Menembus Tradisi Lokal Dengan Foto


POS KUPANG/ALFRED DAMA
TIGA WANITA BOTI--Tiga wanita Boti bersama seorang anak dalam sebua foto yang dipamerkan di ruang pamer UPTD Museum Daerah NTT


SEORANG pria yang melompat dari perahu sambil memegang tombak bertali, dan di depan pria itu ada seekor ikan paus. Rupanya tombak itu akan dihujamkan ke tubuh ikan paus tersebut. Ini adalah salah satu foto yang dipamerkan oleh pengelola Museum Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) di ruang pamer temporer Museum Daerah NTT. Beberapa foto lainnya menggambarkan kerja sama nelayan Lamalera di Kabupaten Lembata yang bahu membahu memburu ikan paus di perairan Pulau Lembata. Hingga gambaran ikan paus yang ditarik ke pantai. Dari awal hingga akhir, nampak jelas kerja sama masyarakat mulai dari proses persiapan, penangkapan hingga membagi-bagikan hasil tangkapan tersebut.

Di sisi lain, dalam sebuah foto nampak tiga wanita Boti yeng mengenakan kain sarung asli Boti-Timor, di mana salah satu wanita yang ada dalam gambar sedang menggendong anaknya dalam bungkusan menjadi daya tarik bagi para pengunjung.

Di sebelah foto itu ada foto lainnya gambar seorang anak usia balita yang sedang menjalani cukur rambut. Karya seni fotografer itu tidak banyak ditemukan karena momentum tersebut sangat terbatas bisa diakses oleh siapapun.

Kini foto-foto itu terpajang di ruang pamer temporer UPTD Museum Daerah NTT. Foto- foto yang dipamerkan itu merupakan kerja sama UPTD Museum Daerah NTT, Photivoiches, National Geographic dan WWF terbuka untuk umum, hingga Desember 2008.

Dalam pameran ini terdapat lebih dari 90 foto pilihan, mesikipun foto-foto itu memiliki nilai artistik tinggi, namun foto-foto tersebut bukan karya-karya fotogrefer profesional dari kamera canggih keluaran terbaru. Foto-foto itu merupakan karya warga Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Lamalera di Kabupaten Lembata. Karya seni dari kamera Kodak C663 (7 Migapiexl) ini merupakan bantuan dari Photovoices, sebuah lembaga internasional untuk masyarakat masing-masing Lemalera 50 unit dan Boti 20 unit.

Dari tangan-tangan masyarakat lokal ang telah dibimbing dalam penggunaan kamera tersebut, mereka mengabadikan semua kegiatan sehari-hari yang berlangsung di wilayah mereka. Tak heran bila karya-karya mereka menggambarkan kehidupan sosial mereka seperti halnya masyarakat Lamalera yang terkenal dengan keberanian dan kerja sama yang sangat baik dalam menangkap ikan paus dan masyarakat Boti yang terkenal dengan kehidupan masih sangat menghargai kehidupan asli mereka.

Kehidupan masyarakat Lamalera dan masyarakat Boti tersebut terkuak dalam gambar- gambar statis yang dipajang rapi berurutan di tempat itu. Dari tempat itu juga tersingkap tradisi-tradisi dan pola kehidupan yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Sehingga dengan foto-foto tersebut bisa diketahui sisi kehidupan yang unik dari dua kelompok adat masyarakat tersebut.

"Foto-foto ini merupakan karya fotografer dari masyarakat Boti dan Lamalera. Mereka sendiri yang mengabadikan gambar-gambar kehidupan sehari-hari mereka. Foto-foto ini merupakan gambaran kehidupan mereka," kata Kepala UPTD Museum Daerah NTT, Drs.Leonardus Nahak, M.Art.

Ia mengatakan, kamera yang diberikan Photovoiches kepada dua kelompok masyarakat lokal tersebut agar masyarakat setempat bisa mengabadikan kehidupan mereka sehari- hari. Sebab, ada sisi kehidupan yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain, selain warga daerah setempat. Dengan kamera-kamera yang diberikan itu masyarakat bisa mengabadikan kehidupan kebudayaan yang paling tertutup sekalipun.

"Misalnya, di Boti, ada upacara-upacara yang tidak mungkin diikuti oleh orang luar. Nah, dengan kamera yang dimiliki itu mereka bisa mengambil gambar dengan leluasa. Gambar- gambar itu yang kini dipamerkan. Jadi, dengan foto-foto ini baru kita lihat dan kita ketahui ada acara-acara adat yang unik. Hanya dengan cara ini, kita bisa menembus tradisi-tradisi mereka. Tradisi ini juga bisa diketahui secara luas. Jadi masih banyak hal- hal yang tersimpan dalam tradisi masyarakat yang unik ini dan denhgan foto-foto ini bisa kita lihat tradisi asli mereka," jelas Leonardus.

Foto-foto yang dipamerkan itu merupakan eksploitasi seni yang diangkat dalam bentuk foto yang bisa ditunjukan dimana di dua wilayah ini ada tempat-tempat yang tidak boleh dimasuki orang lain atau diinjak. Dengan foto, hal-hal yang menjadi tradisi bisa dilihat umum sehingga tidak perlu dilihat langsung tetapi bisa dilihat melalui foto-foto yang dibuat oleh masyarakat setempat. "Seperti di Boti, ada lingkungan tertentu yang tertutup, tapi bisa difoto oleh mereka dan bisa dilihat sekarang," ujarnya.

An Mc Bride Norton, Direktur Photovoices Internasional mengemukan, penduduk lokal Boti dan Lamalera memiliki begitu banyak nilai lokal yang selama ini hanya ada di lingkungan mereka saja. Padahal nilai-nilai ini bisa dilihat oleh dunia. "Penduduk lokal memiliki banyak hal yang baik dan ini bisa dilihat oleh dunia. Masyarakat lokal memiliki akar budaya. Melalui foto ini, kita bisa menunjukan banyak hal yang baik tentang kebudayaan masyarakat ini. Dan, foto-foto ini tidak saja dipamerkan di Kupang tetapi akan dibawa dan dipamerkan di Jakarta bahkan bisa ke Amerika Serikat," ujarnya. (alf)


Didampingi

PERCAYA atau tidak, foto-foto yang memiliki nilai seni tinggi ini sangat indah dilihat baik dari sudut pengambilan gambat, pencahayaan dan tematis merupakan karya fotografer lokal setempat. Bahkan, diantara mereka yang megang kamera tidak mengenal bahasa Indonesia. "Foto-foto ini benar-benar karya masyarakat. kameranya dari Photovoiches, kita hanya melakukan dampingan saja," kata Albert Magnus, salah satu pendamping masyarakat ini dari ICC Phovoiches Internasional..

Kamera yang dibagikan adalah Kodak Seri C663 (7MP), bukan kamera canggih bertele. Kamera itu diberikan sekitar April 2007 untuk masyarakat Lamalera dan Boti. Di Lamalera, bulan pertama penggunaan kamera sangat mengejutkan. Dari 50 kamera yang dibagikan, masyarakat setempat bisa mengumpulkan sekitar 12 ribu foto. "Melihat hasil foto itu, kita melakukan pendampingan, kita mengarahkan tema-tema mana saja yang pas diambil sehingga benar-benar menyentuh kehidupan mereka," jelas Albert.

Keinginan dari waga lokal Boti dan Lamalera ini untuk mengabadikan aktivitas mereka sangat tinggi. Antusias mereka ditunjukan dengan foto-foto karya mereka yang sangat baik. Jadi, potensi kemampuan masyarakat ada, namun diperlukan pendampiangan saja untuk mempertajam naluri fotografer dalam mengejar sudut gambar foto yang bisa menunjukan aktivitas saat itu. Dan, hasilnya seorang fotografer amatir di daerah terpencil membuat karya foto layaknya fotografer profesional. (alf)


Pos Kupang Minggu 9 November 2008, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda