Puisi-Puisi Dicker Senda

Di Jalan

Sore yang padat meleleh di sisi
Roti bakar bandung berselubung nanas. Manis kecut.
Sepotongnya mendarat terguncang di sela gigi-gigi berkawat
Sore yang padat melumatkan gula-gula nikmat lalu jadi darah!


Seorang anak tewas. Di trotoar pun
Motor-motor bisa menjadi garang
Kasihan anak malang itu.
Sore yang berlagukan kematian.
Selamat jalan!
Yogyakarta, Juli 2008


Kapan

Ke bibir kabut
Taburkan rekahan senyummu
Cukup lima menit, rasakan ia mampu menyengat
Julur-julur syarafmu. Tanpa ampun.
Ia melumat sampai ragamu biru-ungu.
Ah...
Itu dulu kawan, sekarang bukit-bukit
Nyaris botak permanen
Kau tahu kan ulah siapa?
Yogyakarta, Juli 2008

Pos Kupang, Minggu 3 Agustus 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda