (alm)
Ibu : Helena Wea Wawo (alm)
Istri : Fransiska Cusmiarty Mado
Anak-anal : Maria Anggreani Wea Phodi, Aloysius Gonzaga Ongky Lali Phodi, Isabella Laura
Phodi
Pendidikan dan karier : SDK Boawae IV (Boagu), SMPK Kotagana-Boawae, SMA Sapientia Kupang, Fakultas Hukum Universitas Mahendradatta Denpasar, Pegawai BUMN Jiwasraya di Kupang (1986), Unit Manajer BUMN Jiwasraya di Kupang (1989), Area Manajer BUMN Jiwasraya Bima, NTB dan sekitarnya (1993), Branch Manager BUMN Jiwasraya di Bandung (1995), Branch Manager BUMN Jiwasraya di Denpasar (1998), Regional Manager BUMN Jiwasraya di Bali-Nusra-Indonesia Timur (2001), Regional Manager BUMN Jiwasraya di Sumatera dan sekitarnya (2005), Ketua AMMAI (Asosiasi Manajemen Acturia Indonesia) Sumut, Regional Manager BUMN Jiwasraya Wilayah DKI Jakarta (2007- kini).


Pos Kupang, Minggu 13 Juli 2008, halaman 3




0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda