Silkus Kehidupan Suku Boti


Foto Muklis Alwi
LUKISAN BOTI--Pria Boti menunjukkan lukisan tentang benda-benda milik orang Boti pada bupati TTS, Daniel Banunaek.


Sumber Buku Laporan Hasil Kajian Upacara Siklus Kehidupan Masyarakat Suku Boti- Kabupaten TTS. Diterbitkan oleh UPTD Arkeologi, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

MESKI jumlah penduduk Boti Dalam makin berkurang, namun mereka masih survive tetap melaksanakan upacara-upacara peninggalan nenek moyang mereka. Setelah beberapa tahap yakni upacara kelahiran atau lais mahont, masa persalinan (mahonit), upacara pengenalan anak dengan dunia luar (Napoitan Liana). Selanjutnya, masyarakat Boti juga masih menggelar upacara-upacara yang merupakan kelanjutan dari upacara-upacara tersebut. Upacara yang dilakukan lebih lanjut pada sang anak adalah:

Upacara pemberian nama (nakanab)
Masyarakat Boti biasanya memberi nama anak mereka saat bayi usia empat bulan. Upacara pemberian nama ini disebut Na kanab li ana dilakukan oleh tua adat. Di rumah orangtua bayi dibentangkan selembar tikar yang di atasnya tersedia dua tempurung yang telah diisi air yang sudah diolah dengan ramuan tradisional dan telah didoakan secara adat.

Di hadapan undangan air ramuan dipercikan kepada bayi oleh tua adat yang diikuti dengan pemberian nama kepada bayi. Proses ini dilakukan hingga bayi tersebut menangis. Saat bayi menangis, para undangan secara bergiliran mengucapkan nama-nama yang ada hubungannya dengan silsilah keturunan warga Boti Dalam. Nama-nama yang disebutkan antara lain Mollo, Nune, Bota, Tosi, Heke, Boi Sau, Muke dan lain-lain. Bila bayi berhenti menangis saat sebuah nama disebutkan, maka nama itulah yang akan diberikan kepada sang bayi. Bagi masyarakat Boti, sang bayi menangis berarti meminta nama dan berhenti menangis berarti menyetujui nama tersebut.

Upacara mencukur rambut (Eu Nakfunu)
Mencukur rambut pada anak-anak suku Boti dilakukan sekali dalam seumur hidup. Bila telah melakukan upacara cukur, selanjutnya rambut dibiarkan panjang dan dibiarkan untuk dikonde seperti halnya perempuan. Upacara mencukur rambut dimaksudkan untuk memberikan jalan untuk kehidupan selanjutnya. Ini diketahui pada kebiasaan yang ada, di mana setiap anak yang dicukur rambutnya bertanda bahwa sang ibu dari anak tersebut sudah mengandung lagi.

Upacara ini dilakukan oleh Atoin Amaf (saudara laki-laki dari ibu) yang didahului dengan doa-doa adat oleh salah seorang dukun atau tua adat. Ada pengecualian dalam upacara ini, yakni jika seorang ibu yang sudah dekat saatnya untuk melahirkan maka tidak diperkenankan melaksanakan upacara ini. Kepercayaan ini dipegang tegu dan apabila dilanggar maka akan menghadirkan celaka, misalnya kematian terhadap ibu atau bayi yang akan dilahirkan. Sebaiknya upacara mencukur rambut dilakukan sebelum ibu mengandung anak berikutnya.

Upacara mencukur rambut bermaksud membantu pertumbuhan dan kesuburan badan anak tersebut, karena diyakini rambut yang dibawa dari kandungan ibu mengandung unsur panas. Bila tidak dicukur, anak akan sakit-sakitan.

Perkawinan (Mafet Mamamonet).
Dalam masyarakat Boti bila ada pria dari Boti Luar (masyarakat Boti yang sudah menganut agama Kristen) yang jatuh cinta pada gadis Boti Dalam dan kemudian berencana mengambilnya menjadi istri, maka sang pria harus membuat pernyataan secara adat untuk mengikuti tata cara adat Boti Dalam.

Demikian pula sebaliknya, jika ada gadis Boti Dalam yang menjalin asmara dengan pria Boti Luar, maka ia hanya diperkenankan menetap di Kampung Boti Dalam, bila laki-lakinya ikhlas mengikuti adat istiadat yang berlaku di Boti Dalam dan tinggal di lingkungan mereka. Syarat pengecualian ini diberlakukan semata-mata untuk tetap mempertahankan kemurnian dan keberlanjutan adat kebiasaan yang semakin terkikis oleh pengaruh budaya luar yang semakin menggeser kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur suku Boti.

Tata cara perkawinan dalam adat istiadat suku Boti terdiri dari beberapa tahap yang membutuhkan waktu hingga tahunan lamanya. Mulai dari proses perminangan, hidup berkeluarga (rumah tangga) sampai dengan peresmian secara adat.

Peminangan (Toif Bife).
Awal dari sebuah proses perkawinan pada masyarakat Dawan, yakni Toit Bi Fe (meminang gadis) dan memberikan tanda ikatan. Bagi masyarakat Boti, peminangan dilakukan oleh perantara yang merupakan utusan pihak laki-laki. Perantara ini disebut Nete Lanam, yakni seorang tetua adat mendatangi orangtua gadis. Saat bertemu akan terjadi tegur sapa, dan perantara ini membuka isi hati menurut tutur adat dengan maksud untuk mencari tahu apakah anak gadis yang dimaksud sudah mempunyai calon suami atau belum. Jika jawaban yang diberikan orangtua sang gadis adalah si gadis sudah dilamar pria lain, maka pembicaraan akan dihentikan. Tapi, bila jawaban belum ada pria lain yang melamar, maka perantara atau Nete Lanan dari keluarga laki-laki akan menyampaikan maksud kedatangannya yakni untuk melamar anak gadis.

Seterusnya pendekatan yang dilakukan oleh perantara Nete Lanan akan mendapat jawaban setuju atau menerima lamaran dari keluarga laki-laki. Dari jawaban tersebut, juga akan terjadi kesempatan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya dengan menetapkan waktu pelaksanaannya.

Ikatan Perkawinan (Maftus Neo Mafet Mamonet)
Tahapan ikatan perkawinan merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang sudah ditentukan pada tahap peminangan. Ikatan adat ini disebut Ma Fut Nekaf yang merupakan tahap penyerahan syarat dalam ikatan adat berupa sopi (minuman tradisional beralkohol) satu botol (waktu lalu), kini telah diganti dengan gula air satu botol dan satu kepingan uang logam (golden Belanda) bernilai 25 sen atau 50 sen.

Dalam masyarakat Dawan, hal ini disebut dengan istilah Tua Boit Mese, Noin Sol Mese. Arti harafiahnya adalah penyerahan sebotol sopi dan sesen uang, sebagai ikatan awal dari sebuah proses perkawinan Suku Bangsa Dawan.

Pada Masyarakat Boti Dalam setelah penyerahan syarat ikatan adat berupa Tua Boit Mese, Noin Sol Mese, maka orangtua gadis dengan rela hati menyerahkan anak gadis kepada keluarga laki-laki dan tinggal serumah dengan laki-laki yang melamarnya sebagai suami istri.

Namun sebelum keluarga laki-laki membawa gadis tersebut untuk menjalani kehidupan sebagai suami-istri, pasangan ini akan diberi petuah dan nasihat oleh orangtua dari kedua pihak. Nasihat biasanya berisikan agar kedua orang itu bekerja sama untuk menjalani kehidupan, saling setia dan tetap patuh dan hormat pada nilai-nilai dan norma-norma yang diwariskan oleh leluhur mereka, selalu berbuat baik pada sesama, tidak merusak hutan dan mejaga lingkungan alam sekitar serta tidak membunuh segala jenis hewan yang ada di hutan, hemat dalam hidup dan menabung untuk menghadapi kesulitan dalam hidup.

Hidup Berumah Tangga (Monit Mafet Ma Monet)
Menurut masyarakat Boti, bila tahap ini belum dilaksanakan, maka belum sah secara penuh dalam satu proses perkawinan. Tahap ini merupakan awal untuk menjalankan suatu tanggung jawab secara mandiri dalam rangka mempersiapkan segala kebutuhan untuk pemenuhan kebutuhan dalam rumah tangga sebagai suami dan istri.
Pada tahap ini, seorang laki-laki akan menunjukkan karyanya kepada istri dan orangtuanya sebagai jawaban atas amanat yang ia terima pada saat pembicaraan dalam upacara Napoitana Li Ana, yakni kami datang membawa auni ma suni (pedang dan tombak). Kedua jenis perangkat ini adalah peralatan hidup bagi seorang laki-laki Suku Dawan untuk mengelola alam yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup beserta keluarga.

Sementara sang istri akan menunjukkan kepiawaian sebagai penyulam dan penenun yang mahir. Dari dua perangkat alat kerja yakni Ike Ma Suti yaitu alat pemintal benang bagi perempuan Dawan untuk memperindah tubuhnya dan suami serta anak-anak.

Bakti Kepada Orangtua (Maka Upa Ncu Mnasi)
Pada masyarakat Dawan umumnya, tahap ini lebih populer dengan nama "pembayaran belis" (mas kawin) atau istilah adatnya disebut pua mnasi-manumnasi atau oemaputu Ai Malala.

Bagi masyarakat Boti, tahap ini merupakan tanggung jawab yang semata-mata dibebankan kepada pasangan suami istri yang tidak menjadi beban dari orangtua pihak laki-laki maupun kerabat yang pada akhirnya akan menjadi beban moril (hutang) bagi laki-laki yang akan kawin bahkan juga melibatkan istrinya di kemudian hari.

Pada tahap ini keluarga meminta pasangan suami istri dapat menunjukkan sikap berbakti yang telah diberikan selama tiga tahun berumah tangga. Bakti kepada orangtua adalah hasil yang telah diperoleh selama tiga tahun antara lain hasil dari kebun berupa padi dan jagung, hasil dari menyulam dan menenun berupa sarung dan dan selimut, hewan peliharaan berupa ayam, babi, kambing, sapi dan kerbau serta hasil lainnya.

Bahan-bahan tersebut dikumpulkan oleh pasangan suami istri. Keduanya kemudian mengumpulkan semua sanak keluarga dari pihak suami dan istri untuk mengadakan pesta syukuran adat sebagai tahap akhir dari suatu proses perkawinan di kampung adat Boti.

Berakhirnya pesta bakti ini maka resmi sudah suatu perkawinan di kalangan masyarakat Boti yang membutuhkan waktu tiga tahun. (*/alf)



Pos Kupang Edisi Minggu 29 Juni 2008, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda