Agustinus Riberu dan Jeane Hajon


ISTIMEWA
Keluarga Agustinus Riberu


Didik Anak Mengenal Lingkungan


FAKTOR lingkungan dan pola asuh anak sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, mulai dari lahir hingga dewasa. Menghadapi berbagai fenomena sosial kemasyarakatan yang terjadi akhir-akhir ini, para orang tua harus waspada dan berusaha mengarahkan anak tentang pola hidup yang benar, agar anak bisa belajar dari hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

Itulah yang dilakukan pasangan Agustinus Riberu dan Jeane Hajon. Pasangan yang menikah tahun 1996 ini memperkenalkan lingkungan sekitar terutama kehidupan sosial kemasyarakatan kepada anak mereka sejak usia anak masih dini.

Kepada Pos Kupang di kediamannya, Jalan Polisi Militer, Agus, begitu sapaanya, mengatakan, dalam kesibukannya di kantor dia dan istrinya tetap meluangkan waktu yang cukup untuk tiga orang anak mereka. Si sulung, Dominggus Mario F Riberu, saat ini di Kelas 5, SDK St. Yosep 3 Naikoten. Kedua, Yosefina Simona Riberu, saat ini di kelas I SDK St. Yosep 3 Naikoten dan si bungsu, Regina Adeleida Riberu yang masih di TK St. Yosep Naikoten. Agus adalah seorang konsultan dan kini memimpin PT Loka Pratama dan istrinya adalah PNS pada Dinas Kimpraswil Kota Kupang.

Menurut pasangan ini, pengaruh lingkungan kemasyarakatan seperti berbagai peristiwa yang menimpa anak seperti kekerasan terhadap anak, penjualan anak dan penculikan anak yang akhir-akhir ini terjadi, membuat mereka ekstra hati-hati dalam mempercayakan anaknya kepada pengasuh ataupun orang lain. Tak heran bila mengurus anak di rumah atau mengantar dan menjemput anak ke sekolah selalu dilakukan sendiri. Kalaupun benar-benar sibuk, keduanya mempercayakan ketiga anaknya kepada ibunda.

"Kami sepertinya trauma dengan berbagai peristiwa yang terjadi pada anak akhir-akhir ini. Makanya sesibuk apapun selalu kami lakukan sendiri. Kalau mamanya sibuk di kantor biasanya saya yang mengurus ketiga anak, sampai mamanya pulang dari kantor. Begitupun sebaliknya. Kalau kami berdua sama-sama sibuk, kami percayakan kepada oma untuk mengurus anak-anak.

Kami tidak percaya dengan pembantu untuk mengurus anak," kata Agus, lulusan Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, tahun 1994 ini.
Pasangan ini selalu mendidik anak untuk dekat dengan lingkungan sekitar sehingga ketika besar, anak-anak mereka tidak kaku berada di tengah lingkungan di manapun anak tersebut berada.

Ia selalu membiasakan anaknya untuk melihat langsung kondisi di luar rumah seperti mengajak anak-anak untuk melihat anak-anak yang berjualan kresek di pasar, berjualan koran di perempatan lampu merah atau anak- anak tidak mampu di sekitar rumah.

Pada saat memperkenalkan anak-anak dengan kondisi seperti ini ia berusaha untuk memberikan motivasi kepada anak-anaknya bahwa masih banyak kehidupan di luar rumah yang tidak seberuntung anak-anaknya. Hal ini dilakukan untuk menanamkan rasa solidaritas sosial kepada anak-anaknya. Selain itu, ia juga mengajak anaknya untuk melakukan kunjungan-kunjungan keluarga atau melakukan rekreasi ke tempat-tempat rekreasi. Biasanya, ia dan keluarga melakukannya pada hari Minggu.

"Hari Minggu merupakan hari libur yang bisa digunakan untuk melakukan hal-hal tersebut. Untuk itu, setelah pulang gereja biasanya saya mengajak anak-anak dan istri untuk jalan-jalan memperkenalkan mereka pada lingkungan sekitar, termasuk keluarga," kata Agus.
Menurutnya, anak-anaknya memiliki karateristik yang berbeda-beda. Si sulung dan si bungsu termasuk anak yang tidak suka mencari tahu dan mandiri sehingga segala sesuatu biasanya dilakukan sendiri dan lebih dekat dengan ibunya.

Sedangkan, putri kedua termasuk anak penyayang sehingga dia cepat beradaptasi dengan siapapun. Untuk itu, dalam memenuhi kebutuhan mereka, terutama yang berkaitan dengan sarana belajar, biasanya diberikan masing-masing untuk menghindari saling cemberut di antara ketiganya. Dalam hal belajar, keduanya mempercayakan anak-anaknya pada guru les sehingga membantu ketiga anaknya mengikuti les tambahan setelah pulang dari sekolah.

Dijelaskanya, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang kian cepat membuat semua orang tua harus bisa menangkap peluang dan mempersiapkan anak-anak sejak dini dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan serta kecakapan hidup sejak dini. Hal ini dilakukan agar anak siap bersaing.
(nia)


Pos Kupang Minggu 30 November 2008, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda