Parodi Situasi
Api Pencucian

BERITA bahwa dia hidup lagi setelah sempat meninggalkan dunia fana ini, buat geger seantero kota. Bagaimana mungkin orang mati hidup kembali. Bukankah itu hanya terjadi pada zaman Lasarus? Kalau sampai terjadi pada zaman pilkada sekarang ini, sungguh-sungguh sesuatu yang sangat luar biasa. Konon, dia hanya mati suri, artinya tidak benar-benar mati. Nyawanya memang sempat melayang menuju surga, namun pulang kembali ke dunia ini dan masuk kembali ke dalam tubuhnya yang terbaring kaku dilengkapi dengan ratap tangis kepedihan. Dia hidup kembali dan menjadi buah bibir semua penghuni kampung halamannya.
***
"Rara! Kamu tidak jadi mati?" Jaki terbelalak.
"Yes!"
"Bagaimana? Apakah kamu sempat bertemu pemegang kunci surga?"
"Ya tapi Cuma sebentar. Wilayah saya hanya sekitar api pencucian," jawab Rara dengan wajah biasa-biasa saja. "Mau ke surga tidak sempat. Penghuni surga lagi sibuk urus pilkada!"

"Hah? Di surga juga ada pilkada? Kamu tahu dari mana?"
"Konon begitulah kata teman-teman di api pencucian. Pilkadanya justru akan terjadi di api pencucian. Sayangnya tidak ada seorang pun dari api pencucian yang jadi tim sukses. Juga tidak ada seorang pun yang jadi saksi atau untuk hadir sebagai peninjau. Begitulah, karena hukumnya memang sudah demikian. Yang disurga tetap di surga, yang di api pencucian tetap di dalam api pencucian!"
"Jadi kamu tidak sempat ke surga?"

"Sempat! Bahkan saya sempat mengetuk pintu surga berkali-kali tetapi tidak dibuka. Terpaksa saya pulang ke api pencucian. Teman-teman di sana juga pada cerita. Santu Petrus sekarang susah dihubungi. Jadi, selama musim persiapan pilkada di api pencucian, Santu Petrus sibuk sekali. Soalnya siapa saja yang lolos pilkada langsung masuk surga. Apalagi hari ini. Bukankah hari ini harinya jiwa-jiwa di api pencucian?"
"Betul! Hari ini hari jiwa-jiwa di api pencucian?" Jaki terheran-heran. "Aduh, ternyata mau masuk surga harus ikut pilkada dulu! Susah dipercaya!"

***
Ternyata Benza pun menjawab hal yang sama. Jaki yang tidak percaya pada cerita Rara dengan berat hati harus percaya, sebab Benza temannya yang jujur itu ternyata mati suri juga, Benza baru pulang dari surga dan sempat singgah di api pencucian.
"Konon, demikianlah informasi yang dapat diterima dari api pencucian. Hari ini pilkada di api pencucian. Petrus sendiri yang ditugaskan menjadi ketua tim sukses!" Kata Benza.
"Ada berapa paket yang maju?" Jaki dan Rara bertanya bersamaan.

"Wah, jangan ditanya berapa paket yang maju. Konon banyak sekali. Konon kampanyenya juga ramai sekali. Tiap paket tunjukkan mereka punya hebat, unggul, tanpa cacat sedikit pun. Semua paket dan segenap tim sukses tak henti-hentinya mempropagandakan betapa luhurnya paket unggulan mereka. Konon, setiap paket punya strategi jitu untuk jatuhkan lawan dalam rangka meraup suara terbanyak. Pokoknya semua mengklaim bahwa paket merekalah yang terbaik dan memang pantas dipilih!"
"Waduh! Hebat sekali!" Jaki masih terheran-heran.

"Konon Santu Petrus jadi pusing mengamati pilkada di api pencucian!"
"Ada apakah gerangan sampai Santu Petrus pusing?"
"Tidak ada satu paket pun yang sadar tempat tinggal dan asal-usul mengapa mereka itu berada di api pencucian," jawab Benza. "Konon, Santu Petrus sampai rela turba untuk mendapatkan info langsung dari sumber pertama situasi kampanye yang terjadi di sana. Betapa kagetnya ketika tahu bahwa tidak sepasang paket pun yang tahu bahwa mereka itu ada di api pencucian. Mereka merasa berada di tempat lain..."
"Dimana?" Rara dan Jaki kembali menganga.

"Mereka kira mereka ada di Surga! Bahkan ada yang yakin berada di Surga! Konon, ada yang sempat bertengkar dengan Santo Petrus dan marah-marah. Mereka ribut dan berkata, bagaimana mungkin sih Pemegang Kunci tidak hafal wajah-wajah warga di dalam rumahnya!" Benza menjelaskan panjang lebar.
"Bagaimana kondisi Santo Petrus sekarang?"

"Entahlah! Saya hanya lihat dari jauh," jawab Benza. "Begitu tidak ada yang buka pintu Surga untuk saya, saya langsung cabut pulang dan singgah di api pencucian. Begitu saya sadar apa yang terjadi di sana, saya pun segera kabur dan pulang ke bumi."
"Syukur kamu berdua hanya mati suri dan kini hidup kembali. Pengalaman perjalananmu selama mati itu sungguh luar biasa," komentar Jaki dengan sungguh-sungguh. "Saya jadi kepingin mati suri dan lihat langsung apa yang terjadi di sana!"

"Betul! Kamu bisa studi banding tentang pilkada di sana!" kata Rara.
"Saya tidak mau mati suri," Benza menyambung. Saya pilih studi banding di NTT saja. Bukankah kisahnya jauh lebih hebat dari kisah api pencucian?" (*)


Pos Kupang Minggu 2 November 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda