Ferdinan Amate dan Yulian Amatae-Uly



FOTO/ISTIMEWA
Ferdinan Amatae bersama istri, anak dan kedua cucunya.


Tanamkan Sikap Rendah Hati Pada Anak

MENANAMKAN sikap rendah hati dan takut Tuhan selalu diajarkan pasangan Ferdinan Amatae dan Yulian Amatae-Uly dalam membesarkan dan mendidik putra-putri mereka. Pasangan ini yakin bahwa segala sesuatu yang diperoleh, susah dan senang, sukses dan tidak sukses, semuanya pemberian Tuhan sehingga anak tidak perlu sombong akan berbagai prestasi yang didapatkan. Baginya hidup saling menghargai, menghormati akan lebih indah dan nikmat daripada harus sombong dan angkuh. Hal ini yang memacu anak- anaknya untuk sukses di bidang pendidikan, organisasi dan dalam berkeluarga.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Selasa (2/12/2008), pria kelahiran Kupang, 17 Februari 1958 ini menceritakan seluk-beluk mendidik anaknya hingga berhasil. Pasangan ini memiliki tiga anak, anak pertama, Ivoni Rosalina Amatae, lahir di Kupang, 29 November 1979, telah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, saat ini sudah berumah tangga. Putri keduanya, Lady Amatae, lahir di Kupang, 14 September 1983, saat ini sudah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Warmadewa, Denpasar- Bali, dan putra bungsunya, Hesi Gasferindo Amatae, lahir di Kupang, 11 April 1985, saat ini sedang menyelesaikan skripsi di Fakultas Hukum Universitas Warmadewa, Denpasar-Bali.

Prestasi anak-anaknya tidak terlepas dari latar belakangya sebagai pelatih dan wasit-juri di Perguruan Pencak Silat Perisai Diri (PD). Pendidikan yang ditanamkan kepada ketiga anaknya di rumah juga tidak terlepas dari PD. Menurutnya, dalam organisasi PD diajarkan berbagai macam hal, termasuk mengenai nilai-nilai kehidupan manusia. Diantaranya, takut pada Tuhan, saling menghargai dan menghormati, tidak sombong atau rendah hati dan kekeluargaan.

Prinsip-prinsip inilah yang selalu ditanamkan kepada anaknya, sehingga mental mereka terbina dari kegiatan-kegiatan di PD. Ia memasukkan ketiga anaknya di PD sejak sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi (PT), dan pusat latihanya di kompleks SMA Negeri 3 Kupang. Putri pertamanya, selain berprestasi di bangku sekolah, juga berprestasi di luar yakni merebut medali perunggu di PON Surabaya pada cabang Pencak Silat dan menjuarai berbagai even daerah di Kupang serta menjadi pesilat terbaik antar mahasiswa. Prestasi putri sulungnya juga diikuti oleh kedua adiknya, meski belum pernah ke even nasional.

Pria yang akan menjadi wasit-juri internasional di Kuala Lumpur Malaysia tanggal 11-21 Desember 2008 pada penyelenggaraan POM ASEAN 2008 ini mengatakan, motivasi utama yang membuatnya harus menyekolahkan anaknya dan menjadi prestasi karena ia berasal latar belakang orang tua yang hanya mampu menyekolahkanya pada tingkat sekolah menengah atas (SMA).

Dengan latar belakang SMA saja, ia bisa dipercaya menjadi wasit-juri tingkat internasional kelas satu dan menjadi wasi-juri terbaik pada Pra PON XIV wilayah III dan penghargaan bintang Adimanggalya Krida sebagai wasit internasional tahun 2000 oleh Presiden RI. Karena itu, pria yang menjadi pegawai pada Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kupang ini harus bisa menyekolahkan anaknya di tingkat yang lebih tinggi. Dan, keinginanya itu berhasil dan ketiga anaknya bisa mengenyam pendidikan sampai di perguruan tinggi.

Niatnya memasukkan anaknya ke perguruan silat PD tidak pernah dibantah anak- anaknya karena di sana terdapat nilai-nilai kekeluargaan yang begitu besar, dimana pesilat harus berbudi luhur dan berakhlak baik, dan ini yang menjadi dasar bagi anak-anaknya menjalani kehidupan mereka sehari-hari.

Ferdi yang sudah malang melintang menjadi wasit juri dalam berbagai kegiatan pencak silat nasional maupun internasional ini mengatakan, istrinya sangat mendukung kariernya dan keberhasilan anak-anaknya di bidang pencak silat. Berbagai pelatihan yang dilakukan di organisasi PD terbawa sampai di rumah, sehingga benar-benar nilai kekeluarganya sangat besar.

Menurutnya, walau anak-anaknya sudah besar dan ada yang sudah berkeluarga, namun kewajiban yang ditanamkan di rumah yakni ibadah bersama tetap dilakukan secara rutin. Setiap Jumat pagi selalu dilakukan doa bersama di keluarga, karena bergelut di bidang olah raga pencak silat banyak sekali tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Karena itu, selalu mendekatkan diri dengan Tuhan adalah dasar yang selalu ditanamkan kepada keluarganya. (nia)

Pos Kupang, Minggu 7 Desember 2008, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda