Ketika Sepe Mulai Berbunga

Cerpen Yayang Sutomo

Senja yang kelabu, samar- samar tersapu merahnya sang raja siang yang hendak beranjak ke pembaringannya. Perlahan bayangan dirinya berbisik kepada malam untuk menggantikan tugasnya menemani anak manusia menjalani hari yang kian kelam. Sendunya senja yang kelabu seketika berubah menjadi kemerah-merahan semerah kembang sepe yang sedang berbunga.

Di bawah pohon sepe, aku terpekur menatap kelopaknya yang luruh satu per satu, terhempas di tiup angin. "Malangnya nasibmu sepe, sama sepertiku," jerit bathinku. Mahkota bungamu cantik, warnamu sangat memikat, bahkan bentukmu unik namun sayang mengapa kamu tidak bertahan lama? Kamu begitu mudah luruh hanya karena terpaan angin yang tidak begitu kencang. Sama seperti aku yang tak sanggup bertahan kala angin persoalan datang mendera. "Serapuh itukah aku?", gumamku.

Ku tatap sederetan pohon sepe yang berjajar rapi, terlihat kokoh batangnya berdiri tegap namun kembangnya senantiasa gugur perlahan- lahan.. Di tempat ini setahun yang lalu, di awal bulan Desember seperti saat ini, dikala sepe sedang berbunga, aku menangisi diriku yang tak sanggup menerima kenyataan bahwa dia yang aku sayangi ternyata milik orang lain. Aku menyesali diriku yang tak pernah peka akan apa yang terjadi. "Salahkah aku?" teriak hatiku. "Salahkah aku mencintainya tanpa harus memilkinya?" suaraku tercekat di tenggorokan.

"Fan, sudahlah. Lupakan dia. Kamu masih bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia," hibur Marlin sahabatku.
"Lin, mengapa ketika cintaku mulai merekah, kenyataan pahit ini kuterima? Aku baru tahu kalau dia sudah menikah?" serak suaraku diantara deraian airmata. "Aku sungguh mencintainya Lin, aku benar- benar jatuh cinta padanya," rengekku seperti anak kecil.
"Iya, iya, cinta tidak pernah salah namun cinta butuh pengorbanan.Agungkanlah cinta itu dengan melihat orang yang kamu sayangi bahagia dalam hidupnya. Terkadang, hidup itu tidak adil. Hidup itu adil tergantung dari cara pandang seseorang terhadap kehidupan itu sendiri," panjang lebar Marlin menasehatiku.

Luluh hatiku mendengar nasehatnya. "Cinta...cinta..", bisik bathinku. Cinta yang hakiki tak pernah menuntut apapun bahkan rela berkorban meski nyawa taruhannya.
***
Anganku terus melayang ke hari-hari yang lalu. Angin berhembus mencium helai ûhelai rambutku. Seakan terlena, mereka bergoyang mengikuti iramanya. Hembusannya lembut menembus pori-poriku. Kembang sepe luruh perlahan menyentuh rambutku dan diam diantara helainya. Hari kian gelap. Aku tak juga beranjak dari tempat itu.

"Mas Fe, dimanakah engkau? Aku merindukanmu. Sejak perpisahan kita, aku tak tahu lagi berita tentangmu. Salahkah aku jika menginginkan kabar darimu?" rintih hatiku. Air mataku menetes bagai kristal bening jatuh perlahan membahasahi pipiku.

"Sendirian?", suara berat itu bagai pernah kudengar. Aku menoleh ke arah suara tadi, dan..."Mas Feee," teriakku kaget dan hendak berlari ke dalam pelukannya namun kuurung niatku. Mas Fe bukan milikku. Aku sadar akan hal itu. Kami terlihat agak kaku dan grogi "Maaf! Aku tahu kamu di sini karena ini tempat favorit kita dulu. Aku masih dan terus mengingatnya. Meskipun aku berada jauh di seberang selama ini namun tempat ini tak pernah lepas dari ingatanku. Maafkan aku yang tidak berterus terang padamu. Aku tahu kamu begitu terluka. Akupun demikian bahkah lebih dari yang kamu rasakan.

Tradisi tak bisa kulanggar. Bakti pada orang tua membuat aku harus mengorbankan keinginanku bahkan mengubur sebagian hasratku untuk meraih cinta suciku," suara mas Fe serak dengan mata berkaca-kaca.

Terpana aku mendengarnya. Kutatap wajahnya dalam-dalam, ada kejujuran di sana. Ku sembunyikan airmataku yang hampir jebol dengan memalingkan wajahku ke arah jalanan yang mulai penuh dengan kendaraan bermotor. Lampu-lampu jalan mulai menebar pesona menyemarakkan malam yang membisu.

"Aku mengerti mas," jawabku kehilangan kata-kata.
"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?," tanyanya.
Tanpa menunggu jawabanku ia meraihku dalam pelukannya. Runtuhlah pertahananku. Ku balas pelukannya seraya terisak-isak di dadanya. Rasanya plong hatiku setelah mendengar pengakuannya. Getar-getar cinta masih terasa. Dawai-dawai asmara membahana di dinding jiwa kami. Debaran jantung kami seirama dalam haru membaur dalam rasa yang hanya dapat diterjemahkan dalam bahasa kalbu

"Aku merindukanmu,öbisiknya ditelingaku membuat lututku lemas seketika.
Kukuatkan hatiku, kutegarkan jiwaku, kupulihkan bathinku ætuk menjawabnya.
"Mas Fe, tak ada satu orangpun yang merindukanmu seperti yang kulakukan. Namun, rinduku adalah rindu yang terlarang. Aku mencintaimu, sungguh!bahkan lebih dari yang mas tahu. Namun, aku sadar aku tak mungkin memiliki mas dalam hidupku karena mas milik orang lain. Biarlah aku mencintaimu mas dengan caraku sendiri. Mencinta tidak harus saling memiliki, kan?," suaraku lirih terdengar.

"Aku sangat menghargai keputusanmu. Kejujuran terkadang menyakitkan. Satu hal yang kuingin kau tahu bahwa kau telah membawa pergi seluruh hatiku. Hari-hari bersamamu merupakan bagian dan episode dari cerita hidupku yang paling membahagiakan. Kamu akan selalu ada dalam jiwaku," jawabnya tanpa melihat ke arahku.
***
Waktu terus bergulir. Titik-titik embun merembes didedaunan. Bulan memunculkan wajahnya yang tenang didampingi kerlipan bintang yang bertaburan bak berlian berkilau menemani sang malam. Sesekali terdengar helaan napas mas Fe yang berirama. Kami diam seribu bahasa berbicara dalam hati masing-masing.

"Fan, setelah malam ini kita masih bersahabat, kan? Aku takut kehilanganmu," tanyanya ragu-ragu.
"Iya, mas Fe akan tetap menjadi sahabatku, takkan tergantikan," jawabku meyakinkannya. Hatiku miris mengucapkan kata sahabat. Aku tidak mau munafik. Aku menginginkan lebih dari itu namun apa daya aku lebih mementingkan prinsip dan realita ketimbang hati dan perasaan.

"Sudah malam Fan, ayo ku antar pulang," ajaknya sambil menggandeng tanganku.
Aku mengangguk, merelakan tangan mungilku digenggamnya. Tangannya yang lembut menyentuh kulitku dan tak mungkin kulupa. Langkah kami gontai menapaki trotoar yang ditaburi sobekan mahkota bunga sepe yang terkoyak oleh derasnya hujan dan hempasan sang bayu namun pohonnya tetap berdiri kokoh menanti musim berganti dan kembali berkembang. Hari ini ada hati yang terkoyak, tercabik-cabik oleh cinta yang tak berpihak namun tegar menjalaninya dan mampu memahami alur sandiwara kehidupan. Dua hati yang terpadu dalam satu hasrat. Dua rasa yang terpaut dalam satu jiwa. Dua jiwa yang terikat dalam satu harap. Dua bathin yang senantiasa berbisik lirih dalam desahan napas 'aku mencintaimu' namun sayang sungguh memilukan, Amat teramat miris. Cintanya terlarang. *


Keteterangan: Sepe = Bunga flamboyan dalam
bahasa Melayu Kupang.



Pos Kupang Minggu 7 Desember 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda