Mengalah

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

EDO selalu merasa iri dengan adiknya Albert. Hampir setiap sore selalu ada teman yang datang dan mengajaknya bermain. Padahal Albert tidak pernah memiliki permainan yang baru dan canggih seperti yang dimilikinya. Kalaupun ada, itu adalah pemberian darinya. Biasanya permainan yang diberikan itu memang sudah tidak disukainya lagi atau yang sudah rusak atau patah bagian-bagian-nya.

Apakah Albert memiliki banyak teman karena dia suka mentraktir mereka? Setahunya uang jajan yang diberikan ibu setiap pagi hanya cukup untuk membeli beberapa potong kue di kantin saat istirahat. Setahunya pula Albert selalu menggunakan uang jajan itu untuk jajan setiap kali istirahat. Jadi kalau harus mentraktir teman-teman setiap sore dari mana Albert mendapatkan uangnya?

****
Suatu sore Edo dengan sengaja memamerkan robot canggih miliknya kepada teman-teman Albert yang kebetulan sedang berkumpul di rumah mereka. Teman-teman Albert terkagum-kagum akan kehebatan robot milik Edo itu.

"Robot ini dibeli bapakku saat dia keluar negeri beberapa bulan lalu. Jangankan di kampung ini, di sekolah pun tidak ada yang memiliki robot secanggih punyaku ini," ujar Edo kepada anak-anak yang mengerumuninya.

"Kami boleh mencobanya, Do?" Tanya salah seorang teman Albert sambil mendekati ke arah robot itu dan hendak meraihnya. Tangan anak itu ditepis Edo.
"Tidak boleh. Jangankan kamu, Albert adikku saja tidak kuizinkan menyentuh robot itu. Takut rusak," jawab Edo.
"Wah percuma, mahal-mahal membelinya tapi hanya untuk dijadikan pajangan," celetuk teman Albert.

"Ya terserah aku, itu kan permainan punyaku. Kalau kamu mau bermain robot, beli saja sendiri," sahut Edo kesal.
"Ayo teman-teman, lebih baik kita bermain bersama Albert saja. Albert kan punya banyak permainan bekas. Jadi kita bisa bebas bermain tanpa perlu takut rusak," ajak teman Albert lainnya.

Anak-anak itu pun segera meninggalkan Edo dengan robotnya sendirian. Mereka mengambil sejumlah permainan bekas milik Albert dan mengajaknya untuk bermain di luar rumah. Edo hanya bisa memperhatikan Albert dan teman-temannya
dari jauh. Tampak mereka sangat asyik bermain. Dalam hati Edo timbul penyesalan. Kalau saja tadi dia mau mengalah dan membiarkan robotnya dimainkan anak-anak itu, tentu dia tidak akan sendirian seperti sekarang ini.

****
Malam harinya seusai belajar Edo mendatangi Albert di kamarnya.
"Albert, kakak mau meminta maaf padamu," kata Edo
"Minta maaf soal apa, kak? Albert merasa selama ini kakak tidak pernah berbuat salah," tanya Albert.
"Kakak bersalah. Kakak selalu mau menang sendiri. Semua permainan baru yang dibelikan bapak selalu kakak kuasai dan baru memberikannya kepadamu setelah kakak bosan. Padahal permainan itu dibelikan bapak untuk kita mainkan bersama," sesal Edo.

"Ya sudahlah kak. Semuanya sudah terjadi. Albert pasti memaafkan kakak," jawab Albert ringan.
"Mulai besok, kamu boleh mengajak teman-temanmu itu untuk bermain robot, juga permainan milik kita lainnya," kata Edo. Albert tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
"Benar, kak? Kalau begitu, terima kasih kak," teriak Albert girang sambil memeluk kakaknya erat-erat.(*)


Pos Kupang Minggu 14 Desember 2008 halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda