Kolonel (Inf) Wiston Pardamean Simanjuntak


Winston bersama Isteri


Masyarakat NTT Luwes dan Terbuka

PERJALANAN tugas Kolonel (inf) Winston Pardamean Simanjuntak akhirnya membawanya ke Propinsi Nusa Tengara Timur. Sebagai manusia, bertugas di bumi Flobamora sebagai bagian dari rencana Tuhan. Selain itu, sebagai prajurit TNI ia siap ditempatkan dimanapun dalam wilayah NKRI.

Bagi pria berdarah Tapanuli ini, bertugas di NTT membawa kebanggan tersendiri. Apalagi tugasnya menjaga kedaulatan NKRI di wilayah yang berbatasan dengan dua negara sekaligus, Australia dan Timor Leste. Dan, yang membuatnya menjadi senang bertugas di wilayah ini adalah pola pergaulan masyarakat yang luwes dan terbuka.
Komandan Resor Militer (Danrem) 161/Wirasakti Kuang ini, saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini, mengatakan masyaralat NTT memiliki budaya yang terbuka dan dinamis, menjadikan siapa saja akan betah bertugas di NTT.

Bukan saja dengan masyarakat, hubungan masyarakat, pemerintah maupun unsur militer sangat mendukung pelaksanaan tugas aparat TNI. Apalagi masyarakat NTT juga dikenal cinta damai.
Berikut petikan wawancara dengan Kolonel Pardamean Simanjuntak.

Bagaimana perjalanan karier Anda dalam dunia militer?
Setelah saya tamat Akademi Militer tahun 1981 langsung masuk Kopasanda (Komando Pasukan Sandi Yudha) saat itu, sekarang disebut Kopassus (Korops Pasukan Khusus). Dari tahun 1981-1984 di Grup 3 Kopasanda di Ujung Pandang. Dari situ ada perubahan organisasi Kopasanda menjadi Kopassus dan untuk masuk Kopassus dilakukan seleksi dan saya lulus sehingga pindah ke Solo. Dalam perjalanan tugas, saya saya juga menjabat Danden (Komandan Detasemen) 12 Kopassus di Solo selama 4 tahun dari tahun 1986 sampai tahun 1990.


Tahun itu juga saya bergeser ke Grup I Kopassus di Serang, di situ saya menjabat sebagai Danden, kemudian Kasi Intel, Kasi Logistik dan Wadanyon 12 Sanda Bagian Intelijen. Tahun 1994 bertugas sebagai Wadanyon. Kemudian saya mengikuti pendidikan di Sesko (Sekolah Staf dan Komanda) TNI AD. Setelah dari sana, menjadi Danyon 733 Ambon di Ambon tahun 1995-1996. Menjelang Pemilu 1996, saya jadi Dandim Timika. Menjabat Dandim Timika selama satu tahun tujuh bulan. Tahun 1998 jadi Wadan Rindam sekitar satu tahun lebih dan tahun 1998 saya masuk ke Wasren (Wakil Asisten Perencanaan) tiga bulan di Kodam 17 Cendrawasih. Dari sana saya diarahkan jadi Waasintel. Setelah itu saya pindah ke Mabes AD Tahun 2002. Tidak sampai setahun saya pindah ke Mabes TNI. Tahun 2006, saya tes seleksi Kursus Danrem dan selesai tahun 2006. Kemudian saya lama bertugas di Jakarta di Mabes TNI dan kini saya ditugaskan di Korem 161 Wirasakti Kupang sejak

Desember 2007 lalu dan dilantik Tanggal 22 Januari 2008. Itu perjalanan saya sejak dilantik menjadi prajurit TNI dengan pangkat Letnan Dua.

Anda sudah bertugas di berbagai tempat dan kini bertugas di NTT. Apa kesan Anda?
Yang lebih menyenangkan saya menjalankan tugas di NTT, karena di sini komunikasinya yang luar biasa. Terbuka, tidak mengenal waktu, tidak mengenal tempat, komunikasi di dalam meningkatkan masyarakat kita baik di bidang kesejahteraan maupun bidang kemasyarakatan berjalan dengan baik. Komunikasi ini berjalan baik dengan tokoh masyarakat, pemerintah, dengan DPRD itu luar biasa. Maka pada saat saya masuk sini, orang bertanya tentang Pilkada dan saya bekata Pilkada di sini aman. Karena komunikasi yang bagus, walaupun beberapa masyarakat yang menolak kebijakan pertahanan untuk pembangunan-pembangunan instansi muliter baik itu batalyon maupun brigif (brigade infanteri). Setelah saya dalami dengan dasar komunikasi yang bagus di sini antara tokoh agama, tokoh masyarakat dan TNI ini hanya permasalahan belum jelasnya saja tentang tugas-tugas TNI. Pada waktu di Ende, saya menjelaskan selama lima jam dengan tokoh-tokoh agama dan masyarakat akhirnya mereka paham, bahwa keberadaan TNI ini tidak menakutkan seperti yang mereka bayangkan. Saya berbicara dengan mereka, berkomunikasi dan mereka melihat hal yang positif dan bisa dimanfaatkan di dalam pelaksanaan operasi dalam rangka tugas-tugas operasi militer selain perang.

Anda banyak bergelut di tengah-tengah anggota prajurit yang kehidupannya pas- pasan. Apa siasat Anda untuk memotivasi para prajurit?
Saya melakukan pendekatan sebagai pemimpin, sebagai komandan, sebagai kakak, sebagai guru, sebagai sahabat. Itu saya terapkan. Sehingga komunikasi ini tidak tidak lantas pada saat-saat apel atau saat-saat jam dinas. Kadang-kadang saya jalan pagi- pagi subuh ke rumah mereka, ada yang belum mandi, belum makan. Kadang mereka tidak tahu saya siapa. Saya cek, saya koordinasi sehingga saya tahu persis masalah mereka. Sehingga penyampaian dan pemecahan masalah itu bukan merupakan satu bentuk intervensi sebagai atasan, tapi sebagai kakak, sebagai saudara dan sesama dia sehingga ia bisa menerima karena saya bisa merasakan perasaan mereka. Saya mencoba memberikan pemahaman pada mereka tentang hutang. Hutang itu tidak memberikan sesuatu yang baik, kemudian saya juga memberikan pemahaman tentang pemikiran yang seimbang bahwa kalian itu prajurit yang punya gaji kecil maka siapkan diri kalian tidak konsumtif, kalau gaji kalian hanya Rp 1 juta, ya gunakan gaji itu untuk sebulan bahkan bisa menyisihkan. Sehingga dari situ kalian makan, saya juga menyarankan mereka untuk perencanaan yang baik dalam keluarga mereka.

Di NTT, sebagian masayarakat masih menolak kehadiran tentara. Tanggapan Anda?
Saya melihat penolakan itu kebanyakan dipolitisir, sebab kalau saya bicara dengan masyarakat, mereka sangat butuh dengan kehadiran TNI. Faktanya mereka banyak memberikan tanah, bukan karena anaknya ingin jadi tentara kemudian mereka kasih tanah, bukan begitu. Tapi mereka butuhkan, sumber daya lain yang bisa memberikan peningkatan pada mereka. Baik itu peningkatan spiritual, baik itu peningkatan pada cara berpikir yang produktif, kemudian kedisiplinnan. Kalau, bicara kita disiplin ada juga anggota kita yang melakukan pelanggaran, tapi itu hanya oknum. Tapi secara organisasi, militer ini dibangun berdasarkan disiplin. Kedua, penolakan itu akibat kurang paham. Artinya perlu sosialisasi tentang siapa sih TNI ini. Ada sebagian daerah-daerah yang terisolasi, ada daerah yang belum tahu tentang bagaimana TNI itu, sehingga pada waktu kita masuk saat kunjungan-kunjungan ke daerah kita coba untuk memberikan pemahaman dalam diskusi, pada dasarnya mereka diskusi dan mengharapkan kehadiran kita.

Ada rencaca membangun instansi militer sampai 2015, apakah itu tidak memaksakan kehendak karena masih ada saja yang menolak?
Saya kira tidak. Begini, program itu berdasarkan strategi negara atau pemerintah. Artinya NKRI membutuhkan satu pertahanan yang kuat. Sehingga program dalam bentuk itu dalam bentuk implementasi aturan dan UU No. 34. UU ini dibahas berasama dengan DPR yang merupakan presentasi rakyat Indonesia. Bila rencana TNI membangun kekuatan ditolak oleh masyarakat sama juga dengan menolak UU yang sudah disepakati bersama itu. Kita hanya menjalankan itu saja, hanya menjalankan amanah rakyat Indonesia. Bahwa, pertahanan kita dalam UU bentuknya seperti itu sehingga kita tinggal melaksanakannya.

Mengapa kehadiran tentara masih saja membuat masyarakat justeru takut?
Tidak juga. Waktu kami kunjungi daerah-daerah dengan Panglima Kodam Udayana, masyarakatnya senang sekali. Mereka menyambut dengan misa, disambut luar biasa. Panglima sendiri tidak menyangka ada sambutan yang sedemikian rupa. Bahkan wajah trauma tidak ada, bahkan mau mendekati dan menyalami. Artinya mereka punya harapan pada TNI. Bahkan kita diangkat menjadi raja di sana. Jadi kalau ada pertanyaan seperti itu menjadi tanda tanya besar bagi kita. Tapi kita pahami secara psikologis, mungkin karena belum kenal jadi belum sayang. Seperti kata pepatah tidak senang maka tidak sayang.

Mungkin masyarakat tunggu bukti hasil karya TNI. Seperti di Sikka dan Manggarai, TNI bersama masyarakat bangun jalan raya.
Makah itulah yang dikatakan tidak kenal, tidak sayang. Sehingga peran dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh-tokoh lain, tokoh pers juga menjadi penting. Harusnya memberikan sesuatu yang positif untuk masyarakat kita. Saya sangat senang sekali dengan program bapak gubernur tentang NTT Baru. NTT baru ini saya berpikir harus dimulai dengan cara berpikir positif dulu, semua elemen harus memulai dari sisi itu. Saya pernah membaca buku tentang prinsip-prinsip keberhasilan. Kalau kita katakan tidak bisa dalam diri kita maka tidak pernah akan bisa. Kalau kita berpikir negatif maka sudah mulai negatif. Maka dalam hal ini bahwa ini kita mau lihat sesuatu harus dari sisi positif dulu. Rasa curiga yang berlebihan tinggalkan dulu, kewaspadaan yang ditingkatkan. Waspada juga harus positif, misalnya ada markas di sini maka kita harus bersiap-siap misalnya mendirikan warung untuk menyediakan makanan untuk tentara kita.

Pengalaman selama bertugas di Papua, apa bisa diterapkan di NTT?
Saya menggantikan Pak Arief Rahman sebagai Komandan Yonif 733 yang sedang bertugas di Papua. Tugas di Papua berhasil menyelesaikan masalah separatis dan menciptakan situasi yang kondusif. Di situ program yang cukup bagus adalah menciptakan sumber daya manusia yang sedini mungkin. Jadi pelaksanaan tugas itu saya melakukan tugas teritorial, bekerja sama dengan keuskupan, saat itu Uskupnya Mgr. Manihok, orang Belanda. Kita bekerja sama membangun SDM Papua dengan pola memberikan nutrisi pada ibu-ibu hamil. Jadi ibu-ibu hamil di setiap kecamatan pos-pos kami itu paling banyak sembilan orang, paling sedikit tiga orang. Jadi kita kerja sama dengan bupati membuat kandang ayam. Hasil produksi telur dan daging ayam kita berikan pada ibu-ibu hamil. Ini dilakukan di daerah operasi dan saya punya pos-pos itu. Karena kita juga selain memberantas separatis, kita juga mencoba membina teritorial. Artinya, kita membentuk satu kekuatan masyarakat dalam rangka membentengi penyusupan. Akibat dari itu, pembenrontak separatis ini juga terpengaruh, mereka melihat tentara sekarang memihak pada masyarakat. Yang tertanam dalam diri mereka seperti itu, sebab bayangan mereka selama ini adalah tentara itu membunuh saja, menyusahkan saja. Tapi dengan pola itu akhirnya masyarakat tertarik dan juga banyak yang turun gunung dan menyerah. Saya hanya enam bulan tapi cukup berhasil melakukan pembangunan dengan pola menciptakan SDM sedini mungkin.

NTT berbatasan dengan dua negara. Apa yang Anda lakukan?
Saya kira begini, Timor Leste itu negara ini baru. Kondisi negara ini pun baru membangun dan kita sudah cukup maju sebenarya peluang buat kita untuk menjadi suplier. Sehingga harus memahami dan pmerintah perlu menyokong itu, sehingga menjadi kuat perbatasan kita ini. Kita bangun kantong-kantong ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan-lahan subur. Kalaupun lahan tidak subur kita suburkan dengan teknologi. Seperti konsep di Papua, sebenarnya bisa diterapkan di sini karena saya melihat gizi buruk cukup banyak. Dengan memberikan protein sedini mungkin, itu sudah hebat karena pembentukan manusia yang produktif itu dari nol hingga tujuh tahun. Kita bisa membangun ekonomi pertanian di sini yang bagus dan hasilnya kita ekspor ke Timor Leste. Jadi negara baru itu adalah peluang pasar kita sebenarnya. (alfred dama/benny jahang)


"Marinir itu Sangat Hebat"



MASA kecil tinggal di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, yakni di Tanjung Pinang-Riau, membuat Winston hampir setiap saat bertemu dengan aparat marinir- TNI Angkatan Laut yang mengawal kedaulatan wilayah RI. Melihat tubuh tegap tapi ramah anggota marinir membuat Winston mulai kagum. Dan, sejak itulah tumbuh motivasi. "Jadi, semasa kecil itu ada semacam kesatuan marinir yang bertugas di Tanjung Pinang. Para anggota ini bertugas di daerah saya. Mereka sering ke rumah dan hubungan kita sangat baik. Dalam pandangan saya, marinir itu sangat hebat jadi maka berpikirlah saya untuk menjadi tentara seperti mereka," jelas Winston.
Bagi Winston, sosok marinir adalah tipe pria idel yang gagah. Ini yang membuatnya ingin menjadi tentara.
Kehidupan masa kecil bersama orangtua yang serba terbatas mendorongnya menjadi orang sukses dan motiviasi ini menguat dalam diri Winston saat usia remaja. Selepas SMA, pria yang suka memancing ini masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Saat diminta memilih, Winston remaja memilih Angkatan Darat dan Kepolisian. Dalam benaknya, hanya ada dua pilihan yakni jadi orang paling mapan atau paling hebat. "Aku ini ingin menjadi orang hebat, kalau tidak hebat ya jadi orang yang berkecukupanlah," jelas Winston.
Keinginan menjadi tentara akhirnya terwujud, ia masuk Akademi Militer (Angkatan Darat). Setelah menyelesaikan pendidikan Akabri tahun 1998,Winston harus memilih lagi satuan-satuan di lingkungan angkatan darat antara lain polisi militer, kavaleri, artileri, zeni atau infantri serta korps lainnya. Semangat muda yang ingin menjadi orang terhebat, ia memilih menjadi infantri. Dalam infantri, ia harus memilih dan diseleksi lagi untuk masuk ke jajaran pasukan komando. Tekad baja pula yang membawanya bisa masuk pasukan elit, Kopansanda (Kini Kopassus).
Pengalaman di medan tugas juga menjadikan ayah tiga anak dan suami dari Sherly Lanusi ini berpembawaan tenang. Dan, selalu menyelesaikan masalah dengan tenang pula. Tak heran bila sekilas pria kelahiran Tanjung Pinang 12 Juni 1957 ini selalu terlihat tenang. (alf)

Data diri
Nama : Winston Perdamean Simanjuntak
Pangkat : Koloner Inf
Jabatan : Komandan Resor Militer 161 Wirasakti Kupang (NTT)
Pendidikan : SD Tamat Tahun 1970
SMP Tamat Tahun 1973
SMA Tamat Tahun 1976
Akabri Tamat 1981
Pengalaman Tugas Antara Lain
Bertugas di Kopassus dari 1981-1993
Komandan Yonif Linud 733 DAM VIII/TKR
Dandim 1710 Timika
Asisten Intel Kasdam XVII/TKR
Dirbinfung Intel Pusintel AD

Isteri : Sherly Lanusi
Anak-anak: Samuel Ebiyeser Simanjuntak
Anggi Sherwinda Ully Simanjuntak
Yosua Albert Simanjuntak
Orangtua Ayah : Djabosar Simanjuntak (alm)
Ibu : Tio Intan Silitonga


Pos Kupang Minggu 21 September 2008 halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda