Mapala & OMNIA SANITAS FKM Gugah Nurani


Foto ist
AKSI LINTAS ALAM-- Para Anggota MAPALA dan OMNIA SANITAS FKM Undana ketika melakukan aksi Lintas Alam, Peduli Lingkungan saat membersihkan drainase yang tersumbat di Jalan El Tari-Kupang Sabtu (1/11/2008) )

Di Bawah Guyuran Hujan Perdana

SIANG terik menyengat, Sabtu, (1/11/2008), hawa panas menjalar ke seluruh pojok Kota Kupang. Sekelompok mahasiswa berjumlah 250 orang, tengah berbaris rapih di depan kampus Universitas Nusa Cendana (Undana) di Jalan Jenderal Soeharto Naikoten I, Kota Kupang. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (FKM Undana) yang tergabung dalam Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Siaga Bencana yang merupakan bagian dari kegiatan OMNIA SANITAS (Orientasi Mahasiswa; Nurani, Intelektual, dan Kepribadian- Sabtu Nikmat, Indah, Tenteram dan Santai). Kostum seragam biru tua dengan tulisan PUBLICH HEALT FACULTY membuat mereka nampak sama dalam berpakaian.

Ada pun perlengkapan yang dibawa oleh mereka adalah sapu lidi, karung dan parang (khusus yang laki-laki). Semuannya serius mendengar pengarahan dari komandan kegiatan Deny Taklal (Ketua Mapala FKM). "Teman-teman, hari ini kita akan melakukan aksi peduli lingkungan kota dengan rute depan kampus Undana lama, Pasar Naikoten I, depan Kantor SKH Pos Kupang, Jalan El Tari I dan berakhir di Bundaran Kantor Gubernur di Jalan El Tari".

Ia berhenti untuk menarik napas. kemudian melanjutkan "Sudah siap semuanya???" tanpa diperintah semua mereka berteriak "Siap...". suara mereka melengking seakan merobohkan gedung tua kampus tua yang penuh dengan tambal sulam.

Saya sendiri sebagai ketua panitia OMNIA SANITAS merasa terharu dengan semangat rekan-rekan ini. Mengapa tidak, kegiatan ini telah dimulai dari pagi hari sekitar pukul 08.00 Wita dengan beberapa materi tentang lingkungan yang diberikan oleh dosen. Mereka kembali ke rumah pukul 13.00 Wita dan telah berada kembali di kampus pukul 14.30 Wita. Aku melihat jam tanganku, dan waktu telah menunjukkan pukul 14.45 Wita. Perjalanan pun dimulai. Deny mengambil posisi paling depan bersama fotografer kawakan FKM Josua Sriadi.

Barisan dibuat berbanjar tiga ke belakang. Para peserta begitu bersemangat. Baru menjejakkan kaki di gerbang depan kampus, semua telah membungkuk beramai-ramai. Tangan-tangan gemulai para mahasiswi FKM yang selama ini bersih dan mulus terpaksa harus terpapar langsung dengan tanah dan sampah. Sepanjang perjalanan yang dilintasi selalu ada saja sendau gurau dan galak tawa dari para peserta. Sambil bergurau mereka berlomba mengumpulkan sampah terbanyak. "Kae, b (beta) pung karong su penuh ni karmana o,.. b (beta) juara to? "Terdengar teriakan Sara Banamtuan. Gadis cantik ini mengangkat karungnya yang penuh dengan sampah ke arahku. Saya cuma tersenyum dan diikuti dengan ledakan tawa dari rekan-rekan lainnya. Memang hal ini terlihat lumrah dan lucu namun mengandung nilai yang sangat tinggi.

Dalam Pasar Naikoten I ada saja yang dilakukan oleh peserta. Mereka tak segan-segan berkenalan dengan para pedangang dan sedikit berceritra dengan mereka. "Inga o, ketong pu perjalanan masih jauh, jadi agak dipercepat langkahnya..." kata Max mengingatkan.
Awan gelap yang sarat dengan air, bergerak dengan cukup cepat ke arah rombongan kami. Saat itu kami baru tiba di depan Rumah Jabatan Gubernur NTT.

Trotoar yang dilalui begitu bersih akibat tersapu oleh sapu-sapu milik peserta. Selang beberapa menit, butir-butir air kecil telah jatuh berserakan. Semua peserta terlihat gelisah ketika hujan semakin deras. Semua berlarian mencari tempat berteduh. Saat itu perjalanan kami telah tiba di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Propinsi (DPRD) NTT. Saya coba menatap gedung yang megah tersebut, namun sayang semua gerbang terkunci hingga kami hanya dapat berteduh di bawah pohon akasia yang masih tersisa di jalur El Tari I.

Hujan semakin deras sehingga dedaunan aksia yang kecil tak mampu membendung curahan air dari tingkap langit. Semua basah kuyup.
Hujan berlangsung cukup lama sekitar 10 menit dengan jumlah air yang tercurah lumayan banyak. Air di selokan mulai mengalir deras, walau beberapa tumpukan sampah sempat menahan laju aliran tersebut. Kami melanjutkan perjalanan. "Kae, di sini tersumbat!" teriak Afgan sambil memperbaiki letak kaca matanya.

Ternyata air dalam drainase di depan lahan milik BI, tersumbat oleh sampah yang lumayan banyak. Ranting-ranting kayu, dedaunan kering, kertas, kantong plastik, dan sampah rumah tangga lainnya memenuhi saluran tersebut. Dengan sigap; Aisya, dan Marisa, dibawa komando Croiz Ua langsung beraksi. Mereka mengangkat sampah- sampah tersebut dengan penuh semangat.

Melihat ini kontan hampir seluruh peserta ikut menceburkan diri dalam drainase yang lumayan panjang tersebut.

Angin senja berhembus sedikit pelan. Di depan rombongan kami, sekitar 30 meter, Pak Lurah Oebobo, Gerardus Bidi, telah menanti kami dengan beberapa orang warga. Kebetulan saat itu Pak Lurah dan beberapa warga sedang melakukan bakti dalam rangka partisipasi program Walikota Green and Clean. Nini (koordinator aksi) mengambil alih komando pasukan. Setelah berdiskusi beberapa menit, kami sepakat untuk berkolaborasi dengan warga membersihkan taman di jalan El Tari.

Sebenarnya kegiatan ini untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya menjaga kebersihan terutama kebersihan lingkungan di sekitar kita. Demikian komentar Deny usai bakti tersebut. Dia juga melanjutkan "Kegiatan ini dimaksudkan sebagai langkah antisipasi terutama saat-saat menjelang musim penghujan, sebab kita ketahui bersama bahwa saat musim pancaroba, ada saja penyakit yang berdampak Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti Diare/Muntaber, DBD, dan Malaria ".

Lurah Oebobo, Gerardus Bidi memuji keuletan para pencinta Alam ini. "Ini baru namanya anak muda, ujung tombak pembangunan dan harapan bangsa. Mereka tidak banyak bicara namun secara langsung memberikan teladan yang menadjubkan. Sungguh saya selaku Lurah sangat tergugah dengan aksi mereka ini". Demikian ujar Bidi, yang diamini oleh beberapa warga yang turut ambil bahagian dalam kegiatan tersebut.

Pengalaman sederhana ini cukup membuktikan bahwa ternyata para mahasiswa zaman sekarang tidak hanya pandai berretorika saja, tetapi mampu mewujudnytakannya dalam aksi. Apakah aksi ini benar-benar menyentuh dan menggugah masyarakat dalam mengubah perilaku? jawabannya terpulang pada nurani masing-masing. (vinsen making)



Pos Kupang Minggu 9 November 2008, halaman 14

2 komentar:

slam kenal,,
boleh mnta web atau akun facebookx anak mapala UNDANA ngak??

26 Desember 2013 09.31  

salam kenal...
saya sandy dari Universitas Nusa Nipa Maumere,, minta alamat web atau akun facebook MAPALA UNDANA..
thanksss

26 Desember 2013 09.34  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda