Dengan Foto, Peduli Lingkungan



Foto Karya Guido Umbu Yami
Lahan yang dibakar warga


PEDULI dan mencintai lingkungan yang hijau, bersih dan sehat tidak saja menjadi perhatian kaum akademisi, politikus, kalangan birokrat, lembaga sosial kemasyarakatan, aktivis lingkungan. Lingkungan juga menjadi perhatian siapa saja, mulai dari anak- anak hingga orang dewasa. Bahkan, masalah lingkungan pun sudah mulai menjadi isu gereja.

Dua remaja siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Seminari St. Rafael-Oepoi, Kupang, Guido Umbu Yami dan Xaverius Timo Alupan, memperlihatkan kepedulian mereka melalui foto bertema lingkungan. Dengan foto hasil jepretan mereka, keduanya ingin menunjukkan kepada dunia bukti-bukti aktivitas manusia yang secara langsung sering juga merusak lingkungan.

Karya foto siswa calon imam ini diikutsertakan dalam Lomba Foto dan Esei Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran, Perantau Konperensi Wali Gereja Indonesia (KWI) yang bertema Merintis Keadilan dan Perdamaian di Indonesia.
Bangga. Itu sudah pasti bagi Guido dan Xaverius.

Tetapi sejatinya, keikutsertakan mereka dalam ajang ini bukan sekadar ikut pamer. Dari lomba ini mereka juga ingin menunjukkan perilaku manusia di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merusak lingkungan. Foto karya mereka berhasil masuk 10 besar nasional dalam lomba tersebut.
Foto karya Guido Umbu Yami bertema pembakaran lahan berhasil menempati posisi II nasional. Sementara foto karya Xaverius Timo Alupan bertema penyumbatan drainase menempati posisi VI. Tak pelak, keduanya bangga luar biasa. Foto-foto mereka terpilih masuk 10 besar dari sekitar 3.000 foto yang masuk ke meja panitia.

Namun prestasi juara dalam lomba tersebut bukan menjadi tujuan dua siswa ini. Mereka hanya ingin menunjukkan bahwa sudah sedemikian parah kerusakan yang dilakukan oleh manusia terhadap alam.

Kerusakan tersebut diyakini berakibat buruk terhadap manusia seperti halnya foto yang menggambarkan warga di Noelbaki yang merusak hutan dengan cara membakar. "Sebenarnya membuka lahan dengan membakar itu sangat tidak baik.

Itu sama dengan merusak ekosistem yang ada yang berdampak pada lingkungan. Bukan saja masa sekarang tapi masa depan juga," jelas Guido saat ditemui di SMA Seminari St. Rafael, Selasa (18/11/2008).

Selain itu, membakar lahan juga mengakibatkan udara tercemar. Apalagi asap hasil pembakaran ikut menyumbang efek rumah kaca yang berdampak pada penipisan ozon.

Menurut Guido, gambar yang diambil dalam foto tersebut adalah tentang warga di Noelbaki yang membuka hutan dengan cara membakar pada bulan Oktober lalu. Gambar tersebut sebenarnya bukan sengaja dicari-cari untuk obyek foto. Tidak. Sangat kebetulan dia melihat ada kebakaran lahan ketika itu. Tanpa diperintah, ia pun mengabadikan peristiwa itu.

Guido menuturkan, pesan yang ingin disampaikannya dalam foto tersebut bahwa saat ini masih ada saja orang yang berperilaku merusak hutan. Sementara di sisi lain banyak orang juga berusaha menyelamatkan lingkungan. Ia ingin agar masyarakat mengetahui bahwa perilaku merusak hutan tersebut masih ada hingga kini. Ia pun prihatin bahwa membakar lahan bisa menyebabkan kobaran api yang tidak terkendali sehingga menyebabkan area kebakaran menjadi luas.

"Masih ada cara lain kalau ingin membuka hutan, seperti mencangkul dan menebang pohon-pohon yang ada, tidak harus dengan cara membakar," jelas remaja kelahiran Kupang 30 September 1990 dari pasangan (Alm) Anton Paliosa dan Rambu Mosa ini.

Harapannya, foto tersebut bisa memberikan inspirasi bagi pihak- pihak terkait agar mengambil langkah-langkah menyadarkan orang-orang atau pelaku pembakaran lahan tersebut. Di sisi lain, pelaku pembakaran pun harus bisa melihat bahwa apa yang dilakukan tersebut bisa berdampak pada bencana lingkungan yang mengerikan. (alf)

Drainase, Saluran Air atau Penyakit?

SELAIN masyarakat pedesaan yang merusak lingkungan, ternyata warga Kota Kupang juga memiliki tabiat kurang baik. Banyak perilaku warga yang mengakibatkan lingkungan tercemar.
Setidaknya perilaku ini ditunjukkan Xaverius Timo Alupan dengan foto yang bertema saluran drainase yang tersumbat. Obyek foto berada di Pasar Oeba-Kupang tersebut diambil pada bulan September lalu.
Foto karya Xaverius ini memperlihatkan drainase yang tersumbat akibat warga sekitar yang membuang sampah sembarangan. Sampah-sampah seperti bekas plastik kresek, bungkusan makanan, bungkusan rokok dan berbagai jenis sampah organik dan anorganik, termasuk sampah plastik menumpuk pada salah satu bagian saluran drainase yang mengakibatkan air limbah rumah tangga tergenang.
Air yang berwarnah hitam pekat tersebut, menurut Xaverius, menebar aroma busuk dan menyengat. "Jadi, air yang tergenang itu sudah menjadi sarang penyakit. Sayangnya, warga sekitar belum sadar dengan hal itu," kata Xaverius yang ditemui di SMA Seminari St. Rafael-Oepoi, Kupang, Selasa (18/11/2008).
Menurutnya, tujuan dibuatnya drainase adalah agar limbah rumah tangga dalam bentuk cair tersebut bisa langsung mengalir ke tempat pembuangan akhir atau di ujung drainase tersebut.
Perilaku manusia membuang sampah sembarang mengakibatkan aliran limbah yang sudah mengandung unsur penyakit tersebut terhambat dan membentuk kubangan baru. Terang saja, drainase berubah menjadi sarang penyakit dan membuat pemandangan yang tidak menyenangkan.
Xaverius mengatakan, dengan fotonya ini dia ingin mengajak orang lain agar tidak seenaknya membuang sampah, apalagi membuangnya ke drainase atau saluran got. "Yang jelas, saya sangat prihatin dengan pemandangan itu. Sebenarnya saluran got ya untuk air, sedangkan sampah harus dibuang di tempat sampah," jelasnya.
Dari foto karya itu, Xaverius juga ingin mengajak para remaja untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap lingkungan. Caranya, ya dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Remaja juga bisa berkreasi mendaur ulang sampah menjadi benda-benda yang bisa digunakan lagi. Paling tidak, sampah yang ada dipisahkan menjadi sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik). Sampah organik tersebut bisa diolah lagi menjadi pupuk kompos atau pupuk organik. Siapa peduli? (alf)

Pos Kupang Minggu 23 November 2008, halaman 14

Lanjut...

Johny Kilapong S.Th, MA


Pos Kupang/Alfred Dama
Pdt. Johny Kilapong, S.Th, MA


Perkenalkan Pola Belajar yang Menyenangkan


MEMBANGUN suatu negara atau wilayah mutlak membutuhkan ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Dan untuk membangun SDM diperlukan pendidikan yang berkualitas. Masalah inilah yang sedang dihadapi oleh Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketertinggalan propinsi ini di sejumlah bidang tidak terlepas dari masalah ketersediaan dan mutu SDM yang erat kaitannya dengan persoalan kualitas pendidikan. Dengan kata lain, wajah dan hasil pembangunan berkorelasi dengan mutu pendidikan.

Salah satu masalah pendidikan di NTT adalah rendahnya minat siswa pada mata pelajaran tertentu seperti matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Bahasa Inggris. Mata pelajaran-mata pelajaran tersebut masih dianggap sulit, tidak diminati dan dihindari.

Berangkat dari kondisi ini pendeta muda Johny Kilapong S.Th, MA memperkenalkan konsep pendidikan modern dengan pola belajar yang menyenangkan. Interaksi belajar antarsiswa maupun antar guru dengan siswa dikembangkan dengan pola yang menyenangkan dan dengan demikian menggairahkan siswa. Hasilnya, anak-anak didik meminati mata pelajaran-mata pelajaran yang selama ini tidak disukai karena dianggap sulit. Ini sangat penting karena justeru mata pelajaran-mata pelajaran yang tidak disukai itu, sebut misal matematika, Bahasa Inggris dan IPA, yang menjadi penentu kualitas pendidikan.

Ditemui di kantor Lembaga Pendidikan Generasi Unggul-Kupang, belum lama ini, Kilapong mengatakan, ada begitu banyak sisi menyenangkan dari mata pelajaran-mata pelajaran yang selama ini dipandang sulit sehingga tidak disukai siswa. Berikut ini petikan wawancana Pos Kupang dengan Kilapong tentang pola pembelajaran yang menyenangkan siswa itu.

Anda mendirikan lembaga pendidikan yang fokus pada pelajaran Matematika, IPA dan bahasa Inggris. Megapa?
Jadi latar belakang megapa kami membangun Lembaga Pendidikan Generasi Unggul dan dimulai dengan salah sati divisi yang namanya Supermarth Plus, didasari ketergugahan akan kualitas pendidikan di NTT, khususnya di Kota Kupang. Dasar pemikirannya begini, kalau kita memimpikan sebuah kota yang maju dan berkembang, maka salah satu sisi yang harus disentuh adalah pendidikan. Setiap negara yang maju harus dimulai dengan membangun bidang pendidikan yang outputnya adalah kualitas SDM. Kita bercermin pada Israel, Jepang, Cina, Amerika, Jerman, Perancis. Negara-negara itu selalu menekankan pendidikan. Di Indonesia sangat disayangkan karena anggaran pendidikan paling rendah di seluruh Asia.

Inilah, saya dan teman-teman di lembaga ini mulai menyuarakan kepada pemerintah dan masyarakat untuk kita bersama-sama fokus pada pendidikan sehingga terbentuklah lembaga pendidikan ini dan divisi yang pertama adalah Supermath Plus yang fokus pada tiga bidang yaitu matematika, IPA dan bahasa Inggris.

Mengapa tiga mata pelajaran itu yang jadi perhatian utama?
Matematika itu bidang yang sangat dibutuhkan semua orang. Kalau kita mau menikah, kita mau pacaran, semua harus dengan matematika karena ada perhitungan matematisnya. Mulai usaha pun kita berhubungan dengan matematika dan di bidang ini tidak boleh dianggap remeh. Yang kedua IPA. Untuk membangun dibutuhkan ahli-ahli bidang fisika, kimia, biologi yang harus dipersiapan sejak dini. Kebetulan tiga bidang ini sangat tidak disukai. Jadi kami mencoba membantu pemerintah dalam membangun dunia pendidikan melalui tiga bidang itu. Memang masih ada lagi bidang sementara digarap seperti pelatihan-pelatihan yang kita tawarkan ke pemerintah, kepada instansi, perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan kualitas SDM.

Perusahaan-perusahaan besar sudah pasti merekrut karyawan sesuai standar kerja perusahaan itu. Jadi SDM harus bagus. SDM yang saya maksudkan di sini adalah bagaimana pelayanannya, keterampilan yang minimal berstandar nasional. Contoh, di bank-bank, pelayanan harus excellence. Di kantor-kantor pemerintah seperti Dinas Pendidikan, pelayanan di sana pun harus excellence dalam melayani masyarakat yang mengurus akte-akte, KTP dan lain-lain. Nah kalau tidak excellence maka ini menunjukkan wajah pemerintah kita.

Tadi Anda mengatakan bahwa IPA, bahasa Inggris, Matematika tidak diminati anak-anak kita karena dianggap sulit. Bisa dijelaskan?
Kalau kita bicara logika umum saja, kenapa orang tertarik pada sesuatu. Kalau dia tetarik terhadap sesuatu itu berarti dia merasa hal tersebut bermanfaat untuk dia. Kenapa orang bikin seminar kurang banyak orang yang datang karena orang merasa tidak merasa mendapat manfaat dari situ. Tapi kalau saya mendapat maanfaat saya akan bayar itu, jadi semua kembali ke manfaat diri. Kedua, mungkin bermanfaat tapi orang kurang tertarik. Nah dimana yang kurang? Pengetahuan kita bahwa anak-anak tertarik karena sudah dikasih tahu manfaatnya. Tapi mungkin cara megajar yang belum ada daya tarik bagi si anak.

Contohnya kalau dulu, matematika menjadi momok karena guru matematika sering menggunakan kayu untuk pukul. Jadi sudah pegang kayu dulu baru mengajar, guru sudah menunjukkan muka sangar. Rata- rata anak memiliki pandangan buruk kepada guru matematika, bukan pada pelajaran matematika karena rata-rata guru matematika itu sering menggunakan pendekatan kekerasan dan tidak menyenangkan. Jadi kita mau mengubah image masyarakat, image anak terhadap figur guru kita dan juga mata pelajaran serta metode pembelajaran mata pelajaran tersebut. Jadi tiga hal ini yang kita fokus. Jadi kita ubah figur guru menjadi menyenangkan dulu.

Dan, yang kedua dia harus memiliki metode pembelajaran yang bagus, yang menyenangkan. Yang ketiga kita membentuk suasana pembelajaran yang sehat dan menyenangkan, supaya ketika mereka masuk, mereka merasakan bahwa ini bukan tempat mereka disandera atau tempat mereka disiksa melainkan tempat yang menyenangkan. Jadi kalau tiga hal ini sudah kita ciptakan maka saya yakin anak-anak akan senang.

Apakah ada metode khusus?
Kita punya metode namanya GATIF yakni jadi gampang asyik dan kreatif. Kalau mata pelajaran ini orang dengar gampang maka semua orang akan senang. Kalau sudah susah walaupun banyak manfaat maka dia tidak tertarik. Nah bagaimana dibuat gampang maka kita memadukan dengan figurnya saja, dari pribadinya, dari strategi, dari fasilitasnya dari suasana dan dari cara mengajarnya. Nah, kedua dalam pembentukan suasana kalau bisa sulap-sulapnnya, ada nyanyinya, ada permainan, ada kuis- kuisnya, ada gamenya, jadi anak-anak senang sekali. Nah, terus kreatif. Guru harus kreatif. Dia tidak boleh monoton saat mengajar. Dia harus cari bahan-bahan yang baru. Dia harus cari permainan-permainan yang baru setiap hari dia harus juga mengubah metode pembelajaran. Jadi ini yang kita buat sehingga anak-anak menikmati suasana belajar menyenangkan.

Bagaimana agar guru bisa tampil menyenangkan? Sebab sosok guru umumnya kaku, sok wibawa, sok paling pintar.
Memang waktu kita rekrut mereka, kita melatih mereka tidak saja dengan pelatihan tentang metode pembelajaran matematika, IPA atau Bahasa Inggris yang benar tapi kita juga mengubah cara mereka tampil di kelas. Temperamen manusia itu ada empat, yaitu ada yang namanya sanguin, melankolis, koleris, phlegmatis. Sanguin itu orangnya suka rame seperti saya. Kalau melankolis mungkin seperti Anda, senang menulis, orangnya tenang, senang mencari ide.

Kalau saya sering terbuka, ngomong saja. Kalau koleris itu leadership, dia orang yang tegas, pokoknya dia bilang A ya A, kalau B ya B. Jadi dia kuat dalam leadhership. Dan keempat adalah phlegmatis atau orang yang penuh pertimbangan. Orang ini bisanya selalu mempertimbangkan meskipun orang lain sudah menuntut segera ambil keputusan. Nah guru- guru yang berwatak sanguin pasti disenangi anak-anak, jadi pokoknya dia interaktif, dia senang merangkul. Kita tidak bisa merubah phlegmatis menjadi sanguin, tapi minimal kita berusaha agar guru-guru berkepribadian yang hangat, akrab dengan orang, yang tidak jaim (jaga imaje), jadi dia ramah.

Jadi kita di sini lebih pada bagaimana kita membagi kasih. Kita menyampaikan kepada menthor bahwa kalian di sini bukan saja sebagai menthor atau guru yang mendidik tapi kalian juga sebagai bapak dan ibu anak-anak siswa di sini. Jadi selalu bangun hubungan bathin. Care, itu yang paling penting. Saya anjurkan pada mereka agar selalu berusaha memahami masalah anak-anak sehingga anak-anak dibuat nyaman di dekat mereka. Anak-anak dibuat familiar dengan mereka sehingga anak- anak tidak jauh dari mereka tapi tetap disiplin. Jadi menyenangkan ya seperti itu, pribadinya tidak kaku, kita ubah pelan-pelan. Jadi waktu masuk, mereka harus menyapa hello, apa kabar adik-adik, selamat sore, gimana.... Tapi kalau waktu masuk langsung ayo kita mulai, maka anak- anak langsung bosan. Jadi biar berbagai macam temperamen tapi kita mencoba membuat suatu standarisasi kepribadian guru di tempat ini, ya harus ramah. Kami larang guru untuk bentak-bentak murid tapi harus ramah dan menyenangkan. Penuh kasih. Tegur boleh, untuk kebaikan anak. Disiplinkan mereka bila mereka salah, tapi tidak boleh tampar, pukul atau bentak-bentak. Tidak boleh kata-kata negatif. Di sini kita bentuk lingkungan yang positif.

Selain guru yang menyenangkan, bagaimana agar anak-anak termotivasi untuk giat belajar?
Guru-guru di sini juga harus memberikan apresiasi pada murid-muridnya saat menjawab pertanyaan. Walaupun dia menjawab benar sedikit saja, kita bilang bagus dan katakan bahwa lain kali harus lebih baik lagi. Jadi anak-anak itu harus diapresiasi dengan pujian karena setiap kita kalau diberi pujian biasanya ingin berbuat lebih baik lagi. Contohnya di perusahaan, kalau kita buat bagus pasti mendapat apresiasi bahkan mendapat penghargaan.

Demikian juga anak-anak. Ini tips-tips motivasi yang sebenarnya di Jakarta lagi marak, dimulai di Singapura, Korea dimana mereka mulai melengkapi dengan tips-tips pembelajaran. Kemudian di dinding-dinding ada moto-moto, slogan-slogan yang memotivasi anak-anak. Misalnya kita d isini pasang spanduk, "Selamat datang putera-puteri harapan bangsa", "Di sini kamu pasti bisa, kamu pasti sukses". Itukah bahasa-bahasa motivasi.

Di sini disiapkan multi media.
Memang multi media ini adalah alat peraga yang kita gunakan untuk melengkapi proses pembelajaran yang efektif, bukan karena jaman sekarang adalah jaman multi media. Ada anak-anak yang senang belajar karena diperlihatkan atau ginestetik. Anak yang ginestetik melihat dan senang. Anak yang oditory, dia senang hanya mendengar saja sudah cukup. Ada juga yang visual yaitu melihat gambar-gambar. Kami mencoba semua sehingga setiap anak betul-betul merasa bisa memahami sesuai dengan apa yang kita harapkan. Mungkin 99 persen anak senang pakai multimedia.

Seperti apa hasil dari metode pembelajaran yang Anda kembangkan di sini?
Ada beberapa kesaksian. Tahun lalu ada seorang bapak yang sampai menangis. Bapak itu punya anak kelas 5 SD, dan nilai raport matematika cuma 6. Waktu di kelas 6, bapak itu masukkan anak ke SuperMath dan nilai matematika di ujian nasional anaknya itu 8,25. Bapa itu terharu. Saya juga terharu.
Saya juga pernah usai memberikan pelayanan di gereja Bethani, ada yang menghampiri saya mengatakan bahwa keponakannya bapak itu tidak suka belajar matematika dan setelah masuk ke sini satu bulan, anak ini mulai rajin, bahkan anak itu belum mau tidur sebelum menyelesaikan PR matematika. Secara umum, anak-anak mengalami peningkatan dalam belajar. Kita bisanya melakukan evaluasi dua minggu sekali dimana rata- rata peningkatan hingga 70-80 persen setiap anak. Kita mendidik anak ini sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing sehingga larinya sama atau tidak ada yang ketinggalan. Memang ada juga yang tidak mengalami peningkatan, ada yang mengalami peningkatan sedikit sekali, tapi rata-rata naik.

Apakah ada komplin tentang penerapan cara belajar yang berbeda dengan di sekolah-sekolah pada umumnya?
Belum ada komplain. Malah ada sekolah yang berterimakasih. Jadi guru- guru datang ke sini dan menyampaikan terimah kasih dan menyampaikan murid-muridnya mengalami peningkatan yang luar biasa dalam belajar. Ini berarti sekolahpun mendukung dan merasa terbantu. Kehadiran kami bukan untuk menyaingi siapa-siapa tetapi membantu pemerintah. Dan, pemerintah sekarang mulai peduli dan perhatian pada kita.

Apakah para orangtua beharap terlalu banyak ketika mereka menitip anak-anak mereka di tempat ini?
Ia, memang kita memahami orangtua menitipkan anaknya di sini, dia pasti memiliki ekseptasi yang sangat tinggi, harapan saat ini bahwa di lembaga ini bisa mengubah anaknya dalam hal nilai pelajaran. Tapi sebenarnya nilai itu bukan yang paling utama. Sebenarnya kita mau menyampaikan ke masyarakat bahwa perubahan di sini berupa jangka panjang mulai sikap- sikap kebiasaan buruk, kita ubah di sini, seperti tadi anak yang tidak suka belajar jadi suka belajar. (alfred dama)


Idolakan Sam Ratulangi

JOHNY Kilapong S.Th, MA punya hobi belajar dan mengajar. Tidaklah heran apabila pria yang selalu tampil enerjik ini kerap tampil menjadi pembicara dalam seminar atau workshop.
Sebagai seorang pendeta yang juga pengajar, Johny Kilapong selalu menghabiskan waktu luang dengan membaca, merancang materi-materi pembelajaran dan menyusun naskah khotbah untuk jadwal pelayanan. "Hobi saya belajar, susun materi, susun khotbah, dan saya senang untuk melatih dan mengajar orang," jelasnya.

Dasar ingin maju dalam dirinya dikarenakan ingin memajukan orang lain. Ini tidak terlepas dari tokoh yang diidolakan yakni pejuang asal Sulawesi Utara, Sam Ratulangi yang terkenal dengan moto Situ Timo Timotou. "Jadi saya senang melihat orang maju. Bagaimana supaya orang ini berhasil. Jadi kita hidup agar orang lain hidup, bukan kita senang melihat orang lain menderita. Sejak kuliah, saya sudah punya visi bagaimana agar hidup saya ini bisa berguna bagi banyak orang, bisa melatih banyak orang. Jadi saya ingin mengajar orang lain sesuai dengan ilmu yang saya punya," jelasnya.

Sebagai seorang pendeta, Johny juga harus siap menerima tugas di daerah terpencil dan kini ia menjadi gembala di sebuah gereja Kristen di Tarus-Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. "Sekarang saya melakukan pelayanan di Kupang Tengah. Kalau dipikir secara ekonomi, ngapain saya ke sana. Tapi itu namanya panggilan, kalau itu panggilan maka kita tidak akan mengukur dengan duit. Ukuran panggilan adalah seberapa berkat diri kita untuk oranglain," jelasnya.

Moto hidup Johny adalah hidup bagi Kristus, mati adalah keuntungan. Sehingga melakukan yang terbaik saat ini lebih baik untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat. (alf)

Data Diri
Nama : Pdm Johny Kilapong S.Th, MA
Istri: Pdp. Lidya Kilapong Bernardus, S.Th, MA
Anak: 1. Gloria Sharon Bernarditha Kilapong,
2. Justin Jonathan Kilapong


Pendidikan SD GMIM Bitung Amurang Manado Tamat Tahun 1987
SMPN I Amurang Manado Tamat Tahun 1991 :
SMA N 1 Amurang Manado Tamat Tahun 1994 :
S1 Sekolah Tinggi Teologia Siloam Internasional Jakarta Tamat Tahun 2003
S2 STT Siloam Internasional Jakarta Tahun 2005 :


Pekerjaan dan Jabatan
Wakil Gembala Jemaat GBI Exousia Tanah Merah
Ketua Yayasan Indonesia Jaya
Ketua STT Destiny Kupang
Pendiri dan Pemilik Lembaga Pendidikan Generasi Unggul SuperMath Plus (Bimbingan Belajar Matematika, Sains dan Bahasa Inggris dengan jumlah siswa angkatan ke-2 550 siswa dan 25 Mentor).


Pos Kupang Minggu 23 November 2008, halaman 3
Lanjut...

Tawuran

Parodi Situasi

MASA depan anaknya sudah direncanakan dengan baik. Tamat SMA masuk Perguruan Tinggi yang bebas tawuran. Namun apa daya, kenyataannya anak-anaknya semua masuk kuliah di kampus yang mendapat julukan Universitas Tawuran. Anak sulung terjebak di Universitas Tawuran di Ujung Pandang, anak nomor dua terjerumus dalam Akademi Tawuran Jakarta, belum lagi anak sulung adiknya juga masuk Sekolah Tinggi Tawuran di Surabaya, sepupu adik iparnya juga sekarang lagi kuliah tingkat akhir di Politeknik Tawuran di Medan.

Yang jelas, dari segenap keluarga besarnya yang tersebar di seantero Nusantara ini, tidak ada satu pun yang luput dari sekolah tinggi yang entah mengapa berkaitan langsung dengan tawuran. Itulah alasannya, mengapa dia tidak mau anak bungsunya sekolah jauh-jauh. "Biar dekat-dekat sa... di universitas bebas tawuran," demikian kata Benza meyakinkan dirinya sendiri.
***
"Nyatanya kena juga si Benza!" Komentar Jaki. "Universitas yang ada di depan hidungnya, juga tawuran. Sayang sekali, Hukum dan Politeknik!"
"Mengapa kekerasan jadi mode di Tanah Air tercinta ini?" Tanya Rara. "Kekerasan seperti sedang meringis!"
"Bukan meringis tetapi menyeringai!" Sambung Jaki.
"Dari Jakarta sampai ke bagian Indonesia yang paling pelosok kekerasan meraja lela. Mengapa ya?" Tanya Rara.


"Sudah barang biasa. Bahkan hukum, undang-undang, kebijakan, dan berbagai aturan untuk kehidupan bersama juga tidak luput dari nuansa kekerasan. Kecenderungan satu menguasai yang lain memang lagi trend di negara kita yang katanya terkenal sebagai sebuah bangsa religius yang ramah tamah ini... Kasian deh, kalau kita juga ikut-ikutan kena polusi. Bayangkan! Kalau tawuran sudah masuk kampus... " Jaki menggeleng-geleng. "Ini pasti gara-gara anakmu yang kuliah di hukum. Kalau anaknya Benza tidak mungkin. Kalau anakku yang kuliah di Politeknik juga tidak mungkin."

***
"Apa aku tidak salah dengar?" Rara menyambar. "Jangan sembarang tuduh! Justru anakmu di Politeknik yang cari gara-gara lebih dulu!" Kata Rara sambil mendorong Jaki. Keduanya pun saling mendorong dan entah siapa yang memulai, Jaki dan Rara berkelahilah sampai babak belur. Pengaruh terkejut dan shock, Nona Mia pun jatuh semaput tidak sadarkan diri. Padahal Nona Mia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Dalam sekejab kedua keluarga Jaki dan Rara datang dan saling serbu dan tawuran antarkeluarga terjadilah. Benza yang berdiri di tengah untuk meredahkan amuk masa malah dikeroyok sampai bengkok. Datanglah ketua RT, ketua RW, kepala desa, camat, bupati dan wakilnya, gubernur dan wagup untuk meredahkan suasana tawuran. Tidak ada satu suara pun yang didengar. Tawuran berjalan terus. Tawuran baru berhenti ketika dua peleton manusia bersenjata turun lapangan dan meledakkan senjatanya ke udara. Kekerasan pun dihentikan kekerasan.

***
Untung Nona Mia hanya semaput. Nona Mia duduk termangu sambil berlinang air mata. Nona Mia sedang mengenang Sisilia Radja saudarinya yang meninggal akibat shock menyaksikan tawuran. Sementara di televisi, entah komisi apa yang sedang sidang di gedung rakyat, membahas soal rancangan undang-undang kekerasan yang harus diberlakukan untuk bangsa tercinta. Salah satu pasal yang langsung disetujui anggota komisi adalah soal main hakim sendiri. Orang-orang yang dijuluki intelektual perguruan tinggi dan masyarakat umum dipersilahkan main hakim sendiri.
"Ada apa Nona Mia?" Tanya Jaki.

"Kenapa Nona Mia menangis?" Rara pun penuh perhatian. Sementara Benza menahan nafas. Matanya terpaku di televisi menyaksikan apa yang terjadi. RUU Kekerasan yang syarat pasal main hakim sendiri sudah jadi undang-undang! Tawuran dilegalkan? Perguruan Tinggi diperbolehkan membuat kurikulum main hakim sendiri? Apakah akan sama dengan UU Pornografi yang memberi peluang main hakim sendiri?
"Apa? Jadi kita bebas berkelahi dimana saja? Bebas mengganyang apa aja? Bebas tawuran? Asyiiiik..." Jaki terbelalak entah senang atau sedih.

"Anak-anak perguruan tinggi juga bebas main hakim sendiri?" Rara terkejut. "Bagaimana pendapatmu Benza? Aduh sakit hatiku!"
***
"Kita semua memang sedang sakit ..." suara Benza hampir tak terdengar. (maria matildis banda)

Pos Kupang Minggu 23 November 2008, halaman 1

Lanjut...

Menjadi Jagoan

Cerita Anak

ALANGKAH girangnya Ian ketika didaftarkan ayahnya pada perguruan bela diri di dekat rumahnya. Tidak puas-puasnya dia mematut diri di hadapan cermin. Dengan seragam bela diri seperti itu dia tampak sangat gagah. Tidak ubahnya Jackie Chan atau Jet Lie, jagoan yang sering disaksikannya di layar televisi.

Ciat, ciat, haaap, iya..... Ian memperagakan beberapa jurus seperti yang biasa dilakoni para jagoan itu di televisi. Ibu yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Ian tersenyum geli dibuatnya.

Hari yang dinantikan pun tiba. Dengan gagah Ian melangkah menuju lapangan tempat perguruannya berlatih. Mereka pun disuruh berbaris dan memperkenalkan dirinya masing-masing di dalam barisan itu. Setelah melakukan peregangan otot, mereka disuruh berlari mengitari lapangan. Dua putaran masih dilalui Ian dengan baik. Memasuki putaran ketiga Ian sudah tidak kuat.

Untuk mengangkat kaki lagi rasanya sangat berat. Akibatnya tersandung akar pohon sedikit saja, Ian langsung terjerembab dan terpental keluar lapangan.

"Wah, payah. Mulai besok aku akan meminta ayah untuk mendaftar ke perguruan bela diri yang lain," gerutu Ian dalam hati. "Bukannya mengajarkan jurus-jurus jitu untuk berkelahi, malah disuruh berlari sampai terjatuh dan bonyok seperti ini.

Pasti ada yang salah dengan cara berlatih di perguruan bela diri ini." Ian kembali ke rumah dengan wajah lesuh dan kecewa.

****

Malam harinya sepulang kerja ayah menanyakan tentang hasil latihan hari pertama pada Ian.

"Ya seperti yang ayah lihat. Muka dan sekujur tubuh bonyok. Akibat disuruh berlari mengelilingi lapangan. Kalau boleh ayah mendaftar saya ke perguruan lain saja," pinta Ian.
"Kebetulan ayah tadi singgah di toko yang menjual plat DVD.

Ayah belikan beberapa film mengenai riwayat para jagoan bela diri untuk kamu. Kamu boleh pindah ke perguruan lain asalkan kamu sudah selesai menonton film-film itu," jawab ayah enteng.
Ian langsung memasang dan menonton film-film itu di kamarnya.
Ternyata para jagoan itu harus melalui latihan yang jauh lebih berat dari yang harus dilaluinya. Ada yang diharuskan menimba air oleh gurunya dari sungai yang sangat jauh dari perguruannya. Ada yang harus membelah kayu dengan kapak besar dan membawanya pulang dari hutan ke perguruan.

"Semua itu sepintas terlihat seperti tidak ada hubungannya dengan latihan yang sedang dijalani para jagoan itu. Tetapi itu semua harus mereka jalani. Selain untuk menempah ketahanan fisik mereka, juga untuk membina watak dan mental mereka.

Mereka harus sabar, rendah hati, jujur dan tulus, baik kepada sesama maupun terhadap diri sendiri. Sehingga nantinya dalam menghadapi permasalahan, mereka dapat menguasai diri mereka sepenuhnya dan baru bertindak disaat benar-benar diperlukan," jelas ayah yang sedari tadi sudah berada di samping Ian.

****

Keesokan paginya ketika hendak berangkat kerja, ayah kembali menghampiri Ian. "Bagaimana, jadi ayah daftarkan ke perguruan lain?" tanya ayah ingin memastikan.

"Tidak ayah. Ian akan tetap berlatih di perguruan itu. Apa pun bentuk latihannya harus Ian jalani dengan penuh rasa tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap ayah yang telah mendaftarkan Ian, juga tanggung jawab akan cita-cita yang sudah Ian canangkan, yakni menjadi jagoan sejati," tegas Ian.

"Nah, ini baru benar-benar jagoan ayah," puji ayah bangga.
(petrus y. wasa)

Pos Kupang Minggu 23 November 2008, halaman 15
Lanjut...

Gemuruh Hati Leticia

Cerpen Rosalina Langa Woso

WAJAH perempuan berkepala lima itu tampak kusut. Garis-garis ketuaan melingkar hampir di seluruh kelopak matanya. Sambil tersenyum dengan kepala sedikit merunduk, Leticia menyodorkan selembar sertifikat kepada Ara. Lety, begitulah sapaannya, menatap penuh harap. Lima juta rupiah bisa diperolehnya saat itu dengan menggadaikan sertifikat tanah.

Lahan seluas tiga ratus meter persegi dengan bangunan permanen, harus dijual di bawah tangan. Paling tidak, sudah ada modal awal pernikahan putrinya Sonya dengan Andy. Pemuda asal Oepoli, yang melamar via service masage system (SMS) itu nekad buat pahe (paket hemat). Satu minggu ambil cuti, langsung pinang dan bersanding di pelaminan.

Andy, perjaka yang bekerja sebagai buruh pada sebuah perkebunan kelapa sawit di Riau Pekanbaru, Sumatera telah mencuri hati Sonya. Setiap pesan yang masuk melalui handphone, hati karyawan pada sebuah supermarket kenamaan di Kota Kupang itu luluh lantah. Maklum. Andy akan 'memberondong' dengan segudang pertanyaan. Sangat mirip dengan iklan pacar posesif yang terpampang di sudut kota. "Di mana? Dengan siapa? Sudah makan atau belum? Jam berapa kerja? Jam berapa pulang? Siapa yang jemput? Sudah tidur atau belum?" Deretan pertanyaan yang membuat hati Sony geli dan tertawa panjang.

Cinta memang mampu menembus ruang dan waktu. Kedua hatinya rekat hanya melalui pesan yang sebenarnya salah nyasar. Lety tersenyum kecut, bila mengenang wajah Sonya yang ceria dan semangat, menceritakan kisah-kasihnya bersama Andy.

Awalnya, Andy mengirim pesan lamaran itu kepada Rani, teman kelas esempe dulu. Maklum, nomor Rani dan Sony bedanya tiga dan empat di angka terakhir. Pesan melalui dua belas digit itu seharusnya ditujukan kepada Rani, serta nyasar. Pesan itu pun berlalu tanpa dikendalikan.

Sonya yang sibuk layani pembeli dibuat ketar-ketir saat membaca pesan lewat SMS itu. "Kamu sudah siap untuk dilamar? Dua bulan lagi saya pulang." Itulah pesan yang menjadi awal kisah kasih mereka berdua. "Siapa ya? Nomor ini tidak tercatat," balas Sonya tidak kalah tegas.

Lety tersentak. Ara yang dikenalnya dalam kelompok arisan satu kampung itu belum siap menyatakan kesediaan untuk memberikan pinjaman. Padahal, sejak sepuluh menit yang lalu, ayah dua anak itu telah bolak-balik membaca sertifikat rumahnya yang beralamatkan di pesisir pantai Kelurahan Oesapa. Jantungnya berdegup kencang manakalah Ara dengan mesra memanggil istrinya. "Teto..." suara Ara lembut. Agatha tergopoh-gopoh menghampiri suaminya. Dua kali Ara memanggil sebutan itu, pangilan sayang untuk perempuan yang menyimpan berbal-bal cinta untuknya. Cinta tanpa batas, tanpa pamrih yang telah memberinya status ayah dua anak.

"Teto. Ini ada Tanta Lety, mau pinjam uang dengan gadaikan sertifikat tanah," ujar Ara tenang sambil menatap istrinya yang duduk bersisian. "Kenapa tanta harus repot-repot antar sertifikat segala, kalau pun ada uang pasti kami bantu," timpal Agatha.
Agatha sangat mengerti. Perempuan yang nyaris beringsut di hadapan mereka itu telah putus asa untuk mendapatkan uang. Jauh-jauh hari, Sonya telah bercerita, kalau dirinya akan dilamar dan menikah. Tidak heran, ibunya harus pusing tujuh keliling untuk menyiapkan acara resepsi.

Lety bukan perempuan biasa. Tiga puluh tahun silam, dia adalah pemilik tubuh sintal dengan leher jangkung. Rambut hitam legam, panjang terurai sebatas bahu. Dia tampak sempurna dengan bulu mata lentik memagari bola matanya yang bundar, bening dan meneduhkan. Senyumnya menebar pesona dan tertawa lebar sambil memperlihatkan giginya yang gingsul.

Pesona itu masih ada, tersimpan rapi dalam batinnya yang setia dan ramah menyapa siapa saja. Ia lebih banyak diam saat berada dalam pertemuan keluarga, arisan ataupun bersama tetangga menikmati rujak cingur.
Kesulitan mencari lembaran rupiah untuk menyekolahkan tiga buah hati membuatnya lebih bijak dan mandiri. Garis-garis ketuaan di wajahnya yang bundar, merupakan saksi hidup baginya bahwa ia lebih banyak didera kesulitan ekonomi rumah tangga.
Satu persatu kekayaan miliknya ludes tergadai, saat terhimpit kebutuhan rumah tangga. Sofa lusuh satu set berwarna merah yang dideretkan ruang tamu menjadi satu-satunya barang mewah. Ruas jendela yang dipetak-petak dengan kaca nako tampak retak sana sini.

Sementara plafon rumahnya yang terbuat dari tripleks kian lusuh, sobekannya menjuntai nyaris menutupi lampu neon di langit-langit kamar yang disesaki banyak tamu. Sekuat tenaga, perempuan asal Sabu itu membangun tiga petak rumah untuk dijadikan kos-kosan yang sampai saat ini belum berdaun pintu dan jendela.

Rumah induk yang kini dihuni, sebagiannya dikontrakkan kepada mahasiswa, pengantin baru, para pendatang dari pulau seberang. Sementara di sudut dipannya sendiri, berdiri mesin jahit singer yang kusam. Deru mesin tua itu, terdengar ngos-ngosan saat merakit baju, kain pintu, gorden ataupun taplak meja langganannya. Deru mesin yang setia menemani hingga tengah malam, bahkan menjelang subuh saat pesanan jahitan menumpuk.

Lety bekerja serabutan untuk menghidupi hari-harinya yang panjang dan menggetirkan. Tujuh tahun silam, ibu tiga anak itu, pernah tertangkap tangan saat mengisi kayu cendana kelas satu asal SoE dalam tas pakaian.

Aroma santalum album yang terancam punah itu, membuatnya harus satu jam diadili petugas perbatasan. Dia kecewa harus pulang dengan tangan hampa. Tas itu ringan tanpa isian barang selundupan. Padahal, batinnya berbunga-bunga. Sepuluh kilogram kayu cendana itu bisa dijual untuk uang semester anaknya di Universitas Nusa Cendana
Dia sadar, dirinya hanyalah janda yang tidak memiliki kekuatan lobi untuk lolos dalam pemeriksaan itu. Ia pun digiring dan dicerca seperti penjahat perang dengan belasan pertanyaan yang menghina dan menyudutkan bathin. Padahal, dalam ingatannya yang mulai rapuh, dia banyak dengar ada banyak pejabat dan pengusaha lolos membawa berton-ton hasil hutan ke luar daerah.

Lety tersenyum sambil memperbaiki posisi duduknya. Lembaran rupiah berhasil diboyong dari hasil gadaian sertifikat. Dia tersenyum kecil bila mengenang peristiwa itu. Sony telah menyandang gelar sarjana. Pekan depan, perempuan yang mewarisi wajah suaminya itu resmi menjadi nyonya Andy, lelaki yang sebentar lagi memboyongnya ke perkebunan kelapa sawit.

Hari itu, Lety mengenakan kebaya merah hati dipadu dengan sarung sabu, motif lontar dibagian kakinya tampak jelas dipadu dengan sendal slof senada dengan kebaya. Dia anggun dengan sanggul moderen, diapit kembang melati. Mentari kemuning mulai rebah di kaki langit, menjemput sang malam untuk kembali keperaduannya. Wajahnya sedikit gugup, saat Master Ceremony (MC) memintanya untuk berdiri untuk mengapit putrinya menuju kediaman menantunya di Oepoli.

"Poly...," guman Lety dalam hati. Langkahnya gamang saat keluar dari ruang tamu. Tubuhnya nelangsa, bathinnya bergemuruh menahan gejolak yang mendera-dera sepanjang hari itu. "Kamu biarkan saya sendiri mengantar Sonya," ujar Lety sambil menebar senyum kepada penghuni tenda biru.

Pikirannya jauh menembus gedung kokoh di hadapannya. Jemarinya diremas-remas untuk menghalau kegalauan hati. Wajah Poly menari-nari, merasuk sukma, membangkitkan semua kenangan bersama di rumah tua itu. Lelaki yang dikenalinya di sebuah pesta keluarga, dua puluh lima tahun silam.

Kala itu, Poly tampil tenang dan tampan. Rambut cepak rapi dengan kulit wajah hitam manis. Tubuhnya atletis. Ia gagah mengenakan baju coklat berlengan pendek, dadanya bidang dipenuhi rambut, menyembul, saat dua kancing dibiarkan terbuka. Dandannya rapi. Lety tidak berdaya, manakala bola mata lelaki itu mengejarnya tanpa kedip. Memberinya kehangatan dan api cinta.

"Kamu pernah nonton acara balapan, ada yang harus mendahului garis finish. Itu tidak berarti, yang kemudian tidak mencapai garis finish kan ? Sama halnya dengan cinta yang kita rajut. Balapan itu ibaratnya menuju samudra cinta, kau dan aku sama-sama menuju ke garis finish itu," tukas Poly yang bertandang ke rumahnya, saat Lety masih berusia tiga puluh dua tahun.

Lety terdiam. Tubuhnya nyaris tak bergerak, saat Poly mendekapnya dalam-dalam. Lengan kokoh itu terlalu kukuh untuk ditepiskan. Ia biarkan, bibir yang ditumbuhi kumis terawat, mengulum mesra. Gelora cinta mendayu-dayu, menjalar sepanjang tubuh. Merintih, lalu tergolek dalam diam, setelah melepas semua himpitan dalam satu tarikan nafas yang amat panjang.

Mereka terbangun, saat hangat mentari pagi menjilati tumit lewat daun jendela yang tersingkap. Lety terperangkap dalam benih cinta, dia terlanjur dipantuli cahaya. Diam dan pasti, dibiarkan cahaya itu merasuk dalam sukmanya. Ditahtahkan jauh menjalar lewat nadinya yang setia berdenyut. Ia baru sadar, ketika buah hatinya tumbuh dalam rahimnya. Lelaki yang membuahinya itu bukanlah perjaka ting-ting. Ia telah beristri dan beranak tiga.

"Trimakasih, atas kesediaan untuk tidak sentimentil. Kamu bukan perempuan biasa. Ketenanganmu dalam bicara, kemurahan hati dan diam dalam tindakan, membuatku selalu nyaman bersamamu," puji Poly di lain saat, sambil mendekapnya ke dalam dadanya yang bidang.

Pujian itu adalah cemeti baginya untuk tidak terlalu cengeng saat melewati ribuan jam tanpa suami. Tubuhnya nelangsa, ia takut hari-hari hidupnya akan menimpa putra- putrinya. "Tidak, cukup aku saja yang melewati kegetiran ini. Sonya tidak bersalah, ia terlahir dari dua hati kami yang saling mencintai," tepis Lety dalam hati sambil beranjak dari tempat duduknya.

Aku sudah terlanjur mencintai Poly. Cintanya harus kupahami bukan sebagai suatu kesalahan yang harus dihukum. Ia telah mati terkubur dengan nisan yang mulai kabur termakan usia. Jenazahnya sudah menyatu dengan tanah liat, di pekuburan umum yang kini masih jadi polemik akan terjadi pencemaran air bawah tanah.

Didekapnya Sony kuat-kuat, detak jantungnya berpacu lebih cepat. "Pergilah... Andy sangat mencintaimu. Engkau akan merasakan betapa indahnya hidup ini, bila hidup bersanding dengan lelaki yang lebih mencintai daripada dicintai," ujar Lety menahan haru.
Malam itu, akhir November. Cahaya rembulan masih berpendar di atas batu karang, pucuk ilalang muncul setelah sepuluh bulan rebah, hilang di telan bumi. Remang-remang, deru mobil menghilang meninggalkan tenda biru, membawa pergi buah hati. "Poly, kau adalah sebuah kata cinta yang tak bisa kumaknai sampai kapanpun," bathin Lety bergemuruh. *

Pos Kupang Minggu 23 November 2008, halaman 6
Lanjut...

Puisi Vinsen Making

Indah
(Buat Seorang Gadis Bali)

Warna pelangi membias
Antara celah dedaunan cemara
Yang menyimpan sejuta rahasia
Antarkan jiwa
Nan rapuh ke alam nirwana

Indah nian dalam lingkaran purnama
Nun jauh di atas gemawan
Darahku menyeruak dalam nadi
Alirkan asa pada tepi jiwamu
Hangat, indah, menakjubkan


Cahayamu jingga
Impian tiap pujangga
Padamu sebuah nama
Titisan sang Dewata
Aku berjanji
Rengkuh jiwamu tuk slamanya
Inilah bukti; Aku cinta kamu


Malekat Cinta

Bersayapkan fajar nan cerah
Berbingkaikan ketulusan nan agung
Melangkah mengitari jagad
Berselempangkan sang waktu nan pasti

Malekat Cinta…
Memeluk dan merenggut tiap hati
Yang terbuai dalam pesona insani
Memboyong pergi dalam nestapa
Tiap serpihan jiwa yang luluh dan
Menggendong dalam rencah tawa ria
Tiap pijaran nurani
Yang tengah mekar ditempah fajar kasih

Malekat Cinta…
Lambang keagungan sebuah ketulusan
Yang lahir dari bening jiwa insan pencinta
Ia adalah tawa dari tiap kelahiran
Dan arti dari rahasia kematian

Malekat Cinta…
Mengalirlah, terbanglah, dan datanglah…
Kunjungi tiap hati insan manusia
Yang kini letih dalam ziarah hidup
Sebab dalam genggamanmu
Ada cinta nan Agung


Pelangi Kasih

Berjuntai indah di tepi langit
Bergelantung indah di kaki cakrawala
Melintas bebas belibis kembara
Merajut kasih menjalin cinta
Di pelataran kelimutu

Bersua raga di puncak harap
Melukis kisah dalam dekapan
Tak ada tangis tak ada tawa
Yang ada hanya sunyi

Tembang kenangan mengalun
Teriring genderang perang dalam batin
Meretas harap dalam buaian sang bayu
Terbesit dalam benak
Ada yang tertinggal di telaga itu
Bukan emas bukan permata
Namun hanya sebuah kenangan berwarna warni
Yang terbingkai dalam pelangi kasih
Dan terkubur di dasar danau triwarna

Pos Kupang Minggu 23 November 2008, halaman 6 Lanjut...

Puisi-puisi Amanche Franck

Era Digital

Kita memasuki era digital
Segala sesuatu caranya manual
Pikiran pun harus global
Walau tindakan lingkup lokal
Mari bersikap universal
Dengan menghargai yang parsial
Agar cintapun abadi kekal

Bumi SEPOI, ujung Juli 2008


Liliba

Sepanjang jalan hanya semilir
Yang menerpa hingga bibir
Tiada waktu untuk berpikir
Mungkin kita lagi kikir
Lewat Liliba hanya mencibir
Liliba di musim kemarau.


Sepanjang Jalan El Tari

Kami merindu hijaumu
Sepanjang jalan kenangan hanyalah kering
Kemarau mengganas membunuh kecambahmu
Kami yang berseliweran sepanjang El Tari
Lewat sepintas, melaju mulus
Tak sepatah pun kata peduli
Mari kita susuri El Tari
Sambil mendengar suara yang terngiang
Tanam sekali lagi tanam!!

Ketika kususuri El Tari, Medio Agustus 2008.


Pos Kupang Minggu 23 November 2008, halaman 6

Lanjut...

Dokter Valens, Yth

SALAM
hormat. Saya langsung saja memperkenalkan diri saya. Saya Agatha, 23 tahun, gadis asal Flores. Saat ini saya sedang pada tingkat akhir studi saya pada salah satu perguruan tinggi di Kupang. Soal kesuksesan dalam belajar, saya kita tinggal menghitung genapnya hari.

Saya pasti bisa meraih sukses dalam belajar, karena saya memang tidak memiliki banyak permasalahan di bangku kuliah. Yang justru sering mengganggu pikiran saya adalah Charles. Pemuda ini saya kenal sudah lama, waktu saya masih SMU dulu di Flores. Ketika di Kupang kami bertemu lagi dan ternyata kami saling tertarik dan jadi deh berpacaran.

Kalau mau dihitung, sudah dua tahun kami berpacaran. Charles sudah selesai kuliah dan sudah bekerja di kota ini sebagai pegawai pada salah satu BUMN. Dalam banyak hal saya suka Charles. Dia pintar, ulet bekerja dan sering dipercayakan oleh pimpinannya untuk menangani masalah-masalah khusus (mudah- mudahan dia tidak tambah sombong mengetahui bahwa saya memujinya).


Satu hal yang membuat saya khusus, hal yang kadang "maju- mundur" (bingung). Kebetulan kami beragama sama. Dengan cara yang halus maupun sedikit mengancam saya sudah lakukan, namun karena responnya tidak ada, lama-lama saya mulai malas mengajaknya. Memang bahwa Charles selalu saja ada pekerjaan di saat-saat seperti itu, tapi itu pekerjaan menurut saya tidak prioritas saat itu. Dia ulet dalam mencari duit, tapi sama sekali malas berdoa .

Pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa, memang Charles adalah tipe orang yang yang tidak menganggap penting masalah berdoa dan beribadah. Saya mulai merasa berat karena saya adalah tipe orang yang rajin berdoa, berarti kami tidak cocok. Pertanyaannya apakah kesimpulan saya ini benar?

Saya sudah lama berpikir, bila tidak berhasil membuat Charles rajin beribadah dan berdoa maka sebaiknya kami putus. Pertanyaannya, apakah keputusan saya ini benar? Bila saya memang bisa jodoh dengan Charles bagaimanakah caranya saya menghadapi Charles, supaya saya juga bisa tenang? Ataukah sebaiknya kami jangan teruskan hubungan cinta kami ini? Saran dokter tentunya akan banyak membantu saya mengambil suatu keputusan terhadap Charles. Akhirnya atas jawaban dokter, terdahulunya saya ucapkan terimah kasih.
Salam, Agatha, Oepura-Kupang.

Saudari Agatha yang baik,
Salam hormat juga buat anda. Surat anda sangat simpatik, menarik dan menantang. Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa saya bukan rohaniawan dan ahli agama. Jadi saya tidak banyak mengetahui tentang bilik-bilik teologi yang rumit. Pada kesempatan ini saya hanya mengantar Anda kepada sesuatu yang disebut orang sebagai kecerdasan spiritual atau aktualisasi diri. Seringkali orang justru menganggap ritual atau ibadah sebagai suatu tujuan bukan sebagai cara.

Orang melakukan ibadah sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan, karena takut menerima hukuman dari Tuhan (berupa penderitaan dan neraka) dan jika dilakukan maka akan menerima pahala (surga). Menjalankan ibadah agama dengan motivasi karena ketekunan (fear motivator) menunjukan kecerdasan spiritual paling rendah. Tingkat lebih di atasnya dalam motivasi karena hadiah (reward). Kemudian, tingkatan kecerdasan spiritual yang paling tinggi adalah ketika orang menjalankan ibadah agama karena mengetahui keberadaan diri sebagai makluk spiritual dan kebutuhan untuk menyatu dengan Sang Pencipta berdasarkan kasih (love motivation).

Dalam sebua buku baru (2003) menyangkut pengembangan spiritual (spiritual development ) perihal pengolahan diri (self management) yang berjudul Enrich Your Life Everyday (perkayalah kehidupan anda setiap hari).

Dua orang penulis Indonesia Ariwibowo Prijosaksono dan Irianti Emingpraja menguraikan bahwa, kecerdasan spiritual berarti kemampuan orang untuk dapat mengenal dan memahami diri sepenuhnya sebagai makluk spiritual (mempunyai roh) mapun sebagai bagian dari alam semesta.

Dengan memiliki kecerdasan spiritual berarti orang memahami sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang dijalani dan kemanakah orang akan pergi. Seorang ahli jiwa termasyur , Abraham Maslow dalam bukunya Hierarchy Of Needs (tingkatan kebutuhan) menggunakan istilah aktualisasi diri (self actualization) sebagai kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang manusia.


Aktualisasi diri sebagai sebua tahapan spiritual seseorang dimana seseorang berlimpah dengan kreativitas, intuisi keceriaan, sukacita, kasih, kedamaian, toleranasi, kerendahan hati, memiliki tujuan hidup yang jelas. Nah, telah panjang lebar diuraikan diatas tentang kecerdasan spiritual.

Charles adalah seorang yang kurang memperdulikan hal-hal semacam itu. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi pada Charkes, pertama dia tidak paham dan kedua dia salah paham menyangkut kecerdasan spiritual ini. Dari cerita Anda diatas, saya lebih cenderung mengartikan bahwa Charles salah paham dan kalian berdua berbeda paham. Salah paham dan beda paham ini bisa diselesaikan atau bahkan makin sulit diatasi tergantung dari apa yang kalian cari. Ada tiga tujuan yang akan digapai yakni Wealth (kekayaan), Success (keberhasilan), Love (kasih). Anda maupun Charles akan gagal bila yang dipilih pertama atau kedua. Namun bila yang Anda utamakan yang ketiga (Kove), maka yang pertama dan kedua akan mengikutinya (Where Ever there in love, there ins also wealth and success).

Dari uraian diatas ini pula pertanyaan anda bisa dijawab, masa pacaran adalah masa penyesuaian. Kalau yang ada pada Charles adalah bukan tidak paham, tetapi salah paham dan atau bedah paham, maka dapat dikatakan bahwa Anda berdua tidak cocok. Kesimpulan Anda tidak salah. Saran dilanjutkan saya bahwa, umumnya perilaku seperti pada Charles saat ini adalah hilir (muara) dari suatu sejarah hidup yang panjang. Pengalaman yang telah terakumulasi menjadi watak dan kepribadian akan sulit untuk diperbaiki. Bila ketenangan dan kasih yang Anda cari maka bukan dialah yang tercipa untuk menemani Anda. Selamat mengambil keputusan.
Semoga. Salah, dr. Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 16 November 2008, halaman 13
Lanjut...

Drs. Johanes Depa, M.Si


Foto Pos Kupang/Alfred Dama

Kuat Hadapi Intimidasi dan Unjuk Rasa

PENGALAMAN sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi motivasi bagi Drs. John Depa untuk memilih kembali ke KPUD NTT.

Tugas berat yang tersedia diterima bukan tanpa risiko. Pengalaman selama menjadi anggota KPUD NTT saat pelaksanaan Pemilihan Kepala Derah-Gubernur NTT tidak mungkin terlupakan. Dalam even tersebut, John Depa bersama empat rekan lainnya harus dihadapkan dengan keinginan masyarakat yang kuat sehingga melahirkan kompleksitas dalam tugas.

Aksi demo, intimidasi pun dirasakan oleh John Depa bersama rekan kerjanya. Namun kini, dosen Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) ini kembali menjalani tugas-tugas berat yang membuatnya merasa tertekan dan merasa tidak nyaman. Apalagi kini, ayah satu anak ini mendapat kepercayaan dari teman- temannya sebagai ketua KPUD NTT.


Menurutnya, tugas yang diemban saat ini sebagai Ketua KPUD NTT merupakan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Karena itu sudah menjadi kewajibannya dalam menjaga dan mengemban tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan. Di sisi lain, sebagai pengajar, ada keinginan dari John Depa untuk kembali ke kampus. Menjadi anggota dan Ketua KPUD juga merupakan proses pembelajaran yang nantinya akan diterapkan di kampus Unwira.
Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan John Depa.

Anda sudah lima tahun menjadi anggota KPUD NTT, saat ini Anda terpilih lagi bahkan menjadi ketua KPUD. Apa yang Anda inginkan dari tugas ini?
Bagi saya ini adalah sebua tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya sehingga saya harus bisa menjaga kepercayaan mereka. Lalu yang kedua, kepada bangsa ini dan pemerintah yang sudah bisa memberikan suatu kepercayaan kepada saya supaya bisa melaksanakan ini. Apa yang saya lakukan selama ini adalah sesuai dengan kemampuan saya dan itulah kemampuan yang saya miliki dan masih banyak keterbatasan yang bisa saya berikan dalam tugas ini. Tidak ada pemikiran lain bahwa kita mau mempromosi diri untuk masa jabatan yang sudah ada, komitmennya terutama kontes Pemilu yang sedang sehingga tugas kami berakhir tanggal 23 Mei 2008 dan diperpanjang hingga Bulan September karena Pemilihan Gubernur NTT, itu tahapan Pemilu 2009 sudah berjalan hingga 40 persen. Pada tahap itu, kita juga mengikuti pentahapan dalam seleksi anggota KPUD dan KPU menetapkan kita sebagai anggota, bagi saya ini semata-mata hanya kepercayaan saja. Lima tahun sudah dipercaya dan ditambah lima tahun lagi diberi kepercayaan lagi sehingga total yang harus saya jalani adalah 10 tahun, ini adalah kontrak yang harus dilaksanakan atas dasar kepercayaan. Saya kira konsekuensi adalah tumbu tanggung jawab yang lebih berat. Jadi terlepas posisinya sebagai anggota atau ketua apabila dipercayakan lagi maka itu bukan hal yang mudah. Karena biar bagaimanapun juga, harapan publik ada peningkatan kualitas pelaksanaan Pemilu, kalau sebelumnya tingkat partisipasi 50 maka kali ini harus naik, tidak boleh turun. Itu yang saya beratnya disitu. Sehingga rasa kepercayaan yang diberikan tapi diikuti dengan tanggung jawab yang berat.
Itu yang pertama, yang kedua kita sebenanya dihadapkan pada kompleksitas kelembagaan yang berbeda, jadi kita dulu semata- mata sebagai penyelenggara Pemilu Nasional yakni legislatif dan pemilu presiden, sesuatu itu kita ditambah dengan tugas khusus yaitu Pemilihan Kepala Daerah. Sekarang sudah rejim pemilu jadi kita harus mengkoordinasi banyak pemilu baik pemilu legislatif, pemilu presiden, pemulu gubernur ditambah lagi pemilu kepala daerah di daerah-daerah. Belum lagi ada tugas-tugas kelembagan yang dilaksanakan secara bersamaan. Misalnya terjadi proses pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR, selain itu ada kabupaten pemekaran baru itu harus ada tanggung jawab pengisian anggota. Dan, periode lalu menurut pengalaman pribadi pekerjaan yang paling berat adalah mengisian keanggotaan DPRD tiga kabapetn baru pertam Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Nagekeo. Menurut itu paling berat. Tapi akhirnya kita mengakhiri secara gemilang dan KPUD juga memberikan apresisasi kepada jajaran KPUD NTT yang bisa menyelesaikan itu, karena lebih baik dibandingkan dengan kasus pengisian keanggotaan dewan di tempat-tempat lain.

Apa yang mendorong Anda memutuskan aktif di KPUD NTT lagi?
Pertanyaan ini sama saat fit and propertes lalu, ini pertanyaan klasik tapi cukup mendasar. Pertama , saya ini orang akademik, dengan basis akademik, kedua saya juga belajar dengan disiplin ilmu yang belajar dekat-dekat dengan pengelolaan kerja kelembagaan KPU, seperti manajemen pemerintah, manajemen politik jadi ada satu dorongan yang sangat kuat dalam diri saya bahwa saya harus berbuat lebih apalabila diberi kepercayaan. Saya bersyukur sekali sebagai orang yang direkrut pada generasi pertama itu, dimana kami setelah melihat kondisi kami maka kami mencoba mengawinkan beberapa kekuatan yang ada dalam diri anggota yaitu kekuatan yang harus muncul dari dunia akademik yakni kekuatan pengelolaan konsepsi-konsepsi, kedua kekuatan dari para praktisi yang terlibat dalam LSM dan kami yang lalu itu banyak sekali, tiga orang itu dari LSM terus ada kekuatan lagi yang kita timbah dari pengalaman mengelola media. Jadi tiga kekuatan itu menghasilkan sinergi bagus.

Melihat pengalaman sebelumnya baik di KPU pusat atau KPU di daerah lain dimana dalam manajemen, KPU ini disorot karena kesalahan pengelolan keuangan dan korupsi. Lalu, KPU juga sering menjadi tempat unjuk rasa dan sebagainya. Apakah Anda tidak kuatir masalah-masalah itu bisa juga Anda alami?
Sebenarnya kekhwatiran sebagai manusa sah-sah saja, publik juga harus bisa menerima bahwa penyikapan-penyikapan dalam bentuk reaksi dari publik dalam bentuk apapun itu harus dilihat secara wajar dalam arti sesuai dengan kewenangan. Misalnya dalam pengelolaan sumber daya. Sumber daya organisasi ini ada dan dalam UU, KPUD itu tidak punya kewenangan dalam mengelola keuangan jadi kita mengelola subtansi kepemiluannya dan dia harus disuport dengan pengelola sumber daya, siapa? ya sekertariat dibawa komando sekertaris. Ini yang pelan-pelan kita mulai geser kewenangan itu mereka yang harus mensuport kita sehingga kecemasan terhadap kemunhkinan kita masuk dalam lingkaran pengelolaan yang berdampak pada misalnya ada penyalagunaan itu tidak mungkin karena kita harus tahu kewenangan substansi kewenangan kita. Kedua dalam benuk demo dan sebagainya saya piker itu tantangan untuk kita jug. Jadi tekanan kita pada substansi kepemilian maka kita harus lebih kuat mengembangkan bentuk-bentuk kerja kelembagaan untuk mempertanggung jawabkan.

Anda menyinggung kewenangan KPU sesuai UU, apa saja kewenangan yang anda maksudkan?
Dalam UU No 22 Tahun 2007 ini, KPU Propinsi berada di tengah-tengah struktur kelembagaan KPU, jadi dia keatas dalam rangka untuk meyampaikan atau mengkoordinir hal-hal yang perlu disampaikan keatas tapi dia juga dia kebawa. Jadi dalam UU No 22 ini hirarkis sekali, jadi kita harus mampu mengimplementasikan dengan baik, katakan begini ada permasalahan di KPU kabupaten kota, itu KPU Propinsi harus mampu mengkoordinir untuk memecahkan masalah, kalau misalnya ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan maka dia bisa koordinasikan ke atas. Belum lagi kita kalau dari atas itu ada perintah melaksanakan tigas atau kita harus mengkoordinir kebawa. Jadi posisi tengah yang harus bisa dijalalankan secara baik.

Terus yang sering menjadi masalah KPU di kabupaten hamper semua sama. Banyak pemilih yang tidak terakomodir dalam Pilkada dan mengapa bisa terjadi masalah seperti ini?
Ini merupakan satu rentetan pengelolaan penetapan pemilihan yang kait mengkait . Pertama itu berdasarkan UU kependudukan. Data penduduk potensial pemilih itu tidak dikelola oleh KPU. Tapi dia dikelola oleh pemerintah dalam hal ini pemerintah dalan negri perpanjang tangannya adalah pemerintah daerah. Kita menerima data DP4 (Data Penduduk Potensial Pemilih). Dalam data DP4 itu disebutkan KPU misalnya pada musik Pemilu tertentu hanya mempunyai kewajiban memutakhirkan
dalam arti misalnya melihat jangan sampai ada duplikasi dan sebagainya. Sesudah itu kedua setelah dia muntakirkan, proses penetapan setelah itu diumumkan oleh PPS yang dibantu oleh petugas Pemutakhiran Data Pemilih. Jadi dengan pola stesel aktif
dimana pemilih yang harus aktif, misalnya kita dapat input 100 di TPS tertentu terus kita bagi empat TPS masing-masing TPS 25 pemilih. Itu diumumkan kalau tidak ada kerja sama yang kuat dari pemilih untuk datang maka 100 tetap 100, tidak akan tambah. Ini yang menjadi persoalan, jadi kalau kita diberi kewenangan dengan pola stesel pasif atau pemilih kita datangi mungkin bisa tuntas. Menurut saya selama arah pengaturan dalam perundang-undangan kita seperti itu, ini membutuhkan suatu proses kerja sama yang kuat. Jadi kita tidak bisa melimpahkan semata-mata pada penyelenggara.

Nyatanya, KPU yang sering didemo?
Karana oleh public melihat KPU sebagai pihak penyelenggara bertanggung jawab menetapkan pemilih. Orangkan tidak pernah tahu bahwa proses penetapan itu banyak sekali campur tangan dari pihak yang terkait sehingga optimalisasi menurut saya ini menjadi suatu pekerjaan bersama. Jadi misalnya DP 4 mendekati 100 atau 90%. Kita hanya perlu tambah naiknya menjadi 99. Tapi kalu misalnya DP4 50 total pemilih potensial maka jangan mengharapkan penyelenggara mendongkrak 50 sisanya. Itu pertama dari segi kewenangan dan kedua dari segi sumberdaya.

Ketika KPU didesam menetapkan semua penduduk yang memiliki KTP daerah tersebut menjadi pemilih tetap, apakah itu tidak menyalahi aturan?
Jadi begini, kalau misalnya hanya sekedar mau menampung mereka yang mempunyai hak pilih untuk menjadi hak pemilih ini ada keterkaitan dengan logistik. KPU ini bekerja dengan kewenangan, karena kewenangannya itu logistik diadakan sesuai dengan jumlah pemilih. Jadi pada suatu ketika dipaksa sedemikian rupa ya dia dengan tahu dan mau melanggara UU itu menjadi persoalan kita. Dari sisi manajerial pengelolaan Pemilu tidak bisa dengan cara begitu, begutu ada pemilu kita langsung mengakomodir, bagaimana dengan kaitannya sumber daya- sumber daya yang lain. Tidak semua itu yang bisa kita bayangkan, jadi proses itu harus sesuai dengan dan dikelola secara baik.

Pada Pilkada Gubernur lalu, ada insu bahkan informasi mengenai ada sejumlah oknum anggota KPUD NTT yang "bermain" untuk paker tertentu. Pelajaran apa yang anda tarik dari hal ini?
Ini semua merupakan proses pembuataa keputusa dalam tahap pleno(forum pembuatan keputusan). Jadi saya lihat sepanjang pleno dia berjalan diatas rel aturan yang ada maka public juga bisa percaya bahwa kami sudah melakukan yang terbaik. Dan dari proses Pilgub yang lalu sebenarnya sebagai orang yang terlibat langsung dalam preses pembuatan keputusan terutama pencalonan saya melihat sudah berjalan seperti biasa berjanji untuk jalani. Banyak sekali yang bisa kita pakai untuk takaran untuk menilai itu sudah berjalan sesuai aturan. Kita lihat ukuran pertama, kan proses ini akhirnya di bawa ke pengadilan dan fakta dimenangkan oleh KPU. Kedua, Depdagri dalam hal ini menterai dalam negeri yang mempunyai kewenangan secara cermat melihat persoalan-persoalan itu akhirnya juga menetapkan hari pengumuamn hari pengumuman pemungutan suara dari tanggal 9 ke tanggal 14. Jadi dua indikasi ini saja memudahkan kita melihat dan publik juga sudah mulai bergeser arah pikiran kita jadi kita tidak masuk dalam suasana duga menduga tapi ini realita-realita yang bisa kita capai bersama. Jadi saya kita pembelajaran yang lalu itu disitu, jadi tidak ada sesuatu yang lain selain pertimbangan-pertimbangan peratiran perundang-undangan. Sehingga kalau ada yang bilang kita itu ikut bermain apalagi disogok, saya kira itu sangat jauh sekali. Kalau kita disogok itu saya pikir ada dua pihak yang harus dilihat pertama mereka yang menyogok kita, apakah dia punya uang sebanyak itu, mau kasih ke individu Jhon Depa ini, terus dengan kasih itu apakah nanti gola, tentu tidak. Yang kedua, dari sisi yang menerima, kita juga puya nurani misalnya saya dengan dorongan menguasai meteri terus menerima saya pulang ke kampus, hidup saya akan berkepanjanga tidak nyaman.


Pengalaman pribadi anda saat Pilgub. Apakah merasa pernah diintimidasi, diteror sehingga meimbulkan ketakutan atau rasa tidak aman?
Kalau intimidasi bertelpon saya kira dalam batas yang wajar. Apakah SMS atau telpon langsung, yang mungkin agak terganggu batin kita pada waktu demo dalam rentangan waktu cukup panjang, intesitasnya tinggi dalam sehari jusa bisa berapa kali. Selain demo kita juga banyak sekali melakukan pertemuan dialogis dengan mereka itu juga menyita begitu banyak sumber daya pribadi. Jadi perasaan dan segala macam itu berat. Tapi akhirnya juga dilalui. Tapi saya pada waktu itu hanya punya tekad bahwa menyampaikan apa adanya. Nurani saya sudah mengatakan bahwa saya sudah berkeputusan begitu yaitu mengatakan apa adanya dengan tenang. Dan, syukur bisa tuntas. Tapi ada satu ketakutan ketakuran juga waktu itu kalau kita tidak mengakhiri proses Pilgub ini dengan baik maka hancur semua. Sehingga waktu itu saya orang pertama di KPU ini yang sedidkit menggugah kebersamaan 5 orang itu. Kita menjaga katup penyelamatan kita terakhir perhitungan suara. Artinya pilihan rakyat di tingkat paling bahwa itu jumlah 100 maka dia harus dibawa sampai tingkat final harus tetap 100, tidak boleh bertambah menjadi 101 atau dia berkurang dan syukur tekat bersama itu terwujud. Dan pada akhirnya saya piker-pikr katup penyelamatan terakhir yakni pemungutan suara, tetap mulus sampai akhirnya.

Dalam situasi itu, bagaiman sikap keluarga. Apakah juga merasa tertekan?
Saya akui mereka merasa tertekan dan itu harus diakui. Metreka juga saksikan melalui media, layer kaca, koran dan yang deceritakan orang yang menyaksikan itu dan itu wajar-wajar saja, .karena kita percaya kita sudah bekerja secara benar. Saya kira misalnya kita bekerja tidak benar hari inikan saya tidak duduk disini. Karena KPU juga menilai secara wajar. Bukan berarti juga mereka yang tidak menjadi anggata itu tidak mengerti dalam arti ada representasi dari yang lama diperceyakan kepada yamg baru. Kita juga harus optimis bahwa kita tidak terlalu buruk.

Tadi anda mengatakan menjadi anggota KPU mengabdikan diri tapi bagi seorang pendidik apakah ada kerinduan kembali ke kampus?
Saya memang bulan-bulan terakhir itu perhatian saya kembali ke kampus biasa pakai dosen yang di Fisip itu, apalagi saya dosen awal sejak Fisip Unwira berdiri. Harus ada kepuasan tersendiri bahwa apa yang saya mimpi dulu kalau bisa berbagai konsepsi yang saya coba belajar itu dan supaya bisa diperaktekan dan sudah syukur terjadi
dan berjalan, seperti dari sisi membangun manajemen, dari sisi pengelolaan masalah politik sudah kerjakan tapi pad akhirnya ada sinyal kepercayaan baru yang diberikan oleh KPU terus kita aresponses dengan memberanikan diri masuk dalam proses itu akhirnya sampai disini. Tapi sebenarnya sebagai orang kampus itu, kita tidak bekiprah sebagai akademis khusus di dalam ruang kelas tidak. Disini harus juga begitu. Seperti yang tadi saya bilang saya harus cukup tertantang dengan kekuatan konsepsional dalam berkiprah sebagai anggota KPU.

Dari pengalaman anda selama lima tahun menjadi anggota KPU NTT, apakah anda melihat apakah ada kemajuan dalam pengetahuan berdemokrasi di NTT?
Sebenarnya banyak sekali ukuran yang harus kita pakai yang pertama itu kita lihat dari indikasi atau indikator dimana semua pihak yang bermain dalam proses demokrasi itu harus bisa juga sampai tingkatan menghormati kekalahan bukan menghormati pemenang. Dan saya liha indikasi yang cukup bagus itu kita capai dalam pemilu gubernur. Kan ada tiga pasang calon Gubernut NTT, dua pasang calon mampu menerima kekalahannya dan menghormati pemenangannya yang diperoleh oleh pasangan lainya. Itu saya mulai berpikir apakah ada perubahan yang kita capai. Itu proses belajar yang cukup panjang. Kita mulai dengan Pemilu Nasional, setelah itu ada Pilkada yang mulai juni 2005 dan sebagainya, tapi akhirnya juga saya mulai pesimis karena muncul juga gejolak baru di kabupatan yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan apa yang sudah kita capai. Kita lihat penyelesaian masalah di rote padahal sebenarnya masalah itu diselesaikan secara hokum. Jadi katakana ada manipulasi calon politik dari pasangan siapapun maka pihak yang terkait akan terampas. Ke polisi dan diproses sampai pengadilan. Dan, itu bisa diganti. Jadi itu menurut saya model-model penyelesaian kalau tidak dikontrol belum cukup memperlihatkan kemajuan itu.
Apa upaya untuk 5 tahun kedepan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilihan?
Saya kira yang pertama tatanan kelembagaan. Jadi kalu kita sudah generasi ke-2 ini pelayanan kelembagaan tadi sekitar 50, kedepan semua jaaran KPU harus berpikir bagaimana mencapai 100. Tantangan kedua kita saya kira harapan masyarakatkan masih tinggi terhadap pelayanan kelembaggan kita jadi kalau dulu orang hanya menggantungkan harapan kepada pemilu nasional jalan baik tapi sekarang justru ada dimensi baru yang harus ditata harapan baru masyarakat. (alfred dama/apolonia dhiu)


Dibentuk di Seminari Mataloko


KEMAMPUAN mengelola manajemen dan menjadi pemimpin tidak terlepas dari proses pendidikan panjang yang dilalui seseorang. Demikian juga dengan Jhon Depa. Kemampuannya dalam berorganisasi dan memanaj suatu kegiayan tidak terlepas dari sejara pendidikan yang dilaluinya. Baginya, seminari St. Yohanes Berecmans-Mataloko. "Saya didik selama tujuh tahun di seminari Mataloko, itu yang memberi kekuatan tersendiri dalam perjalanan hidup saya. Jadi saya angkatan terakhir yang sampai kelas tujuh. Jadi selama tujuh tahun, keseluruhan potensi diri dikembangkan di seminari ini. Sedangkan perguruan tinggi itu hanya memperkuat saja, tapi yang paling banyak yaitiu di seminari ini. Jadi saya merasa sangat bersyukur menempuh pendidikan disana," jelas suami dari Dra. Paulina Bibiana ini.
Pria yang menghabiskan waktu luang dengan menonton televisi dan membaca buku ini mengatakan banyak hal yang bisa diambil selama seseorang dalam taraf pendidikan. Dan itu pula ang dia lakoni selama menjadi siswa seminari. Menurutnya, pendidikan seminari Mataloko sedemikian keras dan disiplin. Pendidikan yang demikian tersebutlah yang bisa menghasilan manusia- manusia yang berkualitas. Sehingga menjadi salah satu alumni dari lembaga pendidikan di Kabupaten Ngada. Masa-masa di seminari ini pun selalu dikenang dalam setiap renungan masa lalunya. "Setiap saya kali saya naik pesawat, selalu saya ingat masa-masa saya sekolah di seminari dulu. Menurut saya, seminari itu memberi arti yang luar biasa bagi saya. Jadi seminari ini yang mengembangkan potensi yang sangat kuat," jelas Jhon.
Menurutnya, pendidikan di Seminari Mataloko tersebut menjadi dasar dalam dirinya untuk menempu pendidikan selanjutnya. Dan, semua jenjang pendidikan yang ia lewati dirasakan lancar sebab telah memiliki dasar-dasar dari seminari Mataloko. (alf)


Data diri

Nama : Drs. Johanes Depa
Tempat Tanggal Lahir : 16 November 1956
Jabatan : Ketua KPUD NTT
Pendidikan : SD Boawae Tamat 1970
Seminari Mataloko 1970-1976
Sarjana Muda Undana 1981
S1 Universitas Brawijawa (FISIP) 1984
S2 Inversitas Indonesia (Ilmu Administasi Negara) 1991
Istri : Paulina Bibiana, SE, M.Si
Anak : Hendrikus


Pos Kupang, Minggu 16 November 2008, halaman 3
Lanjut...

Paket Jolin atau Ojo

APA bedanya orang Amerika Serikat alias Amrik dengan orang kita jika dihubungkan dengan paket pilpres dan pilkada? Yang pasti Amrik kalah jauh dengan orang kita, soal paket pilkada. Kita jauh lebih hebat! Tidak ada duanya di dunia ini. Kita adalah satu-satunya. Sistem nama paket orang kita jauh meninggalkan Amrik.

Coba bayangkan. Paket Jara alias Jaki Rara. Jara sama dengan kuda dan hanya kudalah kendaraan rakyat yang sangat setia. Paket Raja alias Rara Jaki. Hanya rajalah yang bijaksana menjalankan tugas-tugas kerajaan. Paket Miza alias Nona Mia - Benza. Seumur-umur hidup hanya miza dan misa yang mampu menyelamatkan manusia. Paket Bea alias Benza - Mia. Bea satu-satunya jalan untuk mendapatkan dana kelangsungan hidup negara... Belum lagi kalau dicatat nama-nama paket yang tersebar di seluruh wilayah kampung kita. Wah, panjang dan Amrik kalah telak soal yang satu ini. Bagaimana?

"Coba kalau John McCain dan Sarah Palin pakai gaya orang kita. Paket Jolin alias John McCain dan Sarah Palin, wah, otomatis keduanya bisa kalahkan Obama," kata Rara.

"Betul juga ya. Dalam hal ini orang Amrik tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang kita yang sangat kreatif mencari nama..." sambung Jaki setuju. "Bagaimana menurutmu Benza?"

***
Benza tidak menanggapi pertanyaan temannya. Dia asyik baca pilkada Jatim. Paket Karsa-Saifullah alias Karsa, menang 50,2% dan kalahlah paket Khofifah-Mujiono (Kaji). Itulah hasil akhir putaran kedua pemilihan Gubernur Jatim. Kaji pun mengajukan protes dengan melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi soal manipulasi perhitungan suara. Kaji pun menolak menandatangani berita acara.

Wah, kalau tidak mau disebutkan bakal kacau, pastilah bakal panjang ceritanya. Siapa mau kalah sih. Pengaruh Jatim bakal sampai juga ke kampung kita. Siapa yang berani kalah? Bukankah dalam politik kita hanya sanggup berani menang? Kalau sampai kalah? Wow, dengan sendirinya kita akan melihat semut di mata tetangga daripada gajah di mata sendiri.

"Mestinya hanya satu putaran seperti pilpresnya Amrik. Sekali coblos langsung Obama keluar sebagai pemenang," kata Benza. "Di Amrik itu yang disorot itu programnya. Jelas, terencana, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Jadi siapa yang benar-benar jitu program dan argumentasinya membawa perubahan, itulah yang dipilih. Jadi gampanglah sebab semuanya dibuat transparan dan super jelas. Termasuk anggaran dan sistem penganggaran! Jadi mau pilih gampang! Coblos sambil tutup mata juga jadi, pasti tidak akan salah pilih! Hebat benar Obama!"
"Apa hebatnya?" Sambung Rara.

"Coba kalau dia pakai nama Paket Ojo pasti lebih hebat lagi. Rasanya lebih asyik gitu lho. Apalagi Obama pernah tinggal di Indonesia. Rasa Indonesianya lebih asli dengan nama paket Ojo alias Barack Obama-Joe Biden," Jaki tak mau ketinggalan.

***
"Maklumlah, pilkada kita hanya sibuk kutak katik nama singkatan para paket calon. Masing-masing mencoba berargumentasi soal nama paket yang dipilihnya. Sibuk soal nama dilanjutkan dengan sibuk soal strategi meraup kemenangan. Tidak peduli dengan pertanyaan sanggupkah saya? Bisakah saya menjadi orang nomor satu? Apa yang akan saya lakukan jika terpilih nanti? Yang dipikir hanya harus menang. Titik."
"Itu pasti! Mana ada sih yang mau kalah! Karsa dan Kaji saja mati-matian berjuang untuk menjadi sang juara. Bahkan tim sukses pun berjuang meraih kesuksesan utama. Pokoknya tidak ada yang mau kalah," kata Jaki.

"Apalagi orang dengan primordialisme sempit dan punya watak tidak mau kalah. Siapa berani kalah! Harus menang dong!"
"Kita harap jangan sampai terjadi baku hantam antar dua kubu paket dalam putaran kedua. Mudah-mudahan semuanya jiwa besar untuk kalah dalam putaran kedua," kata Benza. "Yang paling penting tentu saja KPU, Panwaslu, tim sukses, dan orang-orang penting di seputar kebijakan dan keputusan penting soal hasil pilkada nanti tidak manipulatif untuk menangkan paket tertentu! Bayangkan! Karsa dan Kaji saja bisa ribut apalagi seputar Jara dan Raja?"

"Mestinya kita belajar pilkada di Amrik!" Kata Benza lagi.
"Menurutmu mengapa Obama menang?" Tanya Jaki.
"Karena dia kampanye dengan nama lengkap Obama dan Joe Biden, bukan Paket Ojo alias Barack Obama-Joe Biden."

"Terus kenapa John McCain dan Sarah Palin kalah?"
"Sama dengan yang kamu pikirkan! Karena tidak mau menggunakan nama paket Jolin, he he he," Benza tertawa. "Coba kalau calon dari Partai Republik itu kampanye dengan nama Jolin, saya jamin pasti menang. Rasa Indonesianya benar-benar terasa gitu... Menang telak tentu saja. Tidak ada yang namanya putaran kedua seperti kita." (maria matildis banda)


Pos Kupang 16 November 2008, halaman 1 Lanjut...

Mawar Dari Kevin

Cerpen Atel Lewokeda

"TIA, aku berterima kasih karena engkau telah begitu terbuka mengungkapkan semua nyanyian dari kalbumu yang selama ini hanya menjadi notasi mati yang terpenjara dalam kecemasanmu," ungkap Itha. Sebagai sahabat yang telah lama bersama, aku hanya mengingatkan bahwa semua kita, terhadap tiap pengalaman pasti senantiasa mengharapkan yang terbaik. Tapi jangan lupa bersamaan dengan itu kita juga harus bersedia menerima hal lain yang mungkin saja menjadi yang paling buruk buat kita. Aku sendiri juga pernah mengalami pengalaman kehilangan seperti yang engkau alami; bahkan lebih dari yang Tia sendiri alami.

Dengan bahasa tubuh Tia mempersilahkan sahabatnya untuk melanjutkan kisah pengalamannya. Seperti Kevin yang sangat berharga buat Tia, aku sendiri pernah memiliki seorang Glend yang sangat istimewa. Kami menjalani masa-masa indah pacaran kami selama enam tahun. Ada begitu banyak kenangan yang terlukis. Kadang harus bersedih. Kadang harus jengkel dan kecewa. Tapi semuanya itu hanya sebagai pernak pernik dalam sebuah nama yang dibahasakan sebagai cinta. Kesetian menjadi satu-satunya kunci hubungan kami bisa bertahan dengan begitu lama.

Romantisme ada bersamanya sejak bangku Sekolah Menengah Atas membuat aku mulai berkenalan dengan cinta. Aku sungguh tergila-gila dibuatnya. Kami sungguh begitu serius menjalani segalanya; tapi dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggungjawabkan. Setelah bersama melanjutkan pendidikan di universitas yang sama ini, aku semakin yakin kalau dialah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyulam sayap hidupku agar tidak sendirian.

Aku sampai berani bersumpah kalau Glend adalah satu-satunya pria yang akan menemani hidupku hingga ajal menjemput. Aku tidak pernah tahu kalau izinan pulang ke Waiwerang yang dia minta hanya untuk ingin berobat ternyata menjadi pesan terakhir, karena kami masih akan mengikut ujian akhir bersama sebelum wisuda. Seminggu kemudian aku menerima berita dari orang tuanya bahwa Glend sakit dan sekarang dirawat di rumah sakit umum Kota Renya.

Keputusanku untuk mengunjunginya sehari kemudian tidak dapat menggagalkan rencana dari Yang Kuasa. Aku baru tiba lima menit sesudah kepergiannya untuk selamanya.
Kedua sahabat itu hanya diam dan saling memandang. Tiada kata yang sempat terucap. Tak ada rayuan yang bisa terlontar. Tia menatap Itha sahabatnya dengan penuh keharuan. Itha sendiri tetap tegar untuk tidak meneteskan air matanya sedikit pun. Tia membisu seribu kata. Kursi santai di bawah kerindangan cemara menjadi tempat dua sahabat saling membagi pengalaman dan peneguhan. Lama berdamai dengan kesunyian masing-masing di tengah keramaian penghuni Nusa Cendana, Itha mengajak Tia untuk sedikit berpisah dari teman-teman mereka yang lainnya.

Sebelum meninggalkan universitas kesayangan mereka itu, dengan nada lembut Itha membisik di kuping Tia. "Kamu sebenarnya bersyukur pernah memiliki orang seperti Kevin. Memang keputusannya mengecewakan dirimu, bahkan sampai membuat dirimu terluka. Tapi kamu harus iklas menerima dia sebagai milik semua orang. Tidak seperti saya, kamu masih bisa melihat Kevin walau dibatasi oleh kemilaunya pakaian putih panjang yang melekat pada tubuhnya.

Dia sendiri pasti sangat merindukan doa-doa dari kamu. Dan yakinlah dia pasti akan tetap mendoakan kamu, untuk kebahagiaan dalam menemukan pengganti dirinya.. Karena bisa jadi kebahagian kamu adalah kekuatannya untuk berjalan di jalannya yang penuh onak dan kerikil tajam yang menikam itu."

***
Pengalaman siang tadi membuat Tia begitu berat melewati waktunya yang sisa hari itu. Usai merenung nasihat dan peneguhan dari Itha sahabatnya, Tia mematung dan terperangkap dalam keegoisan cinta. Ternyata aku masih terpasung dalam konsep cinta yang selalu ingin memiliki. Aku lupa kalau berani mencintai berarti telah siap untuk melepaskan orang yang saya cintai, sentil Tia untuk dirinya sendiri.

Keganasan siang tadi tidak menghalangi lahirnya keindahan panorama kota Karang menjelang malam. Senja tanya yang menggigit itu membuat Tia tak menyadari kalau bayang malam sesaat lagi akan menjemput raganya menikmati kegemerlapan cakrawala, keceriahan bintang dan kelembutan purnama. Tia cepat-cepat beranjak dari ranjang lamunannya yang telah letih membiarkan dia lelap. Di tengah taman mini buatannya sendiri dia coba memaknai pesan sahabatnya siang tadi. Sambil berdamai dengan tiap inspirasi yang mengalir dari pandangan matanya di atas bibir semua kembang yang lagi bermekaran. Tia coba mencari satu-satunya kembang yang ditanam oleh Kevin saat berkunjung ke penginapannya pertengahan Bulan Juli silam.

Dari semua bunga yang sedang bermekar, Tia masih tetap mengakui kalau mawar Kevin adalah kembang yang paling indah dari semua yang sedang berbunga. Di hadapan mawar itu ia tak berdaya sampai menggugurkan air matanya tatkala mengenang semua kenangan indah yang pernah tercipta di antara mereka; antara Tia dan seorang Kevin.

"Aku pernah mencintai seorang. Begitu dalam cintaku sampai aku merasa bahwa ini untuk selamanya dan kami berdua tetap akan ada bersama untuk selamanya pula." Tapi sekarang dia sudah 'pergi'. Kepergiannya membuat aku merasa keberadaannya sangat jauh. Ketiadaannya dari hadapanku menulis pada kata hatiku bahwa dia tidak akan kembali lagi. Aku sedih mawar...Aku coba menahan kesedihanku dengan setetes asa untuk bertemu kembali. Sekarang aku tahu; kami tidak akan bersama lagi. Tapi aku janji pada semua yang sempat memandang hatiku.

Aku janji dengan setiap mata yang membaca nuraniku. Aku bahkan berani bersumpah pada segalanya; aku akan tetap bersamanya dalam tiap doaku, agar di tempat yang penuh kenangan ini kami mempu meraih kemenangan bersama. Walau aku tahu itu sulit karena dia sudah memilih kehidupannya yang lain, ungkap Tia untuk dirinya di hadapan mawar itu.

Niat Tia yang begitu tulus untuk mengunjungi Kevin di Maumere usai ujian semester genap sungguh terlaksana dengan sangat sempurna. Kebahagiannya tak bisa terlukiskan. Kevin yang sekarang masih tetap seperti Kevin yang dulu. Kebagiaan Kevin dengan pilihan hidupnya sekarang memampukan Tia menerima keputusan Kevin. Kevin aku masih sangat sayang kamu karena hanya kamulah yang aku cintai. Aku pernah kecewa dengan keputusanmu dulu.

Tapi sekarang aku menjadi orang yang paling bahagia tiap kali memandang dirimu. Karena itu jangan kecewakan aku untuk kedua kalinya. Aku berjanji sampai kapan pun aku akan tetap di sampingmu, mendukung kamu dengan seluruh diriku. Kevin hanya diam dan memandang mata Tia yang begitu indah.

Usai mendengar pantun hati Tia, ia menyapa Tia denagn begitu mesra. "Aku bersyukur pernah memiliki orang seperti kamu Tia. Gadis yang sangat memahami aku dan mengerti akan segala yang ada dalam hati dan sanubariku. Aku sendiri tidak pernah membayangkan bagaiman cerita hidupku tanpa kau dalam hidupku," pesan Kevin sebelum mengucapkan selamat tidur. Malam ketiga di wisma Kevin, menjadi malam terakhir Tia sebelum keberangkatannya besok. Dalam sepinya hati Tia menitip untuk Kevin pada selembar warkat yang diambil dari kamar Kevin pagi tadi.

Untuk Kevin
WISMA PENUH KENANGAN

Ketika cinta itu hadir dan menyapaku,
adakah ia hadir untuk selamanya?
Dan kalau tahu cinta itu merupakan sebuah anugerah, ku mahuà
dalam hidupku kaulah anugerah terindah di hatiku selamanya.
Meski aku tahu hanya ada satu yang terindah dalam hidupmu.
Tetapi aku tak akan pernah menipu suara hatiku,
kalau aku pernah berjanji bahwa
di dalam hatiku masih selalu terukir indah namamu
yang selalu siap menemani dan menjadi milikmu sampai kapan pun.
Walau kadang sempat terlintas di benakku
dalam perjalanan panggilanmu,
kutahu aku tak bisa memilikimu untuk selamanyaà
karena kuyakin dan percaya di sampingmu
ada Tuhan yang selalu hadir dan siap menuntun mu
ketika engkau sedang berjalan sendirian
dalam menggapai realita hidup
menuju sebuah puncak panggilan membiaramu.

Yang selalu mencintaimu
Tia Larasati Kyrana.

Tia menyelipkan kertas polos itu ke dalam buku cerita yang dipinjam dari Kevin kemarin dulu. Ia meninggalkan wisma cinta itu dengan menggenggam segumpal kekuatan. "Aku akan menjadi orang yang paling egois dalam mencintai jika, hanya ingin seperti mawar yang lagi bermekar tapi tak pernah iklas menerima cinta sebagai mawar yang layu dan terkulai," tulis Tia pada dinding kalbunya sebelum pergi. *


Pos Kupang Minggu 16 November 2008, halaman 6 Lanjut...

Puisi Cyll b. Engo

Tanam, Sekali Lagi Tanam
Ode untuk: El Tari

Tanam, sekali lagi tanam
Singkat, padat dan jelas
Pesanmu menggema beerbilang tahun yang silam
Amanatmu menembus waktu dan ruang
Wariswanmu teramat luhur untuk kami abaikan
Seandainya kami mau..........
Amat mudah kami laksanakan

Pahlawanku
Aku tak mau berimajinasi
Engkau haadir kembali disini
Untuk merayakan pesta emas negri ini

Pahlawanku
Aku tak sudi engkau bersedih
Banyak anak negri kurang gizi
Karena mereka diberi makan beras raskin dan mi instan
Banyak tempat di negri ini..........
Setiap tahun gundul...............
Lalu longsor bila hujan tiba
Karena kami sedikit saja menanam
Tetapi lebih banyak membabat hutan

Kalaupun ada .................
Tanaman yang kami wariskan
Harganya tidak seberapa
Sehingga rakyat negri ini
tetap hidup dibawah garis kemiskinan

Tanam, sekali lagi tanam
Warisanmu teramat luhur untuk kami abaikan
Tetapi terlalu berat kami amalkan
Sehingga apa yang kami buat
Tidakmenghasilkan apa-apa

Tanam, sekali lagi tanam
Apa yang sudah kami persembahkan
Pada perayaan pesta emas FLOBAMORA
Medio Oktober 2008



Pos Kupang Minggu 16 November 2008, halaman 6 Lanjut...

Puisi Santisima Gama

Oktober Kelabu

Pekik tangisan kini merobek sepi
Taburi lembah persemaian berkhmawan
Dengan seribu kerutan di wajah setiap insan
Fenomena terhimpit lukisan cerita pilu
Namun tampak samar-samar kelabu

Bagai drama mini seri
Adalah tokoh antagonis
Kisah si gembala berjubah
Kini versinya t'lah berubah
Baik sinetron, tak tau endingnya......

Si gembala berguman dalam diam
"Aku bukanlah seekor monyet
Yang berkeliaran di tengah rimbah,
Mengapa ragaku tergolek di sana?"
Sungguh Aku Tak Berdaya Di Alam Sepi


Faustin... Santu nama yang akrab kusapa
Kini kuucap keluh dalam nestapa
Mengapa kau berlalu di malam kabut....
Masih pagi usia imamatmu

Sekali lagi dia berguman lirih
"Putih jubahku tak berarti putih"
Akupun manusia tak luput dari dosa
Jika aku punya salah adili saja!!!
Mengapa cabut nyawaku???

Faustin....tersenyum bagi Mataloko-mu
Disanalah lahan perjuanganmu
Faustin....tersenyumlah bagi Ritapiret-mu
Disanalah wisma kebanggannmu
Faustin....tersenyumlah bagi Maulo'o-mu
Disanalah awal engkau membuka mata
Faustin... tersenyumlah bagi Raja-mu
Dan disinilah engkau menutup mata

Maumere, 13 Nopember 2008


Pos Kupang, Minggu 16 November 2008 halaman 6 Lanjut...

Sr. M. Clara Ruoh, OSF


Foto Maria Mathildis Banda
Suster Clara


Harapkan Kebijakan Sesuai Zaman

ORDO Suster-suster St. Fransiskus (Suster-suster OSF) sudah lama berkarya di Indonesia di bidang pendidikan dan kesehatan. Di NTT, OSF juga ada di Timor, Sumba, dan Flores. Pusat ordo di Indonesia berada di Semarang, Jawa Tengah. Di seluruh Indonesia OSF tersebar di hampir semua pulau.

Di Dunia, OSF berpusat di Roma, Italia. Awal Oktober yang lalu, tepatnya 9 sampai 14 Oktober 2008, Sr. Clara, pimpinan Biara OSF Denpasar, menerima para provinsial OSF dari seluruh dunia. Mereka berada di Indonesia dalam rangka Pra Kapitel General atau pertemuan awal, sebelum mengadakan rapat lima tahunan yang akan berlangsung di Roma, Italia tahun 2009.

Siapakah mereka, dari mana asalnya, apa saja kegiatannya selama di Bali? Siapakah Sr Clara? Bagaimana persiapannya bersama suster-suster OSF Denpasar menerima kedatangan para tamu? Berikut ini wawancara Pos Kupang dengan Sr. Clara, OSF, pimpinan Rumah Biara OSF Denpasar -yang pernah bertugas di Flores dan Timor. Wawancara berlangsung di Biara OSF Jn Serma Kawi 7 Denpasar Bali.

Para tamu, suster-suster dari seluruh dunia, sudah kembali ke negara masing-masing. Sebenarnya apa tujuan kedatangan mereka di Denpasar, Bali?

Mereka ke Denpasar Bali, tujuan utamanya tamasya, melihat keindahan Pulau Dewata. Mereka datang dari seluruh dunia dan ingin melihat Indonesia dari dekat, terutama Bali yang memang budaya dan panoramanya terkenal di dunia. Dari Bali mereka ke Semarang untuk mengadakan pertemuan Pra Kapitel Umum, sebuah pertemuan awal sebelum Kapitel Umum yang biasanya diadakan lima tahun sekali.

Bagaimana persiapan Suster menerima kedatangan mereka? Tampaknya Suster begitu sibuk dan konsentrasi penuh untuk memberi yang terbaik bagi para tamu. Apa tujuannya?

Saya dan semua yang ada di lingkungan biara OSF Denpasar mempersiapkan dengan sebaik-baiknya karena suatu kehormatan bagi kami mendapat kesempatan melayani dan berkenalan dengan para provinsial OSF seluruh dunia. Kami menyambut saudari-saudari kami setarekat yang sudah lama merindukan melihat kebudayaan, keindahan negara kami. Kami merenovasi kamar-kamar, kapela juga dirancang ulang. Yang lebih penting, mereka datang ke Indonesia karena ada pertemuan penting, karena itulah mesti diterima dengan baik dengan persiapan optimal supaya mereka merasa nyaman.

Karena itulah semua penghuni biara dan pekerja di biara kerja keras untuk menyambut mereka?
Ya! Bayangkan semua tenaga dikerahkan supaya benar-benar siap menerima kedatangan saudari-saudari kami. Ini sudah seharusnya kami lakukan. Kami juga mesti menjaga agar semua suster tetap sehat selama berada di Bali, juga di Semarang di biara pusat, dan pada tempat mereka mengadakan pertemuan.

Ada berapa orang? Mereka datang dari mana saja dan siapa saja mereka?

Seluruhnya ada 17 orang. Mereka adalah Wakil General (Pemimpin Umum), dan para asistennya yang datang dari Roma, para Pimpinan Provinsial dari negara-negara Amerika, Brasil, Polandia, Jerman, Belanda, dan Indonesia. Jerman ada dua utusan dari provinsi Nonnenwerth dan Ludinghausen, Brasil ada dua utusan dari provinsi Santa Maria dan Porto Alegre, Amerika empat orang utusan dari provinsi Redwood City, Denver, dan Stella Niagara. Belanda, Polandia, dan Indonesia masing-masing satu provinsi ditambah satu penterjemah dari Polandia dan sekretaris dari America.

Mengapa mereka memilih Indonesia? Apakah memang Indonesia menjadi negara tujuan dan negara yang tepat untuk sebuah pertemuan penting?

Keinginan datang ke Indonesia sudah lama. Namun setiap kali rencana batal karena kerusuhan bencana alam, bom Bali, dan penyebab lainnya. Sepertinya Indonesia adalah tempat yang berbahaya untuk didatangi. Setelah situasi cukup kondusif, akhirnya jadi juga ke Indonesia. Mereka ingin melihat Indonesia dan budayanya dari dekat. Makanya datang ke Bali dan Jakarta, Jogja. Di Bali mereka sangat senang. Pikiran tentang Indonesia yang berbahaya lenyap dengan sendirinya. Ketika tour ke Danau Bratan Bedugul, ada upacara adat, sesuatu yang lain dan unik mereka dapatkan di sana. Mereka terkesan sekali.

Keindahan alam, sesuatu yang berbeda. Pemandangan laut, tarian bali, dan berbagai suguhan pulau dewata mengesankan mereka. Saya memang mengatur perjalanan tour mereka di Bali dengan mempelajari sebelumnya apa yang istimewa di Bali, seperti perjalanan dengan kapal laut menyebrang pulau, dengan berbagai vasilitas agar bisa melihat pemandangan panorama laut.

Sebenarnya pertemuannya di mana? Mengapa lima tahun sekali? Agenda pertemuan apa saja? Seberapa jauh Suster melihat pertemuan ini penting?

Pertemuan di Griya Assisi Bandungan Jawa Tengah, dan mengambil tema; Witnessing our Passion for Christ to all Creation. Agenda pertemuannya mempersiapkan Kapitel Umum yang akan diadakan tahun 2009 di Roma, Italia. Tentu penting sekali melihat kembali kebijakan-kebijakan yang ada demi perbaikan menuju lima tahun yang akan datang. Ordo ini sudah berdiri selama 174 tahun. Dalam perjalanannya ada banyak hal yang terus-menerus diperbaiki demi visi-misi ordo yang mau diterapkan dalam kaul sebagai suster-suster OSF. Karena itulah pertemuan lima tahunan harus disiapkan secara matang.

Apa sebenarnya karya utama ordo OSF ini? Bagaimana kondisinya sekarang? Apakah masih cukup eksis di tengah zaman yang berubah cepat!

Ordo kami berkarya dalam bidang pendidikan, kesehatan, pendampingan umat, pelayanan sosial seperti panti asuhan, asrama-asrama, pendampingan anak-anak keluarga broken home, pendampingan korban penyakit HIV/AIDS. Namun yang paling besar dari karya kami adalah karya di bidang kesehatan dan pendidikan. Dengan makin meluasnya pelayanan, kami mengalami kesulitan karena yang terpanggil untuk hidup membiara mulai berkurang dari tahun ke tahun.

Sepertinya kehidupan membiara pada zaman sekarang ini tidak menarik. Bagaimana menurut Suster?
Mungkin. Makanya kesaksian kita orang biara harus benar-benar menyentuh kehidupan remaja zaman ini. Remaja sekarang ini berpikir kalau hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan sosial, melayani di bidang kesehatan dan pendidikan, tanpa masuk biara pun bisa. Kami harus memperbaiki citra pelayanan supaya menarik dan sesuai perkembangan zaman. Kunci juga ada di dalam keluarga. Keluarga-keluarga Katolik diharapkan memberi motivasi melalui cara hidup keluarga dalam doa-doa keluarga, hidup bersama orang lain, dan pelayanan masyarakat. Apalagi di zaman teknologi maju sekarang ini.

Kemajuan teknologi! Apakah ada pengaruhnya?
Teknologi komunikasi terutama. Banyak informasi masuk, banyak tawaran dan pilihan hidup. Orang lebih bebas memilih mau jadi apa untuk masa depannya. Biara bukan lagi pilihan menarik, dalam dunia teknologi yang serba terbuka. Pengaruhnya jelas ada! Seperti sekarang panggilan masih banyak ke daerah-daerah yang belum terlalu tersentuh dengan teknologi, sedangkan wilayah lain masih ada tetapi sangat sedikit.

Suster OSF juga sudah lama berkarya di NTT. Berapa sebenarnya jumlah suster OSF di Indonesia dan khususnya NTT dan berkarya di bidang apa saja?

Indonesia kurang lebih 350 suster tersebar di Jawa, Bali, Papua, Sumatera, Kalimantan, Jakarta. Kalau di NTT biara kami ada di Detusoko, Ende berkarya di bidang pendidikan, panti asuhan, dan rumah retret. Di .Kupang ada poliklinik. Di Kefa suster-suster kami menangani anak cacat. Di Maumare kami membantu di Seminari Ritapiret dan Keuskupan. (maria matildis banda)


Mengapa Suster Clara Masuk Biara?

PERTANYAAN ini berarti dan mengesankan bagi Clara yang ketika itu memang belum punya pilihan lain. Lingkungan hidupnya pada masa kecil dan masa sekolah diakuinya sangat mendukung. Saya sekolah di lingkungan yang dikelola para suster. Belajar agama di kampung dengan suster juga, lalu tertarik dengan figur suster kepala sekolah yang disiplin dan berangan-angan ingin seperti suster itu.

Merasa memang dipanggil? "Saat itu tidak jelas saya mengikuti saja keinginan hati! Tiga tahun pertama saya masuk biara tanpa mengalami kesulitan, tidak pernah merasa rindu pulang ke orang tua, lancar, dan tanpa keraguan. Justru bertahun-tahun sesudahnya baru merasa ada gangguan yang datang dari diri sendiri dan dari luar, godaan yang mempertanyakan benar tidaknya pilihan yang saya ambil. Adanya benturan-benturan itu ternyata membentuk pribadi saya, tapi semua itu tidak lepas dari dukungan orang tua, sesama suster, kawan-kawan di luar biara, penasehat rohani dan pemimpin yang meluruskan motivasi panggilan saya..."

Tampak jelas Sr. Clara yang dikenal kreatif dan selalu bergerak cepat menangani masalah ini prihatin dengan krisis panggilan yang terjadi sekarang. "Tahun ini kami hanya punya satu calon yang datang dari Timor Leste. Tampaknya ordo atau tarekat lain juga mengalami hal yang sama." Krisis panggilan ini hendaknya menjadi tanggung jawab kita semua. Keluarga, ordo-ordo dan segenap penanggung jawabnya, para pimpinan hirarki gereja, biarawan-biarawati, para pastor paroki, keluarga-keluarga dan umat sekalian.

Suster Clara masuk biara, pilihannya pada Ordo Suster-suster St. Fransiskus Assisi. Ordo ini memiliki visi "kami para suster dari Santo Fransiskus dari Tobat dan Cinta Kasih Kristiani, Provinsi Tritunggal Mahakudus Indonesia, menghayati injil Yesus Kristus dalam semangat Bapa Fransiskus dan Ibu Magdalena Damen, percaya akan kebaikan Tuhan dan penyelenggaraanNya untuk memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah di jaman ini dengan kelembutan hati bagi semua ciptaan".

Berdasarkan visi itu Suster Clara bersama sesama saudarinya se-biara menjalani misi: Meningkatkan keheningan batin dengan mengakui, menyembah, dan mengabdi Tuhan agar iman akan penyelenggaraan Ilahi semakin tumbuh dan berkembang dalam menghadapi realita hidup; Bertobat terus-menerus dan bersikap berani menjadi saksi masa kini yang memperjuangkan kejujuran, kebenaran, dan keadilan dengan kelembutan batin; Menghadirkan Kristus datang melaksanakan karya perutusan Gereja dan tarekat dengan kerendahan hati dan siap sedia kemana pun kita diutus; Membuka diri dan bekerja sama dengan siapa saja yang berkehendak baik dalam memperjuangkan nilai-nilai politik, ekonomi, sosial, dan budaya untuk mengangkat martabat manusia dan keutuhan lingkungan semesta. (dis)

Pos Kupang Minggu 9 November 2008, halaman 4
Lanjut...

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda