Hidupku Tak Lama Lagi

Cerpen Jeane A.C. Wolagole
(Siswa SMPN I Waingapu)

NAMAKU Gerard. Kulitku berwarna coklat. Umurku 15 tahun. Aku bersekolah di SMP Harapan. Temanku tak banyak hanya beberapa saja yang mau berteman dengan aku yang cacat ini. Sejak umurku 5 tahun hidupku hanya bergantung pada ayah dan ibuku serta sebuah kursi roda yang selalu menemaniku. Kakiku sudah tak berfungsi lagi karena kecelakaan yang menimpaku saat didalam bus yang menjemput & mengantarku pulang saatku masih duduk di bangku TK.

Pagi itu, aku bangun dari mimpiku lalu segera kuturun dari ranjang kemudian kumandi dan bersiap kesekolah. Aku terbilang anak yang cukup cerdas dan tanpa bantuan orang tuaku aku sudah bisa menyiapkan diriku untuk ke sekolah, walaupun umurku baru lima tahun. Umur yang masih sangat kanak-kanak bagiku untuk bersiap ke sekolah sendiri, seperti mandi, memakai baju seragam seorang diri. Entahlah, tapi aku berfirasat tak enak saat itu, namun waktu itu aku tak mengerti apa-apa.

Seperti biasanya aku naik bus yang menjemputku setelah sarapan dan melambaikan tangan pada kedua orang tuaku, buspun bergerak meninggalkan rumahku. Tiba-tiba bus yang aku tumpangi menabrak trotoar. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Tak berapa lama kemudian saatku sadar ternyata aku berada dalam sebuah ruangan yang asing bagiku. Ku amati di sekelilingku namun nampaknya hanya aku saja yang di dalam ruangan itu. Saat akan ku gerakan badan namun sakit melanda sekujur tubuhku. Dengan rasa sakit ditubuhku, aku mencoba bangun dari tempat yang sudah dari tadi aku tempati.

Dalam hati aku berpikir untuk mencari sesuatu, namun ku tak menemukan apa-apa. Pikiranku mulai memikirkan apa yang terjadi pada diriku. Aku mulai ingat akan kejadian pagi tadi saat bus yang aku tumpangi menabrak trotoar dan aku tak ingat apa-apa lagi setelah sudah kejadian yang menimpa aku dan teman-temanku. Peristiwa itu begitu cepat dalam hitungan detik dan aku tak ingat lagi. Orang tuaku yang datang untuk menjemputku mulai menangisi keadaanku.

Kupikir tak ada yang perlu ditangisi oleh kedua orang tuaku. Ibuku yang langsung memelukku membuatku bertambah heran. Apa gerangan yang terjadi padaku? Kutanyakan pada ayahku apa yang terjadi dengan diriku. Dengan berat ia berkata bahwa aku lumpuh namun, hanya kakiku yang tak berfungsi lagi tapi tanganku masih bisa kugunakan.

Aku senang karena bila aku sudah berumur 10 tahun aku akan dioperasi dan aku bisa berjalan serta berlari kembali. Kuingat akan teman-temanku dan segera saja kutanyakan pada ayahku bagaimana keadaan mereka. Ia bilang kalau teman-temanku ada yang selamat namun tiga orang temanku meninggal dunia.

Setelah dua hari aku dirawat, aku dibolehkan pulang oleh dokter. Setelah itu aku mulai kembali bersekolah dengan sebuah kursi roda yang selalu menemaniku. Saat aku melihat teman-temanku yang lain bermain sambil berlari-lari, aku mulai merasa iri dengan mereka. Kupikir bahwa aku tak berguna lagi. Namun sempat terlintas dibenakku untuk bermain bersama teman-temanku bila aku sudah berumur 10 tahun dan akan menjalani operasi agar dapat berlari lagi seperti dahulu.

Umurku sudah 10 tahun dan sudah saatnya aku menjalani operasi. Didalam sebuah ruangan aku terbaring dan siap untuk menjalani operasi. Saat aku hendak dioperasi aku sangat takut dan ketakutan itu membuat aku pingsan lalu aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Tanpa sadar aku sudah berada didalam ruangan tempatku dahulu dirawat. Ternyata operasinya gagal karena ada sebuah masalah yang mengakibatkan kakiku sudah tak berfungsi untuk selama-lamanya. Ternyata saat itu dokter salah menganalisa penyakitku. Aku seharusnya dioperasi saat aku berumur tujuh tahun. Penyesalan terpancar dari wajah orang tuaku. Kekecewaan tentu sangat mereka rasakan tetapi mereka mau menyalahkan siapa dan apa yang harus disesalkan? Apakah mereka akan menyesali nasibku?

Aku kembali bersekolah dan aku terus ditemani kursi rodaku. Kupikir hidupku tak lama lagi tetapi aku yakin Tuhan selalu ada untuk orang-orang yang nasibnya tak beruntung. Sebenarnya nasibku bukannya tak beruntung namun sangat beruntung karena hanya kakiku yang tak bisa kugunakan. Bagaimana jika semua organ tubuhku juga tak bisa? Aku bersyukur karena diberikan orang tua yang menyayangiku dan aku memiliki Tuhan yang selalu ada untukku serta selalu menjaga dan melindungi aku.

Sejak saat itu aku mulai bertekad untuk menjalani hidupku apa adanya. Aku ingin selalu berpikir positif dan selalu optimis dengan apa yang aku kerjakan. Aku ingin menjadi orang yang berguna walaupun tanpa sepasang kaki yang mengantarku kemana saja hati mengingini namun, sudah cukup bagiku sebuah kursi roda. Tak pernah kusesali nasibku yang sekarang kujalani, karena kutahu bahwa Tuhan tidak pernah memberi cobaan kepada hamba-Nya yang tak ada jalan keluarnya dan cobaan itu tak melebihi kekuatan hamba-Nya.

Mungkin ini bukan akhir dari hidupku tetapi aku mau seluruh makhluk di dunia ini dapat berguna dan menjadi sosok yang pantang menyerah. Walaupun cacat, tapi aku masih memiliki Tuhan yang selalu menopang diriku. Oleh karena itu, kita sebagai manusia seharusnya memiliki tekad agar menjadi makhluk Tuhan yang bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama. Bagi mereka yang senasib denganku hendaklah selalu optimis dan selalu bersemangat. Yang terjadi dengan diriku hendaknya menjadi pelajaran atau menjadi guru bagi kita agar lebih berhati-hati lagi dalam menjalani hidup ini. Aku selalu ingin mengatakan pada semua orang bahwa " Tuhan Itu Baik " . (*)

Pos Kupang Minggu, 3 Agustus 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda