Identifikasi Lembaga Adat di Sikka


POS KUPANG/NOVEMY LEO
Gereja Tua di Kampung Sikka (nampak luar) juga, bukti peninggalan masa lalu


BERDASARKAN penelitian yang dilakukan oleh Dr. Rufus Patty Wutun, bersama tim peneliti, yakni Pater Gregor Neonbasu, SVD, Romo Maksi Un Bria, Pr, Dr. Piet Tangubera, Drs. Yos Jelahut, M.Si, dan Marcellina Usfomeny, kampung Sikka atau Desa Sikka dan lembaga adat berupa kerajaan yang agak demokratis, pernah berjaya dan hidup berdampingan dengan Gereja Katolik dalam beberapa tahapan waktu yang lama.

Penelitian ini merupakan kerja sama antara Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BMPD) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Yayasan Peduli Sesama (Sanlima). Berdasarkan penelitian ini lembaga adat masih relevan dalam dinamika pembangunan masyarakat khusunya di NTT.

Penelitian ini bertujuan menggambarkan profil lembaga adat di NTT, mengetahui peran lembaga adat sesuai tujuan pembangunan dan mengetahui hubungan formal, informal dan non formal antara lembaga adat dan pemerintah dalam kaitanya dengan kesejahteraan masyarakat.

Hasil penelitian menunjukan, dalam pemerintahan tradisionalnya, kerajaan Sikka membawahi kampung-kampung atau wilayah kekuasaan mulai dari Gunung Egon Natakoli, Molikeli Samba (Lio), Ulu Kowe Jawa (Larantuka) dan Eko Leka Lambo (Manggarai). Roda pemerintahan dipimpin langsung oleh seorang raja. Secara tradisional sebutan bagi raja adalah Ina Gete Ama Gahar (mama terbesar, bapa tertinggi). Roda pemerintahan dipimpin oleh seorang Raja dibantu oleh Mo'ang Pulu, Mo'ang Pitu dan Mo'ang Manyong Lajar.

Mo'ang Pulu adalah 10 orang yang punya wilayah tugas masing-masing yang ditentukan oleh raja. Tugas mereka adalah menyampaikan berbagai hal yang ingin disampaikan oleh raja kepada rakyat atau sebaliknya. Di samping tugas tersebut, para Mo'ang Pulu juga berfungsi sebagai pemberi pertimbangan kepada raja, bila raja menyelesaikan berbagai permasalahan dalam wilayah sosial maupun masalah keamanan.

Sementara Mo'ang Watu Pitu, yakni tujuh orang yang ditunjuk raja bertugas sebagai kapitan atau setingkat menteri. Tugas mereka adalah menjaga keutuhan wilayah kerajaan menghadapi berbagai kemungkinan agresi yang datang dari luar wilayah kerajaan. Ada juga Mo'ang Mayong Lajar (Mo'ang tiang perahu dan layar) yang berkedudukan di setiap kampung dan bertugas mengayomi rakyat dan menyelenggarakan pemerintahan di tingkat kampung.

Raja pertama kerajaan Sikka adalah Mo'ang Baga (sekitar abad XI atau XII) yang mempunyai dua julukan, Mo'ang Bayanga dan Mo'ang Bagiluk (pemberi kebal yang memperlihatkan kekuatanya). Mo'ang Baga pertama tinggal di kampung Nata Gahar.
Selanjutnya, pada abad XV (sekitar tahun 1400) kerajaan Sikka dipimpin langsung seorang raja yang bernama Mo'ang Lesu. Diperkirakan pada waktu itu, bangsa Portugis sudah masuk ke wilayah kerajaan Sikka. Pada masa pemerintahan Mo'ang Lesu ini banyak sekali rakyat menderita sakit, mengalami kesengsaraan dan bahkan kematian. Menghadapi kenyataan ini, Mo'ang Lesu berkeinginan mencari tempat yang mana ditempat tersebut tidak ada lagi sakit-penyakit, kesengsaraan dan kematian. Dia sangat mendambakan rakyatnya hidup makmur, tenang dan sejahtera.

Ketika Mo'ang Lesu bertemu dengan orang Portugis yang sudah masuk di wilayah Kerajaan Sikka, bertanyalah dia tentang tempat yang sangat didambakannya itu. Orang Portugis memberikan jawaban kepada Mo'ang Lesu bahwa tempat yang dimaksudkan ada dan letaknya jauh berada di negeri sebarang lautan. Mo'ang Lesu meminta orang Portugis tersebut untuk memberitahu dan sekaligus mengantarnya ketempat tersebut. Diantarlah Mo'ang Lesu oleh orang Portugis tersebut menuju Bandar Malaka (Sumatera).

Sesampainya di sana, Mo'ang Lesu diperkenalkan dengan ajaran Katolik sampai dia marasa sangat tertarik dengan ajaran yang baru diterimanya tersebut. Tak lama kemudian, Mo'ang Lesu pun dibaptis di Bandar Malaka menjadi orang Katolik dengan nama permandian Don Aleksius Ximenes da Silva.

Ketika dia hendak kembali ke Sikka, Pastor berkebangsaan Portugis yang membaptisnya menyampaikan kepadanya sesungguhnya semua yang didambakanya telah ditemukan dan agar kedamaian, ketenangan, kemakmuran, kesejahteraan dapat terjadi di Kerajaan Sikka, hendaknya dia membawa salib emas dan patung kanak-kanak Yesus yang diberi oleh pastor berkebangsaan Portugis tersebut.

Di samping salib emas dan patung kanak-kanak Yesus, bagi Don Aleksius Ximenes da Silva diberi juga topi raja dan tongkat, rantai, gelang, keris dan ikat pinggang yang semuanya terbuat dari emas murni.

Sekembalinya dari Bandar Malaka dengan membawa Salib dan patung kanak-kanak Yesus, Don Aleksius Ximenes da Silva dinobatkan oleh Portugis sebagai raja pertama untuk kerajaan Sikka dan berada langsung dibawah kekuasaan Portugis.
Sejak itu, dia menjalin hubungan yang sangat baik dengan bangsa Portugis, sehingga selanjutnya Portugis memanfaatkan kuasa dan wibawanya sebagai raja untuk mengajak dan menganjurkan seluruh rakyat di kerajaanya dibaptis menjadi pemeluk agama Katolik. Dalam menyebarkan ajaran Katolik di wilayah kerajaan Sikka, raja Don sangat dibantu oleh seorang berkebangsaan Portugis bernama Agustinho Rozario da Gama yang datang ke Sikka bersama Raja Don ketika kembali dari Bandar Malaka.

Sejak itulah gereja Katolik di kerajaan Sikka berkembang pesat.
Konsekuensi logis dari perkembangan seperti itu adalah rakyat kerajaan Sikka secara perlahan mulai meninggalkan berbagai kepercayaan, keyakinan dan rital yang merupakan warisan nenek moyang mereka (gentio) dan menggantikanya dengan berbagai kepercayaan, keyakinan dan ritual yang dibawakan oleh gereja Katolik.

Sampai kini kisah tersebut meninggalkan bekas yang tidak sulit untuk diketahui oleh siapapun, bahwa adat-istiadat asli Sikka relatif telah menjadi kenangan masa lalu yang telah diganti oleh suatu realitas baru berupa semakin dominannya peran dan fungsi gereja Katolik. Jika lembaga adat tradisional (sistim kerajaan) ingin dihidupkan, pihak pertama yang harus diajarkan untuk kerja sama adalah lembaga gereja Katolik. Tanpa itu upayanya menjadi sia-sia. (*/nia)

Kampung Hikong

KAMPUNG Hikong berada di wilayah adat Tana Ai dengan lembaga adat kesukuan dan pemimpin tertinggi lembaga adat adalah kepala suku (Pala Suku atau Tana Puang) dengan sistim kekerabatan adalah matrilinear.
Fungsi kepala suku mengatur urusan perkawinan, menentukan kalender adat atau kalender musim dalam setahun sekaligus memimpin berbagai ritual yang berhubungan dengan siklus adat atau pertanian, menjaga kelestarian hutan dan keutuhan wilayah kesukuan.
Dalam urusan perkawinan, kepala suku berfungsi sebagai saksi utama dalam hal pengesahan perkawinan secara adat. Seluruh rangkaian upacara perkawinan adat baru dapat dimulai bila kepala suku telah hadir dan mengkoordinasi proses upacara tersebut dengan bantuan para perangkat adat. Jika kepala suku , karena sesuatu dan lain hal berhalangan hadir, acaranya harus ditunda sampai kepala suku dapat menghadiri upacara tersebut.
Perlu diketahui bahwa kehadiran kepala suku dalam hal ini bukan untuk menentukan jumlah belis atau maskawin, tetapi karena memang dalam adat Tana Ai tidak mengenal istilah tersebut, mereka mengenal sistim kekerabatan matrilinear. Kehadiranya semata- mata menjadi saksi sekaligus memberikan nasihat kepada pasangan suami istri yang baru dikawinkan secara adat. (*/nia)


Pos Kupang Minggu 7 Desember 2008. halaman 11

1 komentar:

sebaiknya penelitin seperti ini perlu dikembangkan terus dan mencakup seluruh daerah di NTT, Proficiat untuk mereka yang telah melakukannya!!!!!!!!!!!!!!!!!!

22 Desember 2011 18.03  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda