Ama Obama

Parodi situasi

SUDAH pasti Barack Obama menang! Amerika dan dunia berpesta pora karenanya. "Change!" Demikian kata Obama. Pendukungnya pun menjawab "Yes! We can!" Jaki dan Rara pun ikut-ikutan menjawab. "Yes!" Sambill mengepalkan tangan kanan membentuk siku-siku dan menariknya ke belakang.

Keduanya pun tidak berkedip menelusuri salah satu artikel dalam buku Menelusuri Jejak Barack Obama di Jakarta terbitan Mediakita 2008, berjudul "Senator Amerika Rasa Indonesia" di bawah judul besar "Calon Presiden AS dari Gang Sempit."

"Ada-ada saja orang kita buat berita ya? Ha ha ha e... senator Indonesia rasa Indonesia? Rara tempe atau rasa tahu atau rasa nasi atau jagung bose ya? Obama! Presiden dari gang sempit," Jaki terpingkal-pingkal.

"Aku ini teman sepermainannya Obama. Semua orang panggil dia Barry, aku panggil dia dengan panggilan khusus sebagai ungkapan rasa kedekatan kami ketika itu," sambung Rara. "Aku panggil Bama atau Ama, Ama, Ama..."

"Duh, manisnya... Beruntung kamu punya teman jadi presiden!"

***
"Ini kesempatan emas untuk minta dana. Buat proposal, kirim ke Gedung Putih. Semua urusan jadi lancar," Rara berbunga-bunga.

"Kepalamu isinya hanya proposal. Asal pernah teman, asal pernah saja sekedar lewat dalam peran suksesi, mulailah pasang aksi proposal. Penyakit balas jasa ya?" Jaki mengolok-olok Rara. "Proposal melulu yang kamu pikir. Memangnya proposal untuk apa?" Tanya Jaki.

"Untuk pesta nikah!" Jawab Rara.
"Hah? Siapa calon istrimu?"
"Nona Mia!" Jawab Rara bangga.
"Apa kamu sudah gila? Nona Mia baru tamat SD, baru umur 12 tahun, masih bau kencur. Kok bisa-bisanya kamu nikah dengan Nona Mia?" Jaki kaget setengah mati. "Kamu bukan Syek Puji dari Semarang yang menikahi anak usia 12 tahun. Masalah Syek Puji ada Kak Seto yang urus. Kalau kamu siapa yang bisa urus?

Duh, Nona Mia itu masih kanak-kanak. Apa kamu tega menebang masa depannya?" Jaki benar-benar kebingungan menghadapi Rara.
"He he he...aku sudah dijodohkan. Sudah belis, sudah urus sejak aku belum lahir. Hanya, memang Nona Mia lahirnya belakangan dari aku. Jadi beda usia puluhan tahun dapat dimaklumi. Kamu tahu bukan aku sudah kawin adat, dan aku orangnya menjalani hidup sesuai adat," Rara membela diri dengan sengit.

"Kamu langgar UU Perkawinan. Kamu langgar HAM. Kamu langgar UU Perlindungan Anak. Kamu langgar UU-KDRT. Negara kita ini negara hukum. Langkahmu akan dijegal hukum! Tahu kamu!"
"Nah, ini saatnya aku tantang hukum negara kita! Apakah hukum negara kita punya gigi untuk menjebloskan aku ke penjara? He he he" Rara terkekeh-kekeh. "Aku kenal Obama. Obama teman masa kecilku. Namaku tercatat di Gedung Putih. Pernikahanku dibiayai lembaga kepresidenan negeri Paman Sam.

Pendukung Obama adalah pendukungku. Kurang apa aku? Apa hukum negara berani melawan aku?" Rara mengancam dan Jaki pun tersentak kaget.
***
Begitulah Jaki menceritakan semua ulah Rara kepada Benza. Benza menarik nafas panjang. "Kamu tahu bukan, sikap pemerintah terhadap hukum negara kita memang sangat permisif. Tidak tegas dalam menyikapi suatu tindakan yang jelas-jelas melanggar hukum! Di belakang Rara ada Obama dan segenap kekuatannya.

Sekarang tergantung para pemimpin kita. Mau takut dengan semua kekuatan sosial di belakang Rara, ataukah mau tegakkan harga diri negara. Mau bertekuk lutut di kakinya massa pendukung Obama ataukah mau tegakkan supremasi hukum? Memang betul! Negara kita sedang diuji dan diuji. Negara harus jaga harga diri untuk menegakkan hukum yang berlaku untuk segenap warga negara tidak terkecuali.

Kalau sampai negara kalah, otoritasnya bakal melemah dan mengarah pada kehancuran!" Benza serius sekali.
"Apa benar begitu?" Jaki ternganga. "Mungkinkah negara kita takut pada kekuatan kelompok sosial pendukung Obama di mana Rara ada di dalamnya?" Aduh, kalau Obama tahu, pasti dia buat putus hubungan diplomatik dengan kita!"

***
"Halo, datang ya ke resepsi pernikahanku," Rara datang bersama si kecil Nona Mia dalam gandengannya. "Ini undangannya! Aku kawin adat! He he he hukum macam mana yang berani melawan aku?

Apakah ada penentu kebijakan negara ini yang mau lawan Rara dan kekuatan sosial pendukung Obama di belakangnya? He he he..." Rara tetap terkekeh-kekeh sambil berlalu. Nona Mia tersenyum manis dan tampak ketakutan dalam pelukan si tua Rara.

"Aku juga ingin seperti Rara," tiba-tiba Jaki pun mengkhayal untuk punya istri simpanan usia 12 tahun. "Aku akan menjadi bagian dari hidup Rara, otomatis kekuatan Obama ada di belakangku.

Aku mau terbang langsung ke Amrik, langsung ke Gedung Putih. Hukum negara mau jegal aku? Coba saja!" Jaki pun berlalu. Tinggallah Benza sendirian terpekur sambil menepuk testa. (maria matildis banda)


Pos Kupang Minggu 9 November 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda