Siti Syahida Nurani dan Abdurahman Hamid

Permainan Untuk Rangsang Otak Anak
Laporan Wartawan Pos Kupang/Apolonia Dhiu

PERMAINAN merupakan salah satu cara yang dapat merangsang perkembangan otak anak saat usia balita (bawa lima tahun).

Itulah yang coba dilakukan pasangan Siti Syahida Nurani dan Abdurahman Hamid. Permainan yang diberikan kepada anak bukan asal permainan. Permainan yang diberikan adalah permainan yang mendidik, seperti bongkar pasang, angka dan huruf dalam bentuk buah dan sebagainya. Permainan-permainan ini dipandang bisa mendorong anak dalam bermain sekaligus belajar. Makanya tidak heran kedua anaknya sudah bisa menghitung, membaca dan menulis sejak berada di taman kanak- kanak.


Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, kampus Muhammadyah Kupang, Kamis (17/7/2008), Ida -- begitu panggilan akrabnya -- menceritakan suka dukanya membimbing dan membesarkan kedua anaknya. Pasangan ini memiliki dua anak. Si sulung Nuansa Ekanti Chikita, lahir di Bima, 29 September 1995, saat ini duduk di bangku kelas II di salah satu pesantren di Bima.

Sedangkan putra keduanya, Ronald Dwiasa Ramdani, lahir di Kupang, 9 Juni 2002, saat ini duduk di bangku kelas I SD Naikoten I Kupang.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Muhamadyah Malang tahun 1992 ini mengatakan, sebagai orangtua dirinya harus selektif dalam memenuhi keinginan anak-anaknya. Dengan demikian apa yang dilakukan bisa menolong anak-anak untuk masa depannya, seperti kemandirian, kedisiplinan dan kesuksesan dalam belajar dan membentuk kepribadian anak ke arah yang lebih baik. Pola ini diberikan kepada kedua anaknya secara berkesinambungan dan dinilai berhasil.

Wanita kelahiran Bima ini mengatakan, anak-anak harus diberi dasar yang kuat sejak kecil sehingga bisa membentuk kepribadian mereka. Permainan-permainan yang merangsang perkembangan otak anak saat ini sudah banyak ditemui di pasar atau di toko-toko mainan anak. Namun demikian, orangtua harus tetap selektif membelikan mainan yang cocok dengan usia anak. Karena akan sangat membantu merangsang motorik otak anak. Selain itu, anak juga perlu diberi asupan makanan dan minuman yang bergizi.

Hal lain yang dilakukan pasangan ini adalah membekali anak dengan pengetahuan dan pendidikan tentang agama yang kuat sejak usia dini. Putri pertamanya sudah dibekali dengan pendidikan agama di pesantren di Bima. Karena di Kota Kupang tidak ada layanan khusus pengetahuan agama Islam, Ida terpaksa menitipkan putrinya pada sang bunda di Bima. Namun, ia percaya bundanya sama dengan dirinya dalam mendidik dan membesarkan putrinya. Apalagi dengan bekal pengetahuan tentang pendidikan agama di pesantren.

Kehidupan keduanya yang sibuk dengan karier menjadi salah satu faktor utama memasukkan anak ke pesantren. Walau demikian, keduanya menempatkan anak sebagai prioritas. "Walau sibuk, kami tetap mengalokasikan waktu khusus bagi anak-anak. Misalnya saat liburan atau waktu senggang mengajak mereka untuk liburan keluarga. Untuk anak saya yang pertama, karena jauh kami tetap memantau dari jauh dan tetap berkomunikasi melalui handphone. Selain itu, kadang kami menyempatkan waktu untuk mengunjunginya ke sekolahnya di Bima," kata Ida yang pernah sebagai tenaga honorer di Kejaksaan Negeri Bima, Nusa Tenggara Barat ini.

Menurut dosen pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadyah Kupang (UMK) ini, pada awalnya keduanya komit agar anak- anaknya harus menjadi nomor satu. Untuk itu, sejak usia dini harus sudah ditanamkan ilmu dan nilai-nilai keagamaan sebagai besik utama. Pertimbangannya dengan mengirimkan anak belajar di pesantren. Pengetahuan agama menjadi dasar karena bisa menjadi pegangan anak-anak ketika berkembang dan tumbuh menjadi dewasa nanti. Pengetahuan agama, katanya, bisa menjadi pegangan bagi anak-anak dalam menangkal pengaruh- pengaruh negatif dari luar yang masuk.

Usia anaknya memasuki masa remaja juga membutuhkan kasih sayang dari keduanya. Dan itu tidak menjadi halangan, karena saat ini alat komunikasi dan transportasi sudah semakin lancar. Bagi keduanya, membiarkan anaknya mengenyam pendidikan jauh juga merupakan salah satu cara melatih anak belajar hidup mandiri.

Dikatakannya, di usia yang labil seperti ini anaknya harus diberi dasar tentang agama yang kuat, sehingga ketika berada di sekolah menengah atas, bisa dilakukan di sekolah umum. "Saya sengaja melakukan ini sehingga anak saya bisa mendapatkan pendidikan agama yang memadai. Kalau sudah SMA, baru saya kasih di SMA di Kupang saja," katanya.

Dikatakannya, banyak hal yang bisa dipetik dari hidup di pesantren selain mendalami tentang agama dan nilai-nilai kehidupan, antara lain disiplin, pelatihan ceramah, belajar bahasa Inggris dan Indonesia. (*)

Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda