Puisi-puisi Dian Hartati

Di Atrium Braga CityWalk

Tiba-tiba saja langkahku sampai di tempat ini
Hati jadi denah dan mewujud di mataku
Hujan terus saja menderas basahi celana biru milikmu
untuk apa aku terburu?
Sedang percik air mendarat sempurna di pelipis

Kumasuki sebuah kota
Penuh dinamika keterasingan
Eskalator begitu lambat memapah tubuhku

Kota dalam kota
Pertama kali kudatangi seorang diri
Dirimu tentu saja mewujud dalam warna celana yang kupakai

Senyum ramah menyapa mengabarkan Natal yang Damai
Tampak langit-langit berhiaskan lampion
Sulur-sulur akar menjuntai
Menggapai semesta berlampukan matahari

Mataku di sambut cemara
Memaku kisah para kijang
Kotak-kotak bingkisan serta bintang di puncaknya

Entah di lantai berapa aku hentikan langkah
Kota ini menjelma dunia kurcaci
Istana dalam kungkungan apartemen
Uap sauna yang melimpah
Gemerlap kota metropolitan
Hanya saja ada yang hilang, ada yang kurang
Salju tak turun di Paris van Java

Kudengar dentang dari sebuah gereja
Setiap gugur cemara kuartikan sebagai sembab cuaca
Kucermati koor di ujung jalan ini
Serombongan kidung-kidung dinyanyikan
Adakah dirimu menyata saat ini
Sekadar mengenangkan natal tahun lalu

Hujan belum juga reda
Gerbang kota kutinggalkan
Memupuskan segala harapan
Bahwa kau tiada lagi bersamaku
SudutBumi, Desember 2006


Pos Kupang Minggu, 3 Agustus 2008, halaman 6


0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda