Mengapa Orang Berselingkuh?

SELINGKUH merupakan perbuatan tercela. Namun tidak sedikit pasangan suami istri yang berani mengambil resiko untuk melakukan hubungan gelap tersebut.

Istilah selingkuh pun kini bukan sebatas hubungan terlarang suami istri dengan pihak ketiga. Pasangan kekasihpun sering menggunakan kata selingkuh bagi pacar mereka yang menjalin hubungan asmara dengan orang lain.

Fonema selingkuh pun merayap masuk dalam karya- karya seni dalam bentuk lagu. Lagu-lagu yang bertema selingkuh antara lain Sephia dari Sheila on Seven, Ingin Kubunuh Pacarmu dari Dewa, Selingkuh Sekali Saja dari She, Kekasih Gelap dari Ungu, Nikmat Mendua dari Ardina Rasty, Selingkuh dari Kangen Band dan masih banyak lirik-lirik lagu yang bertema selingkuh.

Masalah selingkuh juga menjadi fenomena umum, baik yang melibatkan kalangan masyarakat umum maupun kalangan atas.

Pengamat psikologi dari Universitas Nusa Cendana (Undana), Drs. Ben Labre yang ditemui di kediamannya, Selasa (25/11/2008), menjelaskan, perselingkuhan di Kota Kupang bukan hal yang baru. Diakuinya hingga menjelang akhir tahun 2008, sudah banyak pasangan yang terlibat dalam masalah tersebut datang padanya untuk berkonsultasi.

Dan, sebagian besar dari pasangan yang berkonsultasi tersebut menemukan kembali jalan yang benar dan hidup rukun lagi.

Menurutnya, perselingkuhan bisa terjadi karena pasangan-pasangangan selingkuh tidak lagi melihat perkawinan sebagai hal yang suci, sakral dan bernilai sangat tinggi. "Selingkuh dianggap hal yang biasa karena orang tidak menggap perkawinan itu bernilai luhur dan sangat tinggi," jelasnya.

Menurut dia, perselingkuhan bisa terjadi karena beberapa faktor. Pertama, kehidupan dalam keluarga yang monoton. Tidaknya ada kreativitas dalam komunikasi pasangan suami isteri. Selain itu, persoalan antara suami isteri tidak diutarakan.

Kedua, selingkuh karena balas dendam. Hal ini terjadi karena salah satu pasangan berselingkuh sehingga pasangan lainnya berpikir untuk balas dendam dengan cara yang sama; selingkuh.

Ketiga, selingkuh terjadi karena perhatian yang luntur. Pada kasus ini, orang berselingkuh karena salah satu pihak dalam pasangan merasa perhatian yang semakin luntur.

Keempat, selingkuh karena salah satu pasangan mengalami sakit yang kronis. Pada kasus ini, salah satu pasangan dalam pernikahan tidak mampu memenuhi kebutuhan yang diinginkan pasangannya karena sakit. Keadaan ini menjadi sudah menjadi potensi terjadinya selingkuh. Pasangan yang merasa tidak puas akan benar-benar berselingkuh ketika menemukan figur yang bisa memenuhi kebutuhannya . "Apalagi kalau dia ketemu mantan pacar, di sana mereka bisa bernostalgia dan terjadilah selingkuh," jelas Ben Labre.

Kelima, selingkuh karena tempat tinggal yang berjauhan. Tempat tinggal yang berjauhan merupakan pemicu terjadinya selingkuh. Pasangan yang berjauhan merasa lebih leluasa berselingkuh, apalagi kebutuhan dari pasangannya tidak bisa dipenuhi karena pasangannya tinggal di daerah lain. "Kalau satu tinggal di Kupang, satu lagi di Flores ya membuka peluang terjadinya selingkuh ini," jelasnya.

Keenam, selingkuh karena masalah ekonomi. Masalah ekonomi menjadi kasus yang lebih dominan dalam berbagai kasus selingkuh. Hal ini karena salah satu pasangan merasa kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi sehingga berupaya memenuhi kebutuhan dengan cara- cara berselingkuh, dengan harapan selingkuhannya bisa menyelesaikan permasalahan ekonomi yang dihadapinya.


Perselingkuhan terjadi, katanya, bisa disebabkan hanya salah satu faktor tersebut di atas, tetapi bisa juga karena lebih dari satu faktor penyebab.

Kembali pada Nurani
Menurut Ben Labre, selingkuh bisa dihindari atau dicegah. Dan ini kembali lagi pada diri dan hati nurani masing-masing orang. Tiap-tiap pasangan juga harus mampu menjaga ritme komunikasi dalam rumah tangga sehingga terbangun komunikasi yang harmonis antara suami dan isteri. "Dalam selingkuh itu selalu ada yang dikorbankan, jadi kembali lagi pada pribadi masing- masing orang," jelasnya.

Selain itu, dalam komunikasi antara pasangan juga tidak boleh tertutup. Harus secara terbuka mengunkapkan pendapatnya. Bila komonikasi ini berjalan dengan baik maka niscaya akan melahirkan rasa saling percaya dan saling memahami satu dengan yang lain sehingga rumah tangga tetap harmnis. (alfred dama)

Pos Kupang Minggu 30 November 2008, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda