Salah Tangkap

Parodi Situasi Maria Mathildis Banda

PRINSIPNYA dia tidak mau dipenjara. Dia yakin seyakin-yakinnya dirinya tidak bersalah. Karena itulah tim kuasa hukumnya berupaya mengajukan penangguhan penahanan dari majelis hakim agar dirinya mendapat tahanan di rumah saja.
"Saya hanya korban salah tangkap!" Teriak Rara dari balik terali. "Apa salah saya? Sudah begitu besar pengorbanan saya untuk rakyat, masak sih hanya soal kecil saja saya dijebloskan ke penjara. Bagaimana mungkin terjadi?" Rara benar-benar bingung dan terpuruk sebab harga dirinya seperti diinjak-injak.

"Saya ini orang penting, orang pengaruh, orang nomor satu! Mana mungkin saya diperlakukan begini pahit? Hanya benar yang ada pada saya, saya tidak pernah buat salah! Tolong bebaskan saya! Saya korban salah tangkap!" Rara gemetar melihat dirinya sendiri.


***
Dulu penjara sekarang namanya Lembaga Pemasyarakatan (LP). Dibanding penjara, LP terasa lebih in di hati, soalnya memberi kesan bahwa lembaga itu hanyalah tempat persinggahan sementara -- untuk menjadikan seseorang yang masuk ke dalamnya secara terpaksa atau dipaksa atau apa pun namanya -- dipulihkan kesehatannya sebelum pulang dan masuk kembali ke tengah masyarakat. Tetapi yang menjadi soal sesungguhnya adalah penjara atau LP, tetaplah tempatnya sama-sama terkurung di dalam kotak segi empat dengan berbagai aktivitas seputar itu-itu saja, dan tertutup bagi dunia luar. Ibarat puisi, judulnya jadi, "Di balik tirai penjara!"

Rupanya apa pun rasanya, penjara ataupun LP, telah membuat Imam Khambali alias Kemat, Devid Eko Priyanto, dan Maman Sugianto alias Sugik mengurut dadanya yang pilu. Kemat divonis 17 tahun penjara, Devid 12 tahun penjara, dan Maman masih dalam proses persidangan. Apa pun rasanya, penjara alias LP telah membuat Rara frustrasi tidak karuan.

"Oh, soal Kemat, Devid, dan Maman?" Tanya Rara saat Jaki dan Benza menjenguknya. "Kenapa mereka divonis begitu lama di penjara eh LP?" Tanya Rara lagi.
"Karena tuduhan membunuh Asrori warga Kalangan Kalangsemanding Perak, Jombang. Tetapi untunglah ketiganya sudah dibebaskan!"
"Kenapa bisa bebas secepat itu? Bukankah penjara baru dijalaninya selama 7 bulan? Bahkan si Maman itu sudah mendapat penangguhan penahanan dari majelis Hakim PN Jombang!"

"Kasihan Kemat, Devid, dan Maman! Mereka bertiga jadi korban salah tangkap polisi jombang. Dipaksa mengaku berbuat salah lagi! Ya akhirnya karena tidak tahan dengan berbagai tekanan, terpaksa mengaku bersalah dan dipenjaralah dia. Eh, akhirnya pelaku sebenarnya tertangkap bahkan mengaku sendiri. Dia adalah Ryan jagal asal jombang yang menghabisi nyawa lebih dari sepuluh orang untuk mendapatkan kekayaan yang dimiliki korban. Bayangkan! Bisa-bisanya salah tangkap dan bisa-bisanya proses pengadilan berjalan dan sampai jatuh vonis yang mengenaskan!"

"Aduh! Ketiganya bisa menuntut penyidik, tuntut pengadilan, bila perlu tuntut negara ini yang begitu tidak pekanya sampai salah tangkap!" Rara merasa terbakar. "Benza, Jaki tolonglah saya! Saya juga korban salah tangkap!"
"Siapa yang salah tangkap kamu?" Benza berkata dengan tenang. "Kamu bukan Kemat, bukan Devid, dan bukan Maman! Kamu itu Rara! Kamu sudah terbukti bersalah, mau tidak mau kamu harus bertanggung jawab dan siap menerima sanksi apa pun dari kesalahanmu! Maaf kami tidak dapat membebaskanmu."

"Ah, Kemat, Devid, dan Maman saja bisa dibebaskan kenapa saya tidak? Ketiganya hanya orang kampung, orang kecil yang tidak punya apa-apa. Tidak ada pengaruh sama sekali, tidak punya kuasa sama sekali. Sedangkan saya? Kamu tahu bukan siapa saya! Jadi tolong bebaskan saya sekarang juga!" Rara setengah berteriak.
"Maaf, kami tidak dapat menolongmu!" Kata Jaki dan Benza bersamaan.
***
"Saya korban salah tangkap!" Teriak Rara lagi.
"Kami akan membantu meringankan bukan membebaskan!"
"Saya akan tuntut mereka yang tangkap saya! Seperti Kemat dan kawan-kawannya menuntut polisi, jaksa, hakim, pengadilan, dan semua pihak yang telah membuat mereka menderita," Rara marah bukan main.
"Kemat Cs tidak mau menuntut siapa pun!" Benza menjawab.
"Bukankah mereka tidak bersalah? Bukankah mereka korban salah tangkap? Kenapa mereka tidak menuntut?"
"Karena Kemat, Devid, dan Maman hanya orang kecil... " (*)


Pos Kupang Minggu 7 Desember 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda