Menjadi Jagoan

Cerita Anak

ALANGKAH girangnya Ian ketika didaftarkan ayahnya pada perguruan bela diri di dekat rumahnya. Tidak puas-puasnya dia mematut diri di hadapan cermin. Dengan seragam bela diri seperti itu dia tampak sangat gagah. Tidak ubahnya Jackie Chan atau Jet Lie, jagoan yang sering disaksikannya di layar televisi.

Ciat, ciat, haaap, iya..... Ian memperagakan beberapa jurus seperti yang biasa dilakoni para jagoan itu di televisi. Ibu yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Ian tersenyum geli dibuatnya.

Hari yang dinantikan pun tiba. Dengan gagah Ian melangkah menuju lapangan tempat perguruannya berlatih. Mereka pun disuruh berbaris dan memperkenalkan dirinya masing-masing di dalam barisan itu. Setelah melakukan peregangan otot, mereka disuruh berlari mengitari lapangan. Dua putaran masih dilalui Ian dengan baik. Memasuki putaran ketiga Ian sudah tidak kuat.

Untuk mengangkat kaki lagi rasanya sangat berat. Akibatnya tersandung akar pohon sedikit saja, Ian langsung terjerembab dan terpental keluar lapangan.

"Wah, payah. Mulai besok aku akan meminta ayah untuk mendaftar ke perguruan bela diri yang lain," gerutu Ian dalam hati. "Bukannya mengajarkan jurus-jurus jitu untuk berkelahi, malah disuruh berlari sampai terjatuh dan bonyok seperti ini.

Pasti ada yang salah dengan cara berlatih di perguruan bela diri ini." Ian kembali ke rumah dengan wajah lesuh dan kecewa.

****

Malam harinya sepulang kerja ayah menanyakan tentang hasil latihan hari pertama pada Ian.

"Ya seperti yang ayah lihat. Muka dan sekujur tubuh bonyok. Akibat disuruh berlari mengelilingi lapangan. Kalau boleh ayah mendaftar saya ke perguruan lain saja," pinta Ian.
"Kebetulan ayah tadi singgah di toko yang menjual plat DVD.

Ayah belikan beberapa film mengenai riwayat para jagoan bela diri untuk kamu. Kamu boleh pindah ke perguruan lain asalkan kamu sudah selesai menonton film-film itu," jawab ayah enteng.
Ian langsung memasang dan menonton film-film itu di kamarnya.
Ternyata para jagoan itu harus melalui latihan yang jauh lebih berat dari yang harus dilaluinya. Ada yang diharuskan menimba air oleh gurunya dari sungai yang sangat jauh dari perguruannya. Ada yang harus membelah kayu dengan kapak besar dan membawanya pulang dari hutan ke perguruan.

"Semua itu sepintas terlihat seperti tidak ada hubungannya dengan latihan yang sedang dijalani para jagoan itu. Tetapi itu semua harus mereka jalani. Selain untuk menempah ketahanan fisik mereka, juga untuk membina watak dan mental mereka.

Mereka harus sabar, rendah hati, jujur dan tulus, baik kepada sesama maupun terhadap diri sendiri. Sehingga nantinya dalam menghadapi permasalahan, mereka dapat menguasai diri mereka sepenuhnya dan baru bertindak disaat benar-benar diperlukan," jelas ayah yang sedari tadi sudah berada di samping Ian.

****

Keesokan paginya ketika hendak berangkat kerja, ayah kembali menghampiri Ian. "Bagaimana, jadi ayah daftarkan ke perguruan lain?" tanya ayah ingin memastikan.

"Tidak ayah. Ian akan tetap berlatih di perguruan itu. Apa pun bentuk latihannya harus Ian jalani dengan penuh rasa tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap ayah yang telah mendaftarkan Ian, juga tanggung jawab akan cita-cita yang sudah Ian canangkan, yakni menjadi jagoan sejati," tegas Ian.

"Nah, ini baru benar-benar jagoan ayah," puji ayah bangga.
(petrus y. wasa)

Pos Kupang Minggu 23 November 2008, halaman 15

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda