Foto Istimewa
WANITA PEDULI HUTAN--Seorang wanita di Sumba Timur yang peduli terhadap lingkungan dengan menanam hutan di kebunnya. Gambar diambil pekan lalu.


LAI WANGGI WANGGAMETI merupakan taman nasional yang dikelilikingi oleh 16 desa di Kabupaten Sumba Timur, merupakan jantung pertahanan ekologi Pulau Sumba. Penginderaan citra satelit tahun 1996, hutan dengan tajuk rapat itu, hanya tersisa sekitar 10 persen dari luas daratan Pulau Sumba dan hanya 6,5 persen merupakan tutupan hutan primer, sebagian besar dijumpai di bagian selatan Sumba.

Hutan Saat ini, hutan di Sumba terpecah menjadi 29 blok dengan 45 persen diantaranya memiliki luas di bawah 500 ha. Kondisi kawasan konservasi Taman Nasional Lai Wanggi Wanggameti dengan luas 47.014 ha memiliki peranan penting dalam mempertahankan keseimbangan ekologi Pulau Sumba, khususnya Sumba Timur. Kawasan ini, menurut Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) 1984, merupakan kawasan dengan fungsi hutan lindung (42.314 ha) dan fungsi produksi (4.700 ha) dimana terdapat 16 desa yang berada di dalam dan sekitar kawasan tersebut.

Sejak tahun 1998, kawasan ini berubah fungsinya menjadi Taman Nasional Lai - Wanggi Wanggameti dan ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.576/Kpts-II/1998 dengan luas kurang lebih 47.014,00 ha.

Taman Nasional Lai Wanggi Wanggameti memiliki nilai konservasi yang penting dari segi kelengkapan, jenis habitat dan fungsi daerah tangkapan air untuk Sumba Timur. Hasil penelitian Sujatnika dan Jepson tahun 1995, menyebutkan, dari 176 jenis burung yang teridentifikasidi Pulau Sumba, 97 persen diantaranya diperkirakan hidup di kawasan Taman Nasional La- Wanggi Wanggameti. Dari jumlah itu, 25 jenis merupakan burung endemik Indonseia dan 9 jenis burung endemik Pulau Sumba.

Sebelum ditunjuk menjadi kawasan Taman Nasional, masyarakat di pinggir kawasan berinteraksi dengan hutan. Bentuk interaksi ini diwujudkan dalam berbagai aspek, yakni ekonomi, politik, dan sosial budaya. Wujud interaksi langsung masyarakat dengan hutan, yaitu dengan adanya lahan khusus untuk berkebun, melakukan ritual adat dan hutan juga dianggap sebagai simbol sosial masyarakat.

Hutan oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai harga diri karena dianggap tempat bersemayamnya para leluhur dan juga dapat dibuktikan dengan adanya beberapa kuburan-kuburan keramat yang sampai dengan saat ini masih terjaga dengan baik.
Untuk memperkuat kesepakatan, masyarakat membuat batas-batas secara adat melalui manajemen pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat adat. Lahan- lahan dibuatkan aturannya, yaitu ada lahan/tanah yang boleh digarap dan tidak boleh digarap. Aturan inilah yang memayungi masyarakat dalam kerangka pengelolaan SDA di wilayahnya.

Penetapan pal Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) 1984 yang dilakukan secara tidak partisipatif telah menimbulkan dua versi tata batas, yaitu tapal batas jaman Balanda (Watumonggu) dan tapal batas versi TGHK. Dari penetapan secara sepihak tersebut, telah memicu konflik antara masyarakat dan pemerintah, karena banyak kebun masyarakat yang cukup produktif masuk ke dalam kawasan hutan. Penunjukkan kawasan hutan Lai Wanggi Wanggameti sebagai Taman Nasional tanpa adanya proses sosialisasi yang memadai serta menimbulkan kebingungan dalam masyarakat.

Penerapan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, juga memberikan dampak dalam upaya pengeloalan SDA. Penerapan otonomi daerah, dikhawatirkan terjadi eksploitasi besar- besaran terhadap sumber daya alam demi kepentingan pembangunan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan.

Permasalahan lain di sekitar kawasan Taman Nasional Lai Wanggi Wanggameti (TNLW) yang turut memberikan implikasi negatif adalah memudarnya kearifan lokal sebagai basis utama dalam pengelolaan SDA, sistim pengorganisasian lembaga-lembaga lokal yang masih lemah.

TNLW merupakan habitat utama bagi 176 jenis burung, 22 jenis mamalia, 115 jenis kupu-kupu, tujuh jenis amphibia, dan 29 jenis reftilia. Beberapa jenis diantranya tergolong fauna endemic sumba yang kini semakin langka, seperti Kakatua Jambul Jingga (Cacatua sulphura citrinocristata), Rangkong Sumba (Rhiticeros everretty), burung walet sarang putih (Aerodramus Fuciphagus) dan Walik Rawamanu (Ptilinopus dohertyi), selain itu ada beragam jenis floranya kurang lebih sekitar 70 jenis tumbuhan. (Sujatnika dkk, 2000).

Selain sebagai habitat flora dan fauna, TNLW juga merupakan daerah resapan air utama dan hulu dari 12 derah aliran sungai (DAS) di Sumba Timur, antara lain Luku Lunga, luku Kanabu Wai, DAS Kambaniru (164.840 ha) dan DAS Melolo (24.480 ha) sebagai DAS terpenting yang menjadi sumber air irigasi dan sumber air minum daerah utara dan daerah Kota Waingapu.

Konsorsium Pengembangan Masyarakat Nusa Tenggara (KPMNT) menaruh peduli dengan kelestarian hutan taman nasional sebagai pusat ekologi Pualu Sumba. Menurut Sekretaris Eksekutif KPMNT, Yunus Takandewa,S.Pd, yang ditemui di Kupang, pekan lalu, pihaknya mendukung berbagai upaya pengembangan jaringan dan kemitraan dalam rangka pelestarian Kawasan Taman Nasional Lai Wanggi Wangga Meti.

Pengembangan jaringan kerja sama kemitraan disadari sebagai sebuah kebutuhan oleh para pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan SDA di kawasan TNLW. Pada tahap dini, kebutuhan itu berkembang karena pertimbangan praktis dalam menyikapi semakin rumitnya permasalahan yang dihadapi dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh para pihak. Kondisi alam yang tidak menguntungkan, pendekatan pembangunan yang tidak tepat guna, dan lemahnya koordinasi diantara para pelaku pembangunan menjadi alasan lain yang memperkuat perlunya mengembangkan jaringan kerjasama kemitraan.
Sejak tahun 1996, masyarakat dan pegiat lingkungan di sekitar kawasan TNLW berinisiatif membentuk lembaga lokal, yaitu KMPH kemudian untuk koordinasi antar desa dibentuk FALP, sedangkan untuk berkomunikasi dengan mitra-mitra lain di luar desa disepakati membentuk FK3LW. Ketiga forum tersebut menjadi wadah komunikasi untuk menginisiasi beberapa kegiatan di TNLW.

Ketiga forum itu, FK3LW (Forum Komunikasi Kawasan Konservasi Laiwanggi Wanggameti) diharapkan menjadi jembatan komunikasi, koordinasi dan negosiasi antar pihak, FALP (Forum Anda Li Luku Pala) merupakan forum komunikasi antar desa dan KMPH (Kelompok Mitra Pelestari Hutan) yang keanggotaannya terdiri dari unsur Pemdes, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, dan Kelompok-Kelompok Kerja di Masyarakat.

Forum ini terus mengkaji Keputusan Mentri Kehutanan No 893/KPTS-II/1983 tentang TGHK di kawasan Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti yang tidak akomodatif terhadap kepentingan masyarakat, berimplikasi terhadap konversi lahan masyarakat menjadi hutan sehingga masyarakat merasa aksesnya terhadap hutan semakin terbatas. Hal ini yang sering menimbulkan konflik. (gem)

Pos Kupang Minggu 26 Oktober 2008, halaman 14

Lanjut...


FOTO ISTIMEWA
Ludgardis Nubatonis Koten bersama suami dan anak-anaknya


Orang Tua, Figur Panutan Anak

APAPUN yang dilakukan oleh orangtua biasanya menjadi panutan untuk anak-anak dalam keluarga. Sebab, perilaku orangtua merupakan panutan bagi anak-anak. Apapun yang dilakukan oleh anak-anak di luar rumah menjadi cermin keluarga di mata masyarakat.

Hal ini menjadi patokan bagi Ludgardis Nubatonis Koten, dalam mendidik anak-anaknya. Karena itu, dalam keluarganya selalu berupaya menciptakan suasana harmonis agar mental yang tumbuh dalam perilaku anak-anak juga baik. Itulah cara mendidik anak yang dilakukan pasangan Carolus Nubatonis dan Ludgardi Nubatonis Koten.

Pasangan yang menikah tahun 1982 ini memiliki dua orang anak. Anak sulung, Tesar Nubatonis, lahir di Larantuka, 17 Juni 1983, saat ini sedang menyelesaikan skripsinya di Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang. Putri kedua, Sonia Nubatonis, lahir di Kupang, 30 Mei 1990, saat ini duduk di semester I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Bahasa Inggris, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Rabu (22/10/2008), Ludgardis Nubatonis Koten, yang baru dua minggu menjabat Kepala SD Inpres Bertingkat Naikoten Kupang ini, mengatakan, sebagai figur panutan, keduanya berusaha meberikan contoh-contoh yang baik kepada anaknya. Salah satunya, adalah mengajarkan anak menjadi mandiri dengan mengatur waktu seefektif mungkin. Baginya, disiplin dalam mengerjakan segala macam hal merupakan kunci sukses bagi setiap orang. Disiplin dalam mengerjakan sesuatu dimulai dengan hal-hal kecil, seperti bangun pagi, mengerjakan pekejaan rumah dan sebagainya. Hal ini ditanamkan kepada anaknya sejak mereka masih kecil. Dan, sampai saat ini ia bersyukur anak-anaknya termasuk anak yang disiplin.

Ludgardis yang juga Ketua Perempuan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) ini mengatakan, di sela sekibukannya dengan berbagai kegiatan mengajar dan kegiatan gereja, ia tidak pernah melupakan tugas utamanya sebagai ibu di rumah.

Di rumah, ia tidak mengerjakan pembantu. Walau ada anak-anak keluarga yang tinggal di rumah, ia tidak pernah membedakan antara anak kandung dan anak keluarga. Semuanya diperlakukan sama dalam segala hal, sehingga anak-anak tumbuh menjadi mandiri.

Ia sendiri tidak pernah menyepelehkan kegiatan rumah. Sebelum ke sekolah atau mengikuti kegiatan di gereja, ia selalu berusaha menyelesaikan tugas-tugas di rumah seperti memasak dan sebagainya.
"Saya tidak ingin kesibukan menjadi alasan seorang ibu rumah tangga untuk tidak menyiapkan makan bagi anak dan suami. Itu merupakan tugas pokok yang harus dilakukan oleh seorang ibu," kata wanita yang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas PGRI Kupang ini.

Keluarga ini juga selalu menyediakan waktu setiap pagi untuk berdoa bersama. Kebiasaan ini menjadi tradisi tetap setiap hari sebelum memulai aktivitas di luar rumah. Waktu pagi dipilih untuk berdoa karena pikiran dan otak masih segar dan bersih serta belum diracuni dengan berbagai pikiran jahat. Untuk itu, keduanya bersama anak-anak membiasakan untuk bangun pukul 04.00 Wita. "Kami bangun pukul 04.00 Wita, berdoa bersama. Setelah itu, setiap orang mulai sibuk dengan tugas rutin di rumah sebelum menuju ke tempat tugas masing-masing. Hal ini dilakukan dengan penuh keasadaran sehingga tidak ada penolakkan dari anak-anak," kata Ludgardis.

Wanita kelahiran Flores Timur, 14 Juni 1959 ini, mengatakan, ia juga menekankan kepada anaknya untuk selalu berdoa sebelum melakukan sebuah pekerjaan. Selain itu, anak juga diajarkan untuk selalu ke gereja pada hari Minggu dan mengikuti sekolah minggu.

Dikatakannya, apa yang biasa dilakukan oleh orang tua tidak mungkin tidak dilakukan oleh anak-anaknya. Ia juga mengajarkan kepada anaknya untuk bisa memilih teman. Dikatakannya, di jaman sekarang ini, anak-anak harus bisa mewaspadai. "Saya bukannya mengajarkan mereka untuk memilih teman, tetapi pilihlah teman yang baik. Kecenderungan anak muda adalah meniru. Kalau anak meniru yang salah, pasti akan terjerumus ke hal-hal yang negatif," katanya.

Namun, sampai saat ini ia tidak kuatir karena baginya dasar yang diberikan kepada anaknya sangat kuat, yakni dengan mengawali segala sesuatu dengan doa. Baginya, anak yang dibekali dengan kerohanian yang baik di rumah pasti akan takut akan Tuhan. Dengan dasar yang kuat ini, anak-anaknya selain sibuk kuliah juga menjadi pengurus pemuda di Gereja Sion Oepura. "Saya selalu membekali mereka agar belajar melayani Tuhan yang dimulai dengan hal-hal kecil," katanya.

Sebagai seorang guru ia memiliki tips tersendiri dalam mendidik anaknya untuk belajar. Ia berprinsip tidak akan menjawab pertanyaan anak jika menemukan kesulitan dalam belajar. Ia memberikan buku, sehingga anak dilatih untuk membaca dan menemukan sendiri jawaban yang dicarinya.

"Saya tidak pernah memberikan jawaban atas persoalan mereka. Saya memberikan mereka buku, mereka baca dan menemukan sendiri jawabannya. Ini juga salah satu tips agar anak termotivasi untuk membaca. Kalau saya berikan jawaban, anak akan menjadi harap gampang. Kan ada mama, atau kan ada bapak," kata wanita yang pernah menjadi guru teladan tahun 2001 ini. (nia)

Pos Kupang Minggu 26 Oktober 2008, halaman 12
Lanjut...

Soepriyatno


Foto Pos Kupang/Alfred Dama
Soepriyatno

Kembalihkan Roh Agraris


KEKAYAAN berupa potensi alam yang dimiliki Indonesia belum sepenuhnya dinikmati oleh oleh bangsa Indonesia. Kebijakan pemerintah banyak yang belum pas memuat kebutuhan pokok. Akibatnya, banyak kebutuhan itu, mulai dari beras hingga daging masih diimpor.

Ketua Muda Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang juga Ketua Pemuda Tani Indonesia, Ir. Soepriyatno, yang belum lama ini berkunjung ke Kupang menjelaskan, bangsa Indonesia sebagai bangsa agraris tidak mencerminkan produksi hasil agraris. Ini terbukti dengan berbagai produk pertanian seperti beras, kacang-kacangan, daging bahkan buah-buahan masih dipenuhi oleh negara lain. Ini sangat ironis bisa dibandingkan dengan kekayaan bangsa Indonesia.

Menurut almunus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, pemerintah Indonesia perlu lebih serius lagi menata dan mengelola potensi kekayaan yang dimiliki negeri ini, memperhatikan hak-hak masyarakat dan petani. Pemerintah harus memiliki itikad yang benar-benar baik untuk membangun pertanian di Indonesia sehingga, petani di Indonesia benar-benar menemukan jati dirinya sebagai petani.

Bangsa Indonesia tidak terkecuali NTT juga melihat potensi yang dimiliki dan berusaha mengembalikan roh sebagai daerah agraris untuk membangun sektor pertanian dan unggul.
Soepriyatno hadir di Kupang dalam rangka mengkapanyekan revolusi putih di NTT. Menurutny, membiasakan anak-anak mengonsumsi susu berarti bangsa Indonesia sudah membentuk SDM yang berkualitas sejak dini. Selain itu efek lainnya adalah meningkatkan ekonomi keluarga.

Untuk lebih jelas, ikuti perbincangan Pos Kupang dengan Soepriyatno.

Apa pendapat Anda tentang potensi pertanian di Indonesia dan kenyataan yang dihadapi oleh petani dan Bangsa Indonesia saat ini?
Kita ini sebagai bangsa agraris ya, bangsa yang dikaruniani oleh TYME berupa lahan yang subur sebagai yang cukup banyak yang kita bisa gunakan untuk hutan, di bidang perkebunan dan bidang pertanian dan sebagainya karena 70 persen sebagai bangsa agraris yang bekerja di bidang pertanian. Namun kenyataannya hingga kini sektor pertanian ini malah bukan makin berkembang tapi makin terpuruk, jadi makanan kita sudah tergantung dari impor, benihnya apakah itu benih padi, benih sayuran, benuh untuk perkebunan, baik itu karet atau kelapa sawit semua sudah tergantung dari impor termasuk yang lain- lain. Kebutuhan daging, misalnya, kita mengimpor sapi 660 ribu ekor setiap tahun, untuk ayam kita masih mengimpor 800 juta ekor setiap tahun dalam bentuk grand parent stok atau super induk ayam dari induk ayam. Untuk mencukupi kebutuhan pangan rakyat kita, sekarang persolannya adalah adakah kemauan dan itikat baik political will dari pemerintah yang terbentuk secara demokratis ini untuk membangun sektor pertanian, sebagai bangsa agraris tadi, melalui keunggulan komparatif di daerah masing-masing. Misalnya di NTT, cocok untuk peternakan maka kita kerjakan saja peternakan, jangan dipaksa untuk menanam padi, kalau memang tidak cocok beras.

Tapi nyatanya, produksi ternak di NTT juga mulai menurun
Kalau kita bicara ternak maka kita bicara NTT apakah itu sapi pedaging, apakah sapi perah menghasilkan susu atau kerbau misalnya apakah kita bisa bicara kambing dan sebagainya, itu adalah potensi-potensi lokal yang memang sudah ada secara turun-temurun, namun sekarang sudah mulai menurun karena perilaku dari pemerintah sendiri yang tidak mau mandiri. Jadi saya sebagai generasi muda ini, kita mulai mengembalikan roh bangsa ini sebagai bangsa agraris tadi, misalnya kita sekarang menjadi ekportir kelapa sawit terbesar di dunia. Kelapa sawit tidak hanya untuk minyak goreng, tapi juga untuk sabun, untuk kosmetik dan sebagainya, bisa juga untuk biodisel menggantikan solar dan itu terbaraui karena setiap tahun kita bisa panen karena kita memiliki dua iklim yaitu kemarau dan hujan. Jadi inilah yang bisa kita kembalikan rohnya untuk menciptakan lapangan pekerjaan, di mana masyarakat kita masih menganggur sekarang, lebih 100 juta jiwa berdasarkan ukuran bank dunia, kalau ukuran pemerintah sekitar 40 juta jiwa. Ini yang saya katakan kita kembalikan rohnya, kita kembalilan infrastruktur menjadi sesuatu yang sangat besar dan kita berjaya di bidang pertanian. Berdasarkan tulisan-tulisan, pengamatan-pngamatan dari bangsa-bangsa dan ekonom terkenal di dunia mengatakan apabila harga bahan bakar minyak diatas 200 US dolar maka industri yang berbasis manufaktur akan bangkrut, tapi indutsri yang berbasis agroindustri akan maju dan berkembang cepat. Untuk itu menjadi kesempatan bangsa Indonesia berhentilah kita import dan kita bangun negara kita dengan berbasis agroindustri.

Mengenai daging, pemerintah pernah mengatakan akan swasembada daging tiga tahun lagi. Benarkah?
Begini merupakan pernyataan politik yang tidak mendasar, memang wakil presiden adalah wakil presiden kita bagaimana kita bisa berbicara tiga tahun lagi, dari dulu sudah disebutkan. Dulu sudah disebutkan tahun 2009 kita akan swasembada daging, mundur lagi tiga tahun lagi, terus tiga tahun lagi bahwa republik ini tidak memiliki perencanan jangka panjang untuk kapan kita swasembada daging, kalau kita lihat sekarang impor saja sekitar 700 ribu sampai 750 ribu ekor setiap tahun, dari mana kita bicara swasembada daging. Jadi berhentilah para elit politik ini untuk menipu rakyat, bikinlah perencaan yang matang agara masyarakat maskin sejahtera, dari mana daging untuk swasembada itu. Jumlah sapi kita saja hanya 11 juta ekor, sementara kebutuhan kita setiap tahun 2,5 juta ekor, kalau kita tidak segera dengan menambah atau memperbaiki jumlah pengelolaan ternak maka dalam waktu dekat peternakan kita bukan swasembada, tapi habis ternak kita karena termakan bahkan RPH di NTT dan NTB itu sudah ternak-ternak betina yang produktif pun sudah dipotong sekarang, itulah yang harus disampaikan pemerintah bagaimana caranya kita swassembeda, jangan sampai wapres di tipu sama menteri, menteri ditipu oleh dirjen karena semuanya ABS, asal bapak senang.

Pertumbuhan populasi ternak di NTT cenderung terun karena beberapa masalah termasuk yang anda sampaikan tadi seperti sapi betinapun di sembeli dan dikirim keluaar daerah. Kemudian ada satu masalah di daerah TTU dan Belu masih terkenal dengan endemi penyakit brucolosis. Langkah apa yang bisa diambiul pemerintah menghadapi agar roh sebagai peternak ini bisa kembali ini?
Begini, harus ada langkah yang nyata, program yang konkrit dari pemerintah untuk mengembalikan kejayaan NTT sebagai penghasil daging. Sebenarnya tidak sulit melakukan ini semua asalkan ada keinginan dan kemauan karena NTT diberikan padang savana yang begitu bagus, mungkin lebih baik dari Australia dan di sini juga harus ada keseriusan juga lewat dinas peternakan, dinas perindustrian, dan sebagainya untuk bersama- sama membangun sektor peternakan sebagai suatu kekuatan di NTT. Ini bisa saya pikir, misalnya melalui pemberian kredit murah dalam sektor peternakan, jadi diberikan kail jangan diberikan ikan. Berikan kail untuk kredit murah sektor peternakan, Daerah mana yang bisa dikembangkan sektor peternakan, itu mulai sekarang dan disitu kita siapkan pakannya. Jadi kita memperkerjakan banyak orang, masalah pakannya, masalah pengemukannya, masalah pembibitannya, masalah tata niaganya. Ini luar biasa sekali, sektor peternakan bisa menyerap begitu banyak tenaga kerja di NTT untuk itu peternakan menjadi sesuatu yang bisa berguna. Terus penyakit-penyakit ini bisa kita atasi, kita sudah punya vaksin untuk antrax, dan sebagainya asal jangan kena penyakit mulut dan kuku saja karena itu berbahaya. Apalagi berbatasan dengan Australia yang bebas penyakit mulut dan kuku jadi enak . Wilayah ini ini sudah sangat luar biasa, kalau penyakit lain itu gampang diatasi apapun fungsinya dinas peternakan karena dinas ini yang melakukan pencegahan dan pengobatan pada ternak yang sakit, tapi itu kecil saja tidak perlu dibesarkan.

Sejak Gubernur dan wakil gubernur NTT yang baru ini dilantik, ada kesean NTT ingin mencotohi Gorontalo yang sukses dengan jagung. Bagaimana anda melihat ini?
Saya juga sebagai salah satu pioner di sana. Waktu itu kita usulkan kanapa kita bisa kembangkan jagung di sana, karena memang disana belum terbiasa dengan ternak maka kita gunakan jagung dan pasar jagung Gorontalo itu di Philipina atau di luar negeri itu mahal, makanya dia kembangkan jagung. Nah, sekarang sudah mulai kembangkan ternak. Beda dengan NTT yang sudah terbiasa dengan ternak belum tentu terbiasa dengan jagung. Inilah yang saya mau katakan, kita harus kreatif untuk apa kemampuan dan kekuatan rakyat, kalau peternak ya peternak kan kita disitu juga mengembangkan jagung untuk pakan ternak. Jangan seperti Gorontalo, yang tidak terbiasa dengan ternak. Kalau di NTT mengembangkan ternak dan jagung secara parallel itu lebih maju, dan bisa mengejar ketinggalan.


Anda juga aktif di HKTI, apa yang lembaga ini lakukan?
HKTI itu sudah ada sejak lama, HKTI ini tidak banyak bersuara tapi bekerja yang konkrit untuk rakyat. Jangan sampai mempolitisasi hal-hal yang sifatnya pekerjaan untuk rakyat. Karena harus mempolitisasi maka rakyat akan tidak percaya lagi dengan HKTI, makanya kalau apa yang dikatakan oleh Pak Prabowo Subianto di berbagai media televisi itu merupakan hal yang positif, itu ada etikanya yang mendorong masyarakat membeli produk dalam negeri, tidak seperti iklan-iklan yang lainnya. Dalam rangka memberikan semangat, apa yang disampaikan itu memberikan contoh. HKTI itu adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang tujuannya membuat satu program- program yang nyata di masyarakat. Dan, sekarang HKTI sudah memberikan susu gratis pada seluruh masyarakat di Jawa, kita ada susu kambing bisa kita sebarkan ke masyarakat. Anak-anak sekolah, kita kasih gratis yang merupakan program nyata tidak ada hubungannya dengan calon presiden atau apa.

Revolusi susu? Di NTT, orang di kampung-kampung sudah terbiasa dengan susu ternak kok sekarang ada revolusi lagi?
Revolusi adalah istilah yang juga dilakukan oleh negara-negara lain. Di India, Banglades, China dinamakan white revolution. Kalau di-bahasa Indonesia-kan, ya revolusi putih, tapi jangan diperberat istilahnya itu hanya mengingatkan saja. Revolusi putih apa sih? Revolusi putih itu adalah menyediakan susu segar cair hasil pastorisasi dari peternak kepada rakyat dengan harga yang terjangkau, peran pemerintah adalah menyediahkan sapinya degan kredit yang murah, peran rakyat adalah melakukan pembudidayaan, peran koperasi dan sebagainya adalah menjual dan tata niaga, disinilah tercipta suatu kondisi dalam rangka untuk memperkuat perekonimian NTT yang berbasis ternak. Jadi pengembangan peternakan sekaligus memperkuat NTT sebagai daerah yang ekonominya berbasis peternakan dimana pendapatan asli daerah tergantung dari dari ternak itu juga. Ternak ini memiliki akses yang banyak mulai dari kotorannya bisa dijadikan pupuk, jadi tidak usah lagi kita tergantung dari pupuk anorganik seperti urea dan sebagainya dan apalagi dagingnya.

Revolusi putih ada dua, meningkatkan kecerdasan anak dan meningkatkan ekonomi keluarga
Iya.., mencerdaskan anak-anak, meningkatkan pendapatan keluarga dan meningkatkan ekonomi daerah, itu yang paling penting. Karena kalau kita bisa eksport atau jualan sapi dari NTT ke Jawa Timur, dari NTT ke Batam, ke Kalimanran Timur atau daerah lainnyamaka daerah NTT akan menghasilkan dagang yang surplus dan masyarakat NTT akan menghasilkan uang dari penjualan sapi itu. Daging sapi sekarang sudah 40-50 ribu, dan itu sangat baik untuk perkembangan NTT. Jadi, meningkatkan ekonomi keluarga, meningkatkan ekonomi daerah dan membantu meningkatkan ekonomi nasional, sehingga tidak ada pengangguran lagi, tidak ada orang miskin lagi maka secara nasional NTT bisa membantu daerah-daerah lain yang terjerat kemiskinan dan pengangguran.

Siapa yang paling berkompoten menjadi motor penggerak revolusi?
Revolusi putih itu ada ketua umumnya namanua Prabowo Subianto, dialah yang menggerakan revolusi putih ini, kemudian kita -kita ini menyalurkan ke daerah-daerah. Tanpa tendeng aling-aling orang mau bicara politik atau apa yang penting tujuannya sampe ke masyarakat ya sudah bersyukur kita, tujuannya sampe ke masyarakat dan ada masyarakat secara cerdas mengakui memang perlu susu untuk mecerdaskan anak, perlu susu untuk meningkatkan SDM baik di daerah maupun tingkat nasonal, perlu susu untuk meningkatkan kompetitif bangsa kita di kanca dunia internasional.

Adakah negara yang sukses dengan program semacam ini?
Ya seperti banglades, India, China. Lihatnya saja pemain bola bakset sekarang tinggi-tinggi , mereka bisa juara dan sudah berkiprah di tingkat internasional karena SDM mereka sudah sangat layak dan gizinya sudah cukup. Kalau gizi kita tidak cukup, cari 11 orang untuk tim sepak bolah nasional sulitnya setengah mati. Sementara Inggris, jumlah penduduknya hanya 49 juta tapi memiliki banyak pilihan pemain sepak bola yang berkualitas. Itulah yang membedakan kita dengan bangsa lain.

Bagaimana hubungan atau komunikasi antara pengurus HKTI dengan anggota dan anggotanya siapa saja?
Kita punya majalah, namannya Litani Merdeka dan sudah bisa sampai ke sekolah-sekolah. Kita juga punya organisasi mulai dari tingkat pusat, propinsi dan kabupaten. Anggota kita ada 15 juta orang dan kelompok tani di desa-desa. Tapi kadang-kadang dari HKTI diklain oleh organisasi lain karena orangnya itu-itu saja tapi itu sama-sama menjalankan pertanian itu sama saja. (alfred dama)

Data Diri
Nama : Soepriyatno
Tempat Tanggal Lahir : Surabaya 19 Oktober 1966
Lulusan : S1 Institut Pertanian Bogor (IPB) 1991
S2 di Singapura
Pekerjaan : Aktivis Pemuda Tani Indonesia
Istri : Muslimah
Anak-anak : D.Ekakarina
: Isyam Satrio

Pos Kupang Minggu 26 Oktober 2008, halaman 3
Lanjut...

Buah Simalakama


BETAPA takutnya dia makan buah simalakama. Pada hal tidak ada hubungannya dengan kalau dimakan bapa mati, dan tidak dimakan ibu mati. Ketakutan dia ternyata berhubungan dengan pilkada, yang lagi marak-maraknya berlangsung dari kabupaten ke kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Itu tadi! Sebenarnya tidak ada hubungan antara pilkada dan buah simalakama. Namun bukan pilkada namanya kalau tidak dapat dihubungkan dengan berbagai jenis buah termasuk di dalamnya buah simalakama! Meskipun sampai sekarang ini tidak ada seorang pun yang pernah tahu buah simalakama itu, bentuk, warna dan rasanya seperti apa, tetapi apa boleh buat demi pilkada segala yang tak mungkin menjadi mungkin.

Apalagi sudah diketahui bahwa kalau dimakan bapa mati tidak makan ibu mati. Aduh, menyakitkan amat! Makan salah tak dimakan pun salah. Pilih bapak salah, pilih ibu juga salah. Bagaimana solusinya ya?

***
Rupanya buah pilkada itu sama dengan buah simalakama. Dimakan bapa kehilangan jabatan tidak dimakan ibu yang dipecat. Aduh, bagaimana baiknya ya? Rara pusing setengah mati memikirkan buah simalakama ini. Dia sudah terang-terangan pilih paket B dengan harapan daerahnya bisa dapat pemimpin baru lima tahun ke depan yang memang melekat di hati rakyat. Soalnya Paket B itu memang pantas. Calon bupatinya pintar membangun relasi. Orangnya juga baik hati, ramah tamah dan tidak pernah berhenti membangun semangat dengan full smile. Tidak bakal rugi deh, kalau sampai B menang. Masalahnya juga hati Rara terbagi dua. Diam-diam diam-diam di dalam hati, sebenarnya dia berharap A yang keluar sebagai pemenang. Namun berhubung Nona Mia mati-matian menjatuhkan cintanya ke B, Rara pun berubah pikiran.

Soalnya Nona Mia maen ancam sih.
"Pokoknya B! Titik. Kalau kamu berani pilih paket B, hubungan kita putus! Kalau kamu berani pilih A, oooh hubungan kita juga putus!" Ancaman Nona Mia membuat Rara menciut. "Bagaimana? Pilih B kita putus, pilih A putus juga hubungan kita berdua! Demikian pula kalau tidak pilih keduanya kita tetap putus!"

"Maksud kamu apa sebenarnya sayang," Rara panas bukan maen. Tetapi berhubung berhadapan dengan Nona Mia yang sedang dalam proses pedekate alias pendekatan, terpaksa dia pasang muka manis. "Pilih B, putus! Pilih A putus! Tidak pilih B putus, tidak pilih A putus. Aduh!"

"Terserah padaku, mauku apa! Yang jelas aku tidak mau mendapat jawaban yang maen-maen soal pilkada." Sambung Nona Mia. Sombong bukan maen-maen si Nona Mia ini. Tampangnya jadi mirip benar dengan orang-orang seputar tim suksesnya Barack Obama. Belum menang saja sudah merasa di atas angin, apalagi menang? Pendek kata kalau menang, pasti sudah merasa jadi presiden. Sementara Barack Obama sendiri tenang-tenang saja. Alhasil yang jadi Barack Obama satu, yang jadi presiden seribu.

Padahal ini terjadi di negara adi kuasa. Bagaimana jika seandainya terjadi di negara yang bukan adi kuasa, lebih lagi di daerah yang sama sekali tidak punya apa-apa yang luar biasa dan dapat dibanggakan.

"Jadi sebaiknya saya pilih siapa Nona Mia, sayang?" Rara menahan rasa marah yang mau pecah di kepalanya.

***

"Ha ha ha, urusan pilkada itu urusan hati nuranimu sendiri," sambung Jaki yang terpingkal-pingkal melihat bagaimana Rara berusaha bicara halus padahal kepalanya mau meledak marah. "Bagaimana pendapatmu Benza?"

"Buah simalakama!" Rara kebingungan. "Tidak pilih putus pilih juga putus!" Rara makan gigi dan Jaki pun tertawa.
"Ooooh begitu!" Sambung Jaki lagi. "Bagaimana menurut pendapatmu Benza?"

"Soal pilkada dan buah simalakama? Ha ha ha," Benza tertawa. "Di dunia ini sebenarnya tidak ada hal apa pun yang ada hubungannya dengan buah simalakama. Kecuali pilkada! Pilih A salah, pilih B salah! Tidak pilih A salah juga, tidak pilih B salah juga. Pokoknya salah semua! Pilih atau pun tidak pilih, sama dengan alias sami mawon!"

"Jadi baiknya bagaimana? Apakah harus hitung suara tokek, ataukah hitung kancing baju?"
"Suka-suka kamu! Sepanjang pilkada hanya obral janji, sepanjang pilkada hanya menjadi arena untuk saling menjatuhkan, sepanjang pilkada hanya jalan ambil pengaruh untuk raup kekuasaan, sepanjang pilkada hanya untuk tujuan mengancam dan mengutuk, sepanjang itu pula Pilkada adalah buah simalakama!" Komentar Benza enteng saja.

"Jadi baiknya bagaimana?" Rara tambah pusing.
"Tahu!" Benza mengangkat bahu. Sama sekali tidak interest dengan kebingungan Rara dan syarat yang ditentukan Nona Mia.
"Jadi baiknya saya pilih siapa dong," Rara memohon.
"Pilih Nona Mia dan buah simalakama," Jaki yang menjawab. (maria matildis banda)

Pos Kupang Mingu 26 Oktober 2008, halaman 1


Lanjut...

Burung Hering

Cerpen Januario Gonzaga

MENCINTAI seseorang yang berada jauh dari harapan untuk memiliki. Ia seperti bayangan di bawah rembulan. Sangat kecil, jauh dan tidak pasti untuk disentuh. Semuanya seolah kutuliskan di atas sebuah tabula rasa. Kehampaan itulah yang mungkin dapat mewakili perasaan diriku yang seutuhnya. Terkadang aku berusaha untuk bersikap emosional agar situasi bisa berubah. Namun aku tak harus menyangkal bahwa aku tak kuasa menaklukannya. Dan, rasa itupun terus saja terkikis oleh keenggananku untuk melawan takdir. Aku terlalu lemah. Daya yang kumiliki sebatas cinta sejati. Cinta pada orang yang olehnya aku masih bertahan hidup.

Sering aku merasa konyol dengan petak-petak cinta yang kutempatkan di antara kami. Aku menggambar seadanya tentang garis persegi yang melingkari aku dan dia. Garis-garis itu kunamai sebagai keabadian. Suatu nama yang dengan bengisnya memandang kemesraan yang kuciptakan. Itu usahaku. Usaha yang ternyata kusadari sebagai tabir kekelaman di kemudian hari. Walau begitu aku tetap tak menerima bila usahaku ini dihancurkan. Diremehkanpun tak sudi hatiku menerima.

Sampai di pertengahan musim, masih kutatap balutan serbuk-serbuk kapas di dedaunan hujau. Aku tak merasa ada yang sejuk selain pikiranku sendiri yang menerawang jauh. Bahkan sejuknya udara dan putihnya kapas tak menandingi permainanku ini. Entah kenapa kusadari kalau langkahku amat cepat.

Aku terlalu dini menembus batas kenyataan. Aku bergantung di atas tiang-tiang tanpa beralas tanah. Namun bukan maya. Karena aku tak hendak memiliki maya, bahkan mengenalnya pun aku tak sudi. Semua ini nyata. Nyata, sekalipun keadaanku semakin dikikis rasa kecewa. Kecewa karena kau harus sadar kalau harapanku bertepuk sebelah tangan.

Ini seperti hujan kepagian. Tak ada arakan awan yang melintas. Semuanya mendadak.
"Ah, aku rasa ini adalah pilihan hidup" Aku tetap merasa bahwa jalan yang kuambil adalah sebuah pilihan hidup. Jalan perjuanagn yang semakin hari semakin melelahkan. Namun aku tak dapat menceraikan kelelahan itu. Aku sangat menyatu dengan kelelahan. Walaupun sangat menyakitkan. Tapi rasa menyakitkan itu sendiri pun sangat aku butuhkan. Inilah yang saban hari kukenal sebagai pengorbanan atas nama cinta.

"Pengorbananmu akan sangat konyol". Sampai detik ini, tak ada makna yang pasti bagi nilai pengorbananku. Aku masih bergelut dalam keluguanku menafsir apa itu pengorbanan. Bahwa dalam usaha dan pengorbanan itu aku merasa gembira. Kegembiraanku mengatasi segala-galanya. Aku bergembira bila satu pengorbananku mampu mengobati rasa rindu yang kupikul. Aku gembira bila hatiku dapat berteduh bersamanya di bawah keremangan malam. Sekali lagi kunamai pengorbananku itu sebagai keabadian. Pengorbananku melingkar dari atas hingga ke bawah. Aku bermimpi kalau separuh diriku telah menjadi dirinya. Aku tak tahan jika harus menyambut pagi tanpa kecupan mesra darinya.

Namun masih sama. Hanya aku yang merasakan hangatnya kecupan itu. Begitu sendu dan mesra untuk kuhayati sendiri. Kami masih menaruh rasa sayang. Sayang yang dalam. Walau aku belum juga mengerti. "Ah, pantaskah aku memakai kata kami?" Bisikan nuraniku selalu menggangu. Apalagi di bulan-bulan terakhir masa sekolah itu. Satu masa yang bagi pelajar SMA sepertiku sangat menggelisahkan. Ada kecemasan bila angannya hanya akan terkubur dalam peti-peti angin. Usang. Berkarat hingga tak teringat lagi. Ada pula yang cemas sebab dunia barunya seperti momok. Amat garang berdua dalam kemesraan menyambut dunia baru. Iri dan dengki beradu padu. Namun itulah kenyataan.

Kenyataan yang bagiku lebih tepat disebut kebohongan dan dusta. Aku tak percaya lagi pada kenyataan. "Adakah aku mampu melihat jarak? Adakah aku mampu membuang suara? Itukan aneh" Dengunganku selayak sebuah keluhan. Dari hati terdalam tak pantas aku mengakui kenyataan saat ini.

Trauma dan kegilaan telah menghadangku. Hanya pengorbananlah yang masih menguatkanku untuk menyibak bayangan ketragisan suatu masa nanti. Aku terus berkeliaran bersama angin yang nakal menggerayangi tubuhku. Aku lebih mempercayai angin sebagai kenyataan. Angin hadir dalam kehidupanku. Menyentuh keintiman dan menghanyutkan.

"Angin itulah tanda pengorbananku yang takkan menjadi sia-sia. Ada titipan rindu dalam hembusannya. Angin mencintaiku. Menyejukkan."
"Kamu sinting. Gila" Aku sangat akrab dengan sapaa-sapaan itu. Dan memang aku harus gila dan sinting mempertanggungjawabkan perasaan hatiku yang mendilema ini. Nada-nada orang yang mematikan telah meresapi kalbuku. Aku memang aneh. Aneh karena tetesan hujan tak kusebut sebagai gumpalan air. Aneh karena bisikan burung tak kuinderai lagi lewat telingaku. Aku memahami borok yang harus kupikul ini.
* * *
Permainanku di senja itupun hanyalah ekspresi sebagian ketertutupan diriku. Aku hanya bisa bercumbu bersama sekelompok burung Hering. Mereka manis, baik, lembut, dan polos. Kami saling mempercayai.

"Kamu harus kembali pada kenyataan" Aku seperti satu dari burung-burung itu. Ekornya yang lembut mengisahkan satu ceritera tentang dia yang semakin jauh dari kenyataan. Dan aku paham cerita itu. Bahkan suaranya sangat kukenal milik siapa. Aku masih mengais jalan di lebaran angin yang menyebar di seluruh jalanku. Tapi aku tak bisa juga sanggup. Kenyataan sangat membuatku sakit. Jiwaku tak sudi menatap tubuhku harus berjalan dalam olokan orang. Aku lebih menyatu di antara burung-burung Hering yang elok. Mereka pun mencinta angin.

Yang nyata bagi mereka adalah pemburu-pemburu jahat yang menginginkan daging dan buluh mereka. Sungguh tak ada yang patut dipercayai dalam kenyataan. Aku pun membencinya. Hingga terkadang diriku sendiri harus merasakan akibat terburuk. Aku dicampakkan dari kehidupan keluarga. Aku dikucilkan masyarakat luas. Akulah manusia paranoid dan neurotik.

"Kamu najis. Itulah dosamu bila bermain terus dalam lingkaran setan" Aku sempat menyimpulkan segenap hinaaan orang. Mereka semua tak berharap akan diriku yang larut dalam dunia tanpa kepastian. Mereka mencintaiku agar aku tak menunggu selama ini. Dunia itu hanyalah milik para iblis yang berkhayal menjadi Tuhan. Bersama rembulan yang telah berpindah di siang hari, sering kami berceritera. Aku mengisahkan kejamnya matahari bila harus terus membuatku merunduk di bawah bayang tak pasti.

Malam tak diizinkan untuk keluar lagi. Malam begitu kaku untuk melawan satu sebutan warna hitan atau putih. Perasaanku pun tak lagi didengarkan. Burung-burung Hering itu pun tak lagi membawa pesan-pesan manis. Hanya angin. Hembusannya yang dikibasku pada mulutku seperti kisah si Leonardo Kecil, pelukis misterius itu. Namun tak lebih menyelamatkanku dari takdir cumbu di dalam maya. Aku sangat bergantung pada anganku. Aku tak tahu seberapa kuat jantungku menerima kenyataan untuk bersanding dalam hidupku.

"Biarlah kenyataan tetap menjadi kafir bagiku. Aku tak mau menyentuhnya. Aku tak ingin dipisahkan dari khayalanku. Dipisahkan dari dia yang ada dalam mimpiku. Hanya akan terluka bila aku terjatuh dalam genggaman kenyataan. Jika aku pergi dan dia pun akan menghilang". Imajinasiku bagaikan pasukan-pasukan kecil yang siap menghadang serangan kebenaran. Benar bahwa saat seperti ini kebenaran telah berbalik.

Aku terus betah dalam dunia ini hingga usiaku mulai menatap takut pada putaran waktu. Namun aku tetap gembira. Tak ada bagian diriku yang mati walau aku harus menerima kehampaan dari kibasan sayap burung-burung Hering. Kegembiraanku adalah aku tidak mengetahui seberapa dekat kehancuran yang selama ini ditakdirkan bagiku. Kehancuran yang tercatat sebagai kematian sebuah nama. Aku terdiam untuk beberapa waktu ketika kabut di otakku hancur. Sebagian memoriku dipasung oleh tekanan-tekanan keras.

Aku sangat ketakutan. Namun tetap bahagia. Aku sendiri saja. Terasing sebab kenyataan adalah kumpulan orang-orang yang bersedia menderita tanpa tahu jalan lain di balik deritanya. Aku tak ingin. Biarlah aku menderita. Penderitaan adalah pengorbanan yang membahagiakan. Bahagia saat bercumbu lagi dengan dia yang mungkin akan semakin dekat. Bahagia saat burung-burung Hering itu mulai bersuara lagi. Kami bersua dalam kekukuhan cinta.

"Cinta bisa membalik kenyataan dan kebenaran. Manusia menguasainya. Aku merasa bisa" Kenyataan dan kebenaran hanyalah perpanjangan dari kekeliruan-kekeliruan. Dan kekeliruanku adalah kenyataan dan kebenaran. Dari kekeliruanku menilai hidup itulah yang membuat anak-anak bumi mampu berbicara tentang kenyataan dan kebenaran yang sampai kini kuabaikan.
* * *
"Burung Hering yang mati" Aku terperosok di kala ranting-ranting pohon berjatuhan. Entahlah siapa gerangan mematahkan tempat bagi burung-burung Herinku itu. Namun aku dapat merasakan sesuatu. Ada dorongan mahahebat yang ingin lewat.

"Angin kejam...Angin jahanam..."Aku berteriak. Suaraku membubung bak dupa. Namun bagai asap tanpa api. Hampa. Adakah hampa itu sesuatu yang maya pula? Di sini aku baru merasa telah dipermainkan. Burung-burung Heringku tak lagi mencinta bumi. Nama mereka pun terhapus tanpa kusadari. Dan tubuhku semakin kuat diguncang angin. Aku tahu aku akan dihancurkan. Tak pasti lagi keberadaanku saat ini. Begitu tragis yang kuderita.

"Di manakah mayaku? Angin telah pergi berkhianat padaku. Pada bulankah aku berceritera? Tapi di mana harus kutemukan malam? Aku tak mengenal lagi apa itu malam. Matahari telah mencurinya"

Satu harapan terakhir kudapat. Seekor burung Hering menghentakkan ekornya di dekat telingaku. Nafasnya terengah-engah. "Kematian di depan kita. Tak jauh. Kenyataan adalah bahwa aku bukan makhluk yang bersuara. Kenyataan adalah aku hanyalah bayangan dalam hidupmu. Semuanya adalah mimpi dan maya. Yang lebih tinggi dari itu adalah kenyataan dan kebenaran. Maya itu ada dan kenyataanlah yang membahasakannya. Dan bahasanya tak pernah diketahui seekor burung Hering pun.

Selain kematian yang membisu dari surga hingga bumi. Mungkin aku hanya memperkirakannya tanpa pernah memastikannya. Sebab aku tak pasti lagi bagi duniamu. Aku bukanlah aku sperti aku dalam bayangmu. Aku adalah aku yang jauh dan aku sendiri adalah kejauhan itu. (*)


Pos Kupang Minggu 26 Oktober 2008, halaman 6
Lanjut...

Dokter Valens Yth

SALAM dalam damai kasih bahagia. Saya sudah pernah menulis surat buat dokter, namun belum juga dibalas. Saya kuatir surat yang pertama nyasar kemana, sehingga saya tulis lagi surat kedua ini untuk dokter. Nama saya Riena, gadis 23 tahun, campuran Jawa (ibu) dan Sumba (bapak). Saat ini saya sudah bekerja pada suatu instansi pemerintah di Kota Kupang. Sudah dua tahun ini saya pacaran dengan Dody.

Semuanya terasa okey. Dody bergerak di usaha swastadan saya di kantor pemerintahan, rasanya pas bagat gitu. Dalam urusan cinta kami, saya dengan bangga mengatakan saya beruntung bisa pacaran dengan Dody. Tapi bukan berarti kami tidak punya masalah khan? Masalah Dody selalu ingin menunda dan menunda kalau bicara soal nikah. Dia selalu punya lasan belum berhasil jadi orang, belum puas membujang, belum punya duit yang banyak. Artinya Dody tidak punya alasan yang pasti, dia hanya mau bilan belum waktunya bagi dia untuk menkah.

Pada hal kedua keluarga besar kami merasa bukan alasan. Tapi yang namanya Dody ini memang ini memang keras kepala bukan main. Menurut pandangan orang banyak, katanya Dody sudah termasuk berhasil, karena punya usaha wiraswasta yang cukup menjanjikan. Tetapi dia selalu bilang pingin jadi orang terhormat dan berhasil dalam hidupnya. Jadi pada kesempatan yang baik ini saya mau tanya beberapa hal antara lain 1) Apakah ada tahapan dimana seseorang (pria) merasa puas membujang? 2) Apakah yang dimaksud dengan belum jadi orang? 3) Apakah orang harus mengumpulkan banyak uang dulu baru menikah? 4) Nasihat apa yang paling pas untuk saya sampaikan paad Dody agar dia jangan terus menunda pernikahan kami? Saya kira itu saja, mudah-mudahan membuat dokter tidak menunda-nunda lagi surat jawaban di Pos Kupang Minggu.
Terima kasih, Riena-Pasir Panjang, Kupang.

Suadari Riena yang baik,
SALAM sejahtera untuk anda (juga buat Dody-mu). Sory..... surat Anda yang pertama memang belum saya balas, karena harus menurut tanggal masuk. Dalam hal surat menyurat kami gunakan urutan "Fifo" (First In, First Out), artinya yang datang duluan itu yang duluan dibalas, selain juga pertimbangan emergency (risiko cinta).

Selanjutnya menyimak surat Anda yang cukup menarik, saya menilai bahwa antara Anda perlu lebih banyak komunikasi. Komunikasi yang saya maksud bukan cuma lebih sering bertemu, tapi kualitas komunikasinya ditingkatkan. Ketika Anda berdua saja , jagalah hal- hal menyangkut pendapat dan komitmen Dody tentang cinta, rumah tangga, pekerjaan, agama dan cinta bila saatnya punya anak.

Jagan lupa juga tentang bagaimana sikap dan perilaku kalian terhadap orangtua atau keluarga besar masing-masing. Bila Anda sudah mampu menyelami banyak hal di atas dari pihak Dody, maka akan terjadi balans saling pengertian antara Anda dan Dody. Dengan begitu apapun yang dijadikan alasan oleh Dody, merupakan hal yang tidak sulit dimengerti oleh Anda sendiri. Menyangkut pertanyaan Anda yang petama, tentang kepuasan membujang.

Saya ingin jelaskan bahwa perkembangan kehidupan ini akan jalan terus walaupun banyak kali orang ingin berhenti karena sedang bahagia. Kepuasan adalah hal yang sangat relatif sehingga tak ada ukuran standar yang bisa digunakan untuk menentukannya. Setiap periode dalam hidup memiliki suka dan dukanya tersendiri. Mambujang bukanlah puncak dari kebahagiaan hidup.

Umumnya orang baru merasakan enaknya membujang ketika dia mulai merasakan kesulitas hidup setelah menikah. Namun banyak orang pula merasa begitu sulit hidup dikala masih bujang dan begitu bahagia ketika dia menikah, sampai merekapun berujar "Kenapa tidak dari dulu saya menikah denganmu".

Selanjutnya, dalam buku Gods Little Devotional Book For Women and For Men, (kisah-kisah rohani pembangkit semangat untuk wanita dan pria), 203, Editor Dr. Lindon, S, merangkai suatu kalimat indah yang berbunyi: "Kepuasan bukan terletak pada memperoleh apa yang diinginkan, melainkan merasa cukup dengan apa dimiliki. Untuk itu kepuasan jangan dikejar, namun dirasakan". Untuk pertanyaan anda yang kedua dan yang ketiga, saya jawab gabung.

Seorang pria akan merasa senang dan bangga manakalah dia dapat diandalakan, tidak diragukan kemampuannya oleh orang yang dicintainya. Jelas dalam surat Anda bahwa Dody sangat ingin menjadi orang kaya dan dimengerti. Berarti menurut padanganya, kehormatan datang dari uang dan pekerjaan. Namun dalam buku yang saya sebutkan di atas dia katakan "Jangan pernah mengaitkan harga diri Anda dengan pekerjaan anda. Kalau Anda kehilangan pekerjaan, harga diri diri Anda tidak hilang. Menyangkut kekayaan, seorang miliarder internasional terkenal bernama Ross Perot mengatakan bahwa memupuk kekayaan itu ternyata hanyalah mengubah kesengsaaraan, bukan mengakhirinya.

Menurut dia yang paling penting adalah kasih yang kita bagikan dan kita teruskan kepada generasi berikutnya. Uang bukanlah tujuan tetapi salah satu alat dalam hidup. Saudari Reina yang baik, menjawab pertanyaan Anda yang terakhir, nampaknya Anda perlu lebih banyak sabar. Mengubah prinsip hidup seseorang bukan segampang membalikan telapak tangan. Tunjukan rasionalitas Anda dalam berkomunikasi dengan Dody. Dalam kesabaran yang prima dan pernyataan kebutuhan (materi) hidup yang tidak banyak akan mengingatkan Dody bahwa sudah waktunya untuk menikah dengan Anda.

Pesan saya buat kalian berdua untuk hidup kedepan : akan lebih berarti suatu yang Anda berdua merasa memberi kontribusi besar pada awal pernikahan. Merencanakan bersama, menjalankan bersama dan menikmati hasil dari karya Anda bersama adalah manajemen cinta yang paling membahagiakan.
Demikian jawaban saya semoga Anda mulai mendapat sesuatu untuk meyakinkan Dody.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM


Pos Kupang Minggu 26 Oktober 2008, halaman 13
Lanjut...

Puisi-puisi R. Asiyanto

(1) Bunda Putih

Putih...
di puncak bukit
Putih...
di bawah kolong langit

Bunda Putih
yang dulu ambruk menghujam bumi
mencium hitamnya hati
insan-insan serakah

Kami ada, namun kami hilang
kami hidup, namun kami maya
kami tumbuh, namun kami serampang
kami banyak, namun kami sepi


Bunda Putih
yang menyimpan segalanya di hati
bawa kami kembali
kepada Sang Kasih

Wahai Bunda Putih...
Bunda Nilo,
Mater Dolorosa,
hitam kami, buatlah putih



Pos Kupang Minggu 26 Oktober 2008, halaman 6 Lanjut...

Puisi-Puisi Fabio H. Seran

(Puisi-puisi ini merupakan jeritan hati saya sebagai anak Republik ini).

Bumi Manusia (1)

Hai anak manusia
Lestari keluh di bibirmu.
Tubuhmu penuh peluh juga lepuh.
Jangan meronta di sisa rentamu.
Di ujung rintihmu ada asa dan ratap.
Kau merenda dalam kerendahan
Kau pekur karena tegur lalu tegar.
Jangan tegar melihat gelar
Karena pusara tergelar di matamu.
    Vocationary-Nita, 4 Oktober 2008.


Bumi Manusia (2)

Aku hanya binatang sial.
Tiada bintang.
Kuasaku diguling
Suaraku di gulung

Aku hanya binatang zaman.
Dibinatangkan, tiada bintang.
Jangan kau tarik hakku.
Jangan kau teriak aibku.

Aku binatang hidup.
Binatang
Membinatang, berbinatang, dibinatangkan.
Jangan kau usung cara usang.
Jangan kau pasung palung kalbu.
       Vocationary, Nita, 4 Oktober 2008.



Bumi Manusia (3)

Kau bilang damai kau cinta.
Kau bilang kebenaran kau cipta.
Kau bilang keadilan kau punya.

Kini ada darah..
Ada tangis pula marah..
Di manakah kau?

Mencari kebenaran, kau bilang?
Mengejar damai dan adil?
Bilangmu telah membilang.

Kau jajan semuanya.
Semuanya kau jajah.
Kau kunyah hingga punah.
    Vocationary-Nita, 5 Oktober 2008

Pos Kupang Minggu 26 Oktober 2008, halaman 6
Lanjut...

Gregorius Patty Pello


Gregorius Patty Pello

Menanti Kemenangan di Kandang Sendiri

TURNAMEN PSSI, El Tari Memorial Cup (ETMC) yang sedianya diselenggarakan di Bajawa, Oktober 2008 ini, ditunda penyelenggaraannya tahun 2009. Penundaan itu menimbulkan kekecewaan bagi masyarakat pencinta bola di Ngada, khususnya kota dingin Bajawa. Begitu pula bagi tim-tim asal kabupaten lainnya di NTT juga kecewa, sebab sudah memasuki tahap pematangan pelatihan, sudah siap-siap berangkat ke Bajawa, namun mendadak batal.

Apa sesungguhnya yang terjadi? Apakah karena Kabupaten Ngada khususnya panitia penyelengara belum siap? Benarkah penundaan terjadi karena beberapa Kabupaten di NTT melakukan Pilkada di bulan Oktober 2008? Apakah ada alasan lain? Pos Kupang mewawancarai Gregorius Patty Pello -- yang biasa disapa Pak Gius -- mantan pemain Perse Ende dan PSN Ngada, pengamat sepak bola dan mantan manajer PSN Ngada yang pernah mengantar PSN Ngada mengikuti Divisi II di Batang Pekalongan Jawa Tengah. Beliau diwawancarai sebagai pengamat untuk mendapatkan jawaban yang lebih obyektif.

Mengapa ETMC ditunda ke tahun 2009. Apakah benar Pilkada di beberapa Kabupaten di NTT dijadikan alasan penundaan? Ada apa sebenarnya?

EL Tari Memorial Cup sedianya dilaksanakan pertengahan Oktober, bersamaan dengan pilkada di beberapa kabupaten. Panitia usul tunda awal November. Tetapi sebelum ada keputusan final, sudah ada pernyataan dari Pengurus Pengda PSSI NTT di Kupang bahwa penyelenggaraan ditunda. Pengda PSSI sudah langsung umumkan ditunda tahun depan.

Apakah benar isu bahwa panitia penyelenggara belum siap?

Soal persiapan panitia, sejauh yang saya amati sudah sangat siap. Ya, sampai Bajawa ditetapkan kembali sebagai penyelenggara tahun 2009 berarti alasan dari PSSI Bajawa diterima. Dilihat dari kondisi riil yang ada, panitia sudah siap, dan kalau kita lihat persiapan teknis yang berkaitan dengan lapangan, sudah sangat representatif untuk digelar turnamen PSSI kelas ETMC. Bupati Ngada sendiri menghadap gubernur, untuk tunda. Kesannya tidak ada sinkron antara bupati dengan pelaksana teknis di lapangan sebagaimana diberitakan Pos Kupang. Ini menimbulkan tanda tanya, ada apa sebenarnya. Kalau Bupati Ngada sudah bilang tunda, bagaimana bawahannya bisa melawan? Apalagi panitia penyelenggara banyak terdiri dari aparatur negara. Mungkin bupati punya pertimbangan tertentu yang memaksa turnamen harus mundur.

Mengapa mendadak? Tampaknya pesta olahraga ini sangat tergantung pada pemerintah, tergantung Bupati.

Yang bisa saya duga bahwa ini terbentur kepada masalah pendanaan. Memang secara terbuka alasan yang dikemukakan bahwa ada sekian banyak kabupaten pada saat yang sama selenggarakan pilkada, mungkin itu! Barangkali ada pertimbangan yang lain. Kita tidak tahu. Selama ini dan sampai sekarang perserikatan yang berpartisipasi dalam ETMC dibiayai pemerintah daerah melalui APBD 2. Beban anggaran penyelenggaraan dan keikutsertaan ada pada pemerintah. Pemerintah daerah yang membiaya turnamen. Jadi jelas bahwa penyelenggaraan ETMC memang masih tergantung pada pemerintah.

Bagaimana dengan protes yang dilancarkan beberapa perserikatan yang kecewa karena merasa dirugikan. Mereka sudah habiskan banyak biaya tetapi batal dan tunda. Bahkan mereka menilai Ngada tidak siap antara lain karena rumput lapangan belum tumbuh merata

Protes yang dilansir adalah protes perserikatan atau pengurus, kita tidak mendengar protes yang disampaikan pemeritah daerah yang mengeluarkan banyak biaya persiapan. Soal lapangan, saya melihat di tempat lain ada lapangan yang tidak ada rumput bahkan kalau hujan main di atas lapangan berlumpur.

Ada pihak yang menduga PSN Ngada belum matang persiapannya dan takut kalah. Panitia penyelenggara tunda karena alasan ini. Takut masyarakat pencinta PSN Ngada kecewa nantinya.

Itu persepsi yang keliru. Panitia sendiri siap di semua lini teknis lapangan. Masyarakat Ngada sudah sangat antusias dan cukup sportif memberi apresiasi terhadap semua tim. Sekian kali Ngada tampil sebagai pemegang supermasi sepak bola ETMC. Ngada juara bertahan. Mereka mau menyaksikan bagaimana PSN tampil sebagai juara di kandang sendiri. Orang lain tidak mengharapkan juara di kandang lawan. Tetapi, Ngada selalu menang di kandang lawan. Jadi obsesi masyarakat bisa melihat tim kebanggaannya juara di kandang sendiri sekarang atau pun nanti sama saja. Masyarakat sudah sangat mendukung.

Bagaimana Pak Gius mengamati soal sportivitas pertandingan di NTT atau khususnya ETMC selama ini.

Dalam penyelenggaraan turnamen banyak kali terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Misalnya, keberpihakan wasit kepada tuan rumah, keberpihakan penonton yang berlebihan pada tuan rumah, berakibat kepada suasana pertandingan menjadi tidak kondusif untuk mendukung fair play. Indikasi seperti itu memang ada. Masih terlihat juga ada pertandingan di Indonesia diwarnai kericuhan di luar lapangan, karena fanatisme yang berlebihan. Hal ini mempengaruhi sikap dan prilaku fans dalam turnamen lokal. Sebenarnya, dibandingkan dengan dulu, sepak bola sekarang sudah sangat maju. Berbagai informasi tentang sepak bola, dan tontonan yang bermutu tinggi ditayangkan televisi. Masyarakat sudah melihat dan menilai sendiri bagaimana bermain bola yang baik, bagaimana menjadi penonton yang baik.

Tetapi selalu saja ada kericuhan antar pemain, antar penonton, bahkan pemain dan wasit atau wasit dengan penonton. Apakah ini hal wajar?

Tidak wajar! Sebab, ketika suatu turnamen digelar, selalu didengung-dengunkan fair play. Tetapi fair play tidak bisa dilihat hanya pada pemain yang bermain di lapangan. Semua komponen terlibat! Pemain, wasit, official, panitia penyelenggera, termasuk juga penonton. Semua komponen ini mesti punya kemauan untuk menciptakan kondisi yang kondusif atau tidak untuk lahirkan fair play. Sebab sering kali terjadi kericuhan dalam lapangan dipicu oleh komponen yang berada di luar lapangan. Jadi penonton mempunyai kewajiban sebagai penonton yang sportif. Penonton berkewajiban memberi kontribusi untuk terciptanya fair play melalui fair support.

Bagaimana Pak Gius menilai masyarakat penonton di Bajawa?

Sekarang sedang berlangsung Flores Champion atau FC untuk memperebutkan piala bupati Ngada sejak 16 Oktober sampai medio November 2008. Setiap FC penonton berpihak pada permainan bagus dan sportif. Meskipun dia berhadapan dengan tim dalam kabupaten sendiri atau tim kesayangannya. Ketika pemain kesayangannya berprilaku yang tidak menyenangkan penonton, penonton justru berpihak pada pemain lain yang lebih bagus. Masyarakat Ngada adalah masyarakat yang sangat menghargai tamu, sehingga para pemain tidak perlu khawatir datang ke Bajawa. Tanyakan saja kepada klub yang pernah berpartisipasi dalam FC, penonton di Bajawa sangat apresiatif dalam menilai pemain bagus. Siapa saja darimana saja datangnya, asal bagus, akan mendapat dukungan penuh.


Bagaimana dengan fenomena sepak bola ├╗dalam tanda petik - yang penting menang dan pokoknya harus menang. Bukankah ini sering kali mengabaikan sportivitas?

Sebenarnya olahraga itu sifatnya universal. Sifatnya memupuk persaudaraan dan sportivitas, kontribusi dengan terciptanya perdamaian kuat sekali. Olahraga juga melibatkan gengsi, prestise, dalam pertandingan harus ada kalah dan ada menang. Ketika orang lain menang maka kita harus jiwa besar mengakui kemenangan orang lain, dan mengakui kekurangan. Namun dalam dunia sepak bola ada mafia pengaturan skore, wasit diwanti-wanti untuk mengatur jalannya pertandingan, sudah ada semacam jaringan yang mempunyai hubungan dengan para pelatih agar tidak menurunkan pemain kunci. Contoh, dalam Liga Italia, Juventus yang sudah skudeto, tetapi dianulir sampai di pengadilan. Juventus dapat hukum degradasi ke seri B ini semua berjalan melalui proses pengadilan. Mereka juara tetapi ketahuan ada mafia pengaturan skore, sudah ada skenerio pertandingan ini yang ini harus menang, demi kepentingan bisnis perjudian. Kita memang belum sampai ke sana. Tetapi, persoalan kita dalam lini apa pun law enforcement lemah. Meskipun sudah ada aturan tetapi sering tidak dilaksanakan dengan tegas. Secara kasat mata kita lihat KKN merajalela. Ketika terjadi kericuhan, masalah timbul, sanksi-sanksi sudah digariskan, namun sering kali terjadi pengabaian tentang aturan-aturan itu.

Bagaimana peran pers khususnya koran, surat khabar dalam persepakbolaan di NTT

Pers sangat mendukung. Banyak informasi sepak bola nasional maupun dunia yang sampai ke tangan pencinta olahraga khususnya sepak bola datang melalui koran lokal di NTT. Begitu pula ulasan-ulasan yang menarik dan membuka wawasan. Bagus! Insan pers juga sebaiknya mendukung fair play dengan fair report yang mensupport agar pemain, wasit, penonton, dan semua komponen turnamen berjalan lancar. (maria matildis banda)





Memberi yang Terbaik

GREGORIUS Patty Pello (58) dilahirkan di Kupang, 23 April 1950. Putra bungsu dari sepuluh bersaudara keluarga pasangan Petrus Pello dan Maria Meo (keduanya almarhum). Kecintaannya pada dunia olahraga, khususnya sepakbola, tak pernah berakhir. Pak Gius adalah mantan pelatih PSN Ngada, mantan pemain Perse Ende, mantan pemain PSN Ngada, juga mantan manajer PSN yang membawa PSN ikut Divisi 2 ke Batang Pekalongan.

Sampai sekarang Pak Gius tetap aktif sebagai pengamat sepak bola. Menjalankan pendidikan di Seminari Menengah Toda Belu Mataloko sejak kelas satu sampai kelas enam. Selepas seminari, ayah empat anak ini melanjutkan kuliahnya ke Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Cabang Ende sampai tingkat sarjana muda. Mengajar SMAK Syuradikara Ende tahun 1973 hingga 1978 dan selanjutnya menjadi guru negeri di SMAN 1 Bajawa 1978 sampai 2002 dalam bidang studi Bahasa Inggris dan menjadi Kepala SMPN 2 Bajawa sampai sekarang.

Gregorius Patty Pello juga seorang politisi, mantan anggota DPRD Ngada periode 1987 - l999 dan mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ngada periode 1997 - 1999 (ketika itu aturan membolehkan tugas rangkap sebagai PNS dan DPRD).
Dalam bincang-bincang dengan Pos Kupang Pak Gius juga menyampaikan beberapa pandangan politiknya tentang berbagai penyimpangan aturan sebagai sebuah fenomena politik yang sedang berlangsung di Tanah Air, termasuk munculnya politisi-politisi kagetan.

Menurutnya, dalam konteks politik orang selalu melihat titik lemah dari sebuah peraturan. Itu dimanfaatkan sebagai koridor untuk bisa berbuat yang sebenarnya menyimpamg dari ketentuan yang ada. Politik itu kepentingan untuk menggolkan interes. Orang rela buat apa saja supaya interesnya terpenuhi. Karena itu penting sekali untuk mendengar hati nurani. "Politik yang elegan adalah politik yang memiliki etika. Politik yang beretika adalah politik yang menjunjung tinggi martabat manusia, menempatkan keadilan sebagai obsesi yang harus dicapai."

Tentang caleg yang muncul bagai jamur di musim hujan ini, Pak Gius, suami dari Bidan Veronika Dhuke (56) dan ayah dari Robertous Fransiskus Killa Pello, S.T (PNS Dinas Kimpraswil), Theodosius Oktavianus Pello, S.E (Wiraswasta), Petrus Irenius Pello (mahasiswa ITP Surabaya), dan Maria Agustina Pello (SMAN Bajawa) - menjelaskan bahwa situasi ini sangat bagus untuk pendidikan politik, kran sudah dibuka, siapa pun warga negara Indonesia yang memenuhi syarat bebas untuk mencalonkan diri.

Diakuinya bahwa sebenarnya kalau dilihat dari statististik pendidikan caleg sekarang ini pendidikannya lebih baik dari dulu. Jelas bahwa calon lagislatif memiliki basis intelektual yang sangat memadai. Tetapi pola rekruitmen partai politik sekarang ini, hampir tidak menjadi rujukan utama. Di samping itu, perlu disadari bahwa basis intelektual saja tidak cukup, tetapi harus didukung dengan keutamaan lain seperti moralitas dan track record seseorang. Hal-hal seperti ini diharapkan menjadi bagian dari pertimbangan seseorang untuk memilih.

Tentang politisi kagetan, (tiba-tiba muncul jadi caleg dan tiba-tiba jadi politisi, Red) menurutnya, Yang menjadi persoalan, munculnya politisi-politisi kagetan adalah akibat dari begitu banyaknya partai politik sehingga terjadi kesulitan dalam rekruitmen untuk memenuhi kuota yang tersedia. Karena itu tidak dapat dihindari kalau banyak caleg yang perlu dipertanyakan kapabilitasnya untuk menjadi anggota dewan. Menjadi anggota dewan itu posisi terhormat dan kehormatan lembaga legislatif diukur dari prilaku dan kapasitas para anggotanya. Ketika menjadi politisi bermartabat otomatis lembaga itu menjadi lembaga yang bermartabat. Yang bermartabat antara lain adalah kita mengkomunikasikan apa yang mau kita buat sejalan dengan dengan apa yang diharapkan masyarakat.

Hal penting lainnya menurut Pak Gius, "politisi kagetan atau bukan, yang penting setiap orang harus mampu mengevaluasi diri agar dapat mengukur kapasitas dan kapabilitas dirinya untuk mengemban tugas legislatif yang berat. Jangan sampai menjadi anggota legislatif agar memiliki kapasitas untuk kepentingan tertentu untuk menguntungkan diri sendiri. Jangan sampai legitimasi sebagai anggota dewan dan kapasitas sebagai anggota dewan dipakai untuk mengamankan kepentingannya sendiri."

"Memberi yang terbaik selagi masih bisa memberikan kontrobusi," itulah cita-cita Pak Gius Pello di hari tuanya ini. Di Kota Bajawa dan sekitarnya tidak ada seorang pun yang tidak mengenal Pak Gius Pello, master of ceremony (MC/Pembawa Acara) yang selalu sanggup memancing tawa dan menyegarkan suasana acara.

Menurutnya, membuat orang tertawa adalah pekerjaan sederhana yang besar maknanya. "Ada kepuasan tersendiri kalau apa yang saya ekspresikan membuat orang tertawa. Berarti nyambung di antara apa yang saya bicara dengan pikiran dan perasaan orang yang mendengar apa yang saya sampaikan," ujarnya. (dis)

Pos Kupang Minggu 19 Oktober 2008, halaman 3
Lanjut...

Ubi Nua Bosi

SAMA seperti ubi kayu lainnya, ubi kayu yang berasal dari Nua Bosi, Kabupaten Ende biasa-biasa saja. Potongannya persis ubi kayu dari mana saja. Tetapi bukan ubi Nua Bosi namanya kalau tidak diangkat jadi bahan pembahasan tiga sahabat karib kali ini. Semua orang juga tahu, bentuk dan potongan boleh sama, tetapi soal rasa dan harga, nanti dulu. Rasanya yang sangat spesial, karena itulah harganya juga mahal.

Silahkan ke pasar Mbongawani Ende, masuk ke bagian paling selatan pasar ikan, persis di tepi jalan lalu lintas motor, mobil, dan kendaraan dan kesibukan pasar Mbongawani, di sanalah berderet dan bertumpuk-tumpuk ubi Nua Bosi. Pasti selalu tersedia kapan saja. Namun kalau saat kapal dan feri berangkat, ubi Nua Bosi pun rata, terbang jadi ole-oleh ke Kupang, Denpasar, Ujung Pandang, Surabaya, Jakarta. Percaya atau tidak percaya? Ubi Nua Bosi dengan penampilan apa adanya, pun terbang ke negera lain di Asia dan ke benua lain seperti Eropa, Amerika, Australia, dan Afrika.
                                                                             ***
"Karena itu kita kasih kado Ubi Nua Bosi saja untuk bupati terpilih!" Demikianlah Rara menyampaikan usul yang menurutnya usulan terbaik yang pernah disampaikannya sepanjang hidupnya. "Apa sudah gila? Bagaimana mungkin kasih kado untuk bupati terpilih hanya sekadar ubi Nua Bosi? Aduuh, seumur hidup saya, saya baru ketemu dengan orang gila seperti kamu!" Jaki segera pasang jurus tangkis.

"Ini kado istimewa!" Potong Rara dengan serius bin serius. "Kita isi ke dalam dos aqua terus kita bungkus baik-baik dengan kertas kado warna pelangi, terus kita ikat dengan pita merah, terus kita kirim. Untuk paket Doa yang menang di Ende, kita antar langsung saja pakai ojek. Untuk paket Konco di Sumba Barat Daya kita kirim via feri besok pagi-pagi. Untuk paket Nazar di Rote Ndao, kita kirim pakai pesawat Trans Nusa! Aman bukan?"
"Aduh, kamu benar-benar sudah miring," Jaki memiringkan telunjuk di dahinya. "Kalau paket Doa tidak masalah, sebab Doa sudah hafal luar kepala yang namanya ubi Nua Bosi.

Kalau untuk Konco, kamu tahu tidak? Kornelis Kodi Mete itu dokter yang baik hati. Apakah kamu tega mengirim kado ubi Nua Bosi untuk dokter itu? Kalau Nazar, Christian Nehemia Dillak, apakah kamu yakin pernah makan ubi Nua Bosi?" Tanya Jaki. "Kalau kamu memang sudah gila, gila yang benar, gila yang baik-baik!"

"Pokoknya, harus ubi Nua Bosi! Titik!" Rara tidak bergeming.
"Wah, kamu punya gaya persis penguasa! Kalau sudah mentok, mulai menggunakan jurus pokoknya, pokoknya, pokoknya..." kata Jaki. "Silahkan saja, saya dan Benza tidak mau terlibat!"
***


"Itu gagasan cemerlang!" Jaki kaget setengah mati waktu Benza berpihak pada Rara. Gagasan cemerlang? Aduh! Benza sudah sama gilanya dengan Rara. Kalau sampai ini terjadi, maka terjadilah bencana besar. Yang pasti Jaki tidak mau harus malu besar gara-gara kado yang sama sekali tidak nyambung dengan tujuan. Jaki bertekat untuk undur diri dari urusan kado.

"Dengar dulu Jaki," Benza menjelaskan. "Ubi kayu itu kado yang paling cocok untuk bupati terpilih di Ende, Sikka, Sumba Tengah, Rote Ndao, Sumba Barat Daya, Manggarai Timur, Kupang, dan di mana saja. Juga hadiah istimewa untuk gubernur dan presiden. Bila perlu kita kirim juga untuk Barrak Obama kalau sudah terpilih jadi Presiden Amrik nanti!"

"Apa argumentasinya?" Jaki tampak putus asa.
"Ubi kayu itu makanan rakyat, makanan orang susah. Ubi kayu sumber karbohidrat. Dalam karbohidrat terkandung glukosa yang berfungsi sebagai sumber tenaga. Makanya karbohidrat disebut sumber tenaga. Pesannya, jadilah karbohidrat bagi masyarakat atau berikanlah karbohidrat sebanyak-banyaknya untuk masyarakat. Namun ingatlah! Dalam ubi kayu ada juga kandungan asam biru, racunnya ubi kayu. Kalau asam birunya tinggi ubi kayu akan berubah menjadi racun yang memabukkan.

Artinya, jangan sampai menjadi asam biru, apalagi memberi asam biru untuk rakyat. Berjaga-jagalah! Agar karbohidarat tidak berubah menjadi asam biru. Semua orang yang berada di sekitar kita, juga dapat menjadi karbohidrat atau asam biru. Sepanjang dominasi sekitar adalah karbohidrat oke-oke saja. Tetapi kalau lingkungan sekitar didominasi asam biru demi kepentingan pribadi, maka tinggal tunggu saja kapan saatnya asam biru benar-benar menjadi racun. Bukankah sukses dan gagal hanya dipisahkan oleh tirai tipis yang tembus pandang? Analogi ini penting dipahami agar tidak ada satu pun yang berada di sekitar kita menjadi asam biru. Kamu mengerti bukan?"
***
"Bukan!" Jawab Jaki tetap putus asa.
"Ubi Nua Bosi hadiah paling istimewa!"
"Kamu sudah kirim ke mana saja?"
"Ke dokter Dami Wera di Sikka, dokter Kornelis di Sumba barat Daya, Simon Hayon di Flotim, Yohanes Samping Aoh di Nagekeo, juga buat Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan Gubernur Bali, Mangku Pastika!"
"Apa aku bilang?" Rara senang bukan main sebab baru kali ini gagasannya diterima telak oleh sabahatnya Benza. "Ubi kayu apa saja boleh.Tetapi karena ubi Nua Bosi adalah ubi terbaik, maka pantaslah kita berikan ubi Nua Bosi!" Rara tertawa bangga."Ayoh kita ke Nua Bosi, kita beli langsung di kebun!"
"Beli di pasar Mbongawani saja!" Protes Jaki dengan wajah masam.


"Ke Nua Bosi biar dapat yang matang di pohon, segar, bersih, dan terjamin bebas asam biru," Rara dan Benza langsung cabut, dan Jaki pun tinggal akui saja. (maria matildis banda)  

Pos Kupang Minggu 19 Oktober 2008, halaman 1



Lanjut...


POS KUPANG/MATILDE DHIU
APOLONIA MAX NAE


Tanamkan Sikap Mandiri pada Anak

LATAR belakang keduanya sebagai seorang guru membuat pasangan ini selalu mendidik anak-anaknya menjadi mandiri dan tangguh. Apa yang dilakukan anak benar-benar harus dari keinginan anak, bukan atas kemauan atau kehendak orangtua. Orangtua hanya mengarahkan, memberi panduan agar anak-anak bisa mandiri dalam mengambil keputusan untuk dirinya.

Itulah tips mendidik anak yang dilakukan pasangan Apolonia Max Nae dan Valentinus B Pukan. Pasangan yang sama-sama berpofesi sebagi guru sekolah menengah pertama ini, selalu menomorsatukan pendidikan anak. Bagi meereka, sekolah merupakan bekal utama bagi masa depan anak. Kesuksesan masa depan tergantung pada ketekunan belajar pada saat sekarang di usia anak yang masih muda. Alhasil, kedua anak mereka sudah berhasil masuk pendidikan polisi.

Pasangan ini memiliki tiga anak, si sulung Stevanus Pukan (Evri), lahir di Bajawa, 10 Juli 1987, saat ini sedang mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kupang. Putra keduanya, Emanuel Siga Pukan, lahir di Kupang, 25 Desember 1989, saat ini juga bercita-cita menjadi polisi setelah menamatkan pendidikan di SMK Santi Karya Kupang. Putri ketiganya, Serlyn Pukan, lahir di Bajawa, 7 Desember 1997, saat ini di kelas VI SDK St. Arnoldus Penfui, Kupang.


Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya di SMPK Giovanni-Kupang, Jumat (17/10/2008), Apolonia Max Nae alias Loni mengatakan, dia bersama suaminya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Suaminya mengajar di SMPN 2 Takari dan harus tinggal di Takari karena jarak yang cukup jauh. Namun demikian, suaminya tetap pulang seminggu sekali. Sementara, ia sendiri selain sebagai seorang guru ia juga memiliki kelompok paduan suara yang diberi nama Kantate St.
Yosep Pekerja Penfui. Selain itu, ia juga aktif di beberapa organisasi. Berbagai kegiatan ini tidak menghambatnya untuk tetap memperhatikan dan mengarahkan anak- anaknya supaya sukses.

Dikatakannya, anak-anaknya adalah tipe anak penurut sehingga tidak pernah berbuat macam-macam. Si sulung, katanya, memiliki keuletan yang luar biasa sehingga dalam hal belajar ia hanya bisa mengarahkan saja. Untuk belajar ia tidak pernah banyak omong, karena ketiga anaknya selalu menomorsatukan belajar. "Kalau ada yang perlu ditanyakan kepada saya, mereka biasanya terbuka. Tetapi kalau tidak, mereka lebih memilih untuk menyelesaikannya sendiri. Kami sebagai orangtua bersyukur karena dikaruniakan Tuhan anak- anak yang baik," kata wanita kelahiran Bajawa, 18 April 1962 ini.

Bagi wanita yang bergabung di Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI) ini, sesibuk apa pun dirinya dia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak melupakan Tuhan. Sebagai orang Katolik, keduanya selalu mengajarkan anak-anaknya untuk berdoa bersama sebelum tidur dan melakukan sembahyang novena. Dikatakannya, bekerja membanting tulang, tetapi lupa berdoa sama dengan nol. Inilah yang menjadi kunci kesuksesan keluarganya.

Dikatakannya, karena sikap mandiri sudah ditanamkan kepada anaknya sejak dini, saat ini dua anaknya memilih untuk meniti karier terdahulu, padahal secara ekonomi keduanya terbilang mampu. "Kami sebenarnya ingin sekali agar dua anak ini melanjutkan pendidikan ke pendidikan tinggi, minimal sampai sarjana. Tetapi, keduanya ingin mencari kerja dulu, baru melanjutkan sekolah. Kami tidak bisa memaksakan kehendak. Tetapi kami tetap mengarahkan agar anak-anak melanjutkan kuliah setelah bekerja nanti," kata wanita yang pernah mengabdi di SMP Adi Sucipto Penfui selama 10 tahun ini.

Bagi keduanya, anak adalah anugerah terindah yang diberikan Yang Kuasa, sehingga sebagai orangtua keduanya harus menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut agar tidak sia-sia. Selain itu, sebagai manusia yang berakal budi, anak juga memiliki hak asasi yang tidak bisa disepelekan orangtua.
"Mereka memiliki dunia sendiri dan anak memiliki hak asasi yang tidak bisa diganggu gugat termasuk orang tua. Mereka bebas mengekspresikan diri mereka untuk menjadi apapun yang mereka inginkan. Kami sebagai orangtua tidak bisa menintervensi. Tugas kami adalah mengarahkan dan memberikan motivasi agar anak bisa mencapai apa yang dicita-citakannya," kata Loni. (nia)

Pos Kupang Minggu 19 Oktober 2008 halaman 12
Lanjut...

(Sebuah Etnografi Komunikasi Antaragama Antara Komunitas Panggol (Katolik) dan Komunitas Wuni (Islam) di Ntaram, Manggarai (Flores Barat), Nusa Tenggara Timur).


Oleh Marsel Robot

Pengantar
Tulisan ini adalah ringkasan hasil penelitian penulis untuk disertasi doktor bidang ilmu komunikasi pascasarjana Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat, yang diuji pada 13 Oktober 2008. Disertasi ini sudah diuji oleh 10 penguji dalam sidang terbuka Senat Unpad Bandung pada tanggal 13 Oktober 2008. Pemimpin sidang Direktur Program Pascasarjana Unpad, Prof.H.A.Djadja Saefullah, MA, Ph.D. Tim Promotor terdiri atas; Prof. Deddy Mulyana, MA., Ph.D. (Ketua Promotor), Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ. (Anggota Promotor) dan Prof. Dr. Ir. Herman Soewardi, alm. (Anggota Promotor). Predikat kelulusan sangat memuaskan.


KETIKA kerusuhan bermotif SARA (Suku Agama, Ras dan Antargolongan) di Indonesia berkecamuk, terutama pasca keruntuhan rezim Soeharto pada 21 Mei 1998, kebanyakan orang begitu sibuk mencari penyebab kerusuhan. Namun, orang lupa bahwa ada sejumlah suku di pelosok Indonesia yang hidup damai dalam perbedaan berabad-abad lamanya.
Tesis itulah yang menggugah hasrat intelektual penulis untuk melakukan penelitian atau studi ilmiah di Ntaram, sebuah kampung di Kecamatan Sambi Rampas (sebelumnya masuk wilayah Kecamatan Elar, Red), Kabupaten Manggarai Timur (Flores Barat), yang eksentrik karena keelokan pluralitas (dua agama, delapan suku, dan dua tradisi kekuasaan) yang mewariskan hidup damai berabad-abad lamanya. Penulis (peneliti) terpesona, dan karena itu ingin menyingkap rahasia kerukunan yang dibangun Ntaram.
Pluralitas tidak selamanya menjadi ancaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ntaram merupakan sebuah kampung yang di dalamnya hidup delapan suku, terdapat dua aliran keagamaan dan terdapat dua tradisi kekuasaan yang hidup secara damai hingga saat ini. Sinkretisme unsur-unsur tersebut membentuk kepribadian Ntaram yang khas, baik praktik sosial maupun dalam perilaku komunikasi.


Ntaram terletak di pedalaman Kabupaten Manggarai Timur, di Desa Golo Ngawan, Kecamatan Sambi Rampas, Flores Barat Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ntaram terkesan eksentrik bukan saja karena letaknya sangat khas di antara dua jurang dan kampung yang membentang sepanjang tebing Golo Ngawan, tetapi karena Ntaram mampu menghidupkan tradisi pluralitas (suku, agama, dan tradisi kekuasaan).
Artinya, menyebut Ntaram, maka segera dihubungkan dengan delapan suku (Suku Mbaru Mese, Suku Mbaru Bongko, Suku Mbaru Labal, Suku Mbaru Weli, Suku Mbaru Cangge, Suku Mbaru Golo, Suku Mbaru Munta, Suku Mbaru Ajang Cengi), dua komunitas agama yang dalam konotasi Orang Ntaram disebut ata sili mai wae (orang dari pesisir yang diidentikan dengan Islam) dan ata le mai tana golo (orang pegunungan yang diidentikkan dengan Katolik), dan dua tradisi kekuasaan, yakni tua teno (tradisi kekuasaan asli) dan adak (tradisi kekuasaan berasal dari Kerajaan Goa, Sulawesi Selatan).

Rukun utama keharmonisan Ntaram ialah kesadaran ca na'ang agu ca wa'u (menerima sesama sebagai sedarah dan seketurunan). Kesadaran ca na'ang agu ca wa'u diperluas secara subjektif dalam keluarga, antara keluarga hingga menjadi kampung.
Ntaram hanya sebuah rumah besar yang secara fisik terdiri dari keluarga-keluarga yang diikat secara geneologis (ca na'ang agu ca wa'u), maupun diikat secara sosiologis melalui bantang agu reje (perjanjian adat). Orang Ntaram merasa tenteram secara psikologis (merasa ada dan berarti) jika mampu memahami hubungan kekeluargaan.

Kesadaran ca na'ang agu ca wa'u secara ideologis terbentuk dari sejarah asal-usul orang Ntaram. Ntaram diklaim sebagai tana lalo (daerah yatim), karena ditinggalkan oleh penduduk aslinya. Ntaram, dengan demikian, merupakan tanah para pendatang, sekaligus tempat bersedih bersama.

Karena itu, siapapun yang datang ke sana dan dengan identitas apapun diterima sebagai keluarga. Ketika hubungan kekeluargaan dipresentasikan maka identitas lain hanya menjadi bagian yang tidak menonjol, termasuk identitas keagamaan seseorang. Dalam konteks itulah, harmoni antara Wuni (Islam) dan Panggol (Katolik) bukan ketundukan terhadap perbedaan, tetapi ketulusan terhadap kesadaran ca na'ang agu ca wa'u.
Spiritualitas Ntaram bersumber pada tradisi totemik yang dimetanomiakan sebagai Murin (Morin) Agu Ngaran (Tuhan Maha Pemilik). Murin agu Ngaran diterima sebagai Tuhan oleh dua komunitas itu. Hingga dewasa ini orang Ntaram mempunyai tiga tempat ibadah, yakni masjid, gereja dan compang (altar persembahan yang terletak di pusara kampung). Tempat terakhir ini merupakan tempat ibadah bersama kedua komunitas tersebut. Karena itu, di Ntaram, agama bukanlah "tradisi yang terdistortif dari tradisi", tetapi agama, terutama Wuni (Islam) merupakan genre adat istiadat atau tradisi.


Perilaku etik ditata secara endemis dalam komunikasi keluarga, kemudian diperluas secara subjektif dalam masyarakat. Orang Ntaram sejak kecil diajarkan bagaimana cara berkomunikasi seperti cara tombo (berkomunikasi secara verbal), bagaimana menyapa seseorang, bagaimana cara duduk di depan umum, bagaimana cara berjabatan tangan, pilihan waktu untuk berkunjung, hingga bagaimana cara memotong pembicaraan orang lain. Meski demikian, orang Ntaram, sangat peka terhadap hal yang samar-samar. Kepekaan atas perbedaan untuk mengemas pesan dalam pilihan vokal dan konsonan yang kuat dan jelas. Mereka menghindari penggunaan vokal rangkap yang melemahkan artikulasi. Kepekaan terhadap perbedaan terlihat pula dalam gaya nonverbal yang lebih ekspretif.

Orang Ntaram mempunyai cara spesifik menata kebersamaan dalam perbedaan. Dalam arena publik misalnya, tak tampak perbedaan yang mencolok di antara mereka. Akan tetapi, jika memasuki rumah mereka maka tampaklah pebedaan itu. Foto orang suci dan patung orang kudus memberikan pesan bahwa kami orang Muslim atau kami orang Nasrani, perlakukan kami sebagaimana keberadaan kami. Dinding ruang tamu menjadi tatabahasa keragaman, sekaligus menjadi rujukan untuk mencocokan tingkah laku selama peristiwa komunikasi berlangsung.

Penulis menemukan pola komunikasi orang Ntaram yang berbasis pada ite-ite (kita-kita) sebagai kata ganti diri kedua jamak secara sosiologis menyatakan ingroup. Pola ini menurutnya mengandung dua konsekuensi. Pertama, pola ite-ite memperlihatkan pola hubungan sirkuler-familiar. Dalam pola komunikasi demikian Siapa (pengirim pesan) dan Siapa (penerima pesan) ditulis dengan huruf kapital menyatakan bahwa komunikasi adalah ritual yang berlangsung antara manusia.

Kedua, pola ite-ite menunjukkan bahwa pengirim dan penerima pesan terikat oleh konteks sosial-budaya. Dengan demikian, pola hubungan (ite-ite) sebagai gaya komunikasi yang mengekspresikan ketundukan terhadap konteks. Di sini unsur makna dan nilai sangat vital dalam berkomunikasi. Kepekaan terhadap perbedaan terlihat pula dalam gaya verbal. Orang Ntaram cenderung menghindari penggunaan vokal rangkap yang cenderung melemahkan atau mengaburkan informasi. Misalnya, sei dalam bahasa Manggarai dialek Manus, atau ceing dalam bahasa Manggarai menjadi ci dalam bahasa Manggarai dialek Congkar (Ntaram).

Bagi orang Ntaram, komunikasi merupakan sebentuk tindakan etis yang merefleksikan konteks sosial yang telah menyediakan perbedaan dan peran mereka. Demikianlah kepribadian Ntaram, memperlihatkan kebersamaan, sementara kebersamaan tidak harus sama agama. (*)


Dinding Rumah Sebagai
Tata Bahasa Keragaman

JALAN lain yang ditempuh oleh orang Ntaram untuk mengalami dan menyelami realitas perbedaan adalah kepekaan epistemis, yakni peka terhadap hal yang mereka tahu tentang perbedaan mereka sebagai ata sili mai wae dan sebagai ata le mai tana golo. Tidak ada spanduk imbauan di tepi jalan, atau pengumuman lisan yang diucapkan lewat pembesar suara ketika bulan puasa datang. Realitas cukup ditangkap dengan antena rasa. Ata le mai tana golo mengetahui secara saksama kapan saudaranya ata sili mai wae menjalankan ibadah puasa, dan apa yang harus mereka lakukan.
Intinya bahwa siapa pun orang luar yang datang ke Ntaram akan menemukan kesulitan untuk mengidentifikasi individu-individu dari kedua komunitas tersebut. Tidak ada sesuatu yang khsusus yang menjadi ciri pembeda antarkomunitas ata le mai tana golo dan komunitas ata sili mai wae. Dalam penampilan keseharian antara individu-individu kedua komunitas itu sulit dibedakan. Tidak ada satupun identitas khas yang membedakan keduanya. Mereka sama-sama menggunakan peci, mempunyai bentuk rumah yang sama, bahasa yang sama, gaya bicara, perilaku sopan santun. Akan tetapi, ketika memasuki rumah mereka, maka sangat jelas identitas mereka terbaca pada dinding ruang tamu, atau sudut ruang tamu. Dinding berceritera tentang siapa mereka sebenarnya. Setiap rumah ata sili mai wae terlihat pada dinding ruang tamu terpampang sejumlah gambar suci (semacam kaum sufi atau imam-imam Islam) termasyur dunia, atau kalender-kalender yang bernuansakan Islam.
Sebaliknya, bagi ata le mai tana golo, identitas itu diletakkan di sudut ruang tamu. Patung Yesus atau patung Bunda Maria dengan rumah kecil lengkap dengan aksesoris yang memberikan suasana religius di sudut ruangan itu. Semuanya itu berceritera tentang siapa penghuni rumah itu dan bagaimana mereka diperlakukan.
Strategi alami mengucapkan identitas khusus melalui dinding dan sudut rumah mengindikasikan bahwa yang tampil di luar rumah adalah universal, sedangkan dalam rumah merupakan ruang privasi. Dalam arti, masalah agama merupakan urusan pribadi. Sedangkan di jalan atau di halaman menjadi urusan kemanusiaan atau urusan sosial.
Gambar-gambar dan patung orang kudus itu merupakan benda nyata atau obyek, tetapi sekaligus mengungkapkan maksud (subyek) penghuni rumah. Dengan kata lain, gambar atau patung adalah benda nyata yang tertempel di dinding merupakan obyektivasi dari subyektivasi penghuninya. Dengan demikian, gambar dan patung mengekspresikan motif tertentu (kami keluarga Muslim atau kami keluarga Katolik), dan perlakukan kami sebagaimana mestinya.
Di rumah Haji Ahmad Heba, misalnya, tertempel gambar sejumlah anak kecil yang sedang membaca Al Qur'an. Rumah semi permanen itu bercat dengan warna hijau sebagai warna bernuansa Islam. Pada dinding pintu tripleks yang juga dicet hijau bertuliskan huruf Arab dengan spidol hitam: Si tuan rumah menuliskan huruf Arab itu bukan untuk dimengerti oleh si pengunjung rumah, atau mengetahui makna kata itu, tetapi aksara itu hanya suatu isyarat yang hendak menyampaikan pesan kepada siapapun yang bertamu di rumah itu, bahwa "kami keluarga muslim, dan silakan sesuaikan perilaku Anda."
Dalam konteks Ntaram (yang plural), tindakan memasang gambar suci pada dinding ruang tamu atau memasang patung di sudut ruang tamu berkaitan dengan kaidah moral, dan bersifat sosial, baik bagi orang Ntaram sendiri maupun bagi orang asing (bukan orang Ntaram). Karena gambar dan patung itu secara tidak langsung menyuruh orang untuk mengubah atau memodifikasi tingkah lakunya selama berlangsung komunikasi dengan tuan rumah. Juga, bahwa pluralitas tidak selamanya menghasilkan sekularisasi yakni melemahkan posisi agama dan mereduksinya menjadi masalah yang sangat pribadi. Inilah cara membina suatu gerakan harmoni untuk kerasan (eksis) hidup dalam perbedaan. (*)


Pos Kupang, Minggu 19 Oktober 2008, halaman 11
Lanjut...


Foto Pos Kupang/Agus Sape
Halaman Gor yang ditanam tapi tanaman tidak terawat hingga terlihat gersang

CATATAN saya belum usang. Hari itu tanggal 19 Desember 2007 petang. Hujan rintik-rintik. Sudah musim hujan. Segenap anggota DPRD NTT yang tergabung dalam Forum Parlemen bersama keluarga berdatangan ke kawasan Gedung Olah Raga (GOR) Oepoi di Jalan WJ Lalamentik Kupang.

Bersama mereka ikut juga 29 kelompok mahasiswa pencinta alam di Kupang. Termasuk mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Hutan Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang.

Terdorong oleh rasa prihatin terhadap kondisi alam yang semakin rusak dan terus meningkatnya pemanasan global, mereka mau berbuat sesuatu. Kecilan-kecilan, daripada tidak berbuat apa-apa. Di kawasan GOR mereka menanam berbagai anakan pohon. Karena dorongan yang mulia ini, hujan yang perlahan-lahan membasahi tubuh, tidak mereka gubris.

Waktu itu Dinas Kehutanan Propinsi NTT menyediakan 3.000 anakan. Ada 1.000 mahoni, 500 jati putih, 500 angsana, 500 nangka, dan 500 mete. Sekitar 2.000 anakan berhasil ditanam. Selebihnya, boleh dibawa pulang. Gratis. Yang penting ditanam sampai hidup di pekarangan atau di mana saja.


Sekarang cobalah datang dan melihat nasib anakan-anakan yang ditanam. Apa yang terjadi? Sejauh pengamatan saya sampai kemarin, kondisinya memprihatinkan. Ya, ini fakta lapangan. Fakta itu suci. Dia tidak bisa menipu. Kawasan GOR pada hari- hari ini tidak bedanya dengan padang sabana. Rerumputan tampak kering-kerontang diselingi beberapa pohon. Anak- anakan pohon yang pernah ditanam Forum Parlemen nyaris tidak tampak.

Bisa macam-macam penyebabnya. Yang pasti menanam apa pun di Kupang tidak gampang hidup. Kalau di tempat lain orang menyebut tanah berbatu, karena memang tanahnya lebih dominan daripada batu, sedangkan di Kupang orang menyebut batu bertanah. Ya, batu karang. Batunya lebih dominan daripada tanah. Tanah menempel pada batu. Tipis dan mudah kering kalau kena panas. Tumbuhan susah hidup dan tumbuh.

Selain itu, kawasan NTT, termasuk Kupang, memang termasuk kurang hujan. Musim kemaraunya lebih panjang daripada musim hujan. Itu pun dengan intensitas yang sangat rendah. Lihat saja sekarang. Sudah pertengahan Oktober, belum juga hujan. Padahal kemarau sudah dimulai akhir Maret 2008.

Suhu udara pun mencapai titik maksimal. Menurut catatan BMG, suhu udara di Kupang sekarang di atas 36 derajat Celcius. Suhu ini bakal meningkat lagi sampai pertengahan November nanti. Dengan ini jelas hanya tanaman-tanaman besar dan umur panjang saja yang bertahan hidup. Selebihnya kering kerontang, mati.

Lalu, apakah semuanya selesai? Kelemahan kita selama ini, pasrah pada kemurahan alam. Penanaman anakan-anakan pohon di GOR cuma satu dari sekian banyak contoh. Kita pandai menanam, tapi tidak pandai merawat. Begitu ada yang berhasil dirawat pun, kita lebih mudah menghabiskannya.

Ketika hendak melakukan penanaman di GOR itu, Ketua umum kegiatan itu, Drs. Kristo Blasin mengatakan, kegiatan ini tidak selesai dengan penanaman. Masih akan dilanjutkan dengan perawatan dan pengamanan hingga pohon-pohon dinyatakan hidup. Perawatan selanjutnya akan dilakukan sejumlah petugas di GOR yang akan dibayar oleh Forum Parlemen.

Kristo juga mengatakan, penanaman anakan-anakan itu sudah dikonsultasikan dengan instansi yang menangani tata ruang kota. Bahwa di jalur penanaman itu tidak bakal ada aktivitas lain yang bisa menggusur pohon-pohon.

Niat awal itu ternyata tidak sesuai dengan pelaksanaan selanjutnya. Matinya tanaman-tanaman di kawasan GOR itu menunjukkan tidak adanya perawatan. Tidak ada yang menyiram secara rutin. Juga tidak ada pengamanan dari perusakan oleh aktivitas manusia dan ternak yang berkeliaran merumput.

Memang sangat riskan. Kawasan ini juga sering dipakai untuk kegiatan-kegiatan yang melibatkan massa. Di sana berlangsung berbagai kegiatan olahraga, ada konser musik, ada kegiatan- kegiatan politik. Sulit mengontrol massa untuk tidak merusak tanaman.

Bahkan sampai kemarin sore, saya menyaksikan lapangan antara GOR dan Jl. WJ Lalamentik digunakan warga untuk bermain bola kaki. Lapangan itu tampak gersang. Padahal anakan-anakan pohon itu ada yang ditanam di sekeliling lapangan. Setiap pohon dikelilingi pagar kayu. Tapi kemarin tidak kelihatan lagi.

Itulah kenyataannya. Terasa sia-sia tenaga dan biaya yang dikeluarkan. Kita harus mengambil hikmahnya dan belajar dari pengalaman ini. Mungkin selanjutnya kita perlu mencari tempat yang lebih tampan dan nyaman. Atau mungkin perilaku kita yang harus diubah. Kita harus menyayangi tanaman dengan merawat, bukan merusaknya. Kegiatan massal apa pun yang dilangsungkan di tempat ini mestinya tetap memperhatikan keamanan tanaman-tanaman. Ternak-ternak pun harus ditertibkan. Kita harus mengubah kebiasaan, membiarkan ternak-ternak berkeliaran.

Ingatlah, merusak itu gampang. Tetapi memulihkan kerusakan itu betapa susahnya. Karena itu, apa yang sudah ada, harus kita rawat, jangan sampai rusak. Yang sudah telanjur rusak kita harus pulihkan.

Kondisi alam Kupang memang sangat menantang. Tetapi, untuk menghijaukan wilayah Kota Kupang bukanlah hal yang mustahil. Kalau menengok kembali kondisi wilayah Kota Kupang pada era 1980-an, kita harus katakan, kondisi sekarang bukanlah yang paling buruk. Kondisi Kupang waktu itu jauh lebih gersang. Coba lihat sekarang. Di sepanjang Jalan El Tari sudah ada jalur hijau. Pekarangan rumah penduduk banyak yang tampak hijau ditumbuhi pohon-pohon peneduh dan aneka bunga.


Tidak gampang untuk mencapai kondisi seperti ini. Tanya saja pada mereka yang menanam pohon-pohon itu. Pasti mereka tidak menanam lepas. Mereka rela menyisihkan tenaga dan biaya untuk merawat. Menyiram, bahkan dengan teknologi yang sedikit canggih. Menggunakan botol infus. Hanya dengan berjuang, kita berhasil menghijaukan kota ini.

Masih program penanaman pohon yang bakal kita lakukan untuk menghijaukan kota ini. Sekarang pemerintah Kota Kupang menggalakkan Kupang Green and Clean (Kupang Hijau dan Bersih). Lalu untuk apa? Mengapa kita menanam pohon?
Arsitek Frank Lloyd Wright pernah mengatakan, "Teman manusia yang paling baik di bumi adalah pohon. Kalau kita menggunakan pohon dengan penuh rasa hormat dan ekonomis, kita memiliki sumber daya yang paling hebat di bumi."

Pohon adalah salah satu keajaiban alam terhebat. Semua ajaran agama dengan tegas menempatkan pohon menjadi simbol dan sumber kehidupan manusia. Cinta dan kedamaian terukir dengan menanam pohon dan segala aktivitas kehidupan di bawah pohon. Kebencian dan anarki dilukiskan dengan menebang pohon.
Pohon adalah pembentuk ruang paling dasar (akar dan tanah = lantai, batang = tiang, ranting dan daun = atap) yang menciptakan keteduhan agar manusia dapat melakukan aktivitas di bawahnya. Para murid yang sekolahnya ambruk tetap dapat belajar di bawah kerindangan pohon. Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) yang belum memiliki kantor masih bisa menggelar rapat di bawah pohon

Pada era pemanasan Bumi dan berbagai bencana alam (banjir, tanah longsor, pencemaran udara, krisis air) terjadi, gerakan penanaman pohon besar yang lebih banyak lagi merupakan hal mutlak. Pohon berjasa menahan air dalam tanah, mencegah erosi dan longsor, menjadi habitat bagi beragam makhluk hidup, memproduksi oksigen, menyerap karbondioksida-gas rumah kaca penyebab pemanasan global-menyaring gas polutan, meredam kebisingan, angin dan sinar matahari, dan menurunkan suhu kota.

Menanam pohon sebenarnya berbicara tentang kearifan konsumsi-investasi, menjamin kelangsungan lingkungan hidup warga dan kota. Selalu ada alternatif penyelesaian cerdas dalam membangun kota tanpa harus menebangi pohon jika kita mau berpikir panjang. Seluruh warga hendaknya berpartisipasi menggerakkan lompatan besar menghijaukan kota melawan proses penggurunan kota (hutan beton).

United Nations Environment Programme (UNEP) pada tahun 2007) berkampanye "Plant for the Planet: Billion Tree Campaign", sebagai salah satu upaya memulihkan kondisi Bumi dari pemanasan global melalui gerakan menanam pohon. (agus sape)


Pos Kupang Minggu 19 Oktober 2008, halaman 14


Lanjut...

Ambilkan Bulan Bu!

Cerpen Wendly Jebatu

RUMAHKU  gelap! Anakku sakit! Ia berbaring tak berdaya di atas tikar lusuh di sudut ruang depan rumahku yang reot ini. Anakku sakit dalam miskin, dan baring dalm gelap beralas tikar lusuh tak berkasur.

Sesekali ia cuma diterangi oleh seberkas cahaya rembulan malam yang masuk menembusi atap rumah yang tercabik karena usur. Atap alang-alang itu memang sudah tua, sepantasnya kalau dia harus segera diganti, tapi siapa yang mau menggantinya? Apakah yang bisa aku perbuat kalau bukan terima kenyataan apa adanya? Aku sudah belajar kian lama untuk menerima semua kenyataan yang harus aku hadapi. Aku cumalah seorang ibu tak bersuami. Aku melahirkan putraku di luar pernikahan.

Orang tuaku dulu mengusirku dari rumah, sementara laki-laki yang meniduriku lari tak tahu rimbanya. Aku membangun rumah ini dengan bantuan masyarakat yang iba kepadaku. Dan inilah satu-satunya hartaku yang aku punyai. Atap dari alang-alang, dinding dari bambu yang dicincang, berlantai tanah. Itu saja.
Rumahku gelap! Anakku sakit!

Anakku dilahirkan di rumah ini, rumah yang menurut orang tuaku tempat pembuangan. Tempat anak haram bernaung. Lima tahun lalu ia lahir tanpa ayah. Tetapi aku tidak menerima kalau orang menyebutnya anak yatim, karena aku merasa akulah ibu sekaligus ayahnya. Ada dua pribadi dalam diriku kini. Aku merangkap sebagai ayah dan ibunya. Ia lahir dalam kemiskinan dan bertumbuh dalam kemelaratan. Lima tahun sudah umurnya dan aku merasa dialah harta terindah yang Tuhan berikan untukku.

Rumahku memang gelap dan anakku memang sakit!
Aku tak mampu mencari penerangan lagi, juga tak mampu mencari obat untuk putraku. Aku memang mempunyai sebuah pelita, tetapi aku tak bisa berjalan mencari minyak. Aku mempunyai kaki untuk berjalan, tetapi tidak mempunyai keberanian untuk meminta tolong. Aku tidak mau disebut pengemis. Mending aku tinggal dalam gelap, daripada dibilang pengemis.
Rumahku gelap!

Pelita satu-satunya tak bisa menyala, minyak tak mampu aku beli. Tapi aku masih beruntung dan layak kalau aku bersyukur kepada Tuhan, karena ia memberiku cahaya rembulan yang mampu menembusi atap rumahku, mengusir kelamnya malamku dan membuatku bisa menatap putraku walau samar-samar saja.
Anakku sakit!

Tapi aku tak mampu mengobatnya, obat ada di luar jangkauanku. Selain karena tidak dijual di sini, tapi juga tidak sanggup kubeli. Di kampungku tak ada kios yang menjual obat. Pernah sesekali pedagang obat datang dan menawarkan obat untuk anakku. Mereka juga dengan penuh keyakinan menjelaskan penyakit anakku sambil mempromosikan obat mereka. Tetapi sia-sia, karena aku tidak membelinya. Aku tidak membeli bukan lantaran aku tidak percaya tetapi lebih karena aku tak punya uang untuk membeli obat.

Pernah mereka memberi keringanan untuk sistem bon, tapi aku tak mempunyai jaminan. Maka aku biarkan mereka berlalu dan aku terus membiarkan anakku berbaring dalam sakit. Maaf aku memang keterlaluan karena membiarkan anakku sakit, tetapi mau bilang apa? Inilah risiko dari pilihanku dulu bemain-main sebelum menikah yang kemudian membuatku terusir dari orangtuaku. Aku diusir dari kebahagiaan bersama orangtua.

Bertahun-tahun aku selalu bergulat dengan gelap, bertahun-tahun pula aku bergumul dengan sakitnya anakku! Siang hari memang tidak kesulitan karena terang itu datang sendiri. Tetapi malam? Satu-satunya harapan kami berdua adalah sinar rembulan yang lagi-lagi menerobos masuk lewat atap yang tercabik itu.

Syukur kalau dia bersinar, kalau tidak maka kami bergulat dalam gelap. Kelam! Hanya suara desahan yang terdengar. Kadang anakku terbangun dalam gelap dan berceloteh memintaku mencari penerangan, tetapi aku selalu katakan padanya bahwa cahaya di dunia tak ada yang gratis. Kalau ingin api menyala, kita mesti beli sumber apinya. Yang gratis hanya terang siang dan cahaya bintang yang tersenyum dan sinar rembulan yang kabur. Tapi kita harus bersyukur karena kita masih mendapatkan yang gratis dari atas sana.

Penjelasanku selalu kuulangi saat dia berceloteh meminta cahaya. Rupanya dia mengerti maksudku, atau mungkin saat itu memang dia sudah mengantuk berat sehingga penjelasanku tidak didengarnya. Buktinya ia tak pernah protes atas penjelasanku.
Anakku sakit dalam gelap!

Dalam gelap pun ia selalu mengeluh dan merintih meminta tolong. Beruntung aku masih berada di sampingnya. Walaupun tidak melihatnya tetapi aku masih bisa merangkul dan merasakan panas dingin tubuhnya. Demikian sebaliknya. Hanya itu yang bisa aku beri untuk anakku yang malang ini.

Anakku memang selalu mengeluh dan berceloteh. Kadang celotehannya aneh-aneh.
Suatu malam, ketika rembulan tengah bersinar, seberkas cahaya menembus masuk dan tepat di muka anakku.

Ma! Sakit ma, aku mau pipis! Tolong bukakan atap rumah kita ma, biar cahaya bulan menerangi seluruh rumah kita. Biar aku bisa pergi pipis dan bisa lihat mama.

Air mataku pun bercucuran, tetapi aku berusaha menahan tangis. Aku biarkan air mata itu menetes membasahi pipiku, toh anakku tidak melihat ekspresi kesedihanku. Aku tak mau ia mendengar isakanku. Memang aku tak pernah menangis di hadapan dia. Aku tak mau penderitaannya semakin bertambah. Aku hanya mempunyai obat satu saja yaitu menghibur dia dan sesekali membuatnya tertawa dalam duka.
Tahan nak! Biar mama dukung ade berdiri di ujung tempat tidur dan kencing ke tanah!

Lalu aku mengangkatnya dan membiarkan dia bediri dan pipis. Setelah itu aku mengarang sebuah dongeng tentang seorang anak yang tidak mempunyai rumah. Saat hujan ia hanya berlindung di bawah pohon. Anak itu kemudian jatuh sakit dan mati.

Lalu aku katakan kepada anakku: "Nak kalau atap rumah kita dibuka, terus waktu hujan atau panas terik datang kita berlindung di mana? Nati kita mati dalam hujan atau terpanggang sinar mentari yang panas."

"Kalau begitu, ma biar kita gelap saja, jangan buka atap rumah kita, tetapi biar jangan diperbaiki saja. Biar aku bisa melihat rembulan dan bintang lewat atap yang tercabik itu."
Akupun mengangguk walaupun aku tahu dia tidak melihat anggukanku.
Anakku terus sakit, dan waktu bulan purnama tiba ia masih sakit. Ia menyaksikan bulan purnama lewat atap yang tercabik. Malam itu kami bisa baku pandang, walau hanya mata saja yang nampak jelas. Dalam hening ia mengeluh sakit! Dan satu permintaan aneh yang mengagetkanku dan membuatku tak mengerti. Ia merintih dan memintaku agar segera mengambil rembulan.

"Ma tolong ambilkan bulan, kalau mama tidak bisa, biar ade sendiri yang ambil!"
Oh Tuhan! Mungkinkan anakku bermimpi memetik bulan? Ataukah dia sedang berhayal? Keluhku dalam hati.

Aku tak mengerti, aku hanya bisa mencucurkan air mata haru; tapi lagi-lagi aku tidak mau ia mendengar isakanku.
"De, nanti kalau ade sembuh, kita sama-sama pergi ambil bulan ya! Yang penting ade cepat sembuh ya!"
Setelah itu diapun tertidur dan pulas dan mungkin ia terhanyut dalam mimpi.

Malam ini rumahku masih gelap! Rembulan sedang enggan bersinar! Anakku pun masih sakit!
Seperti biasa aku berbaring di sampingnya.
Tiba-tiba saja tadi ia terjaga. Aku pikir ia mengeluh lagi. Aku sedang tunggu apa lagi yang akan dimintanya sebentar. Tetapi kini ia tidak mengeluh kepadaku. Ia memanjatkan doa yang membuatku pilu.

"Tuhan! Aku sudah sembuh, tetapi mamaku sakit!
Dan kami masih bersatu dalam gelap.
Berikanlah kami bulan itu, biar rumah kami terang.
Berikanlah kami bulan itu, biar aku dan mama saling memandang. Berikanlah kami bulan itu, biar malam kami bercahaya."

Lalu ia mencari tanganku dalam gelap dan memintaku memeluknya. Dalam pelukanku dengan suara parau ia berkata, "Ma aku sudah sembuh, sekarang aku pergi mengambil bulan itu dan aku akan membawanya untuk mama! Aku pergi dulu ya ma!"

Rupanya ia pamit untuk pergi selamanya sebab tak lama berselang, dalam pelukanku ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Aku hanya bisa menjerit, tetapi menjerit dalam gelap.
Aku menjerit dalam sunyi karena aku tidak mau anakku tahu dia pergi diantar sedih sang ibu. Seperti dulu aku tidak mau dia tahu aku sedang menangis.

Aku mendekap jasadnya yang kurus dan kaku itu, dan meminta Tuhan agar dia memberi bulan itu kepada anakku. Aku sadar, anakku sudah sembuh, tetapi sekarang ia telah pergi memetik bulan.
Tuhan berikanlah dia bulan itu, biar jalannya tak mengenal gelap.
RIP buat putraku! *

Pos Kupang Minggu 19 Oktober 2008, halaman 6
Lanjut...

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda