Malaikat Hujan

Cerpen Mario F Lawi

AKU sedang bermain-main bersama adikku ketika hujan mengguyur kampung kami. Hujan menyisakan lumpur penebal pijak kaki di sepanjang jalan menuju desa kami. Dan setiap tahun, hujan pasti membawa orang-orang lewat longsor maupun lewat banjir yang ditimbulkan dan sesekali lewat sambaran petir.

Karena itu, tidaklah mengherankan bila ibu lekas memanggil aku dan adikku untuk meninggalkan lapangan bermain dan segera pulang ke rumah. Apa yang dilakukan ibuku sama seperti yang dilakukan oleh orang-orangtua yang lain. Bahkan, ada pula orangtua yang rela menjaga anaknya saat sedang bermain, seperti menjaga biji mata mereka.

Mereka tak ingin menjadi buta akibat biji mata mereka tertutup jejak-jejak hujan. Mereka cemas sebab hujan dapat membawa anak-anak mereka pergi. Kami hanya bisa mengikuti orangtua kami meskipun ada beberapa orang anak yang terlihat melawan dan terpaksa harus diseret oleh orangtua mereka untuk menghindari kepungan hujan di lapangan bermain yang terletak di tengah kampung.

Sejujurnya, kami semua amat mencintai kampung kami. Kami tak akan meninggalkan kampung hanya karena hujan yang membawa orang-orang pergi. Di sinilah nenek moyang kami mengukir sejarah, hidup dan dikuburkan. Di sini kami hidup dan di atas tanah ini kami hidup. Murka alam maupun langit yang disampaikan lewat jejak-jejak hujan tak akan bisa mengusir kami pergi dari sini.

Meskipun demikian, kami tetap menjunjung langit yang menaungi tanah kampung kami. Kami tetap menjunjung langit yang meninggalkan jejak-jejak hujan pada duka tahunan kampung kami.

Sebagaimana penduduk di kampung kami, orangtua kami takut pada hujan, padahal sebagian besar penduduk di kampung kami adalah petani. Tapi sesungguhnya, mereka tidak takut pada hujan yang menyirami sawah dan ladang mereka. Tak pernah mereka takut pada hujan yang mengairi sungai dan menumbuhkan pepohonan di kampung kami. Mereka hanya takut pada hujan yang dapat membawa pergi anak-anak mereka.
Mereka tak pernah takut dibawa pergi oleh hujan asalkan jangan anak-anak mereka.

Dan, kami tahu bahwa cinta mereka jauh lebih kuat daripada rasa takut mereka pada hujan. Karena itu, setelah membawa kami masuk ke dalam rumah, mereka lalu ke luar dan menuju ke sawah maupun ladang. Mereka lalu tekun bergumul dengan pekerjaan mereka untuk menyambung hidup mereka dan anak-anak mereka.

Aku pernah mendengar jeritan ibu ketika halilintar menggelegar di angkasa. Jeritan kaget bercampur ketakutan itu kudengar ketika tak ada lagi kesibukan yang mengalihkan perhatian ibu. Jeritan itu terdengar seperti sebuah jeritan yang pernah kudengar empat tahun silam. Jeritan empat tahun silam itu juga menetas dari mulut ibu. Halilintar penanda hujan itu membawa ingatan ibu kembali pada masa lalu ketika longsor menimbun para petani di tebing selatan desa ini termasuk ayahku.

Saat itu, ayah sedang bekerja bersama para petani yang lain untuk memperbaiki pematang sawah yang rusak. Mereka giat bekerja di tengah hujan karena sawah akan terendam air jika pematangnya yang rusak tidak segera diperbaiki. Dan bencana itu datang secara tiba-tiba. Tanah tebing itu menjelma menjadi monster yang menelan mereka. Tak ada seorang pun dari antara mereka yang selamat. Lalu, meruaplah wangi duka. Tangis pun mekar dan menganak sungai di pipi para keluarga korban. Kami pun tak luput darinya. Jerit ibu yang pecah seiring tangis yang mengalir itu kembali kudengar.

Dan, bila hujan reda, ibu melarang aku dan adikku bermain di sungai, sebab keadaan sungai setelah hujan sangatlah berbahaya bagi kami. Setidaknya, itulah pendapat ibu. Bebatuannya menjadi lebih licin dari biasa dan aliran arus deras dari hulu sewaktu-waktu dapat menghanyutkan kami. Itulah pagar pembatas yang dipasang ibu bagiku dan adikku. Dan aku merasa bukan hanya ibuku saja yang melakukannya. Orangtua teman-temanku pun melakukan hal yang sama. Maka kami kembali bermain bersama di lapangan setelah hujan reda. Kami anak-anak kampung ini sudah saling mengenal baik sehingga aku tahu bahwa tak ada yang pergi ke sungai. Kami lebih memilih bermain di lapangan yang terletak di tengah kampung. Pilihan itu adalah satu-satunya yang kami miliki.

Permainan yang kami sukai adalah bermain bola sambil menjejaki tanah lapangan yang berlumpur dan liat, seliat kaki-kaki muda kami. Bukan gol yang menjadi tujuan utama permainan kami melainkan jejak-jejak kaki yang dihasilkanlah yang menggembirakan hati kami. Dan lapangan itu kemudian menjadi seperti sawah yang dibajak tetapi kami tak peduli.

Kegembiraan kami mengalir seperti hulu sungai kami mengalirkan air bagi muara di ujung lain yang tak pernah kami tahu letaknya. Hujan yang akan turun dapat merapikan kembali wujud lapangan itu seperti baju kusut yang kembali licin di bawah gesekan setrika.

Semakin kami memainkan permainan itu, semakin terobati pula rasa kecewa kami setelah dilarang oleh orangtua kami untuk tidak bermain di tengah kepungan hujan. Tapi hujan akan tetap turun dan terus merayu kami. Kami sangat tergiur dengan rayuan hujan yang bagaikan sulur-sulur yang ditumbuhkan langit bagi bumi. Namun, keinginan kami untuk bermain di tengah hujan tidaklah sebesar ketakutan orang tua kami. Maka rayuan hujan tak pernah berhasil.

Seberapa pun lebatnya hujan dan kuat rayuannya, tetap tak dapat memaksa orangtua kami untuk membiarkan kami bermain di tengah hujan. Dan hujan tak akan menang hingga pelangi muncul dan menghiasi langit desa kami.

Kini, bola telah kukuasai dan dapat kumainkan sesuka hatiku sebab aku selalu unggul dalam permainan ini. Aku selalu dapat membanggakan kelincahanku dalam mempertahankan bola di hadapan teman-teman sepermainanku. Tetapi sebenarnya aku juga menginginkan beberapa lawan yang sepadan. Aku tahu teman-temanku tak mungkin menandingiku sebab mereka seolah pasrah pada kemampuan mereka sebagaimana mereka mengagumi kemampuanku. Kami berlari dan menendang bola seolah kami tak pernah merasa puas. Namun jika permainan itu akhirnya mendatangkan kepuasan dalam hati kami, maka kami akan mencari permainan lain yang tak kalah hebatnya. Dan kami tak dapat membohongi diri kami bahwa sehebat apa pun permainan yang kami mainkan, rayuan hujan jauh lebih hebat.

Aku pernah mendengar cerita Jara, teman sepermainanku. Ia bercerita padaku tentang hujan yang katanya dijaga oleh para malaikat. Ia bilang padaku bahwa jumlah butiran hujan yang turun sama dengan jumlah malaikat yang menjaganya.

Mungkinkah Tuhan mengosongkan surga setiap kali ia ingin menurunkan hujan bagi bumi? Jara tak menjawab pertanyaanku. Mungkinkah hujan yang dijaga malaikat itu meninggalkan jejak-jejak duka pada perjalanan kehidupan di desa ini? Ia berlalu dan mungkin marah padaku yang tak percaya pada ceritanya. Aku hanya bertanya, tapi jawabnya adalah membalikkan tubuhnya yang kemudian hilang ditelan kabut senja hari.

Kutanyakan ibu perihal cerita Jara saat aku tiba di rumah. Ibu tak menjawab tetapi menyuruhku mandi, sementara ia terus menyuapkan makan malam ke mulut adikku. Aku bertanya lagi pada ibu tentang malaikat hujan itu tetapi yang kudapat hanya ketidaktahuan ibu dan gelengan kepala. Setelah mandi, ibu menceritakan aku dan adikku sebuah dongeng tentang kemarahan alam yang diturunkannya lewat cuaca buruk malam hari disertai badai dan hujan yang terus mengguyur. Aku kira itulah jawaban yang kucari atas duka musim hujan yang terus menaungi desa kami. Kemarahan alam adalah akibat yang tak kami tahu sebabnya dan membuat orangtua kami hidup dalam ketakutan akan kehilangan kami dan mengurung kami dalam bayang-bayang kecemasan orangtua kami, sedangkan hujan akan tetap turun dan sewaktu-waktu dapat menjelma menjadi tangis dan airmata bagi penduduk desa kami. Kami terus mendengar cerita ibu hingga terlelap di pangkuannya.

***

Awalnya, aku tak mengerti mengapa ibu membawaku ke tempat ini dan menyekolahkanku di sini. Tempat yang bernama kota ini, jauh dari kesan menyenangkan. Aku lebih senang bersekolah di desa. Aku senang mendengar bunyi jangkrik di pematang sawah dan menyaksikan pendaran kunang-kunang di antara kemuning sawah di malam hari. "Memang sulit, tapi kelak kau harus mengubah nasib agar tak seperti ibu." Demikian nasihat terakhir yang ibu tinggalkan sebelum ibu kembali ke desa dan jarak membentang dan membentengi aku dari ibu dan adikku. Ibu seolah ingin membawa pulang semua kenangan bersama kepergiannya. Tinggallah aku di sini serupa orang asing yang tak tahu ke mana hendak mengarahkan langkah.

Ketika nasihat terakhir ibu mampir ke telingaku, yang ada dalam benakku adalah sebuah mobil yang sedang terjebak dalam kubangan lumpur, sedangkan hujan terus turun dan memperluas kubangan tersebut. Aku pernah melihat sebuah truk terjebak dalam kubangan lumpur sehingga para penumpangnya harus turun dan berusaha mengeluarkannya. Kejadian itu terjadi di dekat lapangan bermain ketika para penduduk desa kami baru saja pulang dari pasar menjual hasil-hasil mereka. Truk yang mengantar mereka terjebak dan kami tak lagi tertarik pada permainan kami kemudian menyemangati para penumpang yang berusah mengeluarkan tumpangan mereka dari jebakan lumpur. Kejadian masa kecil itu melintas lagi dalam ingatanku seperti cuplikan-cuplikan film. Kadang muncul begitu terperinci serupa mosaik namun kadang serupa gambar yang tak terselesaikan.

Ah, ibu. Seandainya kau tahu betapa besar rinduku pada tempat lahirku. Dan aku sangat senang bila dapat kembali meski sekadar mendengar kecipak air sungai di tengah sunyi senyap kebun cengkeh yang menawarkan aroma keteduhan. Aku tak tahu berapa lama aku dapat bertahan di sini, tempat segala sesuatu yang baru kurasakan dan kualami lalu keterasingan membuatku enggan beranjak dari titik pijakku. Mengubah nasib adalah alas an yang mungkin harus kugunakan untuk memahami rasa keterasinganku di sini. Ibu, seandainya kau tahu betapa aku ingin waktu mengubah segala pandanganku tentang tempat ini.

Tapi, waktu terasa begitu berat berjalan serupa bekicot yang menikmati setiap mili dalam setiap pengembaraannya di tempat lembab dan berlumpur.
Begitu besar rinduku pada desa sehingga aku tak dapat menahan kegembiraanku ketika liburan semester menjelang. Walaupun enam bulan saja kutinggalkan desa tapi aku amat rindu padanya, pada wajah ibu dan adikku, pada cerita-cerita sahabat kecilku dan rindu ini sebentar lagi akan segera terjawab. Dan dalam liburan pertamaku ini, aku akan pulang bersama dua orang wartawan yang ingin meliput fenomena hujan desaku. Mereka mengenal desaku dengan nama Kampung Hujan dan tak tahu dengan Kirana yang merupakan nama asli desaku.

Sebelum kedua wartawan itu melihat dari dekat indahnya kampung yang mereka sebut Kampung Hujan dan menguak misteri hujan, mereka harus melalui perjalanan yang berat menuju ketinggian. Selain medan yang tak mendukung, mereka pasti tahu bahwa semakin dekat langkah mereka menuju kampung kami, semakin mereka harus membalut rapat tubuh mereka dengan jaket yang mereka kenakan. Meskipun demikian, dalam perjalanan menuju desa kami, mereka akan ditemani udara segar pepohonan dan kicau burung serta gemericik sungai yang sesekali menggoda mereka untuk sejenak melepas penat atau sekadar mengedarkan pandangan.

Jika beruntung, pada tanjakan terakhir dekat tebing yang merupakan pintu gerbang menuju desa kami, mereka akan menemukan pelangi melengkung indah menghiasi sawah dan pegunungan yang terlihat dari atas tebing. Jika hal itu terjadi pada senja hari, maka itulah pelangi senja yang diuntai oleh hujan dari arah kampung kami. Bagi kami, pelangi itu bukanlah tanda perdamaian yang dilengkungkan Yahweh sebagai perjanjianNya dengan nabi Nuh seperti yang diceritakan ayah pada masa kecilku. Pelangi itu, bagi kami, adalah sebuah tanda bahwa jejak-jejak hujan masih akan hidup dalam tangis dan duka kami.

Sore itu, aku dan kedua wartawan akhirnya tiba di desa. Sampai juga aku di tanah yang enam bulan lalu begitu kurindukan. Dapat kulihat raut gembira bercampur letih di wajah mereka berdua serupa wajah para serdadu yang usai memenangkan pertempuran. Memang, mereka telah memenangkan begitu banyak pertempuran dalam diri mereka sebelum tiba di sini. Dari kejauhan, kulihat orang-orang kampungku berarak menuju ke arah timur, ke arah rumahku. Firasat buruk tiba-tiba menyergap benakku.

Sebelumnya, aku pernah bermimpi bahwa tubuh ibu seluruhnya dipenuhi ulat. Karena itu, aku pun bergegas meminta supir mobil kami untuk sedikit memacu mobil. Sesampainya di rumah, dengan setengah melompat, aku keluar dari mobil sebab kulihat kerumunan orang banyak di rumahku. Di ruang tamu, kulihat airmata mengalir di pipi adikku dan beberapa anggota keluarga yang hadir. Dan di dalam peti mati itu, ya Tuhan, tubuh ibuku telah menghitam seperti terbakar. Adikku langsung berlari memelukku dan menumpahkan segala teriaknya. Dan sungai pun mengalir di pipiku.

"Ibu... Kenapa ibu?" tanyaku setengah berbisik pada adikku sebab tangis telah menjadi tembok penghalang bagi suaraku.
"Ibu tersambar petir, Kak!" Adikku menjawab dan memelukku semakin erat seolah tak ingin kagi kehilangan orang yang ia cintai.

Lalu, kurasakan jejak-jejak hujan semakin dalam menjejaki duka hatiku. Ah, Desember ini, seandainya dapat kuloloskan sebuah doa ke pangkuanNya, aku ingin memintaNya menjadikanku malaikat serupa malaikat hujan dalam cerita Jara dalam masa kecilku. Seandainya suasana duka di hati ini tak mengganjal doaku, aku ingin arwah ibu menjelma menjadi hujan yang ditumbuhkan bumi lalu akan kukawal arwahnya ke surga. Seandainya aku malaikat, aku yakin hujan yang kukawal ini akan menyuburkan surga.***


(Seminari Oepoi, di awal musim hujan)
(Cerpen ini peraih juara I Lomba Penulisan Cerita Pendek Dies Natalis ke-24 Seminari St. Rafael Kupang)



Pos Kupang Minggu 14 Desember 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda