Pusing, Pacaran dengan Cowok Pendiam

Dokter Valens, Yth.
Selamat bertemu dan salam sejahtera. Langsung saja, saya Katrin, gadis 22 tahun, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Kupang.

Saya sudah beberapa kali pacaran. Saat ini saya sedang pacaran dengan seorang cowok ganteng yang awalnya diperkenalkan oleh teman saya, Leni. Pada awal perkenalan saja termasuk sulit ketemu dia. Beberapa kali janjian bertemu di rumah Leni, dia tidak tepati janjinya.

Tapi karena pernah dalam jarak jauh Leni tunjukkan orangnya maka saya penasaran dan rasanya ingin lebih dekat mengenalnya. Itulah Johan yang saat ini sudah enam bulan pacaran dengan saya. Banyak teman cewek lainnya berkomentar bahwa saya dapat rezeki besar karena punya pacar cowok ganteng. Tetapi sering sekali saya membantahnya dalam hati karena saya tahu mereka hanya memandangnya dari luar.

Karena teman-teman itu tidak tahu betapa tidak tenangnya saya menghadapi Johan ini. Betapa tidak, saya bisa gambarkan Johan sebagai 'batuan beku', karena dari raut wajah yang ganteng itu tersimpan beribu hal yang saya tidak ketahui. Dia, sangat pendiam dan sangat irit omong.

Kalau mau dikorek-korek dia cuma tersenyum sebentar lantas tidak jawab lagi.
Saya tidak ingin dia marah, maka saya sangat hati-hati omong takut salah tanggap dan bisa salah paham yang bisa membuat hubungan kami bubar jadinya. Johan baru selesai kuliah dan kini masih jadi pegawai honor pada salah satu kantor konsultan teknik. Mungkin karena beda jurusan dengan saya yang ekonomi ini maka pembicaraan kami sering macet.

Tapi saya selalu berbesar hati, toh yang penting saat ini dia mau pacaran dengan saya. Hanya saja kenapa begitu pendiam? Saya pernah tanya sambil lalu, mengapa dia tidak banyak omong? Johan hanya jawab," yang penting kau tahu saya mencintaimu". Yah, saya senang sekali dengan jawaban itu, tetapi kan saya butuh bukan itu saja.

Dia malah cuma senyum sebentar lalu kering lagi. Dokter, apakah karena dia punya banyak masalah sehingga takut ketahuan? Saya bahkan lebih sulit menanyakan tentang latar belakang keluarganya, saya justru lebih banyak tahu tentang dia dari Leni teman saya itu.

Jadi saya mau tanya lagi apakah kami bisa cocok, kalau keinginan kami tidak sama seperti ini? Saya mau dia banyak omong sedangkan dia pendiam. Saya mau tahu banyak tentang dia, tapi hanya dari orang lain bukan dia, ini yang membuat saya ragu, apakah saya cocok.

Mungkin kali dia juga dapat pacar yang pendiam supaya sama-sama tenang. Bagaimana menurut dokter? Mohon dokter mau membalasnya.
Trims. Salam, Katrin-Oesapa-Kupang.


Saudari Katrin yang Baik,
SYALOM, salam sejahtera juga buat Anda yang lagi kuliah. Sekalipun Anda mengatakan dalam surat bahwa Anda pernah beberapa kali berpacaran sebelum jadi pacaran dengan Johan saat ini, namun tampaknya Anda perlu lebih banyak lagi belajar mengenai pria dan apa yang pria butuhkan.

H. Norman Wrigth dalam bukunya Men Want (Apa yang Diinginkan Pria), 1996, mengupas tentang, Why Men Think, Feel and Act the Way They Do (Mengapa pria berpikir, merasa dan bertindak seperti yang tampak) dan Wrigth menulis bahwa banyak fakta mengenai sebagian besar pria di antaranya sebagai berikut:

1) Pria perlu berpikir mengenai perasaan-perasaan sebelum mereka dapat membicarakannya, sementara wanita dapat merasakan, berpikir dan berbicara secara bersamaan.

2) Pria tidak senang membicarakan masalah-masalah pada saat mereka dalam keadaan lelah, karena mereka merasa tidak memegang kendali atau takut perbincangan berkepanjangan.


3) Pria terbiasa untuk memberi dalam pekerjaan (di kantor), namun sebaliknnya terbiasa menerima saat di rumah.

4) Pria melupakan masalahnya dengan tidak membicarakan masalah itu, sebaliknya wanita menyingkirkan masalah mereka dengan cara mengingat dan membicarakanya.

5) Pria mencoba untuk menuangkan perasaannya ke dalam tindakan dan bukan ke dalam kata-kata, karena melakukan sesuatu memberikan kelegaan yang lebih besar daripada yang diperolehnya dengan memperbincangkan perasan itu.

6) Pria tidak suka membicarakan luka hati, perasan tertekan, prestasi yang kurang baik dan pertanyaan- pertanyaan mengenai kekuatan mereka.

7) Pria lebih cenderung menghindari konflik dengan wanita daripada wanita menghindari konflik dengan pria. Selanjutnya mengapa pria lebih suka diam? Wright menulis bahwa adalah lebih mudah bagi pria untuk berbicara kepada dirinya sendiri karena hal itu tidak mengandung resiko.

Pria menyukai kerahasiaan pribadinya dan label harga yang paling tinggi dari kerahasiaan adalah diam. Diam menyuarakan begitu banyak pesan dan menimbulkan berbagai tanggapan, mulai dari keheranan, penasaran hingga kebingungan, bahkan menimbulkan rasa frustrasi bagi pasangan. Penjelasan yang mirip dipaparkan juga oleh Dr. Gary Oliver dalam bukunga Real Man Have Feelings, Too (Pria Sejati Juga Punya Perasaan) sebagai berikut: Banyak pria tidak memahami dan tidak mengetahui bagaimana cara mengungkapkan emosi mereka, oleh karena itu mereka juga tidak tahu bagaimana cara menghadapi luka emosional.

Oleh karena itu saat mereka terluka emosinya, satu- satunya pilihan yang tersedia hanyalah mematikan perasaan itu atau semacam proses anestasi (diam dan menyimpannya di dalam hati). Saudari Katrin yang baik, dengan menyelami berbagai sifat pria yang digambarkan di atas setidaknya tergambar pula nilai-nilai yang terkandung di dalam diamnya Johan.

Ada jalan lain menuju Roma untuk mendapatkan antusiasme dari Johan yang bisa saya anjurkan, yakni, temukan apa-apa saja yang menjadi hobinya Johan, jadikanlah topik itu sebagai bahan pembicaraan pembuka untuk merangsang kepada topik pembicaraan lain.

Anda harus lebih mampu bersabar dan mampu menyelami Johan secara bertahap. Enam bulan menurut saya belum terlalu lama menyelami orang-orang seperti Johan yang Anda gambarkan sebagai batuan beku.

Dibutuhkan kesabaran seperti tetesan hujan yang mampu melubangi batu karang, maka saya yakin suatu saat kelak di mata Anda, Johan bukan lagi seorang yang misterius, tetapi justru sangat dikenal dari luar sampai ke dalam. Hanya satu kunci kepercayaan saat ini, yakni perkataannya bahwa yang penting Anda tahu dia mencintaimu.

Yang dibutuhkan dari Anda cuma upaya yang keras untuk menyesuaikan diri atau yang disebut orang adaptasi. Demikian jawaban saya semoga tidak ada lagi keraguan Anda terhadap Johan. Selamat berjuang.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM


Pos Kupang Minggu 9 November 2008 halaman 13

1 komentar:

info yang sangat bermanfaat sekali buat di simak

11 November 2012 22.28  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda