Dokter Valens, Yth

SALAM
hormat. Saya langsung saja memperkenalkan diri saya. Saya Agatha, 23 tahun, gadis asal Flores. Saat ini saya sedang pada tingkat akhir studi saya pada salah satu perguruan tinggi di Kupang. Soal kesuksesan dalam belajar, saya kita tinggal menghitung genapnya hari.

Saya pasti bisa meraih sukses dalam belajar, karena saya memang tidak memiliki banyak permasalahan di bangku kuliah. Yang justru sering mengganggu pikiran saya adalah Charles. Pemuda ini saya kenal sudah lama, waktu saya masih SMU dulu di Flores. Ketika di Kupang kami bertemu lagi dan ternyata kami saling tertarik dan jadi deh berpacaran.

Kalau mau dihitung, sudah dua tahun kami berpacaran. Charles sudah selesai kuliah dan sudah bekerja di kota ini sebagai pegawai pada salah satu BUMN. Dalam banyak hal saya suka Charles. Dia pintar, ulet bekerja dan sering dipercayakan oleh pimpinannya untuk menangani masalah-masalah khusus (mudah- mudahan dia tidak tambah sombong mengetahui bahwa saya memujinya).


Satu hal yang membuat saya khusus, hal yang kadang "maju- mundur" (bingung). Kebetulan kami beragama sama. Dengan cara yang halus maupun sedikit mengancam saya sudah lakukan, namun karena responnya tidak ada, lama-lama saya mulai malas mengajaknya. Memang bahwa Charles selalu saja ada pekerjaan di saat-saat seperti itu, tapi itu pekerjaan menurut saya tidak prioritas saat itu. Dia ulet dalam mencari duit, tapi sama sekali malas berdoa .

Pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa, memang Charles adalah tipe orang yang yang tidak menganggap penting masalah berdoa dan beribadah. Saya mulai merasa berat karena saya adalah tipe orang yang rajin berdoa, berarti kami tidak cocok. Pertanyaannya apakah kesimpulan saya ini benar?

Saya sudah lama berpikir, bila tidak berhasil membuat Charles rajin beribadah dan berdoa maka sebaiknya kami putus. Pertanyaannya, apakah keputusan saya ini benar? Bila saya memang bisa jodoh dengan Charles bagaimanakah caranya saya menghadapi Charles, supaya saya juga bisa tenang? Ataukah sebaiknya kami jangan teruskan hubungan cinta kami ini? Saran dokter tentunya akan banyak membantu saya mengambil suatu keputusan terhadap Charles. Akhirnya atas jawaban dokter, terdahulunya saya ucapkan terimah kasih.
Salam, Agatha, Oepura-Kupang.

Saudari Agatha yang baik,
Salam hormat juga buat anda. Surat anda sangat simpatik, menarik dan menantang. Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa saya bukan rohaniawan dan ahli agama. Jadi saya tidak banyak mengetahui tentang bilik-bilik teologi yang rumit. Pada kesempatan ini saya hanya mengantar Anda kepada sesuatu yang disebut orang sebagai kecerdasan spiritual atau aktualisasi diri. Seringkali orang justru menganggap ritual atau ibadah sebagai suatu tujuan bukan sebagai cara.

Orang melakukan ibadah sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan, karena takut menerima hukuman dari Tuhan (berupa penderitaan dan neraka) dan jika dilakukan maka akan menerima pahala (surga). Menjalankan ibadah agama dengan motivasi karena ketekunan (fear motivator) menunjukan kecerdasan spiritual paling rendah. Tingkat lebih di atasnya dalam motivasi karena hadiah (reward). Kemudian, tingkatan kecerdasan spiritual yang paling tinggi adalah ketika orang menjalankan ibadah agama karena mengetahui keberadaan diri sebagai makluk spiritual dan kebutuhan untuk menyatu dengan Sang Pencipta berdasarkan kasih (love motivation).

Dalam sebua buku baru (2003) menyangkut pengembangan spiritual (spiritual development ) perihal pengolahan diri (self management) yang berjudul Enrich Your Life Everyday (perkayalah kehidupan anda setiap hari).

Dua orang penulis Indonesia Ariwibowo Prijosaksono dan Irianti Emingpraja menguraikan bahwa, kecerdasan spiritual berarti kemampuan orang untuk dapat mengenal dan memahami diri sepenuhnya sebagai makluk spiritual (mempunyai roh) mapun sebagai bagian dari alam semesta.

Dengan memiliki kecerdasan spiritual berarti orang memahami sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang dijalani dan kemanakah orang akan pergi. Seorang ahli jiwa termasyur , Abraham Maslow dalam bukunya Hierarchy Of Needs (tingkatan kebutuhan) menggunakan istilah aktualisasi diri (self actualization) sebagai kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang manusia.


Aktualisasi diri sebagai sebua tahapan spiritual seseorang dimana seseorang berlimpah dengan kreativitas, intuisi keceriaan, sukacita, kasih, kedamaian, toleranasi, kerendahan hati, memiliki tujuan hidup yang jelas. Nah, telah panjang lebar diuraikan diatas tentang kecerdasan spiritual.

Charles adalah seorang yang kurang memperdulikan hal-hal semacam itu. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi pada Charkes, pertama dia tidak paham dan kedua dia salah paham menyangkut kecerdasan spiritual ini. Dari cerita Anda diatas, saya lebih cenderung mengartikan bahwa Charles salah paham dan kalian berdua berbeda paham. Salah paham dan beda paham ini bisa diselesaikan atau bahkan makin sulit diatasi tergantung dari apa yang kalian cari. Ada tiga tujuan yang akan digapai yakni Wealth (kekayaan), Success (keberhasilan), Love (kasih). Anda maupun Charles akan gagal bila yang dipilih pertama atau kedua. Namun bila yang Anda utamakan yang ketiga (Kove), maka yang pertama dan kedua akan mengikutinya (Where Ever there in love, there ins also wealth and success).

Dari uraian diatas ini pula pertanyaan anda bisa dijawab, masa pacaran adalah masa penyesuaian. Kalau yang ada pada Charles adalah bukan tidak paham, tetapi salah paham dan atau bedah paham, maka dapat dikatakan bahwa Anda berdua tidak cocok. Kesimpulan Anda tidak salah. Saran dilanjutkan saya bahwa, umumnya perilaku seperti pada Charles saat ini adalah hilir (muara) dari suatu sejarah hidup yang panjang. Pengalaman yang telah terakumulasi menjadi watak dan kepribadian akan sulit untuk diperbaiki. Bila ketenangan dan kasih yang Anda cari maka bukan dialah yang tercipa untuk menemani Anda. Selamat mengambil keputusan.
Semoga. Salah, dr. Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 16 November 2008, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda