Dra. Jublina Tode Solo


Foto Pos Kupang/Alfred Dama
Jublina Tode Solo bersama para arkelog, Gert van Den Bergh dari Wollongong University-New South Wales- Australia dan Giten Jansen dari Quard Lab Roskilde University-Denmark.


Temuan Arkeologi untuk Pariwisata

BANYAK orang belum tahu arti penting suatu lembaga yang bertugas melakukan kajian arkeologi dan sejarah. Kalaupun ada, tidak sedikit pula yang melihat dengan sebelah mata para arkeolog. Bahkan ada pula yang menilai para arkeolog adalah kumpulan orang-orang yang kurang kerja.

Anggapan itu berdasarkan pengamatan bahwa para arkeolog kerap bekerja menggali tanah di tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah, membongkar batu yang dianggap peninggalan masa lalu dan berbagai aktivitas lainnya. Namun perlu diketahui para arkeolog yang bisa memberikan gambaran kehidupan masa lalu. Sebab hingga kini masih banyak misteri tentang kehidupan masa lalu yang belum terungkap.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Arkelogi, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Propinsi NTT, Dra. Jublina Tode Solo, yang juga seorang arkeolog mengatakan, masih banyak misteri peninggalan masa lalu yang terkubur dalam bumi seiring bertambahnya waktu. Menjadi tugas para arkeolog untuk mengungkap misteri masa lalu tersebut. Bila misteri tersebut terungkap, maka potensi pariwisata juga akan tumbuh di daerah tersebut.

Jublina Tode Solo yang ditemui di kantornya, Senin (24/11/2008), mengatakan, warisan masa lalu tersebut sangat penting bagi generasi sekarang, baik sebagai bahan kajian ilmiah untuk kepentingan ilmu pengetahuan, dalam warisan masa lalu tersebut juga terkubur nilai-nilai kearifan lokal yang sebenarnya masih berlaku hingga kini. Berikut hasil wawancara dengan Pos Kupang.

Anda memimpin UPTD Arkelogi, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Propinsi NTT. Sepertinya lembaga ini kurang dikenal?
Memang kita kurang dikenal, karena lembaga ini baru terbentuk setelah otonomi daerah tahun 2001, dan baru pada tahun 2003 kita punya anggaran sendiri. Jadi wajar kalau lembaga kita baru dikenal. Tapi ke depan, masyarakat akan mengenal kita karena lingkup kerja kita berkenaan langsung dengan masyarakat, apalagi di pedesaan.

Lembaga ini selalu melakukan kajian dan penelitian. Sudah berapa buku yang dihasilkan?
Kita baru melakukan penelitian tahun 2003 setelah punya anggaran sendiri. Pada tahun 2003 kita melakukan satu kali penelitian dan satu kajian arkeologi. Pada tahun yang sama, kita juga melakukan satu kali kajian sejarah dan satu kajian nilai tradisional. Dan, kita mencetak masing-masing satu buku. Hingga kini sudah banyak buku yang kita terbitkan.

Temuan arkeologi apa yang membuat NTT dikenal luas?
NTT sedikit terkenal dengan arkeologi waktu penelitian Liang Bua, dan mulai ada perhatian sedikit dengan arkeologi. Pada awalnya orang tidak tahu apa itu arkeologi. Kalau yang kita tahu obyek arkeologi bisa dijadikan destinasi wisata. Seperti Kampung Bena itu obyek arkeologi. Begitu kukuhnya mereka mempertahankan nilai tradisional mereka, itu nilai jual tinggi. Sumba dengan penguburan purbanya. Arkeologi itu meneliti tapi pengembangannya juga untuk masyarakat. Selain ilmu akademiknya kita teliti, ideologi juga kita teliti, bagaimana membangun jati diri, bagaimana mengenalkan identitas bangsa, kebanggaan dan hasil budaya nenek moyang. Kemudian kita libatkan juga masyarakat. Mereka harus memiliki dan menikmati hasil budaya itu. Itulah yang biasanya kita bawa ke destinasi wisata atau pengembangan ekonomi masyarakat seperti tenun ikat, seni griya.

Suatu daerah menjadi destinasi, apakah karena hasil penelitian arkeologi atau karena kunjungan wisata itulah yang menjadi tempat penelitian arkeolog?
Kalau idealnya penelitian dulu. Dari penelitian kita bisa mempublikasikan, tapi biasanya ada juga hal yang begitu menonjol sehingga ada kunjungan wisata. Dari situ kita melakukan kajian. Seperti Liang Bua, apa artinya gua itu? Tapi setelah kita teliti bertahun-tahun barulah kita menemukan spesimen baru, manusia homo florensis itu. Kini sudah jadi tujuan wisata, entah itu wisata ilmu atau wisata penikmatan mata.

Menurut Anda, apakah masyarakat merasa penting dengan arkeologi?
Kalau bicara arkeologi mungkin masyaralat awam tidak tahu, tapi sebenarnya secara tradisi mereka tahu sekali. Berarti mereka kan sudah memelihara tradisi mereka dan dengan sendirinya ilmu arkeologi atau bidang kajian arkeologi itu sudah mereka pertahankan. Seperti rumah tradisional dan arsitekturnya. Dan dalam membangun tetap dengan kearifan lokal itu. Nah, kearifan lokal itu kita teliti, seperti kenapa tidak pakai paku tapi konstruksinya kuat? Seperti waktu kita melakukan penggalian di gua, masyarakat sekitar bertanya- tanya, apa yang dicari? Bahkan mereka mengira kita mencari emas. Tapi setelah kita jelaskan baru mereka tahu. Jadi butuh waktu bagi kita untuk sosialisasikan arkeologi ke masyarakat di NTT. Sebenarnya NTT kaya sekali dengan arkeologi, terutama arkeologi prasejarah. Jadi peneliti asing, pusat dan nasional datang ke sini. Dan, hingga kini beberapa penelitian ini masih berlanjut. Seperti istilah megalitik, kita omong arkeologinya megalitik, tapi semua orang tahu itu kubur batu, itu sudah diketahui umum. Dan, dunia mengakui bahwa orang Flores dan Sumba hingga kini masih memelihara nilai-nilai dan peninggalan megalitik.

Apakah potensi arkeologi bisa dikembangkan jadi pariwisata di NTT?
Ya, yang sudah menjadi destinasi wisata itu adalah Liang Bua. Guanya begitu indah dan begitu besar. Saya bisa bayangkan empat truk bisa masuk sekaligus dalam gua itu. Dan, stalaktit dan stalakmit di sana itu sangat bagus. Kemudian ada ruang bawah. Jadi ada semacam adventure untuk petualang. Rasanya juga menyenangkan ada di situ. Tapi untuk menjadi tempat wisata harus diperbaiki dulu infrastruktur, seperti jalan dan fasilitas pendukungnya. Jadi sarana jalan dibuka sehingga aksesnya mudah, kemudian juga kita ingin ada museum. Okelah museum jangan di Liang Buah. Mungkin nanti pemeliharaannya menjadi sulit. Tarulah di Kota Ruteng. Jadi sebelum orang pergi ke Liang Bua, terlebih dahulu sudah dapat gambaran tentang Liang Bua itu. Nah, inilah tugas dan pekerjaan arkeologi. Kalau tidak ada pekerjaan arkeologi dan tidak ada penggalian maka yang dilihat hanya gua kosong, mungkin penikmatannya hanya pada pemandangan indah yang menakjubkan dalam gua itu saja. Mungkin orang takjub dengan dalam gua yang terdapat ruangan di sana-sini. Ada air mengalir, ada warna yang berkilap-kilap. Jadi gua itu sudah menasional dan membuat dia menjadi destinasi wisata. Selain itu ada juga Bena dengan kampung tradisionalnya. Kalau di Sumba ya, jelas ada kubur batu yang sudah menjadi destinasi wisata. Di Timor mungkin sampai di Kewar, ada rumah tradisional, di Camplong juga sudah menjadi destinasi wisata. Selain alam ada gua ada pemandian.

Kalau kajian sejarah, apakah hanya pada orang yang dianggap berjazah saja yang dikaji?
Kita sementara fokus dulu pada tokoh, kita mengatakan pejuang lokal. Jadi kita mewawancarai untuk mengetahui tokoh mana yang menjadi tokoh yang dominan dalam suatu pergerakan. Kita juga melakukan crosschek data dengan penulisan-penulisan Belanda di Leiden dan sebagainya. Tokoh yang kita kaji adalah tokoh yang melakukan perlawanan, mungkin tujuan tokoh tersebut bukan kemerdekaan Indonesia tetapi membebaskan rakyat di daerahnya dari kerja paksa, atau bentuk-bentuk penindasan dari penjajah dan menimbulkan gejolak atau pemberontakan. Itu yang sementara kita kaji dari tiap-tiap kabupaten. Kita bekerja sama dengan Undana dan kebetulan Undana punya jurusan sejarah. Nah, kalau arkeologi tidak ada, sehingga saya selalu sharing dengan Pusat Penelitian Arkeologi atau Balai Arkeologi Denpasar. Kebetulan baru saya sendiri yang arkeolog di sini.

Setiap tokoh yang diajukan, ada juga yang kontroversial di masyarakat. Misalnya Nipa Do di Ngada. Terus mengenai Mone Mola, itu ada yang mengatakan lebih pantas jadi pahlawan.
Itu bagus. Kita belum mengatakan Mone Mola itu pahlawan, kita baru menulis dan mengkaji. Kalau ada informasi lagi si A dan si B, maka kita akan mengkaji lagi. Jadi kita tidak terfokus pada salah satu tokoh dan kita mengatakan dia dari suku ini, pahlawan. Kita hanya mengkaji, mungkin dia punya sepak terjang apa saat melawan kolonial. Nanti yang mengusulkan dia jadi pahlawan adalah dinas sosial. Kita hanya mengkaji tokoh- tokoh ini yang berperan aktif melawan kolonial. Tapi kalau ada informasi baru ya kita bisa melakukan penelitian lagi dengan program yang kita buat lagi.

Bagaimana dengan Nipa Do yang sampai saat ini masih ada pendapat yang berbeda?
Itu memang kadang kita bisa berpikir dari dua sisi, mungkin dari si A kalau kita katakan begini mungkin dari keluarga tidak mau. Kita juga bisa berpikir, mungkin tokoh yang kita masalahkan memiliki strategi yang kita tidak paham. Kadang untuk mendapatkan sesuatu, bisa kita masuk dalam sistem lawan, mungkin dari pihak lain mengatakan itu membela kolonial, padahal mungkin itu juga strategi yang dia ciptakan untuk bagaimana masuk baru dia berjuang. Jadi itu hanya persepsi.

Bagaimana dengan bukunya, apakah sudah beredar?
Kita hanya menulis kemudian setelah ada kontroversi ya kita tahan. Kita juga tulis bukan berarti bahwa Nipa Do bukan pahlawan. Kita tidak sampai mengatakan kesimpulan begitu, tapi ada kontroversi itu maka ada pengkajian lagi. Kan ilmu itu ada sementara segala macam kontroversi untuk membangun satu argumentasi kan boleh. Seperti Liang Bua, itu masing-masing pakar memiliki argmentasi begini. Tapi marilah kita melakukan penelitian-penelitian terus. Jadi tidak ada masalah, kalau ada pihak ini mengatakan begini oke, mari kita melakukan penelitian selama data yang diajukan tersebut mendukung atau tidak.

Di lembaga yang Anda pimpin ini, ada berapa ahli arkeologi?

Kalau di kantor ini saya sendiri. Tapi di Kantor P dan K ada , di kantor gubernur juga ada dan ada juga di museum. Kalau memang penelitian kalau sekedar inventarisasi masih bisa kita lakukan, tapi kalau sampai pada penggalian atau eskavasi maka kita masih terbentur dengan soal biaya yang besar, perawatan dan tidak tertutup kemungkinan juga keterbatasan sumber daya manusia. Makanya kita sharing dana dengan Pusat Penelitian Arkeologi di Jakarta atau dengan Balai Arkelogi Denpasar. Seperti Liang Bua, UPTD ini tidak bisa melaksanakan ekskavasi di situ.

Kelihatannya seperti kerja orang gila saja para arkelog ini?
Ya, benar banyak orang yang bilang begitu, padahal dari situ kita bisa membuat rekonstruksi sejarah. Bagaimana budaya orang dulu dengan alat batu, kemudian kita teleiti tentunya dengan penelitian yang ilmiah. Penelitian zaman sekarang sudah lebih maju sehingga usia benda peninggalan itu bisa diketahui secara detail. Kemudian berbagai ilmu menjadi satu, seperti dengan geologi itu tidak bisa kita lepas karena ilmu itu yang bisa kita tahu struktur tanah. Semuanya tergabung dalam satu penelitian kepurbakalaan.

Sementara ini Anda menjadi orang nomor satu di lembaga ini. Apa saja kerja lembaga ini?
Sesuai dengan perda, kita dibentuk tahun 2001 tentu ada visi misi untuk UPTD Arkeologi. Ada tiga aspek yang harus dikerjakan lembaga ini. Memang ini pekerjaan yang tidak mudah. Tiga aspek itu adalah arkelogi, kajian sejarah dan nilai tradisional. Sebenaranya arkelogi itu berdiri sendiri, sejarah sendiri dan pengkajian nilai-nilai tradisi itu sendiri. Setelah PP 41 diberlakukan, unit ini akan masuk ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, tidak melekat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang nantinya akan menjadi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga. Nanti saya belum tahu apakah sudah selesai digodok atau belum. Tapi dalam pembahasan anggaran 2009 sudah masuk ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Jadi visi UPTD Arkeologi adalah ingin mewujudkan kebudayaan yang maju dan berawawasan lingkungan, mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengikat peradaban persatuan manusia.

Lembaga anda juga melakukan kajian nilai-nilai tradsional. Apa itu?

Itu seperti upacara-upacara tradisional atau tradisi-tradisi yang masih berlanjut atau tradisi yang tidak berlanjut yang sudah tidak dilanjutkan lagi maka kita recovery, kita gali kembali seperti upacara tanam jagung, upacara 40 hari bayi, upacara cukur rambut. Paling banyak di NTT adalah upacara sebelum menanam, ada juga upacara memohon kesuburan supaya jangan ada hama dan lain-lain. Seperti Belu khususnya di Malaka itu masih berlanjut seperti Beimau ada Tubilai, upacara berburu di SoA juga, dimana ada bulan-bulan tertentu. Nah, itu yang kita rekam. Kita lihat local genius-nya di mana, ternyata ada korelasi berlanjut sampai sekarang.

Seperti apa kearifan lokal yang Anda lihat di NTT?
Misalnya begini, ada suku yang melarang anak-anak atau orang dewasa duduk di atas bantal dengan anggapan nanti bisa membuat bisul. Itu kan tidak masuk akal, tapi pesan yang ingin disampaikan adalah bantal itu untuk kepala, sehingga tidak sopan bila diduduki. Jangan duduk di depan pintu atau jangan sapu pada malam hari, sebenarnya sapu malam tidak ada masalah tapi nilai yang ingin disampaikan adalah saat malam itu semua harus sudah bersih, sudah selesai mandi sehingga jangan ada kotor lagi dari debu. Jadi kearifan lokal itu yang digambarkan dalam bentuk simbol. (alfred dama)



Jiwa Petualang

MENJADI seorang arkeolog masih belum menjadi pilihan yang menyenangkan bagi orang lain. Namun tidak demikian dengan Jublina Tode Solo. Baginya, seorang arkeolog tak ubahnya seorang petualang, baik berpetualang dari daerah satu ke daerah lain, juga bertualang ke masa lalu.

Baginya, banyak hal yang didapat saat menggeluti pekerjaannya sebagai seorang arkeolog.
"Memang, sepertinya dunia arkeolog itu tidak menjanjikan sesuatu. Sebenarnya ada jiwa petualang dalam diri saya. Jadi bagaimana hanya seorang arkeolog saja yang bisa ke sana ke mari, maksudnya dalam pengertian yang jauh sampai ke kampung-kampung. Saya tertarik. Karena itu bagaimana kita berbaur dengan masyarakat setempat, mengenal budaya mereka itu ada di dunia arkeologi. Ada juga hal aneh. Kita juga sering mengejar atau mencari sesuatu yang belum pasti," jelas wanita yang selalu tampil familiar ini.

Pilihannya menjadi seorang arkelog bermula ketika ia sedang menyaksikan siaran televisi. Dalam siaran televisi tersebut sedang ditayangkan suatu penemuan. Tanpa disadarinya, siaran televisi itulah yang menggugahnya untuk terjun ke dunia arkeologi. "Waktu itu saya masih SMA. Saya nonton televisi dan melihat ada penemuan. Sejak itu, saya sudah terpancing dan terpikir oleh saya, wah ini ilmu bagus ini. Jadi saya pilih ilmu ini," jelasnya.

Pilihannya menjadi arkelog membuatnya berbulat hati masuk ke jurusan arkeolog. Dan, berbagai referensi mengenai perguruan tinggi yang memiliki jurusan arkelog dan didapatinya di Universitas Hasanudin-Makasar, Universitas Udayana-Denpasar, Universitas Indonesia-Jakarta dan Universitas Gaja Mada- Yogyakarta. "Saya memilih jurusan arkeologi yang berada di Fakultas Sastra Unhas dan Udayana.

Pilihan pertama Arkeologi Unhas dan pilihan kedua Arkeologi Udayana. Jadi dua-duanya arkeologi, tapi saya lulus di Unhas. Waktu pilih itu memang sudah menjadi keinginan saya menjadi arkelog, karena dulu saya pernah kuliah di ekonomi tapi saya keluar karena merasa tidak cocok. Jadi masuklah saya ke arkeologi ini. Karena inilah yang memanggil saya ke mana-mana untuk menjadi petualang," ujar isteri dari David Dima, S.E ini.


Menurutnya, menjadi seorang arkeolog sangatlah mengasyikkan. Sebab, selain merasa sangat puas bila menemukan tanda-tanda kehidupan pada lalu, di kalangan arkeolog juga tidak ada batasan saat bekerja meneliti. "Mungkin disiplin ilmu kita beda dengan disiplin ilmu lain. Kita tidak ada batas dengan sesama arkeolog. Kita tidak melihat siapa kaya, siapa tidak punya apa-apa. Namanya di lapangan sama-sama harus kerja sama," jelasnya.

Menjadi seorang peneliti, Jublina juga harus siap berjalan kaki hingga puluhan kilometer, bahkan menempuh perjalanan yang jauh dengan tujuan yang tidak pasti. Suasana yang demikian sangat dinikmatinya. "Pernah jalan jauh pernah sampai 20 km dengan tujuan yang tidak pasti, yang paling benar-benar adalah petualang mencari gua. Kemungkina tidak ada manusia yang tinggal disitu," jelasnya.

Diakuinya, menjadi seorang arkelog sama dengan siap hidup bersahaja karena tidak ada pendapatan lain selain gaji PNS. Meski demikian, kepuasan dalam hidup sudah sangat cukup baginya. "Memang di arkelog tidak ada begitu, tapi kami mendapat kepuasan terkait dengan kajian atau penelitian kami," jelasnya. (alf)

Pos Kupang Minggu 30 November 2008, halaman 3

1 komentar:

Perlawanan masyarakat Tanah Rea (Toto, Tanadjea dan Nangapanda) melawan Belanda yang dipimpin Nipa Do adalah perlawanan mempertahankan harga diri sebagai manusia bermartabat. Perlawanan ini merupakan perlawanan besar-besaran terakhir dari masyarakat flores bagian tengah (Ende-Lio, Ngada, Sikka) setelah Bara Nuri, Mari Longa dsb....Perlawanan ini juga kemudian melibatkan masyarakat daerah sekitar Tanah Rea, seperti masyarakat dataran Mbay-Dhawe yang dipimpin Rae Sape. Ketika perjuangannya sudah mulai melemah karena banyak sekutunya sudah ditangkap Belanda, dia tetap menolak untuk menyerah dan bekerja sama dengan Belanda. Pada saat menghadiri pesta adat "potong gigi" dia dikepung pasukan Belanda dan semalam suntuk dia diajak negosiasi untuk bekerja sama dengan Belanda. Namun, sampai pagi hari dia tetap menolak dan memilih untuk ditembak mati. Pada saat-saat terakhir menjelang ditembak dia sempat berkata "Yebho-yebho mona, Tana Madaka bhade ngada" yang artinya "Cepat atau lambat Tanah Malaka pasti menang....Semangat pantang menyerah membela tanah air patut diberi apresiasi....

22 September 2014 10.55  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda