Warung Mas Dewo

Cerpen Marianus Mada


WARUNG itu berdiri kokoh di atas tanah merah. Tempatnya strategis. Pas untuk dikunjungi. Letaknya di pinggir jalan dan di pojok perempatan. Saat siang memaksa orang untuk cepat beristirahat dari bekerja, warung itu menjadi tempat peristirahatan yang pas. Warung itu menjadi tempat persinggahan yang nyaman walau sekadar membeli es kala pejalan kaki menemukan puncak kelelahannya setelah bertarung melawan debu-debu jalanan dan terik mentari. Kesegaran baru pun diperoleh kembali saat keringnya kerongkongan dibasahi air es. Entah kenapa yang semulanya berniat hanya untuk merasakan dinginnya air es, berani merogoh kantung demi mengisi perut kosong dengan sejumlah menu yang terdaftar di dinding.

Saat matahari mulai memancarkan sinar keemasan dan perlahan-lahan merayap di sisi bukit untuk kembali ke peraduan, warung itu menjadi tempat mangkalnya para kawula muda yang sedang hangat-hangatnya menjejaki jati diri. Sesekali terdengar suitan ketika terlirik oleh mata mereka sejumlah gadis ABG yang lewat. Bila warung telah tutup mereka enggan untuk bangun dari tempat yang telah memberikan rasa nyaman bagi kedudukan mereka. Nyanyian-nyanyian sumbang mulai dari lagu pop hingga lagu nostalgia akan didendangkan dalam alunan petikan dawai gitar. Malam tak akan pernah menjadi sepi. Tak kunjung sunyi. Bulan dan bintang bersinar terang seakan tersenyum akan malam yang tak menakutkan.

Bila pagi datang, Pintu dan jendela warung dibuka. Papan yang menutupi etalase kaca dibuka. Warung masih kosong. Di dapur, istri pemilik warung akan mulai mengolah masakan yang akan menjadi menu tetap di warung itu. Aroma sedap akan tercium. Bau harum menyelusup menembus dinding -dinding warung. Menyelinap di antara rumah-rumah penduduk. Singgah sebentar di ujung hidung mereka. Menyadarkan mereka yang masih meringkuk di tempat tidur bahwa pagi sudah tiba.

Jago bersahutan-sahutan memecahkan keheningan pagi. Sebagian orang sudah bangun. Sebagian lagi masih di balik selimut yang menghangatkan mereka dari dinginnya angin malam. Beberapa kendaraan roda dua dan roda empat sesekali lewat menderu di jalan beraspal. Pagi boleh dikatakan belum tercemar oleh asap kendaraan bila dibandingkan dengan macetnya jalanan pagi dan siang hari.

Di ufuk Timur, bola emas mulai memendarkan sinarnya. Cahayanya membias di sela-sela pohon, di aspal, di gang-gang sempit, juga di warung itu. Menerobos masuk lewat kisi-kisi dinding yang masih utuh. Seorang gadis muncul. " Mas, nasi gorengnya satu ya. Dibungkus." "Bentar ya dik. Nasinya digoreng dulu." Mas Dewo mengaduk-aduk nasinya. Ditaruh kecap dan saos. " Pakai sambal ndak?" mas Dewo bertanya. "Ndak usah. Kepedasan nanti." Nasi goreng telah siap saji. Karena yang diminta dibungkus, dengan terampil Mas dewo membungkusnya. Seuntai ucapan terima kasih dan senyuman tersimpul di mulutnya. Pembeli lain mulai berdatangan. Pagi itu, warung telah telah dijejali oleh sejumlah pembeli yang karena ketergesaan waktu tidak sempat memasak. Mereka menikmatinya di rumah atau dalam perjalanan menuju kantor. Senyuman hangat Mas Dewo menjadi sambutan pagi hari yang semakin mendatangkan rezeki.

Mas Dewo memandang dinding warung, kursi, meja, etalase menu, dan isterinya yang sedang memasak di dapur. Di belakang warung ada sebuah kamar yang menjadi tempat tinggalnya bersama istri dan anak. Memorinya mengingatkan dia pada masa yang silam, saat kehidupan ekonominya yang pas-pasan memaksanya tuk mengadu nasib di negeri orang. Setelah luntang-lantung di beberapa kota, ia akhirnya memutuskan. Kota ini menjadi pelabuhan terakhir baginya dalam menapaki masa-masa sulit hidupnya. Kota yang tak ia kenal.

Kota yang manusianya berbeda ras, suku. Hanya dengan bermodalkan keberanian dan animo masyarakat bahwa sukunya selalu berhasil dalam perantauan, ia rela meninggalkan kampung halaman demi menghidupi diri. Bermula dari seorang penjual es keliling, ia berjalan mendorong gerobak esnya. Ditemani sebuah benda semacam terompet ditangannya. Jika ingin dibunyikan harus memencet sebuah bola kecil yang terbuat dari karet hitam. Angin yag terdorong dari bola karet akan menghasilkan bunyi. Sesekali ia berhenti di depan sekolah-sekolah pada jam-jam istirahat atau jam pulang sekolah. Anak sekolah dengan segera berebutan membeli esnya.

Merasa cukup dengan modal dari penjalan es keliling, ditingkatan usahanya dengan menjadi penjual bakso kelilng. Mula-mula ia bekerja pada sebuah warung untuk belajar cara mengolah bakso dan masakan-masakan lainnya. Lelah datang tapi ia tak kunjung menyerah. Ia terus menjalankan dagangannya. Baksonya menjadi laris. Ada sja yang datang membeli. Para pegawai yang lelah duduk di kantor akan berpindah tempat menuju bangku kecil yang sudah disediakan. Dari bakso keliling ia membuat semacam warung kecil dekat sebuah kantor. Menunya masih sama.

Bakso. Hanya saja ditambah satu jenis makanan yaitu 'Mie Ayam Jakarta' yang lagi disukai banyak orang. Keramahan yang ia tunjukkan pada setiap pembeli menjadi keuntungan baginya selain masakan lezat yang mengandung selera. 'Bakso Mas Dewo' menajadi santapan sehari-hari bagi pegawai kantor yang ingin menghilangkan rasa lapar sekaligus menjadi tempat rileks setelah dibebani oleh tugas-tugas yang menumpuk.
Beberapa tahun sudah ia menjalankan kehidupan seperti itu. Kehendak hatinya ingin beralih ke sesuatu yang lebih permanen yang dapat menunjang hidup dan keluarganya. Isterinya yang akan membantunya. Ia pun mencari lokasi yang tepat, strategis demi kelarisan dagangannya. Didapatnya sebuah tanah. Di salah satu sudut perempatan jalan. Di sebelahnya menjulang gedung pengadilan negeri. Warung itu kini telah berdiri Berdiri di antara keramaian kota. Warungnya menyediakan makanan yang mengundang selera orang untuk mencicipinya. 'Warung MasDewo'. Sebuah tulisan yang terpampang di depan warung itu.

Lamunannya dibuyarkan oleh hentakan kaki di depan pintu. Lamunan itu menjadi kepingan-kepingan masa lalu yang berserakan di dinding warung, di lantai, di sela-sela kursi dan meja. " Nasi ayamnya satu mas!" Seorang pemuda langsung mengambil tempat pada sebuah meja yang ada di pojok sebelah sana. Mas Dewo bangkit dari kursinya dan menyiapkan menu yagn dipesan. Sepiring nasi ayam diletakannya diatas meja. "Minumnya apa mas?" tanyanya pada pemuda tadi. "Teh botol sosro satu. Yang dingin." Matahari mulai merayap perlahan. Menyisakan siang yang menyengat. Pori-pori kulit berkeringat. Kerongkongan kering. Tak cukup hanya dengan air liur yang membasahi.

Warung itu mulai kedatangan pembeli satu persatu. Warung menjadi padat karena jumlah manusia yang merindukan kesegaran dan kekuatan untuk menambah energi baru. Mas Dewo yang dibantu isterinya melayani setiap pelanggan dengan keramahan. Tangan yang terlatih begitu cekatan melayani. Para pelanggan tidak terlalu lama menuggu. Bermacam menu dipesan sesuai selera. Mulai dari jenis nasi sampai jenis yang berkuah.

Siang yang panas. Ada yang keluar, ada yang masuk. Di warung itu, setiap orang berbagi cerita dan pengalaman. Warung itu menjadi saksi bisu yang menyimpan semua canda tawa dari mulut-mulut yang sedang melepaskan dahaga. Pemuda tadi masih duduk menatap piringnya yang telah kosong. Mas Dewo memandang pemuda itu. Jeansnya robek di bagian lutut. Kaos oblongnya yang longgar di badan. Anting-anting di telinga kiri.

Ada sesuatu yang asing dari pemuda itu. Memang Mas Dewo tak mungkin mengenal satu persatu orang yang makan di warungnya. Tapi, tatapan pemuda itu? AkhĂ Mas Dewo berusaha untuk menjauhkan pikiran yang bukan-bukan tentang orang itu. Pemuda tadi masih duduk. Di pojok. Tak ada teman. Tak ada suara. Selesai makan, ia bayar lalu pergi.
* * *
Matahari telah merangkak ke peraduan. Langit berwarna hitam tatkala kegelapan menyelimuti bumi. Bintang-bintang tak menampakkan diri. Bulan gelap enggan memancarkan sinar. Di sebuah gudang beras, bisikan-bisikan itu terdengar seperti cericit-cericit tikus yang mencari roti untuk dijadikan santapan malam. Seorang pemuda dengan perawakan kurus beranting satu pada telinga kirinya berbicara " rute perjalanan kita kali ini mengambil jalur luar lalu menuju ke jalur dua arah. Diharapkan kita masing-masing sudah mengetahui tugas masing-masing." Serentak seorang yang memakai baju cokelat menyambar "demonstrasi kita kali ini tak boleh ada kekerasan. Tak boleh ada bakar-bakaran.

Sebuah demonstrasi harus dilaksanakan dengan suatu pikiran yang dingin. Percuma kita membakar toh yang rugi bukan orang-orang yang duduk di kursi DPR atau orang yang punya jabatan. Di ibu kota, sebuah gedung kejaksaan dibakar oleh para demonstran. Siapa yang nantinya rugi. Palingan nanti dibangun pakai uang rakyat." Beberapa orang mengangguk. Tak ada tindakan anarkis. Pertemuan malam itu pun bubar.

* * *
Siang begitu hiruk pikuk. Kendaraan lalu lalang. Para pejalan kaki berjalan cepat berburu panas.Dari kejauhan terlihat massa yang berbaris panjang mengalir menyusuri jalan utama. Kepala-kepala sepanjang jalan melongok keluar. Aliran massa yang seawalnya masih dalam barisan serentak dikejutkan oleh api yang sudah menyala. Orang-orang laki perempuan yang berpakaian dinas lari keluar. Pengadilan negeri dibakar. Api berkobar-kobar menjilat semua barang yang dirasanya nikmat untuk dikecap. Hawa panas membakar kota. Abu berterbangan. Kepulan asap membubung naik ke angkasa.

Orang-orang lari tak tahu arah menghindari hawa panas yang hampir menghanguskan raga mereka. Api itu merambat menuju warung-warung terdekat. Mas dewo mengajak isteri dan anaknya untuk lari. Lagi-lagi jago merah meluluhlantahkan kekuatan bangunan. Semua mata hanya terpana memandang runtuhnya kayu-kayu, abu yang berterbangan, serta api yang masih berkobar.

Hari berlalu. Tak ada lagi bau sedap masakan. Hanya bau hangus. Mengingatkan orang tentang kejadian itu. Jago enggan berkokok. Entah karena hilangnya aroma khas warung ataukah mungkin rasa marah yang ditujukan kepada saudara sepersonifikasi yang telah menghanguskan warung mereka. Pada siang hari, lalu lalang kendaraan dan para pejalan kaki tetap ramai, namun tak ada lagi tempat persinggahan sekadar melepas lelah. Tak ada lagi nyanyian sumbang di malam hari. Tak ada lagi bunyi dawai. Hanya suara jangkrik yang bercericip di malam diam. Sepi menjadi sunyi.sunyi menjadi sepi. Tanah telah rata.

Tak ada lagi bangunan di pojok perempatan itu. Hanya sisa -sisa puing yang berserakan. Di sela-sela reruntuhan, seekor anjing mengendus. Mungkin ia ingin mengenang kembali usahanya dalam pencarian tulang-tulang sisa di warung itu. Sesekali ia menggonggong. Ada seseorang yang berdiri di pojok sana.

Wisma Efrata


Pos Kupang, Minggu 9 November 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda