Stanislaus Ngawang dan Regina Jemita

Foto POS KUPANG/
APOLONIA MATILDE DHIU

Stanis Ngawang
dan istri bersama
anak-anaknya









Disiplin pada Anak, Harus...

Laporan Apolonia Dhiu/Wartawati Pos Kupang

BERPROFESI sebagai seorang guru membuat pasangan Stanilaus Ngawang dan Regina Jemita selalu tertib dalam memanfaatkan waktu. Sehingga dengan sendirinya tibul sikap disiplin dalam keseharian pasangan ini, dan sikap disipilin ini pula selalu ditanamkan pada anak-anak mereka. Pasangan ini memiliki motto: "Kalau anak orang lain bisa dididik sampai sukses, kenapa anak kandung tidak?" Itulah motivasi pasangan ini dalam mendidik dan membesarkan ketiga anaknya. Tak heran apabila disiplin bagi anak-anaknya adalah keharusan agar bisa mencapai masa depan yang diharapkan.

Dengan disiplin, ketiga anaknya memiliki prestasi yang relatif baik di sekolah serta terbiasa dengan pekerjan-pekerjan di rumah.
Pasangan ini memiliki tiga anak, yakni Frumensius Lalong Putra Ngawang, lahir di Kupang, 28 Januari 1989, saat ini Semester III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Ekonomi, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Anak kedua, Elisabeth Eka Putri Ngawang, lahir di Manggarai, 22 Desember 1994 (kelas II, SMP Negeri 3 Kupang) dan putri bungsunya, Sekolastika Try Noviani Witut Putri Ngawang, lahir di Kupang, 17 Januari 2001. Selain anak kandung, ia juga memiliki tiga anak dari keluarganya yang kini berada di bawah asuhan keluarga ini.

Kepada Pos Kupang di kediamannya, Senin (21/7/2008), Stanilaus Ngawang dan Regina Jemita mengatakan, kedisiplinan yang ditanamkan kepada anaknya dilakukan agar anak-anak bisa mandiri saat sudah besar nanti. Kedisiplinan yang ditanamkan pada segala macam aspek dan dimulai dari hal-hal kecil di rumah hingga hal-hal yang menuntut tanggung jawab yang lebih serius.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Propinsi NTT ini, menceritakan, sejak kecil anak-anak dibiasakan dengan pekerjaan rumah. Keduanya tidak pernah membedakan antara anak kandung dan anak keluarga jika melakukan pekerjaan rumah. Tidak heran bila jadwal pekerjaan rumah ditulis dan ditempelkan di dinding rumah. Pekerjaan ini bisanya dilakukan usai sekolah, tentunya setiap anak- anaknya sudah tahu apa yang harus dilakukan sesuai jadwal yang sudah ada.

Walau pasangan ini mampu secara ekonomi, tapi tak ada pembantu di rumah mereka. Ini dilakukan agar anak-anak terbiasa mandiri. Tidak heran bila kebiasaan bekerja di rumah membuat anak-anak mereka mahir memasak. "Semua anak di rumah ini, tahu jam berapa dia bangun pagi, kerja apa, dan harus buat apa. Kami berdua tidak perlu lagi menyuruh ini dan itu," kata Stanis, begitu akrabnya, yang didampingi isterinya, Ny. Regina Jemita.

Pembantu Ketua (Puket) II bidang Administrasi Umum di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Oemathonis Kupang ini, mengatakan, pengalaman masa lalu selalu diceritrakan ke anak-anaknya. Dengan harapan, pengalaman masa lalu yang harus dimulai dari nol tersebut bisa menjadi motivasi bagi anak-anak mereka. Kunci disiplin itulah yang membuat keadaan secara ekonomi sudah lebih baik. Dengan menceritakan hal-hal seperti ini, keduanya yakin anak-anaknya termotivasi untuk melakukan apa pun selalu dari dalam hati. "Kami dua ini sama-sama latar belakang dari keluarga petani. Kami memulai bentuk keluarga dari nol. Kami mau supaya anak-anak ini harus lebih dari kami. Saya lihat anak-anak ini tidak pernah protes. Mereka mengerjakan segala sesuatu apa adanya. Kalau tidak bisa, mereka baru membutuhkan bantuan kami," kata alumnus S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang tahun 1992 ini.

Dikatakanya, kebiasaan lain yang dilalakukan di rumah adalah keduanya sepakat untuk tidak melakukan pembelaan kalau anak-anak melakukan kesalahan. Sehingga anak-anak tidak berpikir kalau ada perbedaan dari ayah dan ibu. "Kami sepakat kalau anak-anak melakukan kesalahan suami marah anak, istri tidak boleh bela dan sebaliknya. Latar belakang saya sebagai dosena atau guru, saya memiliki obsesi kenapa anak orang bisa saya didik menjadi berhasil dan kenapa anak saya tidak," katanya sambil tertawa lebar.

Pria hitam manis yang menyelesaikan S2-nya di Universitas Widya Gama Malang ini mengatakan, keduanya juga membentuk anaknya dengan menanamkan iman pada anak. Mendekatkan diri pada Tuhan merupakan pendidikan dasar yang dilakukan dalam keluarga ini.
Dal hal pendidikan, Pengutus Komite Sekolah SD Naikoten II Kupang ini mengatakan, jadwal belajar di rumah sudah jelas dibagi pada anak-anak. Keduanya memberlakukan satu jam belajar wajib bagi anak di rumah setiap malam, yakni pukul 19.00-20.00 Wita. Setelah belajar, anak-anak baru diperbolehkan untuk menonton ataupun langsung tidur. Karena, di rumahnya anak-anak diwajibkan tidur tidak beloh lebih dari pukul 22.00 Wita. Jam belajar ini dilakukan selama enam hari, kecuali malam minggu, karena malam minggu bebas bagi semua anak.
Bagi kelurga ini, seseorang bisa jadi sukses karena pendidikan. Untuk bisa mencapai apa yang diinginkan orang harus belajar sehingga anak- anak dididik untuk tahu tugas dan kewajiban sebagai seorang anak sekolah.
Ditengah kesibukannya bekerja dan kebiasaan yang diterapkan di rumah, keduanya tidak lupa membawa anak-anaknya untuk melakukan refresing. "Kebiasaan refresing ke luar kami lakukan sebulan sekali. Biasanya saya bawa mereka ke gua monyet. Karena hanya itulah kemampuan saya. Tetapi kalau tidak sempat, biasanya kami memilih hari minggu sebagai hari santai di rumah bersama anak dan keluarga," kata pria asal Manggarai ini. (*)


Pos Kupang, Minggu 27 Juli 2008, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda