Warga Belum Tahu Sampah Basah dan Kering



Pos Kupang/Reddy Ngera

SAMPAH BASAH-
Sampah
dari bekas
tanaman
yang
ditebang ini
mestinya
bisa diolah
lagi
menjadi
pupuk atau
kompos, tapi sampah ini dibuang oleh petugas kebersihan ke TPA.


Laporan Alfred Dama/Wartawan Pos Kupang

SEORANG gadis berusia belasan tahun berjalan terbungkuk- bungkuk sambil kedua tangannya memegang ember yang penuh dengan sampah rumah tangga. Di dalam ember yang sudah kelihatan kotor tersebut terdapat berbagai bahan sisa yang merupakan limbah rumah tangga, mulai dari bekas kemasan plastik, botol-botol plastik bekas, tempat minyak goreng, sisa potongan sayur dan kulit buah-buahan, bahkan makanan sisa.


Sampah tersebut dibawa dan dibuang ke tempat pembuangan sampah yang tidak jauh dari kediamannya.
Di bagian lain dari tempat itu, seorang wanita yang membawa dua kantong penuh berisi sampah juga dibuang di tempat sampah (bak sampah). Kantong tersebut juga berisi berbagai macam jenis limbah mulai dari daun-daunan, sisa kemasan plastik bahkan terpal berbahan karet.


Semua benda tersebut dikumpul menjadi satu. Di tempat sampah yang berada di Jalan Manafe-Kelurahan Kayu Putih tersebut juga sudah menumpuk berbagai bekas atau sisa kebutuhan rumah tangga. Bahkan ada juga bekas ban mobil dan kain-kain yang sudah tidak dipakai lagi.

Deniaty yang ditemui saat membuang sampah tersebut mengatakan, kebiasaan membuang sampah tersebut dilakukan hampir setiap hari. Dan, bahan-bahan yang dibuang memang tidak dipisahkan. Alasannya, karena membuang sampah dengan cara demikian lebih cepat. Selain itu, ia juga tahu manfaat membuang sampah organik dan anorganik tersebut.

Kebiasaan masyarakat membuang sampah di Kota Kupang pada umumnya sama yakni tidak memisahkan sampah basah (organik) dari sampah kering (kering). Bagi masyarakat, menyingkirkan sampah apa pun jenisnya merupakan hal yang harus dilakukan tanpa kerja tambahan, memisahkan sampah basah atau kering.

Kebiasaan ini juga diakui oleh Kepala Dinas Kebersihan Kota Kupang, Adrianus Lusi, saat ditemui di Kantor Walikota Kupang, Jumat (1/8/2008).
Adrianus mengatakan, sejauh ini masyarakat belum tahu dan belum bisa membedakan antara sampah basah dan sampah kering. Sampah basah dan sampah kering ini sering dicampur dan dibuang secara bersama, padahal cara demikian tidak membantu dalam proses penguraian di tempat pembuangan akhir (TPA).

"Kami belum sampai pada tahap memberikan pengetahuan atau pengertian pada masyarakat tentang sampah kering dan sampah basah. Sebenarnya bukan masyarakat tidak sadar, tetapi belum tahu saja tentang sampah ini. Jadi, sampah yang dibuang itu masih dalam bentuk campuran," jelasnya.

Pemahaman masyarakat tentang manajemen pengelolaan sampah sepatutnya mulai dari rumah tangga. Ke depan Dinas Kebersihan Kota Kupang akan merekrut tenaga sukarela peduli lingkungan.

"Kami berencana untuk merekrut tenaga di tingkat kelurahan. Mereka akan menjadi pioner dalam menciptakan kebersihan di tingkat kelurahan. Tugas mereka juga adalah memberikan penyuluhan tentang pengolahan sampah ini," jelas Adrianus.
Bukan saja masyarakat yang belum tahu sampah basah dan sampah kering. Petugas dinas kebersihan pun pada umumnya belum tahu dua jenis sampah ini.

Menurut Adrianus, biasanya petugas sampah membawa sampah yang sudah dikumpulkan, baik sampah basah maupun sampah kering ke TPA. "Teman-teman kita hanya kumpul saja, mereka juga tidak mengerti. Mereka hanya menjalankan tugas membuang sampah," jelasnya.

Program Dinas Kebersihan dalam manajemen pengelolaan sampah ke depan adalah 3 R, yakni reduce atau mengurangi sampah, reuse memanfaatkan kembali sampah dan recycle atau mendaur ulang sampah.

Pelaksanaan 3 R ini tentu sangat dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat dalam membuang sampah, sehingga sampah yang masih bisa dimanfaatkan bisa dipisahkan dengan sampah yang harus dimusnakan atau dibuang. Pelaksaan 3 R ini memang sulit, namun bila ini dilaksanakan maka limba rumah tangga atau sampah bisa dimanfaatkan lagi untuk perekonomian keluarga.

Menurut Lusi, rata-rata sampah campuran kering dan basah yang dihasilkan warga Kota Kupang baik sampah rumah tanggah, sampah tempat usaha seperti tokoh dan sampah rumah makan sekitar 312 meter kubik perhari. Sampah-sampah itu diangkut oleh 26 unit truk sampah dengan melibatkan 140 orang tenaga petugas kebersihan ditambah 26 pengemudi truk sampah yang beroperasi di semua sudut Kota Kupang.

Rata-rata setiap truk sampah mengangkut 6 meter kubik sampah yang diangkut satu hingga tiga kali sehari atau rata-rata dua kali jalan. "Sampah ini mulai diangkut jam 05.00 Wita, pagi. Jadi, kita berharap masyarakat membuang sampah pada jam 17.00 Wita sampai jam 05.00 Wita. Saat siang, Kota Kupang sudah terlihat bersih," jelasnya.

Diakui, sebenarnya masyarakat ingin hidup dalam lingkungan yang bersih atau bebas sampah, tetapi lupa kalau orang lain juga membutuhkan hal yang sama. Tidaklah heran bila, tempat-tempat yang sudah bersih dari sampah, malah menjadi tempat pembuangan sampah. "Ada sampah yang sudah kita angkut, tetapi masyarakat masih mebuang sampah di tempat itu," jelasnya. (*)


Pos Kupang Minggu 3 Agustus 2008, Halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda