Foto ilustrasi/Kanis Lina Bana
Hutan Mbeling di Kabupaten Manggarai Timur yang rusak karena alam


KAWASAN hutan di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dianggap kering dan gersang ternyata tidak menjadi pemahaman untuk menambah dan memperluas kawasan hutan. Justri hutan di wilayah ini terus berkurang.

Drs. Frans Lebu Raya saat menjabat Wakil Gubernur NTT beberapa waktu lalu menyebutkan dalam 20 tahun terakhir ini kerusakan hutan mencapai 15.163,65 hektar. Kenyataan ini mengancam kelestarian hutan dan lahan di masa mendatang. Potensi hutan dan lahan di NTT seluas 2.109.496,76 hektar atau 44,55 persen dari luas wilayah daratan NTT yang mencapai 47.349,9 kilometer persegi. Hutan dalam kawasan hutan mencapai 661.680,74 hektar dan di luar kawasan hutan seluas 1.447.816,02 hektar.

Dari total potensi hutan itu hanya 14 persen atau 295.329,44 hektar di antaranya yang dikategorikan sebagai hutan lebat penghasil kayu. Selebihnya 1.814.617,3 hektar merupakan kawasan kritis sehingga produksi kayu lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat NTT. Kebutuhan kayu rakyat NTT didatangkan dari Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Pulau Wetar dan daerah kawasan hutan lainnya.

Luas hutan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan (SK Menhut) No 423 Tahun 1999 1.808.990 hektar. Kawasan hutan ini terbagi dalam tiga fungsi, yakni hutan lindung seluas 41 persen, hutan produksi seluas 40 persen dan hutan 19 persen hutan konservasi. "Propinsi hanya diberi kewenangan untuk mengelola hutan produksi dan hutan lindung, sedangkan hutan konservasi dikelola oleh oleh Departemen Kehutanan," jelas Kepala Dinas Kehutanan Propinsi NTT, Marthen Rende Pabisangan, saat ditemui di Kantor Dinas Kehutanan NTT, di Jalan Perintis Kemerdekaan Kupang, Jumat (12/9/2008).

Namun kondisi hutan tersebut terus mengalami kerusakan. Bahkan hingga tahun 2003, luas hutan di NTT berdasarkan foto citra satelit telah mengalami kerusakan. Diperkirakan, hingga tahun 2008 ini, kerusakan hutan semakin meluas seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.

Menurutnya, tingkat kerusakan hutan jauh lebih cepat dibandingkan dengan upaya rehabilitasi hutan. Perbandingan tersebut adalah 4 berbanding 1, sehingga luas hutan terus berkurang karena upaya rehabilitasi dan reboisasi yang dilakukan kalah cepat dibandingkan laju kerusakan hutan. Bila kondisi ini terus berlanjut, dipastikan suatu saat hutan di NTT akan habis. "Pertambahan jumlah penduduk inilah yang menyebabkan kawasan hutan menjadi sempit, karena kawasan yang tadinya hutan dirambah hingga menjadi kawasan pemukiman, pertanian dan perkebunan," jelasnya.
Menurut Marthen, program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) merupakan cara untuk merehabilitasi hutan dengan cepat. "Upaya kita merehabilitasi hutan juga mendorong percepatan proses rehabilitas ini dengan program Gerhan," jelasnya.

Selain itu upaya-upaya penyulusan ke masyarakat juga terus dilakukan.Beberapa penyebab kerusakan hutan di NTT adalah pembakaran lahan yang berakibat pada kebakaran hutan, penebangan liar, bencana alam dan pola berladang secara berpindah- pindah. Perilaku warga yang membiarkan ternak berkeliaran bebas dalam kawasan hutan juga menjadi andil kerusakan hutan. "Ternak juga bisa menjadi perusak hutan. Misalnya ternak memakan kulit pohon, lama-lama pohon ini mati," jelasnya.
Perilaku lainnya adalah berburu dengan cara membakar lahan. Ini masih sering terjadi di beberapa daerah di NTT.

Ada juga kebakaran hutan yang terjadi karena alam. Hal ini biasanya pada kawasan padang rumput yang dekat dengan hutan. Namun ini terjadi bila ada angin, panas dan bahan yang muda terbakar. Biasanya, rumput kering yang mudah terbakar saling bergesekan karena angin hingga menimbulkan panas. Panas ini bila terkena pada media yang mudah terbakar seperti rumput kering, akan tumbul titik api hingga menjadi kebakaran.

Meski demikian, pola perusakan hutan yang dilakukan oleh manusia masih lebih banyak ketimbang hal lain. Untuk itu ada beberapa cara yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan untuk menanggulangi kerusakan hutan. Di antaranya dengan mengajak masyarakat menanam tanaman di sekitar hutan.
"Kita memberikan bibit tanaman yang anti api, masyarakat ini diajak untuk menanam. Bila masyarakat sudah menanam, maka mereka tidak masuk hutan lagi untuk merambah hutan atau membakar karena di sini sudah ada penghasilan mereka," jelasnya. (alf/*)



15 Tahun Lagi NTT Tak Miliki Hutan


SEJUMLAH hutan lindung di wilayah Nusa Tenggara Timur mulai dirambah, terutama setelah pasokan kayu dari propinsi lain terhenti. Aksi penebangan ilegal itu dikhawatirkan membuat hutan NTT musnah dalam waktu 15 tahun mendatang.
Savana mendominasi daratan NTT yang luasnya 47.749,5 kilometer persegi. Adapun hutan hanya sekitar 30 persen, tetapi pepohonannya terus ditebang.


Berdasarkan hasil penelitian Universitas Nusa Cendana Kupang, kebakaran hutan terjadi di banyak bagian di NTT saat kemarau akibat perladangan berpindah dan anggapan masyarakat bahwa setelah lahan dibakar akan tumbuh rumput muda yang merupakan pakan ternak.

Kondisi hutan makin memrihatinkan akibat pembalakan. "Penebangan liar terjadi setelah sejumlah propinsi yang selama ini mengirim kayu olahan ke Kupang dan sekitarnya menghentikan pasokan. Sementara pembangunan perumahan dan kantor terus berjalan," kata Kepala Subdinas Rehabilitasi Hutan Dinas Kehutanan NTT Markus Karaeng di Kupang beberapa waktu lalu.

Peningkatan jumlah penduduk dinilai Karaeng turut memacu aksi pembalakan karena kebutuhan akan perumahan terus meningkat. Pada 1999, penduduk NTT sekitar 3 juta jiwa dan menjadi 4,3 juta jiwa pada 2006. (kompas.com)

Pos Kupang Minggu 21 September 2008, halaman 14


Lanjut...


Winston bersama Isteri


Masyarakat NTT Luwes dan Terbuka

PERJALANAN tugas Kolonel (inf) Winston Pardamean Simanjuntak akhirnya membawanya ke Propinsi Nusa Tengara Timur. Sebagai manusia, bertugas di bumi Flobamora sebagai bagian dari rencana Tuhan. Selain itu, sebagai prajurit TNI ia siap ditempatkan dimanapun dalam wilayah NKRI.

Bagi pria berdarah Tapanuli ini, bertugas di NTT membawa kebanggan tersendiri. Apalagi tugasnya menjaga kedaulatan NKRI di wilayah yang berbatasan dengan dua negara sekaligus, Australia dan Timor Leste. Dan, yang membuatnya menjadi senang bertugas di wilayah ini adalah pola pergaulan masyarakat yang luwes dan terbuka.
Komandan Resor Militer (Danrem) 161/Wirasakti Kuang ini, saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini, mengatakan masyaralat NTT memiliki budaya yang terbuka dan dinamis, menjadikan siapa saja akan betah bertugas di NTT.

Bukan saja dengan masyarakat, hubungan masyarakat, pemerintah maupun unsur militer sangat mendukung pelaksanaan tugas aparat TNI. Apalagi masyarakat NTT juga dikenal cinta damai.
Berikut petikan wawancara dengan Kolonel Pardamean Simanjuntak.

Bagaimana perjalanan karier Anda dalam dunia militer?
Setelah saya tamat Akademi Militer tahun 1981 langsung masuk Kopasanda (Komando Pasukan Sandi Yudha) saat itu, sekarang disebut Kopassus (Korops Pasukan Khusus). Dari tahun 1981-1984 di Grup 3 Kopasanda di Ujung Pandang. Dari situ ada perubahan organisasi Kopasanda menjadi Kopassus dan untuk masuk Kopassus dilakukan seleksi dan saya lulus sehingga pindah ke Solo. Dalam perjalanan tugas, saya saya juga menjabat Danden (Komandan Detasemen) 12 Kopassus di Solo selama 4 tahun dari tahun 1986 sampai tahun 1990.


Tahun itu juga saya bergeser ke Grup I Kopassus di Serang, di situ saya menjabat sebagai Danden, kemudian Kasi Intel, Kasi Logistik dan Wadanyon 12 Sanda Bagian Intelijen. Tahun 1994 bertugas sebagai Wadanyon. Kemudian saya mengikuti pendidikan di Sesko (Sekolah Staf dan Komanda) TNI AD. Setelah dari sana, menjadi Danyon 733 Ambon di Ambon tahun 1995-1996. Menjelang Pemilu 1996, saya jadi Dandim Timika. Menjabat Dandim Timika selama satu tahun tujuh bulan. Tahun 1998 jadi Wadan Rindam sekitar satu tahun lebih dan tahun 1998 saya masuk ke Wasren (Wakil Asisten Perencanaan) tiga bulan di Kodam 17 Cendrawasih. Dari sana saya diarahkan jadi Waasintel. Setelah itu saya pindah ke Mabes AD Tahun 2002. Tidak sampai setahun saya pindah ke Mabes TNI. Tahun 2006, saya tes seleksi Kursus Danrem dan selesai tahun 2006. Kemudian saya lama bertugas di Jakarta di Mabes TNI dan kini saya ditugaskan di Korem 161 Wirasakti Kupang sejak

Desember 2007 lalu dan dilantik Tanggal 22 Januari 2008. Itu perjalanan saya sejak dilantik menjadi prajurit TNI dengan pangkat Letnan Dua.

Anda sudah bertugas di berbagai tempat dan kini bertugas di NTT. Apa kesan Anda?
Yang lebih menyenangkan saya menjalankan tugas di NTT, karena di sini komunikasinya yang luar biasa. Terbuka, tidak mengenal waktu, tidak mengenal tempat, komunikasi di dalam meningkatkan masyarakat kita baik di bidang kesejahteraan maupun bidang kemasyarakatan berjalan dengan baik. Komunikasi ini berjalan baik dengan tokoh masyarakat, pemerintah, dengan DPRD itu luar biasa. Maka pada saat saya masuk sini, orang bertanya tentang Pilkada dan saya bekata Pilkada di sini aman. Karena komunikasi yang bagus, walaupun beberapa masyarakat yang menolak kebijakan pertahanan untuk pembangunan-pembangunan instansi muliter baik itu batalyon maupun brigif (brigade infanteri). Setelah saya dalami dengan dasar komunikasi yang bagus di sini antara tokoh agama, tokoh masyarakat dan TNI ini hanya permasalahan belum jelasnya saja tentang tugas-tugas TNI. Pada waktu di Ende, saya menjelaskan selama lima jam dengan tokoh-tokoh agama dan masyarakat akhirnya mereka paham, bahwa keberadaan TNI ini tidak menakutkan seperti yang mereka bayangkan. Saya berbicara dengan mereka, berkomunikasi dan mereka melihat hal yang positif dan bisa dimanfaatkan di dalam pelaksanaan operasi dalam rangka tugas-tugas operasi militer selain perang.

Anda banyak bergelut di tengah-tengah anggota prajurit yang kehidupannya pas- pasan. Apa siasat Anda untuk memotivasi para prajurit?
Saya melakukan pendekatan sebagai pemimpin, sebagai komandan, sebagai kakak, sebagai guru, sebagai sahabat. Itu saya terapkan. Sehingga komunikasi ini tidak tidak lantas pada saat-saat apel atau saat-saat jam dinas. Kadang-kadang saya jalan pagi- pagi subuh ke rumah mereka, ada yang belum mandi, belum makan. Kadang mereka tidak tahu saya siapa. Saya cek, saya koordinasi sehingga saya tahu persis masalah mereka. Sehingga penyampaian dan pemecahan masalah itu bukan merupakan satu bentuk intervensi sebagai atasan, tapi sebagai kakak, sebagai saudara dan sesama dia sehingga ia bisa menerima karena saya bisa merasakan perasaan mereka. Saya mencoba memberikan pemahaman pada mereka tentang hutang. Hutang itu tidak memberikan sesuatu yang baik, kemudian saya juga memberikan pemahaman tentang pemikiran yang seimbang bahwa kalian itu prajurit yang punya gaji kecil maka siapkan diri kalian tidak konsumtif, kalau gaji kalian hanya Rp 1 juta, ya gunakan gaji itu untuk sebulan bahkan bisa menyisihkan. Sehingga dari situ kalian makan, saya juga menyarankan mereka untuk perencanaan yang baik dalam keluarga mereka.

Di NTT, sebagian masayarakat masih menolak kehadiran tentara. Tanggapan Anda?
Saya melihat penolakan itu kebanyakan dipolitisir, sebab kalau saya bicara dengan masyarakat, mereka sangat butuh dengan kehadiran TNI. Faktanya mereka banyak memberikan tanah, bukan karena anaknya ingin jadi tentara kemudian mereka kasih tanah, bukan begitu. Tapi mereka butuhkan, sumber daya lain yang bisa memberikan peningkatan pada mereka. Baik itu peningkatan spiritual, baik itu peningkatan pada cara berpikir yang produktif, kemudian kedisiplinnan. Kalau, bicara kita disiplin ada juga anggota kita yang melakukan pelanggaran, tapi itu hanya oknum. Tapi secara organisasi, militer ini dibangun berdasarkan disiplin. Kedua, penolakan itu akibat kurang paham. Artinya perlu sosialisasi tentang siapa sih TNI ini. Ada sebagian daerah-daerah yang terisolasi, ada daerah yang belum tahu tentang bagaimana TNI itu, sehingga pada waktu kita masuk saat kunjungan-kunjungan ke daerah kita coba untuk memberikan pemahaman dalam diskusi, pada dasarnya mereka diskusi dan mengharapkan kehadiran kita.

Ada rencaca membangun instansi militer sampai 2015, apakah itu tidak memaksakan kehendak karena masih ada saja yang menolak?
Saya kira tidak. Begini, program itu berdasarkan strategi negara atau pemerintah. Artinya NKRI membutuhkan satu pertahanan yang kuat. Sehingga program dalam bentuk itu dalam bentuk implementasi aturan dan UU No. 34. UU ini dibahas berasama dengan DPR yang merupakan presentasi rakyat Indonesia. Bila rencana TNI membangun kekuatan ditolak oleh masyarakat sama juga dengan menolak UU yang sudah disepakati bersama itu. Kita hanya menjalankan itu saja, hanya menjalankan amanah rakyat Indonesia. Bahwa, pertahanan kita dalam UU bentuknya seperti itu sehingga kita tinggal melaksanakannya.

Mengapa kehadiran tentara masih saja membuat masyarakat justeru takut?
Tidak juga. Waktu kami kunjungi daerah-daerah dengan Panglima Kodam Udayana, masyarakatnya senang sekali. Mereka menyambut dengan misa, disambut luar biasa. Panglima sendiri tidak menyangka ada sambutan yang sedemikian rupa. Bahkan wajah trauma tidak ada, bahkan mau mendekati dan menyalami. Artinya mereka punya harapan pada TNI. Bahkan kita diangkat menjadi raja di sana. Jadi kalau ada pertanyaan seperti itu menjadi tanda tanya besar bagi kita. Tapi kita pahami secara psikologis, mungkin karena belum kenal jadi belum sayang. Seperti kata pepatah tidak senang maka tidak sayang.

Mungkin masyarakat tunggu bukti hasil karya TNI. Seperti di Sikka dan Manggarai, TNI bersama masyarakat bangun jalan raya.
Makah itulah yang dikatakan tidak kenal, tidak sayang. Sehingga peran dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh-tokoh lain, tokoh pers juga menjadi penting. Harusnya memberikan sesuatu yang positif untuk masyarakat kita. Saya sangat senang sekali dengan program bapak gubernur tentang NTT Baru. NTT baru ini saya berpikir harus dimulai dengan cara berpikir positif dulu, semua elemen harus memulai dari sisi itu. Saya pernah membaca buku tentang prinsip-prinsip keberhasilan. Kalau kita katakan tidak bisa dalam diri kita maka tidak pernah akan bisa. Kalau kita berpikir negatif maka sudah mulai negatif. Maka dalam hal ini bahwa ini kita mau lihat sesuatu harus dari sisi positif dulu. Rasa curiga yang berlebihan tinggalkan dulu, kewaspadaan yang ditingkatkan. Waspada juga harus positif, misalnya ada markas di sini maka kita harus bersiap-siap misalnya mendirikan warung untuk menyediakan makanan untuk tentara kita.

Pengalaman selama bertugas di Papua, apa bisa diterapkan di NTT?
Saya menggantikan Pak Arief Rahman sebagai Komandan Yonif 733 yang sedang bertugas di Papua. Tugas di Papua berhasil menyelesaikan masalah separatis dan menciptakan situasi yang kondusif. Di situ program yang cukup bagus adalah menciptakan sumber daya manusia yang sedini mungkin. Jadi pelaksanaan tugas itu saya melakukan tugas teritorial, bekerja sama dengan keuskupan, saat itu Uskupnya Mgr. Manihok, orang Belanda. Kita bekerja sama membangun SDM Papua dengan pola memberikan nutrisi pada ibu-ibu hamil. Jadi ibu-ibu hamil di setiap kecamatan pos-pos kami itu paling banyak sembilan orang, paling sedikit tiga orang. Jadi kita kerja sama dengan bupati membuat kandang ayam. Hasil produksi telur dan daging ayam kita berikan pada ibu-ibu hamil. Ini dilakukan di daerah operasi dan saya punya pos-pos itu. Karena kita juga selain memberantas separatis, kita juga mencoba membina teritorial. Artinya, kita membentuk satu kekuatan masyarakat dalam rangka membentengi penyusupan. Akibat dari itu, pembenrontak separatis ini juga terpengaruh, mereka melihat tentara sekarang memihak pada masyarakat. Yang tertanam dalam diri mereka seperti itu, sebab bayangan mereka selama ini adalah tentara itu membunuh saja, menyusahkan saja. Tapi dengan pola itu akhirnya masyarakat tertarik dan juga banyak yang turun gunung dan menyerah. Saya hanya enam bulan tapi cukup berhasil melakukan pembangunan dengan pola menciptakan SDM sedini mungkin.

NTT berbatasan dengan dua negara. Apa yang Anda lakukan?
Saya kira begini, Timor Leste itu negara ini baru. Kondisi negara ini pun baru membangun dan kita sudah cukup maju sebenarya peluang buat kita untuk menjadi suplier. Sehingga harus memahami dan pmerintah perlu menyokong itu, sehingga menjadi kuat perbatasan kita ini. Kita bangun kantong-kantong ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan-lahan subur. Kalaupun lahan tidak subur kita suburkan dengan teknologi. Seperti konsep di Papua, sebenarnya bisa diterapkan di sini karena saya melihat gizi buruk cukup banyak. Dengan memberikan protein sedini mungkin, itu sudah hebat karena pembentukan manusia yang produktif itu dari nol hingga tujuh tahun. Kita bisa membangun ekonomi pertanian di sini yang bagus dan hasilnya kita ekspor ke Timor Leste. Jadi negara baru itu adalah peluang pasar kita sebenarnya. (alfred dama/benny jahang)


"Marinir itu Sangat Hebat"



MASA kecil tinggal di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, yakni di Tanjung Pinang-Riau, membuat Winston hampir setiap saat bertemu dengan aparat marinir- TNI Angkatan Laut yang mengawal kedaulatan wilayah RI. Melihat tubuh tegap tapi ramah anggota marinir membuat Winston mulai kagum. Dan, sejak itulah tumbuh motivasi. "Jadi, semasa kecil itu ada semacam kesatuan marinir yang bertugas di Tanjung Pinang. Para anggota ini bertugas di daerah saya. Mereka sering ke rumah dan hubungan kita sangat baik. Dalam pandangan saya, marinir itu sangat hebat jadi maka berpikirlah saya untuk menjadi tentara seperti mereka," jelas Winston.
Bagi Winston, sosok marinir adalah tipe pria idel yang gagah. Ini yang membuatnya ingin menjadi tentara.
Kehidupan masa kecil bersama orangtua yang serba terbatas mendorongnya menjadi orang sukses dan motiviasi ini menguat dalam diri Winston saat usia remaja. Selepas SMA, pria yang suka memancing ini masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Saat diminta memilih, Winston remaja memilih Angkatan Darat dan Kepolisian. Dalam benaknya, hanya ada dua pilihan yakni jadi orang paling mapan atau paling hebat. "Aku ini ingin menjadi orang hebat, kalau tidak hebat ya jadi orang yang berkecukupanlah," jelas Winston.
Keinginan menjadi tentara akhirnya terwujud, ia masuk Akademi Militer (Angkatan Darat). Setelah menyelesaikan pendidikan Akabri tahun 1998,Winston harus memilih lagi satuan-satuan di lingkungan angkatan darat antara lain polisi militer, kavaleri, artileri, zeni atau infantri serta korps lainnya. Semangat muda yang ingin menjadi orang terhebat, ia memilih menjadi infantri. Dalam infantri, ia harus memilih dan diseleksi lagi untuk masuk ke jajaran pasukan komando. Tekad baja pula yang membawanya bisa masuk pasukan elit, Kopansanda (Kini Kopassus).
Pengalaman di medan tugas juga menjadikan ayah tiga anak dan suami dari Sherly Lanusi ini berpembawaan tenang. Dan, selalu menyelesaikan masalah dengan tenang pula. Tak heran bila sekilas pria kelahiran Tanjung Pinang 12 Juni 1957 ini selalu terlihat tenang. (alf)

Data diri
Nama : Winston Perdamean Simanjuntak
Pangkat : Koloner Inf
Jabatan : Komandan Resor Militer 161 Wirasakti Kupang (NTT)
Pendidikan : SD Tamat Tahun 1970
SMP Tamat Tahun 1973
SMA Tamat Tahun 1976
Akabri Tamat 1981
Pengalaman Tugas Antara Lain
Bertugas di Kopassus dari 1981-1993
Komandan Yonif Linud 733 DAM VIII/TKR
Dandim 1710 Timika
Asisten Intel Kasdam XVII/TKR
Dirbinfung Intel Pusintel AD

Isteri : Sherly Lanusi
Anak-anak: Samuel Ebiyeser Simanjuntak
Anggi Sherwinda Ully Simanjuntak
Yosua Albert Simanjuntak
Orangtua Ayah : Djabosar Simanjuntak (alm)
Ibu : Tio Intan Silitonga


Pos Kupang Minggu 21 September 2008 halaman 3
Lanjut...


Dokter Valens Yth,

SALAM Dalam Damai, awal kata saya memperkenalkan diri saya sebagai sebagai Erny. Gadis 18 tahun, siswi kelas III pada salah satu SMU di Flores Barat. Saya dari keluarga biasa saja dan rumah kami berada agak di luar kota. Untuk itu setiap hari ke sekolah saya mesti naik angkot (angkutan kota). Dari sanalah awal mula saya mengenal seseorang pemuda bernama Bernard.

Pemuda ini pernah kuliah tapi DO (drop out) danm pergi merantau ke Malaysia. Dua tahun lalu pulang kampung dan menjadi supir angkutan kota milil keluarganya. Persahabatan kami berlanjut dan sudah setahun ini kami pacaran. Masa pacaran kami ini sangat romantis. Bernard berusaha pagi pas jam sekolah dia lewat depan rumah sehingga bisa jempat saya, begitu juga saat pulang sekolah pasti ada saja kesempatan untuk lewat depan sekolah kami untuk menjemput saya. Melihat ini kebaikan hatinya sayapun mulai tertarik dan kahirnya benar-benar jatuh cinta.



Ketika ulang tahun saya, tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk teman-teman sekelas, Bernard menjemput saya pagi-pagi dan kami pergi berdua ke luar kota. Kami merayakannya di suatu tempat berdua saja. Dan, sejak saat itu sampai sekarang ini, kami sudah sering ketemu dan berbuat seperti suami isteri. Sayapun mulai malas sekolah karena saya pikir, mungkin lebih baik keluar dari sekolah dan menikah dengan Bernard. Saya tahu persis walaupun saya tamat SMU pun tidak mungkin sata lanjutkan sekolah, karena orangtuaku tidak mampu. Namun urusan kami menjadi rumit ketika orangtua saya tahu kalau saya sering bolos sekolah dan ikut pergi dengan Bernard. Bapak saya pergi menemui orangtuanya dan berkata keras. "Kalau berani Bernard kawin dengan Erny, kalian akan bayar dengan belis mahal", begitu tegas orangtua saya.

Dokter, tahu sendiri di daerah Flores kalau belisnya mahal berarti akan berat bagi keluarga Bernard. Pernah sekali saya dengan Bernard berencana akan pergi saja diam-diam ke tempat kakaknya di Denpasar. Kalau perlu kami akan menikah di sana. Setelah punya anak baru kami pulang, pasti orangtua tidak akan marah lagi. Tapi bernard malah takut ketika kami kembali belis bisa ditagi lebih mahal lagi oleh keluarga saya.

Dokter, mengapa cinta harus jadi rumit begini. Sejak ada masalah begini, saya selalu diawasi oleh keluarga. Kalau sampai mereka tahu saya pergi dan bertemu Bernard, maka ketika pulang saya dipukul. Dokter, apakah saya harus putus dengan Bernard yang sangat saya cintai. Diapun begitu mencintai saya. Apalagi semua "milikku" sudah kuserahkan padanya. Dokter, bantu saya dengan nasehat yang dapat saya pakai untuk menghadapi situasi ini. Akhirnya atas bantuan dokter saya ucapkan terima kasih.
Salam, Erni Roswati-Flores



Saudari Erny yang baik

SALAM
damai buat Anda. Anda saat ini berumur 18 tahun. Dalam umur seperti ini Anda dikategorikan dalam kelompok remaja tua atau dewasa muda. Karena Anda belum dewasa penuh, maka anda masih di bawah pengawasan dan kendali orangtua. Di negara barat, seorang anak di atas 20 tahun dianggap sudah dewasa dan mulai diberi kebebasan mengambil keputusan untuk menentukan jalan hidupnya .

Untuk kita di Indonesia pengelompokan umur semacam itu tidak seragam untuk setiap daerah, karena masih tergantung pada adat dan budaya setempat. Menurut para pakar, dikatakan bahwa kematangan psikologis di negara barat lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia. Dari pandangan ini, Anda masih termasuk belum matang dan belum bisa mengambil keputusan untuk diri sendiri. Dengan demikian campur tangan orangtua masih pantas Anda perhitungkan.

Dari surat Anda saya melihat bahwa reaksi keras orangtua, sebetulnya didasarkan pada kasih sayanmg yang besar dari mereka buat anda. Mereka melihat bahwa manusia adalah makluk sosial yang dalam kehidupannya sehari-hari berinteraksi dengan banyak orang lain. Dan, Anda dinilai cenderung mengecilkan arti kehidupan sosial itu. Pandangan anda saat ini dikaburi oleh cinta (pertama?) sehingga duniapun dianggap hanya berisi kalian berdua saja, Anda dan Bernard. Orang lain dianggap sepi. Orangtua Anda sedang berusaha membuka mata Anda (dengan agak keras bahkan dengan cara paksa), bahwa kalau anda dapat menyelesaikan sekolah, maka setidak- tidaknya selain akan berguna untuk diri sendiri dan Bernard, tetapi juga bermanfaat untuk orang lain. Dengan sekolah Andapun akan lebih muda memahami oranglain dalam arena kehidupan sosial itu.

Oleh karena itu solusi pertama yang perlu anda ingat adalah selesaikan sekolah dulu baru pikir soal nikah dengan Bernard. Hal yang kedua yang patut anda ingat adalah bahwa anda berbuat saat ini ibaratnya sedang bermain api dan air di tepi jurang (baca: Anda terlalu berani bermain cinta). Hasil dair permainan api itu hasilnya Anda berdua bisa terbakar, anda berdua bisa basah dan lagi anda berdua bisa jatuh ke dasar jurang.

Kekasaran orangtua terhadap anda adalah bagian dari uluran tangan untuk menyelamatkan anda, agar tidak terbakar, agar tidak basah dan agar tidak jatuh terkapar di dasar jurang. Apakah anda masih juga menampiknya? Cinta yang benar harus tumbuh dair kematangan,b ukan tumbuh dari keterlanjuran. Masih ada waktu untuk anda bertahan agar cinta anda dan Bernard bisa tumbuh dan menjadi matang secara bertahap. Keterlanjuran yang sudah tejradi, jangan diulangi lagi dan jangan ditambah jadi lebih parah.Yakinkan diri anda berdua bhawa waktu anda masih panjang, dunia masih lebar, tak perlu terburu-buru untuk menikah.

Toh, anda berdua masih muda. Dengan sedikit mengerem laju cinta anda, maka akan ada banyak muncul hal yang menguntungkan dan tersembuhkan. Diantaranya, yang penting pertama adalah Anda bisa tamat SMU. Yang kedua, Bernard masih punya waktu untuk bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk masa depan kalian.

Ketiga, kemarahan orangtua bisa redah dan keempat anda masih bisa bermain dengan teman-teman sebaya anda di sekolah. Dan yang terpenting dari semua ini adlaah anda masih cukup waktu memperlihatkan senyum remaja anda. Bila sudah nikah maka itu semua tak akan diulangi lagi. Soal belis yang dilipat-gandakan, itu adalah bagian dari hukuman dan denda terhadap ketidakmampuan anda dan Bernard mengikuti kehendak orangtua saat ini.

Saya yakin bila anda bisa menunggu sampai dewasa benar dan mampu menggunakan cara-cara yang simpatik maka semua itu akan menjadi lebih ringan dan menyejukkan hati semua pihak. Tak lari gunung dikejar, kalau memang jodoh, tak perlu setengah mati berkorban dan tak perlu terburu-buru memburu cinta. Selamat merenung.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM.

Pos Kupang Minggu 21 September 2008, halaman 13
Lanjut...

PADA edisi lalu, telah dijelaskan mengenai obat-obatan tradisional untuk menurunkan demam pada anak. Pada edisi kali ini masih ada beberapa jenis tanaman tradisional yang bisa dimanfaatkan untuk mengusir demam anak.

5. Pegagan (Centella asiatica L)
Tumbuhan yang dikenal pula dengan nama daun kaki kuda ini tumbuh merayap menutupi tanah. Daunnya berwarna hijau dan berbentuk seperti kipas ginjal. Memiliki kandungan triterpenoid, saponin, hydrocotyline, dan vellarine. Bermanfaat untuk menurunkan panas, revitalisasi tubuh dan pembuluh darah serta mampu memperkuat struktur jaringan tubuh. Pegagan juga bersifat menyejukkan atau mendinginkan, menambah tenaga dan menimbulkan selera makan.
Caranya : Rebus 1 genggam pegagan segar dengan 2 gelas air hingga mendidih dan airnya tinggal 1 gelas. Bagi menjadi 3 bagian dan diminum 3 kali sehari.

6. Bawang merah (Allium cepa L)
Bawang merah sering digunakan sebagai bumbu dapur. Memiliki kandungan minyak atsiri, sikloaliin, metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin.
Caranya: Kupas 5 butir bawang merah. Parut kasar dan tambahkan dengan minyak kelapa secukupnya, lalu balurkan ke ubun-ubun dan seluruh tubuh.


7. Daun kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis)
Selain daun kembang sepatu, Anda juga dapat memanfaatkan daun kapuk atau daun sirih. Kembang sepatu mengandung flavonoida, saponin dan polifenol. Daun kapuk mengandung flavonoida, saponin dan tanin. Daun sirih mengandung flavonoida, saponin, polifenol, dan minyak atsiri.
Caranya: Cuci bersih daunnya, keringkan dengan lap bersih, panaskan sebentar di atas api agar lemas. Remas-remas sehingga lemas, olesi dengan minyak kelapa, kompreskan pada perut dan kepala.

8. Meniran (Phyllanthus niruri L)
Tinggi tanamannya mencapai 1 meter, tumbuh liar, daunnya berbentuk bulat tergolong daun majemuk bersirip genap. Seluruh bagian tanaman ini dapat digunakan. Memiliki kandungan lignan, flavonoid, alkaloid, triterpenoid, tanin, vitamin C, dan lain-lain. Bermanfaat untuk menurunkan panas dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Caranya: Rebus 1 genggam meniran segar dengan 2 gelas air hingga mendidih dan airnya tinggal 1 gelas. Bagi menjadi 3 bagian dan diminum 3 kali sehari.

9. Air kelapa muda
Air kelapa muda banyak mengandung mineral, antara lain kalium. Pada saat panas, tubuh akan mengeluarkan banyak keringat untuk menurunkan suhu tubuh. Nah, untuk menggantikan keringat yang keluar, perbanyaklah minum air kelapa.
Dosis Aman untuk Anak

Penggunaan tanaman obat dengan dosis yang tepat tidak akan menimbulkan efek samping dan aman. Berikut dosis yang direkomendasikan untuk anak:

Usia Dosis

Bayi 1/8 dosis dewasa

2--5 tahun 1/4 dosis dewasa

6--9 tahun 1/3 dosis dewasa

10-13 tahun 1/2 dosis dewasa

14-16 tahun 3/4 dosis dewasa

(Kompas.com/Penulis: Utami Sri Rahayu/Konsultan Ahli: dr Adji Suranto, SpA dari Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT DKI Jaya)

Pos Kupang Minggu 21 September 2008 halaman 12
Lanjut...

Seiichi Ota

BAGI orang Jepang, mungkin yang namanya raskin itu bukan beras miskin yang diperuntukkan bagi rakyat miskin. Raskin untuk mereka adalah beras yang tidak mungkin dikonsumsi manusia. Jadi, kalau sampai raskin Jepang dikonsumsi masyarakatnya, bayangkan betapa hebohnya. Pertanyaan, mengapa mesti heboh?
***
Ini baru berita dan berita baru. Menteri Pertanian Jepang, Seiichi Ota mengundurkan diri Jumat 10 September 20087 karena beredarnya beras yang tercemar pestisida dan jamur. Beras yang diimpor untuk kepentingan pabrik lem itu ternyata juga dikonsumsi manusia dalam bentuk makanan. Bagi pemerintahan Perdana Menteri, Yasuo Fukuda, beras tercemar menambah tekanan politik dari kelompok oposisi yang mendominasi kursi di majelis tinggi. Karena itulah Fukuda langsung setuju Seiichi undur diri.

"Hm itu Seiichi Ota pintar cari tenat!" Jaki memberi komentar. "Biar dibilang moralitas kepemimpinannya patut diacungi jempol, biar dipuji-puji sama orang Jepang. Buat apa undurkan diri hanya gara-gara beras?"
"Betul soal beras saja sombong bukan main," sambung Rara. "Memang dasar orang Jepang beda banget dengan orang kita."
"Maksud kamu?"


"Kita punya orang tidak pernah sombong seperti mereka!"
"Hooo... mestinya mereka belajar pada orang kita yang rendah hati. Coba bayangkan. Kita punya beras busuk berton-ton dan dibuang, kita tenang saja tidak ada yang sibuk undurkan diri. Daging busuk beredar di pasaran luas kita tetap rendah hati, tidak ada yang makan pujian lalu undurkan diri. Belum lagi makanan kadaluarsa yang setiap tahun beredar, obat-obatan yang lewat masa pakai, obat kadaluarsa, susu formula yang sudah tercemat dan masih banyak lagi. Tidak ada yang mengundurkan diri. Tidak ada yang sombong!"
"Memang dasar orang Jepang ya. Sombong!" Rara mencibir.
***
"Lagi bahas soal apa?" Benza dan Nona Mia bergabung.
"Menteri pertanian Jepang!" Jawab Rara dan Jaki hampir bersamaan.
"Oh, yang mengundurkan diri gara-gara beras tercemat peptisida dan jamur?" Jawab Nona Nia. "Hebat benar itu menteri. Jujur dan sangat rendah hati."
"Begiti ya?" Rara mati kata. "Tetapi menurut kamu dia sombong bukan"
"Kamu yang sombong!" Suara Nona Mia membuat Rara tersentak dan saling berpandangan dengan Jaki menyambung.
"Mengapa tanya aku? Tanya saja pada dirimu sendiri. Menteri Pertanian itu sombong atau tidak!" Jawab Nona Mia.
"Ya, menurut aku, dia sombong!"
"Aku juga. Menurut aku, Menteri Pertanian itu sombong tambah tukang cari nama. Soal beras tercemat saja buat heboh mengundurkan diri dari menteri. Padahal kamu tahu bukan? Berapa duit gaji seorang menteri di Jepang?" Rara bicara pasti.
"Lebih baik tenar karena berbuat baik daripada tenar karena perbuatan jahat. Tenar karena korupsi, tenar karena ambil kebijakan yang ujung-ujungnya menindas rakyat kecil, tenar karena manipulasi.... Kamu masih ingat bukan? Kamu tenar gara-gara mark up harga beras ditambah dengan menjual raskin?"
Ini bukan soal beras miskin alias raskin kita punya! Ini soal raskinnya orang Jepang yang diimpor untuk pabrik lem. Lalu sebagiannya beredar dan dimakan manusia. Pasti ada yang jual bukan? Lalu ada yang belu, kemudian masyarakat cemas, selanjutnya Pak Menteri malu dan putuskan mengundurkan diri. Padahal bukan salah Pak Menteri bukan? Kalau raskin kita punya keperuntukknya untuk orang miskin. Sebagian orang miskin wajar bukan kalau aku menjual raskin untuk sedikit mendapat keuntungan. .... saya tenang-tenang saja sebab itu tanggung jawab saya dan saya tidak perlu mengundurkan diri gara-gara raskin. Kenapa kamu yang repot?" Rara membela diri.
***
"Oh, jadi kamu orang miskin ya?" Tanya Nona Mia
"Ya, justru itu. Saya dan Jaki adalah orang miskin. Kami tidak punya apa-apa. Penghasilan kami hanya bisa sekian juta perbulan, tidak cukup untuk cicil mobil, cicil rumah, cicil tanah, cicil perhiasan, belum lagi ongkos anak-anak yang pada kulaih di Jawa. Kami miskiiiiin sekali. Jadi apa salahnya jika kami mengambil bukan milik kami untuk tambah modal? Apakah kami tidak kasian melihat kami yang miskin ini? Rara memelas.
Oh sedih sekali. Kamu sungguh-sungguh miskin. Kamu memang patut dikasihani. Soalnya kami miskiiin sekali," Nona Mia tampak muram dan berusaha keras menahan senyum.
"Ya, Nona Mia kasihanilah kami," Jaki menyambung.
"Bagaimana menurutmu Benza? Tanya Nona Mia kepada Benza yang dari tadi hanya diam saja mengikuti pembiacaraan kedua sahabatnya dengan Nona Mia.
"Kamu setuju dengan Seiichi Ota?" Tanya Benza
"Jelas tidak setuju. Soalnya cari tenar gara-gara beras," jawab Rara
"Sama! Saya juga tidak setuju. Soal beras saja sibuk amat. Sombong benar. Seorang menteri mengundurkan diri gara-gara beras."
***
"Tahukah kamu bahwa keputusan Seiichi Ota yang sangat populer dan di........ rakyat Jepang dan juga mempengaruhhi opini dunia tentang artinya tanggung jawab seorang penentu kebijakan, seorang pelayan rakyat, dan pemimpin seperti Pak Menteri Seiichi Ota?"
"Memang gue pikirin?" Rara menjawab turut suka. "Itu susah dipikir. Dia yang mau cari tenar, kenapa kita yang bertengkar?"
"Jadi kamu setuju dengan Seiichi Ota?" Sambung Jaki. "Memangnya kamu itu orang mana? Kamu mau jadi orang Jepang ya? Silahkan saja pindah ke Jepang. Silahkan tinggal di Nagasaki atau Hirosima, biar kamu tambah tenar seperti Seiichi Ota."
"Benza, mestinya kamu tidak usah banyak bicara. Mestinya kamu kasihan dengan orang miskin seperti Jaki dan Rara tidak mungkin mengerti maksudmu, Benza! Tenang saja, teman!"
"Terima kasih Nona Mia untuk dukunganmu bagi kami berdua," Rara bangga bukan main. "Bagaimana pun juga kamu berdua ini membutuhkan bantuanmu Nona Mia. Kami tidak butuh kata-kata Benza yang membuat kami streeesss."
"Aku sibuk dengan banyak urusan. Jadi aku tidak punya waktu untuk berpikir tentang opini dunia, tanggung jawab, pelayan rakyat, ah pusing deh!" Sambung Jaki. Keduanya langsung pergi meninggalkan Nona Mia dan Benza.
"Kasihan Rara dan Jaki miskin sekali," Kata Bansa dan Nona Mia mengangguk sambil tertawa. (maria matildis banda)

Pos Kupang Minggu 21 September 2008, halaman 1


Lanjut...

Surat di Balik Jeruji

Cerpen Christo Ngasi

SEBELUM matahari muncul dari belakang fajar, bunyi lonceng pertanda bahwa aku harus beranjak dari tidurku dibunyikan oleh seorang yang dipercayakan untuk mengawasi kami para tahanan. Aku menyempatkan diriku untuk memandang sebuah salib yang kupasang pada tembok berukuran 2x3 meter. Dari salib itulah aku mendapat kekuatan baru. Meskipun dalam penjara, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk dapat bertemu fajar pagi nan indah.

Bersama kedua temanku Aris dan Jack yang juga mendekam dalam tahanan ini, aku bergegas membereskan tempat tidurku dan mengenakan seragam penjara berwarna hijau dengan tulisan tertera pada dada kiriku bernomor 135A. Nomor ini adalah nomor ganjil yang dikenakan kepadaku yang adalah nomor dengan tingkatan kejahatan. Sangat wajarlah bagiku untuk menempati ruangan pada Blok A. Kalau saja ada yang pernah mendekam di tahanan yang sama pasti mengetahui para tahanan Blok A.

Aku juga melihat banyak pejabat yang mendekam di lembaga yang sama hanya berbeda blok denganku, bahkan ada juga orang yang di dalam masyarakat dikenal sebagai panutan justru masuk dalam lembaga permasyarakatan ini dengan kasus pencabulan anak di bawah umur. Sungguh menyedihkan.

Aku bersama teman yang lainnya keluar dari sel tahanan itu. Tanpa alas kaki, kami melewati rerumputan yang berembun. Sungguh rasanya dingin menyegat kulit kakiku yang masih lemah termakan tidur. Kami semua harus berbaris dalam keadaan rapi meskipun kami masih mengantuk tapi itulah seorang tahanan.
"Semuanya sudah siap?" tanya seorang petugas.

"Sudah siap, pak." Serentak kami menjawab dengan suara tenggelam.
"Kenapa suara kalian tidak ada yang keluar. Apa ada yang sumbat... Babi semua!!! Semuanya sudah siap! Kembali ia mengulang pertanyaannya.
"Sudah Pak," suara keras keluar bercampur emosi atas perkataanya kapada kami.
Kami disuruh berhitung secara bergiliran. Salah seorang tahanan tidak mengikuti barisan. Aku disuruh untuk mencari tahu dan ternyata benar seorang tahanan yang bersebelahan kamar denganku, yakni Pak Yono tidak ikut berbaris karena sakit.

Pak Yono adalah tahanan dari Blok B yang dipindahkan ke Blok A karena Blok B telah penuh dengan para tahanan dalam kasus yang sama, yakni korupsi. Salah seorang petugas menyusul mengikutiku dan melihat keadaan Pak Yono.
"Hoe, kamu sakit apa ha?" Tanyanya dengan suara keras.
"Sakit kepala." Jawab Pak Yono dengan kesakitan.
"Oh sakit kepala? Semua tahanan di luar sana juga sakit kepala. Tidak ada yang istimewa di sini.
"Cepat bangun dan ikut barisan."

Pagi itu kami diabsen satu persatu sesuai blok yang kami tempati. Sambil menunggu makan pagi kami membersihkan taman di tengah lapas itu. Aku memandang mawar merah yang baru bermekaran. Aku dekati dan mencium keharuman mawar itu. Teringatlah aku akan rumahku di mana mawar merah berjejer di taman. Keharuman mawar yang sama dengan harum parfum milik istriku, Elma. Apalagi puteriku Natalia yang adalah puteri satu satunya yang Tuhan anugerahkan padaku.

Orang pasti bertanya mengapa aku harus masuk penjara. Aku sadari ini adalah masalah dalam rumah tanggaku yang berujung pada perceraian. Masalahnya cukup sepele tapi menjurus pada perselingkuhan yang aku sendiri baru ketahui ketika membaca SMS yang tertulis pada hand phone milik isteriku. Hubungan yang tertutup dan tersusun rapi hingga enam bulan berlalu dan aku baru tahu.

Sebenarnya aku tidak sampai hati untuk memukul isteriku ketika ia meminta aku untuk segera menceraikannya, tetapi sebagai seorang suami aku terlalu marah dan akibatnya harus mendekam di jeruji besi. Ini adalah kisahku yang hampir mirip dengan Aris dan Jack. Aris dinyatakan bersalah karena menghamili isteri seorang pejabat, sedangkan Jack karena kasus pengedaran narkoba.
Keharuman mawar itu terus mengingatkan aku akan memori lama yang masih tersimpan rapi dalam album pernikahan.

Malam datang menyelimuti tidurku. Aku sadar dan mengambil foto nikahku. Saat itu Natalia belum hadir di tengah aku dan Elma isteriku. Aku memandang foto Natalia, gadis kecilku yang hanya mendapat separuh kasih sayang dariku. Meskipun tertunda aku berjanji untuk senantiasa membahagiakannya.

***

Tiga tahun sudah aku mendekam di lembaga ini. Sebentar lagi tahun berganti dan menyisahkan waktu setahun untuk aku menghirup udara segar. Selama aku mendekam di penjara ini baru tetangga, orangtua serta kawan-kawanku yang menjenguk aku. Sedangkan Elma dan Natalia anakku tak kunjung datang. Aku terus merindukan mereka untuk terus ada bersamaku walau hanya semenit, tapi itu waktu yang terlalu lama juga untukku. Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun dan selamat hari Natal kepada mereka berdua. Tetapi ucapanku tertunda untuk sementara waktu.
Aku membayangkan kalau mereka yang di luar sana bisa merasakan seperti yang aku rasakan di dalam penjara. Betapa sakit kalau aku katakan, tapi apalah mereka hanyalah manusia biasa yang kurang peka terhadap orang semacam kami yang harus merasakan hukuman yang setimpal akibat kesalahan. Tapi aku senantiasa berkata kepada Aris dan Jack bahwa kelak kita akan menerima surga abadi akibat salah kita ini. Hanya sekadar motivasi supaya mereka kuat dalam cobaan ini.

Hanya tangis penyesalan yang dapat menggambarkan hati mereka untuk bertobat kembali kepada Tuhan. Mereka sungguh menyesal dan ingin bangkit dari kesalahan untuk mengubahnya di hari esok. Namun satu ungkapan yang begitu bermakna yang aku petik dari ungkapan Aris.
"Apakah kita sadar ketika kita berada di sini?" Ungkapan ini terus aku refleksikan selama dalam tahan.

***

Sekitar tiga tahanan telah dibebas dari penjara. Rasanya ingin cepat keluar, namun harus bertahan dengan sisa waktu. Terdengar di telingaku di balik tembok kamar penjaraku. Suara nyanyian yang bersumber dari tape recorder milik seorang penjaga penjara. Nyanyian Natal yang memecahkan kesunyian malam. Aku kembali berbaring dan membayangkan Natalia puteri semata wayang yang lahir di bulan Desember tahun 2000. Aku meneteskan air mata dan merasa sedih karena aku sungguh terasing seakan berada di padang belantara.

Aku serasa tak ada kekuatan lagi, pupus ditelan sang dosa. Hatiku hancur merasa memiliki tanggung jawab ketika suara tajam seorang gadis kecil membacakan puisi si tengah lirik lagu Natal itu. Puisi ungkapan hati rindu akan kampung halaman dan keluarga. Sungguh sakit.

Aku menghadirkan suasana Natal dalam kamarku. Sebatang lilin sudahlah cukup sebagai penerang hatiku. Aku berdoa dan mengucapkan syukur atas kasih Tuhan kepadaku. Aku mengambil sehelai kertas putih tak bernoda dan menuliskan ungkapan selamat hari Natal buat gadisku Natalia Anastasia. Dengan satu harapan aku pun menulis ucapan selamat buat anak tercinta Natalia. Nantikan ayah, setahun lagi ayah akan mendapatkan kamu di usia yang ketujuh.

Dalam kartu Natal itu aku berjanji bahwa aku akan hadir dalam acara ulang tahunnya. Tahun pun berganti tak sadar bahwa aku akan segera dibebaskan dari penjara akibat kekerasan dalam rumah tangga. Aku dipanggil petugas bersama kelima tahanan lainnya yang salah satunya adalah Aris. Wajah kami berseri-seri, merasa senang karena tinggal sebulan lagi kami akan menghirup udara segar. Tepat pada tanggal 17 Agustus, hari Kemerdekaan RI kami pun dibebaskan. Dari kelima tahanan itu hanya aku yang tidak dijemput oleh keluarga. Aku tahu bahwa keluarga hari ini tak mengetahui kalau aku dibebaskan dari penjara.

Aku kembali, sedang ibu serta ayahku sedang menantiku di depan teras rumah. Aku tak menyangka mereka tahu bahwa hari ini aku dibebaskan. Aku sadari bahwa keluargaku pasti malu memiliki anak sepertiku yang mengotorkan nama baik keluarga. Aku bahagia dapat kembali berkumpul bersama keluargaku, namun betapa sedihnya aku ketika mengetahui istriku Elma dan anakku Natalia telah pergi tanpa diketahui ke mana arah mereka.

Aku bebas tapi tak sebebas sepenuhnya. Kerinduanku untuk bertemu istri dan anakku menjadi kenangan yang mungkin akan terjawab setelah mereka kembali nanti. Bulan berlalu dan aku tetap menanti mereka. Satu keputusan salah telah aku ambil dengan menjual rumah yang pernah aku bangun untuk keluargaku. Harapanku pupus. Menanti dan menanti tanpa ada satu berita yang memberiku harapan. Aku ingin mencari, namun tak tahu harus di mana. Aku mencoba menghubungi nomor hand phone milik Elma, namun tak pernah tersambungkan.

Aku ingat bahwa aku pernah mengirimkan kartu Natal buat Natalia dan aku yakin mereka telah membacanya karena saat Elma dan putriku Natalia masih menghuni rumah tempat di mana kami membina rumah tangga kami. Aku ingin melupakan tapi tak bisa. Akhirnya dengan kekuatan tersisa aku mengambil album kenangan saat pesta pernikahanku. Aku membalik dan menemukan satu bait puisi yang ditulis oleh Elma, istriku yang berbunyi:
Diamlah hatiku tetaplah diam sampai pagi
Siapa yang menanti pagi dengan kesabaran
Akan menemukan pagi dengan keceriaan
Diamlah hatiku aku ingin bicara
Maafkan atas kesalahanku

Istrimu Elma

Mengapa aku harus menemukan kata ini? Aku serasa ingin mati ditelan cobaan ini. Aku mengambil secarik kertas dan menulis buat anakku Natalia.
"Maafkan Ayah Natalia anakku karena ayah tak dapat bersamamu saat kebahagiaanmu di hari Natal dan saat usiamu bertambah. Maafkan Ayah".
Kartu itu pun kulayangkan bersama arus lautan di bulan Oktober. Aku tetap menantikanmu istri dan anakku.

Saint Michael December 2007

Pos Kupang Minggu 21 September 2008, halaman 6

Lanjut...

Puisi-Puisi Yosni Herin

Jangan Gores Suci Rahim Bunda

Kata-katamu bagai panah tembusi dada langit
Atau belati paling sayat mencabik-cabik tubuh
Di dalamnya kusua rasa sakit dan perih luka

Harga diri bisa tergadai pedih,
Tapi suci rahim bunda tak boleh tak boleh digores
Meski dengan apa pun selembut kapas
Karena di dalamnya bersemayam cinta maha daya
serta kesabaran tapa kata


Ternyata kau bilang tidak
Dengan lihai kata dan kiasan kau tiadakan yang ada
Sunyi sepikan yang gaduh, dan kecilkan yang besar
Adakah kau ingin tampak tegar-kekar?
Mungkin kau lupa pesan seorang penyair:
"Kalau sunyi engkau anggap tiada,
siaplah terbangun dari tidurmu oleh ledakan-ledakannya.
Kalau tidak tampak oleh pandanganmu engkau tiadakan
siaplah jatuh tertabrak olehnya.
Dan kalau kecil engkau remehkan,
siaplah nikmati kekerdilanmu
dalam gengggaman kebesaranNya..."

Jakarta, Tengah September 2008


Diam

Lama aku berdiam dalam sunyi
Diamku bukan suara, bukan cahaya....
Melainkan mencari cinta dengan jalan lain

Lama aku berusaha mengalah
Bukan untuk mencari pemenang atau pecundang
Tapi agar orang lain juga tidak merasa kalah.....
Akhirnya aku tahu,
diam tak selamanya emas.
Orang sering menganggap sunyi itu tiada
dan luka orang kecil selalu dibiarkan bernanah.
Maka biarlah aku balut luka itu dengan suara dan kata
karena puisi tak lagi indah jika lahir dari amarah rahim!

Pos Kupang Minggu, 21 September 2008 halaman 6
Lanjut...

Matt Brown


BAYANGKAN! Si Bos seenaknya jalan-jalan di tengah kota hanya dengan celana dalam. Bukan gila! Dia melenggang dalam keadaan sadar, bahkan sempat berolahraga keliling lapangan dengan mister segitiga alias CD alias celana dalam. Orang-orang pada heran. Tua muda kecil besar laki-laki perempuan pada ikut si bos dari belakang. Wah, si Bos santai saja. Parahnya lagi Bos ikut pesta, mabuk, ja'i, gawi, cha cha cha dan poco-poco dengan CD-nya itu.

"Aduh Bos!" Jaki lari terbirit-birit menemui Rara, si Bos. "Kenapa jadi begini? Apa gerangan yang sudah terjadi denganmu Bos? Masak keluyuran kiri kanan pake CD butut dan aduuuuh mau taruh muka di mana Bos?" Jaki bingung melihat prilaku bosnya.

"Santai saja lagi," jawab Rara.
"Aduh Bos. Bagaimana kalau Nona Mia lihat? Malunya itu Bos. Bagaimana?"
"Oh, Nona Mia pasti berlari mendekat," Rara narek rokok dan mengepulkan asapnya ke langit.
"Ada apa Bos? Mengapa Bos jadi... maaf, gila begini?"


***
"Bayangkan! Rara jalan kiri kanan pakai CD supaya dipecat dan dicopot dari jabatannya," Jaki menyampaikan semua yang terjadi kepada Benza. "Dia ingin dicopot seperti Matt Brown. Kamu tahu bukan? Baru tiga hari dilantik untuk menduduki jabatan Menteri Kepolisian pada Negara Bagian New South Wales di Australia, Matt Brown dicopot dari jabatannya. Semua ini gara-gara si Matt nekat menari erotis dalam sebuah pesta. Bayangkan! Sang menteri hanya menggunakan celana dalam saat menari diiringi musik techno pada pesta mabuk-mabukan di Gedung Parlemen tempatnya berkantor," Jaki berapi-api saat bicara.

"Pada hal si Matt hanya bererotis ria hanya sekejab. Mantan pengacara dan dosen yang telah menjadi anggota parlemen selama 9 tahun itu harus mengakhiri jabatan. Langsung, tanpa kompromi," demikian komentar si Jaki.

"Oh begitu? Apakah si Rara bosmu itu sudah dicopot dari jabatannya?" Tanya Benza dengan air muka sangat serius.
"Belum! Pada hal dia menunggu sudah begitu lama. Bahkan dia sampai menantang kapan dia dipecat."

"Jelas belum dan bisa saja jabatannya malah diperpanjang," kata Benza. "Australia memang bukan kampung halamanku Bung! Jelas-jelas korupsi, eksploitasi sumber daya untuk kepentingan sesaat, jual kampung halaman, jual wilayah, buat kebijakan yang ujungnya menghancurkan tanah leluhur serta anak keturunannya, terang-terangan punya simpanan sana sini, dan berbagai pelanggaran lain, yang bersangkutan tetap duduk manis di kursi jabatannya. Bahkan dicari-cari alasan, dukungan dan pembenaran sedemikian rupa supaya tetap berkuasa..." Benza santai saja.

"Ini soal CD bukan korupsi. Ini soal CD bukan soal eksploitasi, KKN dan lain-lain. Ini CD alias celana dalam!" Jaki kebakaran jenggot saking marahnya.
"Apa bedanya celana dalam dan korupsi? Apa bedanya CD dan eksploitasi dan KKN, dan lain-lainnya. Sama bukan?" Benza bertambah santai.

"Astaga Benza!" Jaki benar-benar bingung. "Rara pesta dan ja'i dan poco-poco, dan cha cha cha dan gawi, hanya pakai CD. Bagaimana mungkin kamu samakan CD dengan korupsi?

***
"Enak jadi si Matt. Dia merasa lega karena jabatannya dicopot," Nona Mia ikut bicara. "Baru tiga hari jadi bos besar, Menteri Kepolisian lagi, siapa berani lawan? Hebat ya dipecat gara-gara CD. Australia memang benar-benar bukan kampung halamanku!"
"Halo Nona Mia," Jaki ubah gaya di hadapan Nona Mia. "Sudah tahu soal Rara pakai CD supaya dipecat? Sebagai teman dan bawahannya saya maluuu sekali"
"CD saja kok jadi urusan," Nona Mia tidak peduli.

"Bukan hanya soal CD Nona Mia yang manis. Lebih parah dari itu. Pada bagian belakang CD ada tulisan 'godain kita dong...' Apakah kamu tidak malu setengah mati?" Jaki menatap Nona Mia.

"Yang telanjang bulat saja dibiarkan berkibar terus kok. Apa bedanya telanjang sama korupsi, KKN, eksploitasi SDA dan lain-lain?" Nona Mia dan Benza tertawa bersama-sama melihat Jaki.

"Jadi saya boleh menari pakai CD? Boleh telanjang? Untuk cari nama biar tambah tenar? Biar dukungan kepada saya semakin lama semakin banyak? Biar saya melampaui Rara dan meraup jabatan?"

"Silahkan saja! Dijamin tidak ada yang berani pecat kamu. Pasti!" Sambung Nona Mia dan Benza bersamaan.

***
"Itu Rara datang," teriak Jaki membuat Benza dan Nona Mia terbelalak. Minta ampun! Rara hanya pakai CD butut."
"Aku akan ke Australia besok pagi. Mau ketemu Matt Brown!" Rara duduk melenggang di sofa. (maria matildis banda)

Pos Kupang Minggu 14 September 2008, halaman 1
Lanjut...


Foto Pos Kupang/Freddy Hayong
HUTAN GUNDUL
--Beginilah pemandangan hutan di Kabupaten Belu yang habis terbakar. Bila ini dibiarkan terus, maka suatu saat Kabupaten Belu akan kehabisan hutan


SEBUAH papan bercat hijau, tulisan putih huruf kapital di tengahnya, "KENDALIKAN API, LESTARIKAN HUTAN KITA" jelas terbaca. Di sudut kanan papan itu tertulis, Dinas Kehutanan Belu 2008 dengan tulisan biasa agak kecil. Ditempatkan di lokasi sangat strategis. Di tepi jalan umum jurusan Atambua, Ibu kota Kabupaten Belu ke arah Atapupu, tepatnya di kilometer 17.

Warga yang melintas di jalan itu tentu sangat jelas membaca tulisan ini. Hanya dengan memalingkan pandangan ke kanan jalan (dari arah Atambua), kita sudah bisa membacanya. Sepanjang jalan jurusan ini memang terdapat puluhan peringatan yang tertulis pada papan yang ditancapkan di sisi kiri dan kanan jalan. Inti pesannya, mengajak masyarakat menyelamatkan hutan lindung di wilayah ini.

Namun, dari semua tulisan yang terpasang sepanjang jalan ini, tulisan "Kendalikan Api Lestarikan Hutan Kita" cukup menarik perhatian. Papan tulisan itu ditempatkan di lokasi yang sangat kontras. Pada tebing di belakang papan tulisan itu, tampak tanah tandus, sebagian pohon terbakar api. Rumpun pohon bambu yang berdiri berderet-deret tampak daunnya berwarna kekuning-kuningan. Tak ada daun bambu berwarna hijau lagi. Layu dan keriput batang bambu terkena sengatan api. Tidak ada pohon pengganti yang ditanam di areal tanah yang tandus.

Semuanya hangus terbakar api. Inilah gambaran sekilas kawasan hutan lindung jurusan Atambua-Atapupu yang dulunya begitu lebat, kini 'hilang' karena dibabat dan dibakar oknum tak bertanggung jawab. Hutan alamiah yang menjadi lokasi tangkapan air hujan kini tak berbekas. Tanah tandus, kering kerontang. Warga dengan sadar dan mau, membabat hutan ini untuk kepentingan lahan pertanian. Kawasan hutan lindung di kilometer 7 jurusan Atapupu ini hanya satu dari ribuan hektar hutan yang ada di Belu yang sudah dibabat habis. Upaya penyelamatan kawasan hutan rupanya masih jauh dari harapan.


Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Belu, Ir. Tisera Antonius mengatakan, pihaknya telah berusaha menyelamatkan kawasan hutan dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Namun, kegiatan tebas, bakar tetap menjadi agenda rutin setiap tahun di Belu.


Antonius menuturkan, secara keseluruhan luas kawasan hutan di Belu mencapai 69.401 hektar. Dari keseluruhan luas hutan itu, seluas 3.200 hektar kondisinya "tidak sehat" alias dibabat untuk pembukaan areal pertanian. Hutan yang dibabat terutama di kawasan konservasi dan hutan lindung. Dinas kehutanan Belu kini tengah berupaya untuk merehabilitasinya dengan menggalakkan program gerakan rehabilitasi hutan (gerhan) dan gerakkan hutan keluarga.

Antonius merincikan, secara umum kawasan hutan di Kabupaten Belu seluas 69.401 hektar itu, hutan konservasi seluas 13.231 hektar yang merupakan kawasan di bawah pengawasan Balai SDA NTT, dan hutan lindung seluas 51.841 hektar dibawah pengawasan Dinas Kehutanan Belu, termasuk hutan produksi seluas 4.329 hektar. Dari luas areal hutan ini, sekitar 28 persen atau 3.200 hektar tidak sehat karena mengalami pengrusakkan yang diakibatkan oleh ulah perambah hutan. "Sebenarnya kawasan hutan di Belu ini rata-rata masih potensial tetapi ulah dari oknum-oknum tertentu menyebabkan ada sebagian kawasan konservasi dan hutan lindung rusak. Oknum-oknum ini melakukan perambahan untuk membuka ladang baru karena mereka berpikir di kawasan ini tanahnya sangat subur. Kita sudah berupaya menghentikan kegiatan perambahan ini tetapi mental oknum-oknum masyarakat ini memang sulit mengerti," jelasnya.

Terhadap kawasan yang tidak sehat lagi ini, Antonius menyampaikan kalau kini sudah ada upaya dari Dishut untuk melakukan peremajaan dengan program gerhan. Upaya ini justru mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan Pemkab Belu dalam bentuk dana rehabilitasi. Dana itu diarahkan untuk pengadaan bibit untuk disalurkan kepada para petani yang membutuhkan.

"Kita coba lakukan pendekatan dengan berbagai cara agar hutan yang sudah gundul bisa diremajakan kembali. Kita coba siapkan bibit kita droping ke pemilik lahan lalu mereka tanam dan rawat sendiri. Selain itu, kita juga berikan bimbingan teknis kepada petani agar mereka rawat secara baik bibit tanaman yang kita distribusikan sehingga ada timbal balik keuntungan," tambahnya.

Terlepas dari upaya Dinas Kehutanan Belu dengan caranya, tetapi faktanya, hutan di Belu sudah rusak parah. Layaknya manusia, tubuhnya sudah mengalami penyakit yang sangat kronis. Membutuhkan biaya yang cukup dan pemeliharaan yang telaten. Dishut tidaklah cukup dengan sebatas omong-omong, tetapi harus ada tindakan nyata dengan sumpah adat. Dengan begitu, membatasi ruang gerak oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan. Hutan kita harus segera diselamatkan, kalau mau generasi berikutnya tidak mengalami akibatnya. Gerakkan penyelamatan hutan mutlak dilakukan. Siapa yang berani memulainya? (ferdi hayong)

Pos Kupang Minggu 14 September 2008, halaman 14
Lanjut...

Ir. Gorgonius Drepla Bajang


(advetorial)
Ir. Gorgonius Drepla Bajang


Petani Mengabdi Untuk Petani


APAKAH seorang petani mampu menjadi wakil bupati? Pertanyaan ini sah-sah saja. Sebab, pertanyaan itu bisa saja lahir dari sebuah kesangsian terhadap profil seseorang. Namun pertanyaan itu tidak pas dialamatkan kepada Ir. Gorgonius D Bajang, yang saat ini menjadi calon Wakil Bupati Manggarai Timur berpasangan dengan Yoseph Biron Aur, S.Sos. Keberanian Gonis, demikian biasa disapa, maju sebagai calon orang nomor dua di Manggarai Timur lahir dari niat tulus dan refleksi yang mendalam untuk mendongkrak pertanian di Manggarai Timur.
Seperti apa profil Gonis dan kiprahnya dalam kehidupan bertani dan geliat politiknya selama ini?

Anda sangat mengagungkan pekerjaan tani. Sejak kapan Anda mulai bergelut dengan pekerjaan itu?

Saya dibesarkan dalam keluarga PNS dengan gaji rendah. Selain itu akses semua kebutuhan sangat terbatas. Elar pada saat itu dalam kondisi isolasi. Meski sebagai anak dari seorang PNS, bapak saya memiliki kebiasan bertani. Sejak kelas IV SD atau sejak saya bisa memegang pacul sudah bekerja sebagai petani. Pekerjaan itu saya jalankan di samping sebagai bagian dari tanggung jawab membantu orangtua, juga sebagai bagian dari kontribusi saya sebagai anak sulung. Pekerjaan bertani diajarkan sejak kecil. Kehidupan bertani sudah ditanamkan dalam diri saya. Dan pekerjaan itu saya jalankan di Elar sampai selesai pendidikan SLTP.

Apakah dengan alasan itu Anda memilih pendidikan pertanian?

Ya. Tapi, jujur saja setelah tamat SMP ada benturan keinginan dengan orangtua. Orangtua saya mengendaki saya masuk SPG. Alasannya sekolah pendek, cepat selesai dan menjadi guru. Dengan itu bisa membantu adik-adik saya. Tapi saya punya pilihan. Dunia pertanian menjadi sesuatu yang sangat menarik. Karena itu meski berseberangan dengan pikiran orangtua saya tetap pilih sekolah pertanian. Saya memilih sekolah di SPMA Mano.

Apa saja yang menarik ketika mengenal pertanian dan memilih sekolah pertanian?
Keuletan yang dimiliki ayah saya. Spiritualitas hidup tani yang dikembangkan ayah saya. Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan jumlah anggota keluarga enam orang anak. Hidup serba terbatas. Dengan itu jalan yang harus ditempuh adalah mencari tambahan kehidupan ekonomi. Dan bertani menjadi solusinya. Apalagi lahan pertanian di Elar sangat luas. Kerja tani tidak hanya andal fisik saja tetapi ketekunan, keuletan. Hasil pertanian sungguh membantu kehidupan ekonomi kelurga. Itulah yang membuat saya sangat mencintai pekerjaan tani.

Apa kunci bertani dengan baik?

Hidup disiplin. Ayah saya pengawai dan petani yang disiplin. Sosok bertani yang dikembangkan ayah saya menjadi inspirasi buat saya. Ayah saya menjalankan dua pekerjaan itu dengan baik. Dan itu menjadi kunci untuk sukses.

Apakah dengan itu mewariskan suatu spiritualitas hidup?

Saya katakan bahwa hidup disiplin akan menghidupkan kehidupan itu sendiri. Dan saya alami sendiri. Mulai kecil hidup disiplin. Disiplin menjadi akhlak penting dalam kehidupan manusia. Saya merasakan dalam seluruh panggilan hidup saya. Di mana-mana saya katakan saya adalah seorang petani. Saya tidak segan atau riskan dengan pekerjaan itu. Karena memang saya sebagai petani. Petani profesional. Dan saya bisa hidup baik, menghidupkan istri dan anak saya. Saya buktikan kepada publik bahwa hidup baik tidak hanya dari PNS. Bertani dengan baik dapat membawa hidup sukses.

Tamat SPMA, apakah Anda bercita-cita menjadi PPL?

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi PPL atau PNS. Cita-cita saya adalah bagaimana cara bertani yang bapak wariskan kepada saya jauh lebih baik. Ketika di SPMA, saya termasuk siswa yang memberi kontribusi besar untuk lembaga itu. Saya selalu menjadi wakil SPMA untuk mengikuti perlombaan-perlombaan atau kegiatan lainya mewakili lembaga itu mewakili Indonesia Timur. Lantaran karena prestasi yang saya miliki, saya diminta untuk diangkat menjadi seorang penyuluh. Pada saat sekolah saya sudah mengajar sesama rekan SPMA. Mata pelajaran penyuluhan. Materi yang saya sajikan mudah dipahami. Lantaran itu, guru saya merekomendasikan menjadi penyuluh. Tetapi saya tetap terpanggil menjadi petani.

Apakah setelah tamat SPMA langsung menjadi petani?

Saya SPMA tahun 1986. Pada saat itu saya pulang kampung dan mulai menjadi petani yang baik. Lahan milik bapak saya sulap menjadi lahan kopi, coklat, cengkeh dan sawah. Saya tekun selama satu tahun. Memang sesudah tamat saya minta izin orangtua agar saya melanjutkan kuliah, namun karena keterbatasan dana saya hidup sebagai petani di kampung. Selama bertani saya tunjukan kepada orangtua saya bagaimana bertani dengan baik. Pengalaman ketekunan orangtua saya transformasikan dengan pendidikan yang saya miliki. Saya tunjukkan kepada orangtua untuk hidup sebagai petani di kampung. Selama satu tahun di kampung itu saya mencoba merangkul anak-anak yang putus sekolah di Elar dan mulai bekerja gotong royong atau dhodho. Kerja sama swadaya bersama teman-teman. Selama satu tahun itu kami bekerja dari satu kebun ke kebun lain secara bergiliran. Hasil olahan tanah kami cukup baik. Selama satu tahun itu juga kelompok binaan saya membuat suatu gebrakan. Kami sepuluh orang sewa lahan sawah warga seluas 3 hektar dan mengolah lahan itu. Saya coba terapkan pengetahun saya sehingga hasilnya meningkat. Artinya ada semangat menularkan pengetahuan yang saya miliki kepada sesama angkatan muda di kampung. Kelompok binaan saya memberi dampak sosial yang sangat besar bagi masyarakat sehingga kelompok kami mendapat penghargaan di tingkat kecamatan. Kelompok kerja itu membantu aktivitas ke kelompok lain. Kami memberi penyuluhan kepada kelompok tani yang lain. Kelompok saya bisa juga menjadi pedagang. Caranya kami beli hasil kemudian jual ke Ruteng. Kami dibantu dengan transportasi kuda. Dari hasil jualan kami mendapat untung yang cukup besar. Biasanya Juni-Oktober kami beli cengkeh, kemiri, dan lain-lain. Saya tunjukkan bukti dan kemampuan. Karena itu pada tahun berikutnya saya ajak orangtua agar saya bisa kuliah. Saya tunjukkan dulu hasil dan pekerjaan saya sehingga pada saat berangkat orangtua tinggal menambah biaya.

Apakah permohonan itu langsung dikabulkan orangtua?

Saya tidak hanya minta dana untuk kuliah, tetapi selama kerja satu tahun saya tunjukkan hasil. Dan memang pada saat itu uang saya cukup banyak dari hasil pertanian. Orangtua setuju ketika saya tunjukkan hasil pekerjaan selama setahun itu. Karena itu pada tahun 1987 saya pergi kuliah.

Apakah masih memilih pendidikan pertanian?

Ketika saya sampaikan niat mau kuliah terjadi tawar menawar dengan orangtua. Tawar menawar itu terkait tempat kuliah. Orangtua menghendaki saya kuliah di Kupang, tapi pilihan saya harus ke Yogyakarta.

Mengapa?
Saya mau ke Yogyakarta karena beberapa pertimbangan. Pertama, saya memiliki referensi bahwa kuliah pertanian agar menjadi spesialis di Indonesia hanya ada dua tempat, yakni di IPB dan UGM. Kedua, tokoh yang sering saya refeleksikan dan buku-bukunya sering saya baca di SPMA adalah Mubyarto. Mubyarto sebagai dosen di UGM. Pikiran-pikiran Mubyarto sudah terinternalisir dalam etos pengetahuan saya dan cita-cita pertanian itu.

Apakah Anda langsung pilih sekolah itu?
Saya memang tes di UGM. Tapi jujur saja karena kita referensi terbatas terutama laboratorium, saya gagal masuk UGM. Kebetulan saya ambil jurusan eksata, maka tes juga selain tertulis langsung berhadapan dengan alat laboratorium. Terus terang, alat laboratorium sangat asing bagi saya. Saya tidak berhasil tes masuk di UGM.

Selanjutnya?
Saya kemudian masusk universitas swasta Wangsa Manggala. Mengapa saya pilih lembaga itu? Karena mayoritas dosen berasal dari Gajah Mada. Tepat dalam delapan semester saya selesai. Saya mengambil jurusan agronomi budidaya pertanian. Saya kemudian menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Agronomi Indonesia (Himagri). Jabatan ini membuat saya dikirim ke mana-mana di seluruh Indonesia. Sejak semester V menjadi anggota PMKRI. Saya berkenalan dengan beberapa tokoh-tokoh Katolik.

Apa saja yang dilakukan selama kuliah?
Tugas saya tentunya belajar. Tapi memasuki semester akhir saya terlibat aktif di PMKRI dan menjadi pengurus. Suatu ketika saya membawa materi pengolahan lahan kering. Ketika selesai membawa materi salah seorang pendeta meminta bekerja pada yayasannya. Akhirnya kuliah sambil kerja. Di yayasan itu saya dipercayakan sebagai supervisior. Tugas saya memberikan input tentang pertanian bagi sejumlah pegawai yayasan yang bertugas di daerah-daerah.

Apa makna selama kerja di Gunung Kidul?
Makna saya kerja di Gunung Kidul banyak teknologi yang saya pelajari. Termasuk membuka BPR di yayasan itu. Saya menjadi Direktur BPR di yayasan itu. Saya kemudian pulang ke Manggarai.

Dari seluruh kiprah dan perjalanan Anda, hampir seluruhnya berkaitan dengan hidup petani. Apa yang menarik dari petani?
Yang menarik adalah saya tidak didoktrin dan diperintah oleh siapa saja. Saya menentukan diri sendiri. Saya bebas apa saja. Ada kepuasan dalam diri saya. Pusat latihan (Puslit) St. Aloysius itu hasil kerja sama dengan saya.

Sepulang dari Yogyakarta apa yang Anda lakukan?
Saya bertani. Saya sengaja pilih di kota karena akses baik. Memang saya mendapat sinis dari orang-orang sekitar, kok sarjana pertanian kerjanya campur tai babi, kerja kebun, beternak? Saya mau tunjukkan bahwa petani bisa hidup sukses.

Bagaimana Anda melihat kehidupan petani di Manggarai Timur?
Manggarai Timur dari segi jumlah produksi sudah miliki. Persoalannya petani kita belum profesional. Petani kita cenderung mau bekerja di semua aspek pertanian, tidak fokus. Akibatnya, pengolahan tidak profesional. Petani kita di Manggarai merambah seluruh usaha sehingga tidak terurus dengan baik. Ketika terbengkalai, maka tidak akan memberi tambah untuk petani itu sendiri.

Lalu apa yang Anda lakukan bagi petani jika terpilih?
Hal mendasar adalah melakukan pemetaan wilayah komoditi yang bisa dikembangkan di suatu daerah. Daerah-daerah potensi tertentu itu harus menjadi landmark pertanian. Identifikasi lokasi penting. Misalnya Kota Komba adalah kawasan coklat, maka petani di wilayah itu difokuskan komoditi coklat. Apabila sudah ada pemetaan wilayah langkah selanjutnya memberikan pengetahuan kepada petani berkaitan dengan potensi serta pengembangannya. Keterampilan mereka harus petani.

Selain sebagai petani Anda juga politisi. Apa yang mendorong Anda terjun ke dunia politik?
Sebenarnya sederhana saja. Saya melihat ada persoalan petani yang tidak diatur dengan baik. Dan yang bisa mengatur kendala itu hanya orang politik. Misalnya, ada perda yang tidak mengatur kepentingan rakyat. Kalau saya terlibat bisa mengatur dengan baik. Saya harus terlibat. Saya mau ada keputusan yang mengatur kepentingan petani.

Apa obsesi untuk petani?
Saya mau orang banyak ini hidup lebih baik. Orang banyak di wilayah kita ini petani. Untuk menunjang hal itu kebijakan harus memihak petani.

Anda berpasangan dengan Yoseph Biron Aur. Semboyan Anda berdua adalah Pekosamaraga. Bisa dijelaskan!
Filosofi ini menghendaki suatu perubahan. Perubahan hidup petani harus lebih baik. Kita bangun dari apa yang kita miliki. Apa yang dimiliki petani itu harus memberi ruang yang cukup. Kita mengatur kegiatan subsidi untuk petani. Lahan pertanian harus dipertahankan dan ditingkatkan untuk kehidupan petani. Persoalan petani diselesaikan bersama petani dalam semangat nai ca anggit tuka ca leleng. Hanya dengan itu kita bisa membawa Manggarai Timur ke arah yang lebih baik. (Kanis Lina Bana)

Curriculum Vitae
----------------------
Nama : Ir. Gorgonisu Drepla Bajang
Lahir : 4 September 1965
Ayah : Dominikus Repo
Mama : Valentina Lahung (alm)
Istri : Efredis Elita Jahang

Anak :
1. Glorianus Evelegius Bajang (1993)
2. Venseslaus Frenaldo Bajang (1997)
3. Gaudensia Telfilica Bajang (2005)

Pendidikan :
SD di Elar berijazah
SMP di Elar berijazah
SPMA Mano berijazah
Universitas Wangsa Manggala berijazah

Pengalaman Pekerjaan
1. Asisten konsultan pengembangan pertanian lahan kering
di Kabupaten Manggarai 1992
2. Fasilitator program pelatihan berkelanjutan di Kabupaten Manggarai 1994-1997.
3. Asisten konsultan pengembangan tanaman perkebunan (IVAT) di Kabupaten Manggarai 1997-2000
4. Supervisior pada kantor Delsos Keuskupan Ruteng 2000-2004
5. Direktur Yayasan Mitra Kita 2004 sampai sekarang
6. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten
Manggarai 2005-2010
7. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia 2007-2012

Pos Kupang Minggu 14 September 2008, halaman 3

Lanjut...

Dokter Valens Yth

SELAMAT pagi, selamat bertemu dan salam sejahtera selalu. Saya Karisa, gadis berumur 25 tahun dan pastinya masih single. Berasal dari keluarga baik-baik dan saat ini dalam keadaan sehat walafiat. Saya sudah bekerja dan satu tahap lagi dalam hidup ini yang harus kulewati adalah menikah. Soal teman hidup bagi saya harus benar-benar yang saya cintai.

Beberapa pemuda dan mencoba mendekati saya, saya masih tolak dan merasa tidak cocok hati. Di antara mereka itu, sebenarnya saya naksir juga seorang yang bernama Daniel. Kebetulan Daniel ini sudah sering saya lihat di kampus dahulu waktu mahasiswa, karena fakultas kami berbeda sehingga tidak sering kami bertemu. Dan saat ini kami dekat karena kantor tempat kami bekerja tidak berjauhan (bertetangga). Nah, dari situ dia sering mengapeli saya.

Selanjutnya, kami pun bisa dikatakan sudah berpacaran sembilan bulan ini. Yang paling menarik dari Daniel adalah bodinya yang sangat atletis dan memang dia senang olah raga. Banyak teman putri yang merasa iri dan cemburu melihat saya pacaran dengan Daniel. Karena memang dia ganteng banget.


Daniel memang suka olah raga, cuma olah raganya berat-berat. Daniel senang tinju, dia juga suka sepak bola dan angkat besi. Dari sudut olah raga ini saya hanya bangga saja, tapi tidak tertarik. Hal yang sering membuat saya sering terganggu adalah Daniel orangnya mudah marah, pemarah, kalau saya banyak omong dia marah, kalau saya tidak omong juga dimarahi.

Kalau sedikit saja saya menyinggung hal yang tidak disenanginya langsung dia marah. Dan, kemarahannya itu menakutkan. Tapi kalau dia tidak marah tampaknya sangat menarik. Ketika saya boleh usul agar dia tidak marah-marah, malahan dia tambah marah. Bahkan mengancam bubar saja hubungan kami.

Soal marah ini bukan cuma saya yang rasakan, tetapi saudara-saudaranya yang di rumah pun mengatakan hal yang sama. Oleh karena itu, saya ingin tanyakan beberapa hal kepada dokter untuk mendapat jawaban kenapa bisa terjadi hal seperti ini? Apakah ini suatu kelainan mental pada Daniel? Apakah ini bisa disembuhkan? Bagaimana cara menyembuhkannya? Kalau ini suatu kelainan dan tidak bisa disembuhkan, saya mungkin lebih baik mundur saja dari pasa makan hati. Akhirnya atas jawaban dokter saya ucapkan terima kasih.

Salam, Karisa, Tingkat I Kupang.



Saudari Karisa yang baik,

SALAM
kenal juga buat Anda dan salam sejahtera selalu. Surat Anda menunjukkan bahwa Anda sedang mengalami hal yang dilematis. Anda merasa tertarik dengan Daniel karena penampilan luarnya (eksterior) menggiurkan. Tetapi ketika menghadapi situasi interiornya Anda mulai bimbang, karena ternyata Daniel adalah sosok pria pemarah (angry man). Ujian buat Anda adalah apakah inilah pria yang akan menjadi bagian dari masa depan Anda.

Anda perlu merenungkan hal ini secara mendalam sehingga ketika Anda harus memilih, apakah Daniel atau bukan Daniel adalah keputusan yang tidak berdampak penyesalan. Dalam bukunya yang berjudul Angry Men and the Women who Loved Them (pria-pria pemarah dan wanita-wanita yang mencintai mereka) tahun 2003, Paul Hegstrom menulis dan menghadirkan data bahwa dalam kehidupan rumah tangga di Amerika sangat banyak terjadi kekerasan dalam keluarga oleh pria-pria pemarah.

Bahkan dia menambahkan bahwa penganiayaan dalam keluarga yang melukai para wanita usia 15 sampai 44 tahun, lebih banyak jumlahnya jika dibandingkan dengan penderita luka fisik akibat kecelakaan mobil, pemerkoasaan dan kematian akibat kanker. Pada kenyataannya, bentuk penganiayaan keluarga bisa berupa tatapan mata, sampai tembakan senjata api.

Hegstrom juga menguraikan beberapa ciri-ciri umum pria pemarah dan penganiaya, antara lain rendah hati, dia mempercayai semua mitos tentang penyiksaan dalam hubungan pria dan wanita, dia pria tradisional yang memegang teguh supremasi pria dan hal-hal klise mengenai mitos tentang maskulin dalam keluarga. Dia merasa berhak memberi pelajaran pada kekasih atau istrinya. Dia memiliki rasa cemburu yang berlebihan.

Agar merasa tenang dia harus terlibat dengan cara yang berlebihan ke dalam kehidupan kekasih (istrinya). Dia memiliki kepribadian ganda. Dia menderita reaksi terhadap stres yang mengerikan, di mana dia menjadi mabuk dan memukuli kekasih atau istrinya untuk menenangkan perasaannya. Dia menggunakan seks sebagai tindakan agresif untuk meningkatkan harga dirinya jika merasa kejantanannya berkurang.

Dia tidak percaya kalau perilaku kasarnya itu akan menyebabkan akibat negatif. Dia berasal dari keluarga yang penuh kekerasan, mungkin dia sering melihat ayahnya menyakiti ibunya. Hubungan dengan ibunya tidak wajar. Kepribadiannya sering berubah-ubah.

Nah, Saudari Karisa yang baik, ciri-ciri umum yang digambarkan di atas bukanlah untuk menakut-nakuti Anda dalam berinteraski dengan Daniel, namun sebagai bahan pertimbangan untuk melangkah ke depan. Hidup ini penuh tantangan dan banyak alternatif yang disodorkan. Mumpung saat ini Anda masih punya kesempatan untuk memilih, maka gunakan kesempatan itu dengan baik dan benar.

Apakah Daniel mempunyai kelainan mental, saya harap Anda tidak cepat menyimpulkan seperti itu. Namun, mungkin Daniel memiliki sejarah masa lalu atau hidup dalam lingkungan yang lebih keras. Soal bisa disembuhkan atau tidak, hal ini sangat banyak tergantung dari upaya pribadi Daniel.

Apakah dia menyadari semua ini sebagai suatu kekurangan atau bukan? Semestinya bila Daniel mencintai Anda maka masa pacaran ini adalah masa yang paling halus dan indah, yang penuh belaian dan kecupan. Mengapa harus Anda jumpai kemarahan dan kekerasan? Tidak perlu bukan? Selamat merenung.
Salam, Dr. Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 14 September 2008, halaman 13
Lanjut...




Foto POS KUPANG/ALFRED DAMA
REBUTAN FOTO BERSAMA--Para penggemar grup band ini saling berebutan untuk pose bersama artis idola dalam acara Meet and Great di Hotel Kristal Kupang, Sabtu (5/9/2008)


SUASANA Sport Cafe Hotel Kristal-Kupang, tiba-tiba saja riuh dengan suara sekitar 40 orang remaja saat Grup Band D'Masiv memasuki ruang tersebut, Sabtu (6/9/2008). Bukan itu saja, histeris pun terdengar dari beberapa penggemar. Bahkan beberapa dari mereka langsung mengabadikan para personil grub band tersebut yang duduk berhadapan dengan para penggemarnya tersebut.

Para remaja peserta Meet and Great yang digelar A Mild Live Production dan Simpati Telkomsel tersebut sebagai ajang jumpa fans antara personil Grup Band D'Masiv dan Ponky "Jikustik" dengan para remaja yang merupakan penggemar grub band dan penyanyi asal Jakarta tersebut.

Acara yang dipandu presenter, Kenny Sa'u berlangsung meriah. Berbagai pertanyaan dilontarkan dari para penggemar tersebut kepada personil D'Masiv, mulai tentang lagu- lagu karya D'Masiv, perjalanan grup band itu hingga menjadi terkenal saat ini. Juga tentang kehidupan pribadi lima anak muda tersebut. Bahkan, ada yang menanyakan tentang pacar D'Masiv. Ketika Rian, salah satu personil D'Masiv (vokal) mengaku masih jomblo (belum punya pacar), para remaja putri langsung menyambutnya dengan teriakan histeris.


Suasana semakin meriah ketika, Pongky "Jikustik" juga bergabung dengan D'Masiv. Kehadiran Pongky disambut tepuk tangan meriah penggemarnya. Apalagi Pongky yang bercerita tentang dirinya dengan kalimat-kalimat bernuansa lucu membuat susana makin meriah.

Acara puncak kegiatan tersebut adalah foto bersama. Seperti biasa, kesempatan tidak disia-siakan oleh para penggemar. Namun, pihak penyelenggara mengatur bergiliran foto bersama agar tidak berdesak-desakan. Kesempatan foto berama dimaksimalkan, para remaja penggemar artis penyanyi tersebut berusaha pose sedekat mungkin dengan personil grup band idola mereka.

Sementara wajah para remaja yang mengenakan kostum seragam merah garis-garis nampak begitu ceriah dan penuh semangat mendengar cerita para pujaan mereka. Suasana menjadi lebih meriah ketika, D'Masiv membawakan sebuah lagu "Diantara Kita" dengan iringan gitar oleh salah seorang penggemarnya.

Beberapa remaja yang ditemui usai acara jelang konser D'Masiv dan Pongky Jikustik tersebut mengatakan sangat senang bisa bertemu dengan para bintang pujaan mereka. Apalagi kesempatan ini sangat jarang, bahkan kemungkinan hanya sekali dialami oleh mereka. "Yang jelas kita senang, karena kapan lagi baru ikut acara begini, bisa ketemu artis dan bisa foto bersama," ujar salah seorang gadis. (alf)

Pos Kupang Minggu 14 September 2008, halaman 13
Lanjut...


Foto Sambiloto/wordpress.com

BANYAK orangtua panik bila mendapati suhu tubuh anaknya di atas rata-rata atau sering disebut demam. Sebagai pertolongan pertama, umumnya diberikan obat penurun panas yang berbahan dasar kimia seperti golongan parasetamol, asam salisilat, ibuprofen, dan lain-lain. Jarang sekali orangtua yang langsung teringat memberikan obat-obatan tradisional.

Padahal, obat-obatan tradisional yang berasal dari tanaman obat tak kalah ampuhnya sebagai pengusir demam. Malah, obat-obatan tradisional memiliki kelebihan, yaitu toksisitasnya relatif lebih rendah dibanding obat-obatan kimia. Jadi, relatif lebih aman, bahkan tidak ada efek samping bila penggunaannya benar. Soalnya, kandungan tanaman obat bersifat kompleks dan organis sehingga dapat disetarakan dengan makanan, suatu bahan yang dikonsumsi dengan maksud merekonstruksi organ atau sistem yang rusak. Selain itu, harganya pun lebih murah.

Tiga Jenis Demam
Namun, sebelum mengenal lebih jauh tentang tanaman obat penurun panas, perlu dipahami lebih dulu pengertian demam. Demam pada anak dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Demam karena infeksi yang suhunya bisa mencapai lebih dari 38 C. Penyebabnya beragam, yakni infeksi virus (seperti flu, cacar, campak, SARS, flu burung, demam berdarah, dan lain-lain) dan bakteri (tifus, radang tenggorokan, dan lain-lain).


2. Demam noninfeksi, seperti kanker, tumor, atau adanya penyakit autoimun seseorang (rematik, lupus, dan lain-lain).

3. Demam fisiologis, seperti kekurangan cairan (dehidrasi), suhu udara yang terlalu panas, dan lain-lain.
Nah, dari ketiganya, hanya demam yang disebabkan oleh infeksi dan noninfeksi sajalah yang memerlukan obat penurun panas. Untuk mempercepat proses penurunan panasnya, selain ramuan tradisional yang diminum, dapat juga diberikan baluran atau kompres untuk membantu. Akan halnya demam fisiologis, tak diperlukan obat-obatan penurun panas karena umumnya jarang melebihi 380 C. Untuk menurunkan suhu tubuh, cukup diberikan minum yang banyak dan diusahakan berada dalam ruangan berventilasi baik atau berpendingin.
Aneka Obat Tradisional Penurun Panas
Inilah beberapa pilihan obat penurun panas tradisional yang dapat dicoba. Penting diperhatikan, dosis yang tercantum pada ramuan berikut adalah dosis untuk orang dewasa. Bila ingin diberikan kepada anak, bacalah aturan dosis bagi anak dan sesuaikan dengan tingkatan usianya. (Lihat boks: Dosis Aman untuk Anak.)

1. Lempuyang Emprit (Zingiber amaricans)
Memiliki kandungan senyawa minyak atsiri, yaitu sekuiterpenketon yang bermanfaat untuk menurunkan panas. Umumnya yang digunakan adalah rimpangnya; warnanya putih kekuningan dan rasanya pahit.
Caranya: Cuci bersih 10 gram umbi lempuyang emprit. Parut dan tambahkan 1/2 gelas air panas, aduk rata. Setelah dingin, peras, ambil sarinya. Campur dengan 2 sendok makan (sdm) madu bunga kapuk, aduk rata. Berikan 3 kali sehari.

2. Kunyit (Curcuma longa)
Memiliki kandungan minyak atsiri, curcumin, turmeron dan zingiberen yang dapat bermanfaat sebagai antibakteri, antioksidan, dan antiinflamasi (anti-peradangan). Selain sebagai penurun panas, campuran ini juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Umumnya yang digunakan adalah rimpangnya; warnanya oranye.
Caranya: Cuci bersih 10 gram umbi kunyit. Parut dan tambahkan 1/2 gelas air panas, aduk rata. Setelah dingin, peras, ambil sarinya. Tambahkan dengan perasan 1/2 buah jeruk nipis. Campur dengan 2 sdm madu bunga kapuk, aduk rata. Bagi menjadi 3 bagian campuran madu dan kunyit ini, kemudian berikan 3 kali sehari.

3. Sambiloto (Andrographis paniculata)
Seluruh bagian tanamannya dapat digunakan. Memiliki kandungan andrografolid lactones (zat pahit), diterpene, glucosides dan flavonoid yang dapat menurunkan panas. Bahkan pada tahun 1991 pernah diadakan penelitian di Thailand bahwa 6 g sambiloto per hari sama efektifnya dengan parasetamol.
Caranya: Rebus 10 gram daun sambiloto kering, 25 g umbi kunyit kering (2,5 ibu jari), dan 200 cc air. Rebus hingga mendidih dan airnya tinggal 100 cc, kemudian saring. Setelah hangat, tambahkan 100 cc madu bunga kapuk atau mahoni, aduk rata. Bagi menjadi 3 bagian, berikan 3 kali sehari.

4. Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.)
Penampilan temulawak menyerupai temu putih, hanya warna bunga dan rimpangnya berbeda. Bunga temulawak berwarna putih kuning atau kuning muda, sedangkan temu putih berwarna putih dengan tepi merah. Rimpang temulawak berwarna jingga kecokelatan, sedangkan rimpang bagian dalam temu putih berwarna kuning muda.
Temulawak memiliki zat aktif germacrene, xanthorrhizol, alpha betha curcumena, dan lain-lain. Manfaatnya sebagai antiinflamasi (antiperandangan), antibiotik, serta meningkatkan produksi dan sekresi empedu. Temulawak sejak dahulu banyak digunakan sebagai obat penurun panas, merangsang nafsu makan, mengobati sakit kuning, diare, mag, perut kembung dan pegal-pegal.
Caranya : Cuci bersih 10 gram rimpang temulawak. Parut dan tambahkan 1/2 gelas air panas, aduk rata. Setelah dingin, peras, ambil sarinya. Campur dengan 2 sdm madu bunga kapuk, aduk rata. Bagi menjadi 3 campuran madu dan temulawak, kemudian berikan 3 kali sehari.

Dosis Aman untuk Anak
Penggunaan tanaman obat dengan dosis yang tepat tidak akan menimbulkan efek samping dan aman. Berikut dosis yang direkomendasikan untuk anak:
Usia Dosis
Bayi 1/8 dosis dewasa
2 -5 tahun        1/4 dosis dewasa
6 -9 tahun        1/3 dosis dewasa
10-13 tahun     1/2 dosis dewasa
14-16 tahun     3/4 dosis dewasa


(Utami Sri Rahayu/Kompas.com/
Konsultan Ahli: dr Adji Suranto, SpA dari Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur-PDPKT DKI Jaya/
bersambung)

Pos Kupang Minggu 14 September 2008, halaman 12

Lanjut...

Hidup Sehat Dengan Diabetes

TINGGINYA kadar gula dalam darah pada penderita sakit gula atau kecing manis terjadi akibat hormon insulin dikeluarkan oleh sel-sel beta dari pulau langarhand pada pankreas, yang bertugas mengatur kadar gula (glukosa) dalam darah, tidak lagi bekerja normal. Akibatnya darah menjadi sarat dengan glukosa, kemudian oleh ginjal yang bertugas menyaring dan mengeluarkan "sampah" dari darah dan air. Kelebihan gula tersebut menyebabkan sebagian dikeluarkan melalui air seni. Itu sebabnya air seni penderita sakit gula bisa menarik perahatian semut.

Biasanya penderita kecing manis ini diberi suntikan insulin, namun sebenaranya tidak
selalu penderita tersebut harus mendapat suntikan tersebut. Sebab, suntikan insulin tergantung jenis diabetes melitus yang diidap.

Jika diketahui seorang menderita insuline-dependent diabetes melitus (DM-tergantung insulin atau kalau merujuk pada di penderita biasa disebut PHBI:Penderita bergantung insulin), suntikan insulin selalu dibutuhkan. Jenis ini umumnya menyerang anak-anak atau remaja karena faktor keturunan. Namun jumlah kejadiannya hanya sekitar 10 persen dari seluru penderita DM.

Munculnya penyakit pada PBI bisanya tiba-tiba. Penderita mendadak rasa sangat haus dan lapar, lalu sering buang air kecil. Tapi berat badan turun drastis, badan lemas dan capek, merasa mual, pandangan mata kabur dan terus mengantuk. Ini karena tubuh tidak mampu memproduksi cukup insulin.

Beda dengan penderita PTBI (penderita tidak tergantung insulin atau non-insuline dependent diabetes mellitus). Kebanyakan tidak membutuhkan insulin. Tubuh tetap memproduksi insulin, namun jumlanya tida mencukupi atau tubuh tidak lagi bisa menggunakannya dengan baik. Justru PTBI ini lah yang paling sering ditemui pada penderita diabetes atau sekitar 90 persen penderita diabetes adalah PTBI.

PTBI bisa menyerang seseorang karena faktor keturunan, namun kemunculannya kebanyakan diatas 40 tahun, terutama pada orang yang berbadan gemuk. Serangannya sering kali tanpa terasa, karena gejalanya bisa bertahun-tahun. Namun sering merasa kaku atau kebal pada kaki dan tangan atau gatal-gatal bisanya merupakan tanda awal terkena penyakit ini.

Tanda lain, kalau luka pada kaki lama sembunya. Penderita sering terkena infeksi kulit, timbul gatal di kemaluan pada bekas kencing. Perawatan bagi PTBI umumnya cukup dngan mengatur pola makannya, yakni dengan diet rendah karbohidrat. Selain itu ada juga penyakit kecing manis yang faktor penyebabnya adalah malnutrisi. Ini biasa terjadi di daerah yang kekurangan gizi. Tidak heran kalau penderitanya kebanyakan berperawakan kurus dan berusia muda. Lalu ada lagi DM karena gangguan toleransi glukosa (IGT) yang juga disebut borderline diabetes. Ini terjadi bila kadar gula dalam darah cukup tinggi, namun masih dalam ambang batas normal.

Ada lagi DM karena kehamilan. Umumnya gejala akan hilang dengan sendirinya setelah melahirkan.
Penderita Kecing manis bisa karena faktor keturunan disamping faktor kegemukan, pola makan yang tak sehat dan lingkungan. Bila saudara kembar Anda berpenyakit DM, anda pun pasti terkena penyakit ini. Bila kedua orangtua anda terkena penyakit ini maka anda pun pasti kena. Jika salah satu dari orangtua menderita DM tapi nenek atau kakek tidak, kemungkinan terkena 60 persen dan salah satu suara kandung anda terkena maka kemungkinannya akan menjadi 50 persen. Bila salah satu orangtua dan salah satu paman atau bibi terkena DM, maka kemungkinan terkena penyakit ini 35 persen dan bila saudara kandung terkena DM, kemungkina anda terkena 25 persen.

Awas Komplikasi
Bila Anda terkena penyakit DM, sebaiknya jangan anggap sepele. Perawatan serta pengontrolan penyakit DM amat pentinbg dilakukan agar terhindar dari komplikasi. Untuk itu seminggu sekali dilakukan pengecekan kadar gula.

Komplikasi memang meruakan momok bagi para penderita DM. Itu tidak mengherankan karena DM merupakan salah kemungkinan penyakit penyebab kebutaan pada kaum usia setengah baya. Retinopati, katarak dan glaukoma adalah komplikasi pada mata yang bisa terjadi. Retinopati yang merupakan kelainan pada pembulu dara retina, bisa mengakibatkan kebutaan bila tidak diatasi segera.

Komplikasi lainnya adalah neuropati yang bisa mengakibatkan impotensi atau kehilangan rasa pada beberapa bagian tubuh karena fungsi syaraf menurun atau hilang sama sekali. Itulah sebabnya pria penderita kecing manis bisa menderita impotensi.

Komplikasilainnya adalah timbulnya penyakit jantung koroner akibat terjadinya penyempitan atau penyumbatan pada pembulu darah koroner. Risiko terkenal penyakit jantung koroner pada pria penderita DM, 2-3 kali lebih besar dari wanita. Kemudian radang paru-paru, radang mulut dan guzi, gangguan reproduksi dan kemampuan seksual menurun.

Pasien akan menghadapi kondisi sangat fatal bila sampai mengalami diabetic ketocidosis, akibat kadar gula dalam darah yang begitu tinggi. Situasi ini bisa menyebabkan penderita koma bahkan meninggal dunia. (Intisari/alf)




Penderita Diabetes, Hindari Makanan Berbahan Tepung

PENDERITA diabetes sebaiknya menghindari makanan yang berbahan baku tepung seperti roti dan mie selama menjalankan ibadah puasa. Mereka sebaiknya mengkonsumsi makanan saat berbuka puasa dalam jumlah kecil namun lebih sering.
Pakar gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr H Hardinsyah MS mengatakan di Bogor, Rabu, jenis makanan yang dikonsumsi penderita diabetes pada dasarnya tidak berbeda pada saat puasa ataupun tidak puasa. "Hanya saja, makan dalam jumlah kecil dan lebih sering," katanya.
Makanan berbahan baku tepung-tepungan, lanjut dia, sebaiknya dihindari karena makanan jenis ini lebih cepat diubah menjadi glukosa (gula darah).Sebaliknya makanan berserat seperti sayur dan buah harus diperbanyak karena makanan berserat lebih lambat diubah menjadi glukosa. Dengan pelepasan secara lambat, maka kadar gula darah akan lebih stabil.
Hardinsyah, yang juga Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia ini mengatakan, dalam banyak kasus, penderita penyakit tertentu seperti maag, hipertensi, hiperkolesterol dan diabetes yang tetap melaksanakan puasa mendapat manfaat dan berkah penyembuhan dari puasa.
Pada penderita maag misalnya, saat berpuasa, karena aktivitas makan berkurang, organ yang bekerja mengeluarkan enzim dalam lambung bisa sejenak beristirahat dan kesempatan ini dimanfaatkan untuk regenerasi sel organ. Untuk penderita maag sebaiknya hindari makanan berbahan baku tepung, makanan yang manis serta daging yang mempercepat pengeluaran asam lambung, kata Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB itu.
Ketika berpuasa, lanjut dia, kegiatan jantung menurun dan menjadi sekitar setengahnya. Sekitar separuh darah digunakan untuk kerja otak, otot dan ginjal sehingga semakin besar peluang untuk membersihkan diri dari berbagai racun sisa metabolisme tubuh. Berbagai faktor penyebab peningkatan denyut jantung dan tekanan darah dapat dikendalikan dengan berpuasa yang baik. Saat berpuasa akan terjadi pengendalian emosi, keseimbangan istirahat, serta pengaturan makan dan minum.
Hasil penelitian tentang puasa dan tekanan darah menunjukkan, tekanan darah orang yang berpuasa relatif konstan pada nilai yang normal. Bagi penderita hipertensi, Hardinsyah menyarankan agar menghindari makanan awetan dalam kaleng, makanan dengan penyedap atau terlalu asin, serta memperbanyak makan sayur.(ant)

Pos Kupang Minggu 14 September 2008, halaman 11
Lanjut...

Pawel

Cerpen Vinadi G.M.

DENGAN hanya sebelah matanya yang bisa melihat, Pawel kecil menatap ke arahku. Saya ingin berjabatan tangan dengannya. Tetapi mengulurkan tangan saja dia enggan. Tatapannya tajam. Mata kanannya hanya setengah terbuka, tidak berbola, seluruh permukaannya tertutup selaput putih. Wajahnya yang bulat, putih bersih, membiaskan kepolosan dan ketulusan seorang anak. Hanya saja rambutnya jarang, barangkali ada penyakit dalam yang dideritanya. Kelihatan luka baru di ubun-ubunnya dan di dagunya.

Kedua tangannya tidak terlepas dari setir motor bebek kecil, yang didorongnya karena mesinnya sudah rusak. Umurnya baru lima tahun, tetapi postur tubuhnya cukup besar dibandingkan anak-anak seumur dia. Matanya tidak berkedip, menatap penuh pertanyaan, atau mungkin juga kecurigaan. Matahari mulai memanas. Sinarnya yang tajam seakan pertanda bahwa dia berada tidak jauh di atas pucuk-pucuk cemara.

Panti asuhan di kampung kecil Waledow. Di tengah hutan cemara. Jauh dari keramaian. Ke halte bis jaraknya dua kilometer. Ke kios terdekat pun jaraknya sekian. Betul terpencil, mengingat ke ibukota Warsawa hanya 20 kilometer jauhnya. Lingkungan yang agak terlupakan, meskipun di sana-sini mulai terlihat villa-villa yang dibangun "orang-orang kaya baru" dari ibukota.


Sunyi. Keseharian hanya disemarakkan oleh teriak dan tawa anak-anak asuhan yang bermain di taman. Seluruhnya berjumlah 20 orang. Ada yang berasal dari Maldavia dan Latvia. Seluruhnya berasal dari keluarga yang patologis, retak, "broken home", atau pula ditinggalkan orangtua yang haknya untuk mendidik anak dicabut oleh hukum.

Demikian juga Pawel kecil. Orangtuanya tidak 'kompeten' secara hukum untuk bisa mengurus dan membesarkannya. Dia ditinggalkan ibunya di taman kota, di musim salju. Saat ditemukan polisi, badannya membiru, kaku kedinginan. Dia diantar kemari tiga tahun yang lalu, waktu usianya belum tiga tahun. Belum bisa berbicara, kesulitan dalam pendengaran dan kurang pandai berjalan sendiri. Benda kesayangannya adalah pemukul.

Ke mana-mana benda itu dijinjingnya. Para suster membeli pemukul dari bahan plastik, sehingga ringan untuk dibawa dan tidak berbahaya. Sebelum tidur malam harus dibacakan dongeng. Makanannya cuma sup dari wortel dan sosis putih. Tempat kesukannya adalah kapel para suster, karena kalau dia bicara, ada gemanya. Dia selalu melompat-lompat gembira, karena echo dikiranya teman yang menirunya. Kalau sudah puas berteriak, dia berjalan dari bangku ke bangku dan menjatuhkan ke lantai buku-buku doa para suster yang teratur rapi. Juga karena bunyi gema yang disukainya.
***
"Ayo, Nak, salaman dong sama Om" rayu suster Marlena. Pawel tetap tidak bergerak. Sinar matahari yang silau akhirnya menghentikan tatapannya ke arahku. Pandangannya sekarang beralih ke bajuku, kemudian ke celanaku, lalu ke sepatuku.
"Puma?" tanyanya sambil menunjuk ke arah sepatuku. Gaya omongnya agak kaku, sepertinya belum lancar betul untuk bicara.

"Iya, Puma", jawabku seadanya, meskipun sepatuku bermerek MacArthur.
"Saya juga punya Puma," katanya bangga, sambil menunjukkan sepatunya yang sudah agak sobek di ujungnya. Suster muda hanya tersenyum.

"Bagus benar sepatumu, warnanya saya suka,รถ kataku sambil membungkuk untuk menyentuh sepatunya. Sebenarnya sepatunya sudah hampir tidak berwarna lagi, warnanya sudah kusam. Mungkin dulu berwarna putih? Atau biru? Pawel menjulurkan kaki kirinya. Tangannya tetap di setir motor.

"Ini sepatu dibeli oleh tante suster," katanya menjelaskan
"Tante suster yang mana?" tanyaku. Para suster di Waledow semuanya berjumlah 23 orang, pikirku.

"Tante suster yang pakai tudung, tanta suster, lho, Om!" nadanya seakan mau meyakinkan saya. Saya mengiyakan saja. Biar dia puas. Suster kembali tersenyum. Pawel kecil beralih dan berjalan menuju paviliun anak-anak. Langkahnya pasti sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas betul artinya. Suster mengangguk pamit, lalu bergerak mengikuti Pawel. Matahari tetap panas. Semakin jauh, sosok Pawel dan suster semakin menghilang, sepertinya ditelan fatamorgana.
***

Pukul delapan malam udara masih tetap hangat. Mentari pelan-pelan turun, bersembunyi di balik pepohonan cemara yang tinggi. Bersama anak-anak saya bermain bola sepak di lapangan. Sejam kemudian, dengan penuh keringat kami dipanggil pulang oleh suster Maria Goretti untuk santap malam.

Pawel duduk sebagai "kepala meja". Dia membagi-bagikan nasi campur sos tomat ke setiap piring sambil setiap kali mengucapkan: terima kasih, entah untuk siapa dan maksudnya apa. Setelah makan malam selesai, suster membagi-bagikan es krim untuk semua. Pawel, sebagai yang termuda, memperoleh porsi terbesar. Dan dia pun mulai beraksi. Dengan sendok kayu kecil, yang lazim dipakai untuk memakan es krim, dia berkeliling ke semua suster dan saya untuk menyuap es krim dari porsinya ke mulut kami. Suster Maria Goretti menjelaskan bahwa dia jarang menyuap orang baru. Itu berarti saya diterima sebagai anggota keluarganya. Ritus inisiasi sudah dibuatnya, jadi saya resmi menjadi sesepuh Panti Asuhan.

Suster menjelaskan, bahwa di Panti Asuhan itu, sebenarnya Pawellah yang berkuasa. Aturan harian disesuaikan dengan kemungkinan dan ritme dia. Anak-anak yang lain tidak pernah protes, bagi mereka Pawel juga menjadi teman atau adik kesayangan. Betul disayangi. Ide-idenya selalu menarik, walaupun dia belum lancar omong, sehingga jarang bicara. Suka membagi-bagi makanan kesukaannya, permen atau coklat. Tetapi juga kadang dia bandel. Beberapa kali dia lari keliling kompleks yang luas itu dengan sepeda, kalau takut suntikan atau lagi ngambek. Dan suster harus mengejarnya dengan sepeda pula.

Di luar sudah mulai gelap. Anak-anak disuruh mandi. Terdengar tangis Pawel dari kamar mandi dan suara suster yang menghiburnya. Luka di kepalanya terkena sabun. Saya kembali ke bilik. Hening. Cuma desau cemara lewat celah jendela gedung tua.
***

Hari ini udara sudah memanas sejak pagi buta. Cemara yang lebat tidak kuasa menahan cahaya matahari yang menyengat. Kemarin saya janjikan anak-anak, untuk membuat perlombaan kebersihan di kamar untuk hari ini. Hadiah berupa coklat dan gula-gula sudah saya siapkan. Setelah berkemas, saya menuju paviliun anak-anak. Teriakan gembira dan tawa cekikikan menyambut kedatangan saya di pintu. Semua ada. Tetapi di mana Pawel? Di sudut lorong suster Marlena berdiri. Dia berusaha tersenyum, tetapi ada sesuatu yang menggerogoti hatinya. Dia sedang sedih.

Setelah memeriksa dan memberikan hadiah atas kebersihan kamar, saya mencari suster. Saya temukan beliau di dapur. Dia berdiri membelakangi pintu masuk, menghadap ke jendela. Di luar sana bunga-bunga lagi mekar. Kupu-kupu berloncatan di dedaunan. Suster menoleh, mendengar saya masuk. Matanya basah dan sembab. Saya mulai curiga, pasti ada sesuatu yang terjadi. Jangan-jangan...ah, saya jauhkan pikiran jelek saya.

"Pawel sudah tidak di sini lagi...," suara suster tertahan. Ya Tuhan, apakah dia... ah tidak!

"Hari ini dia dijemput oleh keluarga barunya," sambung suster muda itu tersendat-sendat. Lagi-lagi air matanya mengalir deras. Saya gembira campur sedih. Biarlah si kecil itu merasakan cinta kasih yang benar-benar sejati, kehangatan keluarga, kasih sayang dan juga perhatian. Bukankah itu yang didambakan dan dibutuhkan oleh setiap anak? Bukankah itu pula maksud dari setiap Panti Asuhan, berusaha menemukan keluarga angkat bagi anak-anak? Pawel kecil termasuk salah satu di antara mereka yang mujur, tidak perlu lagi harus bertanya-tanya setiap kali, mengapa ayah dan ibu tidak tinggal bersama mereka?


"Kita kehilangan dia, tetapi juga kita harus bergembira, Pawel kecil mulai dengan kehidupan baru yang layak," kataku. Suster muda mengiyakan. Berusaha menahan tangis.

Terdengar bunyi cangkul di kejauhan, seorang suster tua sedang menyiangi kebun jagung. Di sekitarnya dua ekor anak kucing belang-belang hitam putih bermain-main bersama induknya. Mereka bahagia. Punya ibu. Di dalam paviliun begitu banyak anak yang merindukan ibu dan ayah. Setiap harinya mereka menanti, apakah ada keluarga yang mau mengangkat mereka menjadi anak. Pawel kecil kedatangan Dewi Fortuna. Panti asuhan kehilangan tangisnya setiap kali mandi. Kehilangan ritus-ritusnya yang selalu baru dan aneh. Seakan kehilangan jiwa. Di kamarnya hanya tinggal kasur, bantal dan seprei. Semuanya dibawanya. Motornya yang rusak, bola dan sepatu kusamnya. Dan pemukul dari bahan plastik.

Warszawa, Juli 2008.

Pos Kupang Minggu 14 September 2008, halaman 6

Lanjut...

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda