Hampir Terbenam

Cerpen Herko

MENTARI masih bersinar, embun pun baru menetes, gulita baru saja pamit. Namun Apri pun belum juga bangun dari tidurnya. Ibu memanggil-manggil namanya sekadar mau membangunkannya dari tidur. Ibu menyiapkan sarapan pagi buat keluarga. Bunga tidurnya terpaksa harus membuat ibu menjadi malas membangunkannya lagi. Ibu pun akhirnya memilih untuk diam. Mentari terus menanjak, sementara jendela di kamar belum juga terbuka. Jarum jam juga terus berputar, setiap detik, menit memaksa ayah mampir di kamarnya. Selimut penghangat di waktu tidur ditarik ayah, jendela kamarnya juga dibuka.

Sambil mengucak matanya Apri beranjak meninggalkan kamar. Sementara membersihkan dirinya di kamar mandi ibu berkata kepada Apri kalau temannya barusan pulang. Dengan meninggalkan pesan kalau jam sembilan ia akan kembali.
Belum selesai sarapan, terdengar pintu diketuk. Sapaan pun mengahampirinya di ruang makan.
"Fer, langsung saja ke sini sekalian sarapan."
"Enak aja katamu. Sudah jam segini kok kamu barusan sarapan? Makanya jangan terlalu bersarang pada dunia kemalasanmu."
"Sorry fren, kebetulan tadi malam aku lagi nonton pertandingan seru. Biasa liga Italia, AC. Milan Vs Juventus. Ya, seperti biasalah imbang 0-0. Oh..., yach bagaimana planning kita hari ini?"

"Biasalah kita ke sungai hari ini buat mancing ikan."
Sungai itu begitu tenang, namun ia tetap mengalir menuju tujuannya. Kata orang sungai yang tenang itu kadang menghanyutkan. Memang betul juga peribahasa klasik itu. Nyatanya minggu yang lalu seorang anak harus menamatkan riwayatnya di sungai ini. Walau alam tak mampu berkata-kata namun ia mampu bersuara tentang rahasianya. Rahasia alam hanya bisa dimengerti oleh segelintir orang saja, tidak semua orang mampu mengerti akan bahasa alam.

Sudah sejam tugas rutin ini berjalan. Umpan yang tersedia sudah habis dimakan ikan. Namun tidaklah mengecewakan, sebab cukup banyak ikan yang kami dapatkan, dengan makanan kesukaan mereka.
Kedua sahabat itu memutuskan untuk segera pulang. Sewaktu di jalan, teringatlah Apri akan janjinya dengan Mita kekasihnya. Reaksi spontannya mengagetkan Ferdi. Ferdi heran melihat tingkah Apri.

"Fer....aku lupa," sambil tak mempedulikan Ferdi, Apri mempercepat langkahnya. Makin lama makin jauh karena ia memutuskan untuk berlari saja biar tidak begitu telat. Ferdi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Langkah demi langkah membawa Ferdi tiba di rumah juga. Kebetulan rumah keduanya tidak begitu jauh. Ferdi tahu apa yang harus ia buat. Dengan tenangnya ia mengeluarkan sepeda motornya dan memarkirnya di depan rumah. Sambil memperbaiki kerak bajunya Apri ucapkan terima kasihnya pada sahabatnya itu. Maklumlah Apri tidak mempunyai sepeda motor, tapi mereka hanya punya BMW kecil. Sementara Ferdi yang memiliki sepeda motor. Keadaan yang mendesak itu harus memaksa Apri untuk segera pergi. Apri hilang dibalik tikungan di bagian utara rumah mereka.

Layaknya seorang juru masak Ferdi bermodalkan pengalamannya ia mulai mengolah hasil pancingan mereka. Tak kalah saingannya dengan ibunya kalau dalam hal yang satu ini.
"Sorry Mit....aku telat. Aku lupa. Aku sama Ferdi pergi mancing ikan di sungai. Sekali lagi sorry ya Mita...."
Mita yang sudah lama menunggu itu, merasa dipermainkan, tetapi Mita tetap berusaha untuk mengerti dan percaya padanya. Entah apa yang tiba-tiba merasuki Mita, tiba-tiba ia berkata

"Apri....Apri...sampai kapan kamu tetap seperti ini? Setiap kita janjian untuk bertemu kamu selalu saja telat. Tidak pernah tidak. Setiap kali janjian aku selalu saja ada pada pihak yang selalu menunggu. Tahu tidak kamu pekerjaan yang paling membosankan itu adalah menunggu. Selama kita jadian, kamu belum pernah menunggu aku bila kita ada janjian. Aku sudah lama belajar untuk mengerti dengan sikapmu ini, tapi aku kembali malas. Hingga detik ini pun kamu masih mengulangi hal yang sama.

Di manakah perasaan kamu kepada aku yang selalu setia menunggumu setiap saat? Kalau setiap saat seperti ini terus mendingan kita bubar saja." Nadanya meninggi.
Mata Apri seakan mau meloncat keluar dari kelopaknya. Tanpa pikir panjang, Apri menghadap Mita, "Sus...suster....pasien yang namanya Mita, ruang rawatnya di bagian mana ya?" Tanya Apri dengan nafasnya yang ngos-ngosan.
"Pasien yang namanya Mita? Tunggu sebentar akan aku cek pada daftar pasien."
"Ia...ia...ia...sus," jawab Apri seperti tak sabar lagi.
"Pasien yang bernama Mita, di ruang rawat wanita, kamar ketiga dari pintu bagian kanan." Jelas suster pada Apri dan sahabatnya.

Kecemasan dan kegelisahan yang menghantui Apri memaksanya untuk mempercepat langkahnya dan pada akhirnya ia harus berlari. Saking cepatnya sampai-sampai tak ada kata permisi pada orang-orang yang sedang lalu-lalang. Akhirnya ruang yang dituju ditemukan juga. Tanpa mempedulikan Ferdi yang membuntutinya dari belakang Apri langsung membuka pintu ruang tempat Mita dirawat. Di ruang itu sudah ada Ellen, Dea dan beberapa temannya yang lain. Infus yang dipasang suster mencoba menolong Mita. Tetes demi tetes obat yang ada dalam infus itu makin berkurang hingga seperempat. Namun Mita juga belum sadar. Dengan penuh kebisuan, kecemasan dan kegelisahan Apri mendekati Mita yang tak tersadarkan. Dipegang tangannya, dikecupnya seakan tak ada sesuatu yang menjadi penyebab semuanya ini.
Ellen, Dea dan beberapa temannya meninggalkan keduanya. Sementara Ferdi sudah ada di depan pintu. Tangan Apri tak henti-hentinya lepas dari tangan kekasihnya itu.

"Mit...seandainya aku tak melangkah mengikuti emosiku, mungkin engkau tak terbaring seperti ini, mungkin juga kita tak ada di sini. Aku salah Mit, langkahku tadi telah mengakibatkan semuanya ini. Tanganmu yang mungil ini berulangkali kau ayun namun aku tak peduli sedikitpun. Sadarlah Mit, aku ada di sampingmu, aku janji aku tak akan meninggalkan kamu lagi. Mita aku mohon, sadarlah sebab aku takut kehilangan kamu, aku sangat mencintai kamu. Bagiku engkau adalah bintang yang bercahaya di malam hari, engkau adalah mawar yang sedang mekar di taman hati ini.

Mit...maafkan aku Mit. "
Mita yang belum juga sadar itu membuat Apri harus tetap menunggu di samping tepat tidur Mita dibaringkan. Akhirnya ia juga tertidur pulas. Namun tangannya tak lepas sedikitpun dari tangan Mita.
Ferdi ingin melihat Mita dan Apri. Dari balik pintu matanya menangkap sepasang kekasih itu sedang berada di dunia mereka masing-masing. Katanya pada Ellen dan beberapa temannya yang lain kalau Apri juga sudah tertidur.
Tak lama kemudian tangan Mita mulai bergerak dan akhirnya matanya juga ikut terbuka. Air matanya berderai ketika mata indah miliknya memastikan yang ada disisi tempat tidur itu adalah Apri kekasihnya.

"Apri.. Apri..." tangannya yang masih lemas tak mampu membangunkan kekasihnya. Namun cinta yang memiliki kekuatan menyadarkan Apri dari tidurnya.
"Mita..."
Mita dengan pandangan sayu lalu tebarkan senyum di wajah cantiknya itu.
"Oh....Tuhan, Engkau telah membuat Mita sadar, Engkau telah membuat Mita bisa melihat dan merasakan kehadiranku di sini. Mita, maafkan aku, maafkan aku Mita.." suara Apri memohonkan kebebasan.
"Apri, jangan pikirkan itu lagi, yang berlalu ia berlalu, percayalah padaku Mita baik-baik saja, Mita masi seperti yang kamu kenal sebelum ini terjadi dan seperti yang aku cinta dan sayang," keduanya mengucap kata yang sama. Akhirnya keduanya kembali bisu penuh bahagia. Setelah dipastikan kondisi Mita kembali normal, maka ia boleh dipeerkenankan untuk pulang.

Tawaria kembali menghiasi perjalanan mereka hingga telapak mencium halaman rumah Mita. Cinta yang hampir pupus tak berhasil ditelan situasi, mentari yang hampir terbenam kembali biaskan sinar kasihnya, maut yang hampir merenggut cinta kembali menuai kegagalan. Indahnya suatu perjalanan bila ada lekak-lekuknya, begitu pula dalam perjalanan cinta, terasa indah dan mesra bila diwarnai dengan suka dan duka, demikian pula kita akan lebih mengenal apa artinya sebuah perjalanan dan apa artinya cinta. Karena cinta itu memiliki powernya tersendiri. (*)


Pos Kupang Minggu, 2 November 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda