Sahabat Pena

ADI dan Nana belajar di sekolah yang sama. Adi duduk di kelas satu, sedangkan Nana duduk di kelas lima. Di pagi hari keduanya bersama-sama berangkat ke sekolah. Namun di siang hari Adi pulang lebih awal. Pelajaran di kelasnya berakhir pada pukul sebelas. Sedangkan Nana baru kembali ke rumah pada pukul satu siang.
Bermain sendirian di rumah membuat Adi bosan. Sementara rumah teman-teman sekelasnya semuanya jauh dari rumahnya. Rumah Relalah yang terdekat, tapi itu pun jaraknya sekitar setengah kilometer dari rumah Adi. Ibu melarang Adi untuk bermain jauh-jauh dari rumah. Kata ibu, Adi masih kecil. Kalau bermain jauh dari rumah nanti dia bisa diculik oleh penjahat.

Adi berjalan ke sana ke mari seperti orang bingung. Ibu yang sedang memasak di dapur tersenyum geli memperhatikan tingkah Adi.
"Sudahlah, Di. Sambil menunggu kakakmu pulang lebih baik kamu mengisi waktu dengan belajar membaca dan menulis," saran ibu.
"Ah ibu, di sekolah tadi Adi sudah belajar membaca dan menulis. Di rumah juga. Lalu kapan Adi boleh bermain, bu?" protes Adi

"Dua hari yang lalu kamu merengek minta dibelikan buku bacaan dan alat tulis. Ayah sudah membelikan semua itu untukmu. Sekarang malah kamu tidak mau menggunakannya," ibu mengingatkan Adi.
"Wah ibu benar, bagaimana kalau ayah sampai tahu bahwa aku malas belajar? Tentu lain kali ayah tidak akan membelikan aku buku bacaan dan alat tulis lagi," kata Adi dalam hati.

"Baik bu, Adi akan menunggu kak Nana sambil belajar membaca dan menulis," jawab Adi. Dia lalu mengambil buku bacaan dan alat tulis di kamarnya lalu duduk belajar di teras depan.

****

"Pos, pos..... Dik, kemari, dik. Ini ada surat untuk Nana, tolong diterima," teriak pak pos dari balik pintu pagar. Adi meletakkan buku yang dibacanya dan berlari menghampiri pak pos. Adi menerima surat itu dan segera berlari ke dalam rumah menemui ibunya.

"Bu, ada surat. Adi baru menerimanya dari pak pos. Katanya untuk Kak Nana," kata Adi sambil menyerahkan surat itu dan mengamati tulisan pada sampulnya.
"Wah, surat ini dari Jakarta. Dari Caca, sahabat pena kakakmu Nana," jelas ibu. Namun penjelasan ibu itu justru membuat Adi bingung. Apalagi saat iti ibu menyebut sahabat...... ya sahabat pena. Apa itu ya? Tanya Adi dalam hati.
Pada saat yang bersamaan, Nana muncul dari ruang tengah. Rupanya dia baru pulang dari sekolah. Ibu langsung memberikan surat itu kepada Nana.

"Hore, ternyata surat Nana dibalas Caca," teriak Nana senang. Melihat itu Adi bertambah bingung. Mengapa Kak Nana sesenang itu? Padahal yang diterimanya hanya selembar surat. Melihat adiknya menatap dengan raut wajah bingung, Nana pun menghampiri Adi dan menjelaskan.

"Kak Nana senang karena surat kakak dibalas Caca, sahabat pena kakak dari Jakarta itu. Dengan dibalasnya surat kakak itu berarti Caca bersedia menjadi sahabat pena kakak. Sahabat pena itu adalah sahabat yang bisa kita temui melalui goresan pena kita atau melalui surat. Hal itu terjadi karena jarak yang jauh antara kota tempat tinggal kakak dengan Jakarta tempat dia tinggal," Nana mencoba menjelaskan kepada Adi tentang suratnya itu.

"Maksud Kak Nana?" Adi masih bingung.
"Kalau kamu memiliki sahabat yang tinggal satu kota denganmu, kamu dapat menemui langsung di rumahnya kapan pun kamu mau. Kamu dapat langsung bercerita, bermain dan bercanda dengannya. Atau mungkin kamu akan mengajaknya jalan-jalan. Tapi hal itu tidak dapat kamu lakukan kalau teman kamu itu tinggal di tempat yang jauh dari kotamu. Salah satu cara agar dapat bertemu, bermain dan bercanda dengannya adalah dengan menulis surat kepadanya. Sahabat yang hanya kamu temui melalui surat inilah disebut sahabat pena, Di," ujar Nana.
"Adi mengerti sekarang, kak. Tapi bagaimana caranya agar Adi juga bisa mempunyai sahabat pena seperti kakak?" tanya Adi.

"Pertama sekali, Adi harus bisa membaca dan menulis. Karena Adi harus bisa membaca untuk mengetahui isi surat dari sahabat pena dan menulis kembali surat balasannya. Kedua, kerendahan hati untuk bersahabat dengan siapa saja. Adi akan memiliki banyak sahabat, jika tidak membe da-bedakan mereka," jawab Nana.
"Kalau begitu, mulai saat ini Adi akan lebih rajin lagi belajar membaca dan menulis, kak. Biar Adi cepat pintar seperti kak Nana dan mempunyai banyak sahabat pena," kata Adi. Nana dan ibu hanya tersenyum melihat tingkah Adi yang lucu itu. (petrus y wasa)



Minggu 2 November 2008, halaman 15

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda