Tak Sangka dan Tersangka

ASYIK juga mengikuti alur kisah Jaksa Urip Tri Gunawan yang lagi naik daun gara-gara kasus PTT alias Pemerasan Tingkat Tinggi. Kasus ini membuat banyak orang terkenal jadi tambah terkenal. Catat saja nama Artalyta Suryani, kolega konglomerat Sjamsul Nursalim pemilik Bank BDNI, Glenn Yusuf mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional.

Sungguh tak disangka bahwa yang jadi tersangka orang-orang besar semua. Perpendidikan tinggi, status sosial tinggi, hidup di kalangan kelas tinggi, pokoknya semuanya tinggi. Tetapi siapa sangka kalau perilakunya membuatnya menjadi tersangka? Ada yang takut dijadikan tersangka, ada yang namanya dihapus dari golongan tersangka, sesuai keinginan oknum penegak hukum, yang penting doku alias duit alias doi masuk kantong.


Apa benar Jaksa Urip menjadi aktor utama? Kalau dilihat dari tampangnya di tivi, koran, dan media masa lain, sepertinya tidak mungkin.

Apalagi yang namanya Artalyta benar-benar si cantik yang menjanjikan duit. Benar-benar kelas kakap. Coba saja perhatikan kesaksian Reno Iskandarsyah pengacaranya Glenn Yusuf yang percakapannya termuat di koran, di tivi, di radio dan lain-lain. Ketika itu Reno memberikan uang Rp 110 juta.
"Urip minta digenapin. Reno tanya genapin berapa Pak? Urip langsung tembak 1 M. Reno terkejut bukan main dan tidak yakin kalau kliennya bisa siapkan uang satu gudang untuk Urip.

Tetapi Urip malas tahu dan memaksa supaya Glen melalui Reno minta duit 1 M di Syamsul Nursalim. Sambung sinambung cukup alot, akhirnya pemerasan 1 M jadi juga," jelas Rara. "Kalau tidak percaya baca saja sendiri atau nonton berita tivi tiap malam. Benar-benar tak sangka," komentar Benza.
***
"Cukup!" Potong Benza. "Jangan dilanjutkan."
"Satu lagi nih! Reno kirim SMS kalau kliennya sanggup bayar 1 M dalam bentuk dolar dan Urip langsung telepon dan marah-marah katanya nggak usah SMS begitu, kampungan sekali, telpon saja! Mungkin takut SMS-nya kebaca orang lain. Eh, tak tahunya rekaman suaranya diperdengarkan penyidik. Apes benar!"

"Sudahlah, jangan ngomong serbuk di mata orang!" Kata Benza.
"Ini bukan serbuk tetapi balok!" Potong Jaki.
"Ya, jangan bahas balok di mata orang, balok di matamu sendiri lebih besar lagi! Kalau Urip dkk itu gaya Jakarta. Bukankah kamu pakai gaya kampung kita?"

"Satu lagi nih." Rara tidak peduli "Belum tahu kamu rekaman pembicaraan oknum anggota Dewan di Jakarta sana. Sudah ngemis minta duit, minta disiapkan perempuan penghibur lagi! Hancur bukan? Jadi bagaimana mungkin engkau meminta kami berdua jangan ngomong?"

"Sama dengan kamu kan? Jadi tidak usah banyak bicaralah! Status kalian sama, suka peras, manipulasi dengan gaya berdasi. Sungguh tak sangka kalau satu saat nanti kamu berdua benar-benar jadi tersangka."

"Jangan maen tuduh begitu, teman! Ibarat rumah, lantai rumah kami selalu bersih. Jadi kita wajib memberi peringatan kepada para orang besar - yang tak sangka sudah jadi tersangka itu - mereka yang tinggalnya di loteng dan di atap jauh di pusat sana. Supaya jangan malu-maluin,kalau mau korupsi pakailah teknik terhormat begitulah!"

***
"He he he teknik terhormat katamu? Pencuri berdasi ya? Pantas saja. Kamu berupaya menyapu lantai bersih-bersih tetapi lotengnya kotor, ya lantai lebih kotorlah kejatuhan sampah dari loteng. Sekali tiga uang alias sami mawon alias sama saja." Kata Benza sambil tertawa.

"Tetapi kamu cuma kelas teri, tentu beda dengan kelas kakap!" Rara membela diri. "Yang penting kami bukan tersangka. Kamu juga tak sangka kalau teman seperjuangan kami di Jakarta jadi tersangka," Rara meminta persetujuan Jaki.
"Teri dan kakap rasanya saja berbeda. Besarnya juga berbeda. Harganya juga berbeda. Nol di belakang angka satu sampai sembilan juga beda. Kalau kakap nolnya sembilan sampai dua belas, kalau teri nolnya enam. Bagaimana mungkin dituduh sama?' Kata Jaki.

"Kakap atau teri tergantung situasi kondisi bukan? Ada teri berdaging kakap ada kakap berpura-pura jadi teri," Rara menjebak dirinya sendiri.
"Dalam hal ini tampaknya tidak ada bedanya kelas teri dan kelas kakap," komentar Benza. "Tak adanya bedanya juga Urip atau Rara, Urip atau Jaki. Semuanya sama dengan. Tak ada bedanya juga tak sangka dan tersangka!" (maria matildis banda)

Pos Kupang, Minggu 27 Juli 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda