Ahmad Betan dan Nursimin


POS KUPANG/Matilde Dhiu
Ahmad Bethan

Gampang-gampang Susah Didik Anak

MEMILIKI anak semata wayang membuat pasangan ini gampang-gampang susah dalam mendidik dan membimbing anak. Di satu sisi, keduanya bersyukur karena Tuhan Yang Maha Kuasa masih memberikan kepercayaan kepada keduanya, namun di sisi lain dirasakan sulit karena memiliki anak tunggal yang memiliki kemauan keras. Mau dimanjakan salah, mau mendidik dengan keras juga salah. Serba salah. Apalagi putranya ini memiliki riwayat kelahiran yang unik.

Bagi keduanya, putra tunggalnya adalah anak yang mahal. Lalu bagaimana tips keluarga ini agar anak tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat dan mandiri, yang berguna bagi keluarga, agama dan negara?

Itulah pasangan Ahmad Betan dan Nursimin, pria asal Pulau Lembata yang menikahi wanita kelahiran Bugis- Makassar ini. Pasangan ini memiliki anak tunggal, Badarudin Betan, yang lahir di Kupang, 13 Januari 1996.

Saat ini duduk di bangku kelas I MTs Negeri Kupang di Nunbaun Sabu, Kecamatan Alak, Kota Kupang.
Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis (6/11/2008), Ahmad yang juga kepala sekolah di MTs Negeri Kupang ini, mengatakan, putranya adalah anak yang mahal karena memang memiliki sejarah kelahiran yang unik.

Badarudin lahir melalui proses bedah sesar. Sebenarnya, Badarudin memiliki dua kakak, namun Sang Ilahi berkehendak lain. Istrinya dua kali mengalami keguguran.
Jadi, ketika mendapatkan Badarudin, walau dengan proses sesar, keduanya sangat bersyukur. Apalagi anaknya kini tumbuh sehat, meski sedikit kelainan di kepalanya yang membuat Badarudin agak lamban dalam mencerna pelajaran di sekolah.Walau demikian, pertumbuhan dan perkembangannya sama seperti anak-anak lainnya.

Menurutnya, karena merasa sendiri di rumah, kadang putra semata wayangnya ini memiliki kemauan yang keras. Namun, sebagai orang tua yang menginginkan agar suatu saat anaknya harus sukses dan mandiri, keduanya harus mensiasati keadaan ini sehingga tidak terkesan dimanjakan. Walaupun hanya memiliki satu anak, tidak serta merta keduanya harus memenuhi segala kemauan dan keinginannya. (nia)


Lungkan Waktu untuk Anak

SEBAGAI orangtua yang berharap anak-anak berhasil di kemudian hari, Ahmad Betan juga selalu memberikan motivasi kepada buah hatinya. Pria hitam manis yang juga mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Muhamadyah Kupang (UMK) ini selalu meluangkan waktu untuk memotivasi dan memberikan arahan kepada anaknya. Walau sibuk, ia selalu menyempatkan waktu untuk bersama putranya.
Salah satu hal yang selalu ia lakukan adalah memberikan penjelasan dan mengarahkan anaknya ketika meminta sesuatu. Baginya, kalau hal yang diminta adalah sesuatu yang penting misalnya kebutuhan sekolah pasti akan langsung dipenuhi. Tetapi, bila yang diminta hal-hal yang bersifat untuk permainan, biasanya ia menjelaskan akan membeli kalau sudah punya uang. "Saya jelaskan kepada anak, bahwa bapak belum punya uang saat ini. Kalau sudah ada uang pasti bapa belikan. Selain itu, saya biasanya memotivasinya untuk selalu menabung. Hal ini dilakukan agar anak tidak selalu bergantung kepada orang tua," kata pria yang menyelesaikan S2-nya di Program Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Makassar tahun 2006 ini.
Sebagai seorang guru ia agak ketat dengan kegiatan belajar anak di rumah. Dia mengharuskan anaknya membuat jadwal belajar dan ditempelkan pada meja belajar di rumah. Hal ini dilakukan agar keduanya lebih gampang memonitor anak. Jam-jam belajar selalu diawasi oleh keduanya sehingga anak bisa belajar dengan baik. Saat jam belajar, biasanya televisi di rumah dimatikan. Hal ini dilakukan agar tidak menganggu. Selain itu, jika ada kesulitan ia selalu mendampingi anak dan mengajarkannya sesuai kemampuan. "Kalau saya ada di rumah biasanya dia berkonsultasi dengan saya, tetapi kalau tidak ada dia belajar sama mamanya," katanya.
Anaknya juga diikutkan dalam les tambahan di sekolah untuk mata pelajaran yang dianggap agak susah seperti matematika dan bahasa Inggris.
Di usia yang memasuki masa remaja ini, keduanya selalu memberikan arahan agar anaknya tidak terjebak pada hal- hal negatif karena pengaruh lingkungan dan teman- temanya. Namun demikian, keduanya bersyukur karena anaknya ini diberi dasar iman yang kuat. Selain pendidikan agama di rumah, keduanya bersyukur anaknya bisa masuk di sekolah MTs. "Sekolah ini yang memudahkan kami untuk membimbingnya. Anak-anak kalau diberi dasar yang kuat dari keluarga terutama iman, pasti akan menjadi anak yang sukses dan baik. Karena kalau ingin berbuat yang negatif, ia pasti akan selalu takut akan dosa," katanya.
Sementara itu untuk asupan gizi yang merupakan salah satu proses yang sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, ia mengatakan, sebagai pegawai kecil keluarganya mengkonsumsi menu yang sesuai dengan kemampuan ekonominya. Yang terpenting adalah ada nasi, sayur, lauk-pauk dan buah-buahan. "Untuk menu makan di rumah, mamanya selalu memasak sesuai dengan pendapatan saya. Yang penting ada sayuran hijau, buah dan lauk seperti ikan. Kalau makan daging, yah dua, tiga kali seminggu itu sudah cukup," kata Ahmad. (nia)


Pos Kupang Minggu, 9 November 2008, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda